MasukWeitian berjalan ke jendela, menatap ke arah paviliun Janda Permaisuri di kejauhan. "Dan kau bilang dia sering berkunjung ke sana?""Ya, Kak. Beberapa kali dalam sebulan terakhir," jawab Weijun. "Dan setiap kali dia berkunjung, aku mendapat laporan bahwa ada aktivitas mencurigakan di sekitar istana."Zan melangkah maju. "Yang Mulia, apakah aku harus mengawasi Pangeran Kedua?"Weitian menggeleng. "Tidak. Dia akan curiga jika kau yang mengawasinya. Dia tahu kau adalah jendralku""Lalu bagaimana?" tanya Ye Haoran.Weitian berbalik, matanya tajam. "Haoran, kau yang akan menyelidiki. Cari tahu apa yang sebenarnya dilakukan Pangeran Kedua di paviliun Janda Permaisuri. Jangan sampai ketahuan.""Baik, Yang Mulia," Ye Haoran mengangguk."Zan," Weitian menatap pengawal lamanya, "kau selidiki pengikut-pengikut Pangeran Kedua. Cari tahu apakah ada yang terlibat dalam serangan di lembah itu."Zan mengangguk. "Baik, Yang Mulia."Weitian menghela napas. "Untuk saat ini, rahasiakan semua ini. Jangan
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya mereka tiba di ibu kota. Gerbang istana yang megah terbuka lebar menyambut kedatangan Kaisar Weitian. Pasukan kerajaan berbaris di kedua sisi, memberi hormat saat rombongan lewat.Weitian turun dari kudanya dan membantu Ning Yuan turun dengan hati-hati."Kita sudah sampai," katanya pelan, matanya menatap Ning Yuan dengan lembut."Ning Yuan menatap istana yang megah di depannya. Dia tidak menyangka jika akhirnya dia kembali ke tempat ini.Shen Ziyuan yang berdiri di belakang mereka hanya bisa diam. Dia sudah melihat sendiri bagaimana Weitian melindungi Ning Yuan serta bagaimana Ning Yuan memandang Weitian. Sebuah pandangan penuh cinta yang dahulu tidak pernah dia lihat dari sorot mata Ning Yuan saat Ning Yuan masih menjadi istrinya. Dan dia tahu, dia sudah benar-benar tidak ada harapan sekarang. "Aku akan pulang ke rumah ku," kata Shen Ziyuan akhirnya, suaranya pelan.Ning Yuan menoleh. "Kau akan pergi?""Ya." Shen Ziyuan tersenyum p
Keesokan paginya, mereka berpamitan pada nenek Weitian."Jagalah dirimu, Nak," nenek Weitian memeluk Ning Yuan erat. "Dan ingat, apa pun yang terjadi, kau memiliki restuku.""Terima kasih, Nenek," Ning Yuan menangis.Weitian juga memeluk neneknya. "Nenek, kau pasti akan datang ke istana, kan?""Tentu saja. Aku akan datang untuk pernikahan cucuku," nenek Weitian tersenyum. "Tapi untuk sekarang, pergilah. Perjalananmu masih panjang."Mereka berempat pun berangkat. Ning Yuan, Weitian, Shen Ziyuan, dan Zan menunggang kuda meninggalkan desa kecil itu. Ning Yuan masih merasakan hangatnya pelukan nenek Weitian di hatinya.***Di tengah perjalanan, Weitian mendekatkan kudanya ke Ning Yuan."Sayang," katanya pelan, "tadi malam, kau dan nenek bicara apa?"Ning Yuan menoleh. "Tidak ada. Hanya ngobrol saja.""Hanya ngobrol?" Weitian mengangkat alis di balik topeng. "Nenek tidak mengatakan apa-apa tentang ibuku?""Tidak," Ning Yuan berbohong. "Hanya... cerita masa kecilmu. Tentang betapa nakalnya
Perjalanan panjang akhirnya sampai di tujuan. Sebuah desa kecil yang sunyi di kaki gunung, dengan rumah kayu sederhana yang dikelilingi kebun bunga. Udara di sana segar, dan suara burung berkicauan merdu.Weitian turun dari kuda, lalu membantu Ning Yuan turun dengan gerakan lembut. "Kita sudah sampai."Ning Yuan melihat sekeliling. "Di sinilah orang penting yang ingin kau kenalkan padaku?"Weitian mengangguk. "Ya. Dia adalah satu-satunya keluarga yang masih kumiliki."Shen Ziyuan juga turun dari kuda, matanya menyipit curiga. "Siapa?"Weitian tidak menjawab. Dia berjalan ke pintu rumah kayu itu dan mengetuk pelan.Pintu terbuka. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul rapi. Wajahnya berkerut karena usia, tapi matanya masih tajam dan penuh wibawa. Dia mengenakan jubah sederhana, tapi aura kebangsawanannya tetap terpancar."Ini dia?" suara wanita tua itu dingin, matanya menyapu Ning Yuan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menghakimi
Setelah Weitian memberi izin, rombongan pun bersiap berangkat. Kini ada empat orang: Ning Yuan, Weitian, Shen Ziyuan, dan Zan di belakang mereka dengan membawa kuda-kuda.Shen Ziyuan menatap Zan dari ujung ke ujung. "Kau pengawalnya?"Zan mengangguk datar. "Ya.""Kau tidak perlu ikut," kata Shen Ziyuan dengan angkuh. "Aku bisa menjaga Ning Yuan."Zan menatapnya tanpa ekspresi. "Tidak.""Tidak?!" Shen Ziyuan hampir melompat. "Kau tahu siapa aku? Aku adalah—""Seorang pria yang sudah pernah kehilangan Ning Yuan sekali," potong Weitian dengan santai, "dan sekarang berusaha mati-matian untuk mendapatkannya kembali, meskipun kenyataannya dia sudah menjadi milikku."Shen Ziyuan menoleh dengan wajah merah padam. "Kau—aku—""Ayo berangkat," Weitian memotong, menggenggam tangan Ning Yuan. "Kita buang-buang waktu terlalu banyak di sini."***Perjalanan dimulai. Ning Yuan menunggang kuda di sisi Weitian, dengan Shen Ziyuan di sisi lainnya. Zan mengikuti dari belakang, matanya waspada mengawasi s
Shen Ziyuan menatap Ning Yuan dan Weitian dari sudut ruangan. Perasaannya campur aduk. Ada penyesalan. Ada kecewa. Dan tidak dipungkiri, sakit hati. Tapi hati kecilnya berkata, dia tetap harus memperjuangkan Ning Yuan. Aku tidak akan menyerah begitu saja, pikir Shen Ziyuan dalam hati. Aku sudah melakukan banyak kesalahan. Tapi kali ini, aku akan memperjuangkannya.Hanya saja masalahnya, di hadapannya berdiri Kaisar Weitian. Pria yang memiliki segalanya—kekuasaan, tahta, dan yang paling telak adalah hati Ning Yuan.Di sisi lain, Ning Yuan sudah selesai berpamitan pada keluarga Wang. Nyonya Besar Wang menangis sambil memeluknya erat. Ibu Wang juga tidak bisa menahan air matanya."Kau akan baik-baik saja, Nak?" tanya Ibu Wang dengan suara bergetar.Ning Yuan tersenyum lembut. "Aku akan baik-baik saja, Ibu. Aku janji akan mengirim kabar."Ayah Wang mengangguk dengan berat. "Jagalah dirimu, Yuan. Dan..." dia menatap Weitian yang berdiri di belakang Ning Yuan, "...jagalah kaisar dengan bai







