เข้าสู่ระบบ“Kita tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya butuh teman sekarang,” balas Arabella datar.
Seketika senyuman Ren sirna. Dia mundur selangkah untuk melihat Arabella lebih jelas. Wanita itu terlihat menahan air mata sekuat tenaga. Bibirnya tertutup rapat, seolah menyembunyikan jeritan yang terus meronta dalam dirinya. Ren menghela nafas panjang. Dia coba memberi ruang, agar wanita mangsanya sedikit lebih tenang. Pintu lift terbuka. Arabella keluar lebih dulu, lalu disusul Ren dari belakang. Ren melihat Arabella mengeluarkan kartu akses untuk membuka satu kamar di lantai tersebut. Pintu pun terbuka. Mereka segera masuk satu kamar bertipe presidential suite di hotel tersebut. “Anggap saja rumah sendiri,” ucap Arabella lirih sambil melempar tas bermerk Saint Laurent berwarna beige yang seharga jutaan rupiah miliknya ke sembarang arah. Arabella melangkah gontai mendekati ranjang ukuran king size yang mengisi sebagian ruangan mewah tersebut, lalu langsung merebahkan dirinya di sana. Tubuhnya tampak begitu rapuh, tenggelam di antara tumpukan bantal premium. Sementara itu, Ren berjalan mendekat untuk mengambil tas mahal yang tergeletak malang di lantai. Ia membersihkannya bagian yang sekiranya terkena debu lalu menaruhnya dengan rapi di atas meja terdekat, sebelum akhirnya berbalik dan ikut duduk di tepi ranjang, tepat di samping Arabella. Melihat wanita itu memejamkan mata dengan penuh ekspresi kesedihan yang mendalam, Ren mengulurkan tangannya. Dengan gerakan selembut mungkin, ia mencoba membelai pipi Arabella pelan, berniat menyeka semua kesedihan yang tampak di sana. “Kau terlihat sangat lelah…” Suara Ren terdengar amat rendah dari samping. Namun, belum sempat jemarinya membelai lama, Arabella langsung menepis tangan Ren dengan gerakan refleks yang cukup kentara. Ren menarik kembali tangannya, sedikit terkejut namun tetap berusaha tenang. “Apa kau masih memikirkan suamimu?” tanya Ren, mencoba memancing suara dari bibir yang membisu itu. Arabella membuka matanya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. “Ren, apa aku kurang cantik?” Kalimat itu lebih terdengar seperti keputusasaan dibanding pertanyaan. “Kenapa dia sama sekali tidak mau menyentuhku?” bisik Arabella lirih, melontarkan pertanyaan yang selama ini menyiksa batinnya sendiri. “Kamu cantik kok,” jawab Ren spontan. Kalimat itu bukan sekedar bualan murni. Karena di mata Ren, Arabella memang memiliki kecantikan berkelas yang jarang ia temui. Namun, Arabella tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh akan keputusasaan. Ia sama sekali tidak percaya pada pujian itu yang Ren baru saja lontarkan untuknya. “Kalau aku memang cantik, lalu kenapa Kyle sama sekali tidak melirikku? Kenapa dia justru menghabiskan malamnya dengan wanita lain di hotel milik keluargaku sendiri?” Suara Arabella mulai bergetar hebat, dipenuhi rasa sakit yang mendalam. Mendengar ratapan itu, Ren mulai merasa gusar. Keberadaannya di sini adalah untuk bersenang-senang dan menjerat mangsanya, bukan untuk menjadi wadah curhat yang terus menerus membahas pria lain. Ego dan kesabarannya mulai terusik. Tidak ingin membuang waktu lebih lama dalam drama melankolis ini, Ren memajukan tubuhnya. Dengan gerakan tegas namun tidak kasar, ia memegang dagu Arabella, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang menatapnya mendalam. “Lihat aku, Arabella,” ucap Ren dengan nada rendah, berat, dan penuh penekanan. “Aku tidak peduli seberapa butanya suamimu itu. Tapi malam ini, di depan mataku, kau adalah wanita yang sangat cantik. Dan sekarang aku sangat menginginkanmu.” Kedua bola mata Ren tak pernah kabur dari pandangannya pada wanita rapuh ini. Perlahan, Ren mulai melancarkan aksinya kembali. Jemarinya yang hangat bergerak naik, memainkan daun telinga Arabella dengan ritme yang sengaja dibuat lambat untuk memicu debar di dada wanita itu. Ren mendekatkan bibirnya ke telinga Arabella, lalu berbisik dengan suara serak yang memabukkan, “Aku akan membuatmu sadar jika kamu adalah wanita yang sangat cantik...” Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, Ren memberikan gigitan manja di daun telinga Arabella, menyalurkan gairah yang seketika membuat nafas wanita itu tercekat. “Mmhh…” Satu desahan langsung lolos dari bibir merah dan ranum itu. Mendengar reaksi dari mangsanya Ren tersenyum tipis. Dia tidak akan membiarkan keahliannya sia-sia begitu saja. Setelah puas menggigit dan menjilat telinga Arabella, tangannya semakin berani untuk menjamah tubuh indah yang pernah ia nikmati tempo hari lalu. Bahkan rasa nikmat malam itu masih terngiang dalam ingatan. Itu membuat Ren semakin kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Entah sejak kapan, tubuhnya perlahan mulai tertarik pada kenikmatan yang Arabella berikan. “Sayangku… aku ingin segera merasakan nikmatnya tubuhmu.” Ren langsung melahap kedua bibir Arabella seperti hewan buas.“Sial! Apa yang baru saja aku katakan?!”Kyle termangu di ruang tengah. Sedangkan, di dalam kamar yang terkunci rapat, Arabella duduk di tepi ranjang dengan dada yang masih berguncang pelan. Usai menyapu sisa air matanya, ia meraih ponsel di atas meja dan mencari kontak pengacara kepercayaan keluarganya. Tanpa ragu sedikitpun, Arabella mendial nomor tersebut.“Halo, Pak Baskara,” sapa Arabella, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin meski sedikit serak.“Selamat siang, Nona Arabella. Ada yang bisa saya bantu?” sahut suara di ujung telepon dengan nada profesional dan hangat.“Soal dokumen gugatan perceraian yang saya minta kemarin… apakah sudah selesai dibuat?”“Sudah, Nona. Semua draf dokumen dan berkas pendukungnya sudah selesai disiapkan sejak kemarin sore. Tinggal menunggu tanda tangan dari Nona Arabella saja.”Arabella menghela nafas lega, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat. “Terima kasih, Pak Baskara. Bisakah kita bertemu besok pagi di kantor B
“Siapa yang kau bilang pemilik kafe kecil ini? Kau disini cuma pemegang saham ya!” Suara seorang pria langsung membuat Ren berbalik.“Hahaha… Aku hanya bercanda. Lagipula, fakta aku pemilik sebagian kafe ini benar adanya kan.” Ren menepuk pria itu dan langsung mengambil apron karyawan dan memakainya.Pria yang pemilik kafe sebenarnya hanya bisa menggelengkan kepala.Di sisi lain, mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti sempurna di depan pekarangan rumah mewah keluarga Adisurya. Belum sempat mesin mobil mati sepenuhnya, Arabella langsung membuka pintu belakang dan melangkah keluar dengan terburu-buru. Ia ingin segera menjauh dari atmosfer mencekam yang menghimpit dada sejak di kafe tadi.“Arabella, tunggu!” pekik Kyle murka.Pria itu bergegas menyusul, menjejaki langkah kaki istrinya yang bergerak cepat menuju pintu utama. Begitu Arabella berhasil melangkah masuk ke dalam ruang tamu, Kyle langsung menyambar pergelangan tangan wanita itu dan membanting pintu utama dengan sangat kera
”Kyle? Kok bisa dia ada di sini? Apa... apa diam-diam dia mengikutiku sejak dari rumah tadi?”Arabella melangkah mendekat dengan cepat, memecah ketegangan yang menggantung di udara. Menerobos kerumunan kecil karyawan kafe yang masih memegangi Kyle, ia langsung berdiri di tengah-tengah mereka."Tolong lepaskan dia! Dia suamiku," tegas Arabella pada para karyawan.Para karyawan yang mendengarnya seketika membelalakkan mata kaget, lalu perlahan melepaskan cengkraman mereka dari tubuh Kyle. Sementara Kyle mendengus kesal dan segera merapikan jasnya yang kusut dengan nafas memburu. Matanya menyipit tajam, langsung mengunci pandangan pada istrinya, Arabella."Apa yang kau lakukan disini, Arabella?!" bentak Kyle, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. "Kau bilang ingin mengambil mobil di bengkel, heh? Tapi nyatanya kau malah berduaan dengan pria lain. Kau membohongiku hanya untuk menemui pria bajingan itu di lantai atas, kan?! Kau sudah berselingkuh dibelakangku!" Suara Kyle langsung
“Brengsek!”Setelah melihat Arabella dibawa masuk ke lantai atas oleh pria itu, semua ketenangan Kyle yang tersisa langsung hilang begitu saja. Nafasnya mendadak memburu, dipenuhi oleh emosi yang membakar seluruh nalar dan logikanya. Tanpa sepatah katapun, tangan Kyle langsung meraih tuas pintu mobil untuk bersiap turun."Pak Kyle, tunggu!" cegah sang supir dengan panik dari kursi kemudi. Ia reflek menoleh ke belakang, mencoba menahan Kyle agar tidak melakukan tindakan gegabah yang bisa merusak reputasi besarnya. "Tolong tahan diri Anda, Pak. Ini tempat umum. Kalau Bapak langsung melabrak ke dalam, nama baik Anda bisa menjadi taruhannya. Biarkan saya saja yang maju, Pak!"Kyle menepis tangan supirnya dengan sekali hentakan kasar. Sorot matanya sangat mengerikan, dingin dan penuh dengan hasrat ingin membunuh."Jangan menghalangiku. Diam di sini!" desis Kyle dengan suara tertahan yang sarat akan ancaman.Brak!Kyle membanting pintu mobilnya dengan sangat keras. Langkah kakinya ya
“Ikuti dia dan jangan sampai ketahuan,” perintah Kyle.“Baik, pak.”Taksi online yang ditumpangi Arabella akhirnya menepi tepat di depan halaman cafe Nuansa Senja. Dengan langkah yang terburu-buru dan hati yang berdegup kencang, Arabella turun dari mobil, sesekali merapikan blus bagian lehernya untuk memastikan bekas luka semalam tidak terekspos.Ia melangkah masuk ke dalam kafe yang pagi itu masih tampak lengang. Matanya menyapu ruangan, hingga akhirnya menangkap sosok Ren yang duduk santai di area outdoor pojok, tempat yang sama seperti kemarin sore. Pria itu tampak menawan dengan kemeja kasual yang kancing atasnya sengaja dibuka, sedang menyesap cangkir kopinya sembari menatap kedatangan Arabella dengan senyuman miring yang begitu memikat.Sementara itu, beberapa meter di seberang jalan cafe, mobil hitam milik Kyle perlahan berhenti di bawah rindang pohon. Dari balik kaca mobil yang gelap, mata elang Kyle langsung mengunci pergerakan istrinya yang melangkah menghampiri meja Ren.
“Nggak usah, Kyle. Biar aku saja yang mengurusnya. Aku tahu kamu pasti sibuk. Jadi kamu tidak perlu repot-repot,” tolak Arabella cepat dengan nada sedatar mungkin.Kyle hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali menyunggingkan senyum miring yang penuh arti. “Begitu ya? Ya sudah kalau memang tidak mau diantar.”Begitu sarapan yang terasa mencekam itu selesai, Arabella langsung bergegas bangkit dari kursinya. Ia melangkah cepat menuju kamar di lantai dua dengan dalih untuk bersiap memeriksa keadaan mobilnya.Begitu pintu kamar tertutup rapat dan dikunci dari dalam, napas Arabella memburu hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang karena kepanikan.Tanpa membuang waktu, ia segera merogoh ponsel dari saku pakaiannya dan langsung mencari kontak Ren. Begitu nada sambung terhubung, Arabella menempelkan ponselnya ke telinga dengan tangan yang sedikit gemetar.Tut... Tut…“Halo, Kelinci Kecil. Ternyata kau sudah merindukanku lagi







