登入“Kau pernah bilang ingin tidur denganku kan? Ayo kita lakukan sekarang. Aku akan membuatmu melupakan segalanya, termasuk pria busuk itu.”Sebelum Arabella sempat membalas dengan satu kata pun untuk protes, Kyle sudah lebih dulu menyergapnya. Kali ini, ciumannya tidak sekasar tadi. Ada kelembutan yang menuntut dan rasa frustasi di sana, seolah Kyle sedang berusaha keras menghapus jejak pria lain yang mungkin tertinggal di tubuh istrinya."Kyle... mmhhh…lepaskan..." Arabella melenguh lirih, mencoba mendorong dada bidang Kyle saat ciuman itu turun ke lehernya.Namun, sentuhan Kyle di pinggangnya justru semakin mengunci pergerakannya. Arabella masih meronta, berharap bisa melepaskan diri.“Jika kau menjadi gadis yang baik untuk sekarang, mungkin aku bisa menjadi suami yang lebih memperhatikanmu, Ara…” Kyle kembali menciumi garis rahang Arabella hingga ke telinga.Mendengar kalimat itu, bukannya luluh, Arabella justru merasa harga dirinya diinjak-injak hingga ke dasar bumi. Ia merasa Ky
“Kita sudah sampai,” ucap Kyle lembut, memecah keheningan sembari menoleh pada Arabella.Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit yang diiringi keheningan mencekam, Kyle akhirnya membelokkan mobilnya memasuki gerbang sebuah rumah mewah bergaya modern klasik.Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang hangat bagi sepasang suami istri, namun bagi Arabella, tempat ini tidak lebih dari sekedar penjara yang sunyi. Kyle mematikan mesin mobil. Di luar, langit pagi mulai bergradasi dari biru gelap menjadi jingga yang samar.Arabella tidak merespons ucapan Kyle. Ia langsung melepas sabuk pengamannya dengan gerakan cepat, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar tanpa menunggu suaminya. Tubuhnya yang terasa pegal akibat luapan gairah semalam bersama Ren kian terasa berat karena beban pikiran yang terus menumpuk.“Kau masih tidak ingin bicara padaku?” Kyle berdiri disamping mobil menatap Arabella yang masuk lebih dulu.Begitu pintu utama rumah terbuka, Arabella segera melangkah l
“Laki-laki bajingan? Bukankah dirimu yang bajingan? Sudah punya istri, tapi masih berselingkuh dengan wanita murahan yang levelnya saja jauh dibawah Arabella.” Ren tersenyum sinis menatap kedua orang di depannya. Sedangkan tangannya masih mencengkram erat pinggang Arabella seolah tak ingin melepaskannya.Arabella langsung menatap Ren. Dirinya tak menyangka jika lelaki yang tengah memeluknya bisa mengeluarkan kata-kata setajam ini.“Lepaskan tanganmu dari pinggang istriku,” ancam Kyle. Suaranya pelan, namun penuh penekanan.Melihat reaksi Kyle yang mulai terpancing, Ren tersenyum makin lebar. Dia sangat menikmati momen seperti ini, dimana suami dari clientnya merasa cemburu oleh kedekatan mereka.Ren memang sudah terbiasa dengan situasi semacam ini. Karena dia sudah sering beradu argumen dengan para lelaki yang mana wanita mereka memakai jasanya. Kali ini pun sama, Ren terlihat lebih santai.“Melepaskan pinggang wanita secantik ini? Bukankah itu sebuah kerugian? Lagipula wanita cantik
“Sial, aku melakukannya lagi.” Arabella menghela nafas saat melihat tubuhnya hanya ditutupi selimut bersama Ren yang masih tertidur pulas di sampingnya.Ia perlahan mengangkat tangan Ren yang tergeletak di atas tubuhnya. Wajah pulas Ren terlihat sangat tenang. Pria itu sepertinya kelelahan setelah permainan panas mereka.Arabella tersenyum tipis. Dengan hati-hati, dirinya beranjak dari ranjang ukuran king size itu dan memunguti bajunya yang di lantai. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Sekarang ia harus pulang.Setelah selesai memakai bajunya lagi, Arabella menulis sebuah surat yang ditujukan pada Ren yang ia letakkan di atas bantal. Akhirnya ia pergi meninggalkan pria itu sendirian.“Ugh… pinggangku rasanya mau patah. Semalam Ren benar-benar berubah menjadi serigala,” gerutunya di dalam lift sambil memijat-mijat pinggangnya pelan.Pintu lift terbuka. Arabella langsung keluar untuk segera pulang. Ia tak mau melihat wajah suaminya saat ia di rumah nanti, karena seharian ini dia berencan
“Ren… stop… mmhhh…” Arabella mendesah diantara ciuman mereka.Tapi Ren tak menghiraukan ucapan Arabella sama sekali. Justru sebaliknya, lelaki itu membenamkan bibirnya lebih dalam. Bahkan sekarang gerakannya lebih liar. Ia mengurung Arabella di bawah tubuhnya.“Apa kau masih memikirkan suamimu yang bajingan itu?” tanya Ren, ciuman panas terus ia berikan pada Arabella.“Ren… pelan-pelan…”Tubuh Arabella menggeliat tak karuan saat ia merasakan tangan Ren semakin liar saat menjamah tubuhnya. Pria itu tersenyum. Bukannya berhenti, dia malah meningkatkan intensitas gerakannya agar membuat wanita dibawahnya menyerahkan diri sepenuhnya padanya.“Aku tidak akan pela-pelan. Aku sangat membenci wanita yang memikirkan pria lain saat berada disampingku,” ucapnya dengan nafas yang sengaja diarahkan ke rahang Arabella, membuat wanita itu meremang.Sentuhan pria itu perlahan menghapus sisa-sisa keraguan dan luka hati sang wanita, menggantinya dengan gelombang gairah yang asing sekaligus mendebarkan.
“Kita tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya butuh teman sekarang,” balas Arabella datar.Seketika senyuman Ren sirna. Dia mundur selangkah untuk melihat Arabella lebih jelas. Wanita itu terlihat menahan air mata sekuat tenaga. Bibirnya tertutup rapat, seolah menyembunyikan jeritan yang terus meronta dalam dirinya.Ren menghela nafas panjang. Dia coba memberi ruang, agar wanita mangsanya sedikit lebih tenang.Pintu lift terbuka. Arabella keluar lebih dulu, lalu disusul Ren dari belakang. Ren melihat Arabella mengeluarkan kartu akses untuk membuka satu kamar di lantai tersebut. Pintu pun terbuka. Mereka segera masuk satu kamar bertipe presidential suite di hotel tersebut.“Anggap saja rumah sendiri,” ucap Arabella lirih sambil melempar tas bermerk Saint Laurent berwarna beige yang seharga jutaan rupiah miliknya ke sembarang arah.Arabella melangkah gontai mendekati ranjang ukuran king size yang mengisi sebagian ruangan mewah tersebut, lalu







