Teilen

Bab 162

Kayla Sango
Pameran Anggur Verdania sedang berada di puncak kesibukannya, sebuah pertunjukan luar biasa yang penuh energi dan elegan. Paviliun pameran dipenuhi ratusan pengunjung, puluhan kilang anggur memamerkan hasil panen terbaik mereka, dan dengung percakapan dari negosiasi bisnis, sesi pencicipan, serta jaringan relasi memenuhi setiap sudut ruangan.

Adriel dan aku berusaha sebaik mungkin menjaga semuanya tetap berjalan lancar. Minat investor meledak setelah ulasan pertama lini Vintara kami muncul di ju
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 194

    Sudut Pandang Anna."Para penumpang yang terhormat, karena kondisi cuaca, kami belum mendapatkan izin untuk mendarat dan akan dialihkan ke bandara lain. Mohon tetap duduk dengan sabuk pengaman terpasang, karena kita akan melewati area dengan turbulensi yang cukup kuat. Terima kasih telah terbang bersama kami."Aku benci terbang. Selalu begitu. Aku sudah lama percaya bahwa jika burung diberi sayap dan manusia tidak, pasti ada alasannya dan alasannya adalah kita memang seharusnya tetap berpijak di tanah. Dan tolong, jangan mulai dengan omongan soal pesawat adalah cara perjalanan paling aman secara statistik. Orang terakhir yang mencoba meyakinkanku bahwa aku lebih mungkin mati karena kecelakaan lift daripada kecelakaan pesawat malah berhasil membuatku takut lift juga. Dan itu sangat merepotkan ketika aku akan mulai bekerja di lantai paling atas gedung pencakar langit perusahaan.Aku menutup jendela kecil pesawat, berusaha sebaik mungkin mengabaikan kekacauan di luar sambil mencoba fokus

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 193

    Gereja Kasih Anugerah belum pernah terlihat seindah pagi Minggu yang cerah itu. Sinar keemasan menembus jendela kaca patri, memantulkan warna-warni ke bangku kayu gelap tempat keluarga dan sahabat terdekat kami berkumpul.Elio terlihat sempurna dalam pelukanku, mengenakan pakaian pembaptisan khas Keluarga Mahendra, dengan setelan linen putih dengan bordir tangan, sama seperti yang pernah dikenakan Adriel saat masih bayi. Matanya begitu mirip dengan ayahnya, menatap lilin-lilin yang berkelip dan bunga putih yang menghiasi altar dengan rasa penasaran yang polos."Dia seperti malaikat kecil," bisik ibuku di sampingku dengan suaranya yang penuh kebanggaan. Dia terus merapikan lipatan yang nyaris tak terlihat di pakaian Elio, dan memastikan semuanya sempurna untuk momen sakral ini.Di sisi lainku, ayahku duduk dengan ekspresi emosional yang selalu dia coba sembunyikan. Tangan besarnya yang kasar karena kerja, kontras dengan kelembutan gerakannya saat diam-diam menyeka mata yang basah dengan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 192

    Sudut Pandang Vivian.Sinar matahari sore masuk dengan lembut melalui jendela ruang tamu saat aku merapikan buket bunga yang Amanda bawa pagi tadi, usahanya yang manis untuk membuat rumah terasa lebih hangat bagi Elio. Anna rebahan di sofa di sampingku, membolak-balik santai majalah mode Euradia yang dia beli untuk inspirasi hidup barunya seperti yang dia bilang."Aku masih tidak percaya secepat ini keadilan bekerja kalau kamu punya uang dan pengaruh," kataku sambil menata kelopak terakhir di dalam vas. "Dalam beberapa minggu saja, semuanya hampir selesai.""Uang memang bisa menggerakkan segalanya, Kak," jawab Anna tanpa mengangkat kepala, nadanya dipenuhi sindirian yang sudah sangat kukenal. "Dan kalau kamu punya pengacara mahal, koneksi kuat, dan bukti yang tidak terbantahkan, sistem hukum tiba-tiba berjalan seperti mesin yang diberi oli dengan sempurna."Dia tidak salah. Lydia berhasil mendapatkan tahanan rumah karena bekerja sama secara ekstensif dalam penyelidikan, gelang pemantau

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 191

    Sudut Pandang Adriel.Aku masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi saat aku memeluk Vivian erat di dadaku, dan merasakan getaran yang menjalar di tubuhnya. Dia berpegangan padaku seolah aku adalah satu-satunya penopang di tengah badai. Elio aman dalam pelukannya, tidak terluka, tetapi di matanya aku masih bisa melihat keterkejutan dan ketegangan dari apa yang baru saja dia alami.Dalam hitungan jam, aku sudah menyiapkan seluruh operasi, polisi mengepung area, penembak jitu di posisi, negosiator siaga, dan drone menyapu dari atas untuk visual secara langsung. Setiap rincian direncanakan dengan sangat teliti. Seharusnya aku masuk ke gudang itu berpura-pura memenuhi tuntutan ayahku, sementara unit polisi menunggu sinyal untuk bergerak.Lalu, lima menit sebelum negosiasi dimulai, suara itu berderak di alat komunikasi di telingaku. "Target melarikan diri sendiri. Ulangi, sandera melarikan diri.""Kamu benar-benar gila," kataku menarik sedikit tubuhku untuk menatap wajahnya, suarak

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 190

    Sudut Pandang Vivian.Julian semakin gelisah, mondar-mandir seperti binatang yang terkurung. Setiap beberapa menit dia mendekati jendela kecil yang kotor itu dan mengintip dengan gugup lewat tirai darurat yang dia pasang untuk menutupi tempat persembunyian kami. Gerakannya tegang dan tidak stabil, seolah-olah dia mengharapkan Adriel muncul kapan saja dan tidak sendirian.Dan aku tahu dia tidak akan datang sendirian.Aku cukup mengenal suamiku, jadi aku tahu Adriel tidak akan pernah masuk ke situasi seperti ini tanpa persiapan. Dia brilian, strategis, dan selalu tiga langkah di depan dalam setiap negosiasi. Tentu saja dia pasti punya rencana rumit untuk menyelamatkan kami tanpa mempertaruhkan nyawa siapa pun. Dia mungkin sudah menghubungi polisi, mungkin sedang mengatur penyelamatan sambil berpura-pura mengikuti tuntutan Julian.Masalahnya, aku juga mengenal hati Adriel.Kalau dia harus memilih antara menyelamatkanku atau menangkap Julian, jika ada sedikit saja kemungkinan nyawaku atau

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 189

    Sudut Pandang Vivian.Gudang tua yang terbengkalai itu dipenuhi bau jamur dan oli mesin. Campuran yang memualkan itu membuat perutku kembali bergejolak, bahkan lebih buruk dari rasa takut yang sudah sejak tadi menekan dadaku. Elio akhirnya berhenti menangis, kelelahan karena stres, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan dari tubuh kecilnya saat dia terbaring di kursi bayi di sampingku. Bahkan sekecil itu, dia seolah tahu ada sesuatu yang sangat salah.Julian mondar-mandir dekat pintu masuk, sesekali melirik jam tangan sebelum mengintip melalui jendela kotor yang menghadap jalan tanah di luar. Dia sama sekali tidak seperti pria rapi dan berwibawa yang pernah kulihat di acara keluarga. Rambutnya acak-acakan, janggutnya tidak terurus, dan pakaiannya kusut serta bernoda. Jelas beberapa minggu dalam pelarian telah menghancurkannya."Kamu pasti lapar," katanya tiba-tiba saat menoleh ke arahku sambil menunjuk kantong kertas di atas meja darurat dari peti kayu. "Aku bawa roti."Aku menatapny

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 87

    Pantulan di cermin menatapku balik dengan campuran kagum dan aneh. Gaun merah tua yang Adriel dan aku pilih di Dermaga Azzura pas dengan tubuhku, dan kainnya yang halus menonjolkan lekuk-lekuk yang bahkan sebelumnya tidak kusadari."Kamu terlihat menakjubkan," kata Anna yang muncul di belakangku dal

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 86

    Aku terbangun perlahan, tubuhku masih nyeri tapi menyenangkan akibat malam sebelumnya. Adriel masih tertidur di sampingku, satu lengan melingkari pinggangku dengan posesif, wajahnya tampak rileks seperti jarang dia perlihatkan saat bangun.Aku menatap wajahnya sejenak, bulu mata panjangnya, garis ra

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 82

    Jariku mencengkeram sprei saat tubuhku melengkung dalam kenikmatan. Adriel memegang pinggulku dengan erat, dan dengan ritmenya tidak kenal ampun. Ruangan diselimuti bayangan, hanya cahaya kota yang menembus tirai, menciptakan bayangan tubuh kami yang saling terikat."Adriel …." Suaraku keluar sepert

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 83

    "Jadi … kamu sampai sana dengan aman kan?" tanyaku, memutar sehelai rambut di jariku. Ponsel diletakkan dengan pengeras suara di atas meja dapur sementara aku membuat kopi."Ya, tidak ada masalah," jawab Adriel, suaranya terdengar agak formal lewat pengeras suara. "Penerbangannya lancar. Bagaimana h

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status