Share

Bab 9

Author: Kayla Sango
Aku tidak berpikir apa-apa. Aku langsung meraih pergelangan tangan Adriel dan menyeretnya keluar dari ruangan sebelum ada yang memutuskan untuk merayakannya dengan keriuhan. Dia tersenyum sepanjang waktu, seolah-olah benar-benar menikmati kekacauan ini.

Aku melangkah cepat menyusuri lorong, mengabaikan tatapan bingung ibu dan saudara-saudaraku, mendorongnya masuk ke dapur, lalu membanting pintu.

"Apa-apaan tadi itu, Adriel?!"

Dia merapikan lengan jasnya, tampak santai sekali, seolah melamar oran
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 100

    "Apa kamu sadar kekacauan apa yang sudah kamu buat?" Rivan berdiri di tengah ruang tamu, dan melambaikan tangan dengan dramatis seperti hanya seorang Valentia yang benar-benar kehabisan kesabaran. "Aku terpaksa harus mengarang cerita konyol tentang Anthony jatuh dari tangga hanya untuk menjelaskan hidungnya yang patah dan darah di seluruh wajahnya!"Adriel kini mengenakan kemeja katun biru tua yang bersih, dan memasang ekspresi datar, meski memar di pipinya dan luka di alisnya menceritakan hal yang berbeda."Kakek percaya?" tanyanya mengabaikan kemarahan dramatis sepupunya."Tidak sama sekali." Rivan merebahkan diri di sofa di samping Anna. "Tapi dia pura-pura percaya, dan itu mungkin lebih parah. Dan mereka berdua …." Dia menggelengkan kepala. "Victoria buru-buru memasukkan pakaian ke koper. Mereka pergi seperti rumah ini lagi kebakaran.""Bagus," kata Adriel sambil duduk di kursi berlengan di hadapan mereka, dan posturnya hanya sedikit memberi tahu rasa sakit di tulang rusuknya. "Itu

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 99

    Pintu kamar menutup pelan di belakang kami. Adriel langsung menuju kamar mandi, membuka kemeja yang penuh noda darah dengan gerakan cepat dan tidak sabar. Aku mengikutinya, masih mencoba mencerna apa yang terjadi di taman."Lepas kemejamu," kataku saat melangkah ke kamar mandi luas itu, di mana dia sudah membuka kabinet P3K. "Aku perlu lihat seberapa parah dia melukaimu."Adriel menatapku dengan pandangan yang campur aduk antara kelelahan dan keras kepala, hampir seperti anak kecil yang menantang."Aku baik-baik saja. Kebanyakan ini darahnya dia.""Kemejanya. Lepas." Suaraku tegas. "Sekarang."Mungkin nada suaraku memberi tahu dia bahwa aku tidak akan berdebat soal ini. Dengan helaan napas pasrah, akhirnya dia melepaskan kemeja yang sudah rusak itu, memperlihatkan tubuhnya yang terlepas dari situasinya tetap saja memukau. Tapi perhatianku langsung tertuju pada memar ungu gelap yang menyebar di rusuk kanannya."Hanya memar," gumamnya ketika menangkap tatapanku."Dan wajahmu." Aku menunj

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 98

    Suara Adriel terdengar tajam dan tegas. Dia berdiri di pintu masuk labirin pagar yang kecil itu, dan aku belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajahnya. Itu bukan sekadar kemarahan. Itu adalah amarah yang siap meledak, ditahan hanya oleh sisa kendali diri."Adriel." Anthony cepat menenangkan dirinya, lalu merapikan jasnya. "Aku hanya mengobrol santai dengan … istrimu.""Menjauh darinya. Sekarang." Adriel melangkah maju beberapa langkah, dan setiap ototnya tampak menegang."Dia tidak terlihat menolak sampai beberapa detik yang lalu." Mata Anthony menoleh ke arahku, niat buruk berkilat di sana."Dia mencoba menyentuhku," kataku dengan suaraku yang sedikit bergetar. "Dia tahu tentang ….""Tentang kesepakatan menarik yang kalian berdua punya?" Anthony memotong dengan senyum penuh niat jahat di bibirnya. "Kesepakatan yang menarik, harus kuakui. Sangat praktis."Rasanya seperti menyaksikan kecelakaan mobil dalam gerak lambat. Aku melihat momen tepat ketika kendali Adriel runtuh. Kedut

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 97

    Sore merayap perlahan di atas perkebunan Keluarga Mahendra, mewarnai kebun anggur dengan nuansa emas dan oranye. Setelah seharian dipaksa beristirahat, sementara Adriel mengawasi aku minum obat dan cairan dengan serius yang hampir terlihat lucu, aku akhirnya merasa cukup kuat untuk keluar dari kamar.Aku berjalan melewati taman, menghirup udara segar yang sudah lama aku rindukan. Virus itu sudah agak mereda, hanya menyisakan kelelahan ringan dan rasa lapar yang mulai muncul kembali setelah beberapa hari hanya minum cairan.Adriel bersikeras ingin menemaniku, tapi panggilan mendesak dari Rivan tentang investor Niharan menarik perhatiannya. "Sepuluh menit aja dan jangan pergi jauh," katanya sambil cium dahiku sebelum masuk lagi.Taman itu seperti labirin canggih, dengan pagar tanaman yang dipangkas rapi dan patung-patung klasik. Damar pernah bilang kalau taman ini tiruan dari taman Eldoria, yang dirancang oleh ayahnya sendiri saat kediaman ini dibangun.Aku menemukan sebuah bangku batu y

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 96

    Dua pria itu saling menatap dalam keheningan yang terasa tak berujung. Aku baru sadar saat itu bahwa aku menahan napas, dan jari-jari mencengkeram pegangan tangga dengan kuat.Akhirnya, senyum perlahan yang penuh perhitungan muncul di wajah Anthony."Jelas sekali." Dia mundur setengah langkah dan memberi jarak tanpa benar-benar mengalah. "Aku hanya penasaran, apa kakek setuju dengan … urutan prioritas baru ini.""Kenapa tidak tanya langsung padaku?" Suara Damar terdengar dari lorong masuk, membuat kami semua terkejut.Kepala keluarga itu berdiri di kaki tangga, bersandar pada tongkat dengan Marlina di sisinya. Ekspresinya tegas, tapi matanya yang tajam tidak melewatkan satu pun adegan di depannya."Kakek." Anthony segera kembali dari keterkejutannya. "Kami seharusnya tidak merepotkanmu dengan urusan operasional.""Ini rumahku dan perusahaanku." Damar mulai menaiki tangga perlahan, setiap langkahnya penuh pertimbangan. "Tidak ada satu pun hal yang terjadi di sini yang terlalu sepele ata

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 95

    Lorong masuk besar di Kediaman Keluarga Mahendra menyambut kami dengan kemewahan yang hening, dan lantai marmer memantulkan bayangan kami seperti cermin samar. Adriel tetap menempatkan tangannya di punggungku, sebuah gerakan dukungan yang seolah menjadi naluri dalam beberapa jam terakhir."Infeksi virus," katanya mengulang diagnosis Dokter Ardhan seolah masih memprosesnya. "Setidaknya sekarang kita tahu penyebab mualmu.""Semua selalu karena virus," jawabku sambil tersenyum tipis, melepas sepatuku untuk merasakan dinginnya lantai marmer di bawah kaki. "Demam? Virus. Sakit kepala? Virus. Kiamat zombie? Mungkin cuma virus yang sangat agresif."Adriel pun tertawa, suaranya bergema di lorong kosong dan mengisi ruang dengan keceriaan tidak terduga. Wajahnya melembut menjadi senyum tulus yang jarang kulihat selalu membuatku kaget, dan seolah sejenak semua ketegangan beberapa hari terakhir lenyap begitu saja."Yang penting, kamu akan baik-baik saja." Dia menyibakkan sehelai rambut yang lepas

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 47

    Mobil meluncur pelan di jalan berkelok menuju kediaman. Dari jendela, aku lihat kebun anggur yang disinari cahaya bulan perak, sunyi dan hampir terasa sedih. Sopir menatap lurus ke depan, diam-diam abaikan ketegangan yang terasa di kursi belakang antara kami.Adriel duduk dengan kepala bersandar dan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 44

    Kata-kata Damar masih terngiang di udara sementara aku berusaha tenangkan diri. Pikiranku berputar, cari jawaban yang tidak terdengar seperti kebohongan terang-terangan tapi juga tidak mengungkapkan kebenaran yang menyakitkan."Aku harap perjalananmu menyenangkan." Akhirnya aku berkata, milih untuk

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 49

    Koridor batu terasa tak berujung saat Adriel menuntunku melewati bagian properti yang belum pernah kulihat. Setiap langkah buat udara semakin dingin, dan keheningan semakin berat. Nafasku mulai normal kembali, meski jejak air mata yang mengering masih tersisa di wajahku."Kita mau mana?" Akhirnya ak

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 42

    Adriel menoleh ke arah lain, jarinya mengetuk meja kayu yang mengilap dengan gelisah. Cahaya bintang menari di gelas anggurnya, mantulkan rona merah di wajahnya yang tegang."Aku akan bilang ke kakekku saat dia kembali." Akhirnya dia berkata, suaranya rendah penuh pertimbangan. "Dia lagi banyak piki

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status