Share

BAB 24

Penulis: Kak Upe
last update Tanggal publikasi: 2026-06-30 08:46:48

Di pelataran kediaman keluarga Shen, suasana berubah hening.

Pengawal bayangan bersenjata lengkap berdiri mengelilingi Pangeran Ketiga dan Ning Yuan. Warga yang tadi berteriak kini mundur ketakutan. Tapi Ning Xue'er, dengan segala kelicikannya tidak mau kalah.

"Wah! Hebat sekali!" Ning Xue'er bertepuk tangan dengan sinis, suaranya memecah keheningan. "Kalian sampai menyewa pengawal dan mengaku-ngaku sebagai Pangeran Ketiga. Sungguh akting yang sangat meyakinkan, Kak Ning Yuan!"

Dia berbalik men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   21+ BAB 41: YA DI SANA!

    Kaisar bergerak lebih dalam. Ning Yuan menggigit bibirnya, tapi erangan tetap lolos—suara yang lahir dari kedalaman yang bahkan dia sendiri tidak tahu keberadaannya."Jangan tahan," bisik Kaisar, suaranya serak oleh hasrat. "Aku ingin mendengarmu. Aku rindu suaramu."Ning Yuan menggeleng lemah, tapi Kaisar menunduk dan mencium lehernya—bukan ciuman biasa. Bibirnya membuka, lidahnya menjilati kulit di sana, lalu menggigit lembut hingga Ning Yuan menjerit pelan. Lidahnya kembali menjilat bekas gigitan itu, dan Ning Yuan merasakan panas menjalar dari lehernya ke seluruh tubuhnya, seperti racun yang menyebar di aliran darahnya."Kau..." desahnya, tangannya meremas rambut Kaisar, menariknya lebih dekat. "Kau sengaja...""Sengaja apa?" bisik Kaisar, lidahnya masih bergerak di lehernya, turun ke tulang selangkanya, meninggalkan jejak basah seperti jejak kaki di atas pasir. "Katakan."Ning Yuan tidak bisa menjawab. Karena lidah Kaisar sudah bergerak turun ke dadanya, dan ketika mulutnya menya

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   21+ BAB 40: JANGAN MENCABAR BATAS AMANKU

    Kaisar menatap Ning Yuan dengan mata gelap. Senyum menggoda di bibir wanita itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat."Kau tidak sedang mencabar batasan ku kan Ning Yuan," bisiknya, suaranya serak, "malam ini seharusnya kau istirahat. Aku tidak akan membuatmu kelelahan malam ini. Tidur sambil memelukmu. . sudah cukup bagiku."Ning Yuan tersenyum. Sebuah senyum yang sama seperti di Paviliun Bulan. "Tapi aku ingin kelelahan malam ini. Aku sudah cukup istirahat, Yang Mulia. Tidur dalam pelukanmu, tidak cukup bagiku." sambungnya dangan tatapan yang menggoda.Kaisar tidak menjawab. Dia hanya menatap Ning Yuan—lama, dalam, seperti sedang menghafal setiap sudut wajahnya. Lalu seolah batasan itu telah hilang, Kaisar langsung menunduk dan mencium Ning Yuan.Bukan ciuman yang terburu-buru. Dan bukan pula ciuman penuh hasrat yang menggebu. Tapi ciuman lembut, perlahan, seperti hujan pertama di musim kemarau. Bibirnya bergerak dengan hati-hati di atas bibir Ning Yuan, seolah takut pergerakanny

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 39: EGOIS HANYA UNTUK MALAM INI

    Malam itu, Kaisar datang lagi ke kamar Ning Yuan di Paviliun tempat Ning Yuan menginap di istana.Dia masuk tanpa mengetuk, tanpa permisi—Benar-benar semua tempat di negeri ini bisa dia masuki sesuka hatinya. Ning Yuan yang sedang duduk di tepi ranjang hanya menghela napas panjang saat melihat sosok itu muncul di balik tirai."Apakah masuk diam-diam seperti ini sudah menjadi kebiasaan Yang Mulia?" gumamnya pelan.Kaisar tersenyum—senyum nakal yang sangat familiar. "Tidak semua kamar wanita aku masuki, Nyonya. Aku hanya khusus masuk ke kamarmu saja. Lagi pula, aku tidak bisa membiarkan malam terakhirmu di istana berlalu begitu saja."Ning Yuan menatapnya. Besok dia akan kembali ke kediaman keluarga Shen. Lukanya mulai membaik, dan jubah Kaisar sudah selesai. Tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal."Kemarilah," kata Kaisar, membuka lengannya.Ning Yuan tidak menolak. Dia berjalan mendekat dan masuk ke dalam pelukan Kaisar—hangat, aman, seperti tempat pulang."Apa kau akan memelukku s

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 39: Pelaku?

    Di taman istana, Kaisar dan Pangeran Ketiga duduk berhadapan. Di hadapan mereka, secangkir teh beruap tipis, tapi tidak ada yang menyentuhnya."Aku masih tidak mengerti, Kak," kata Pangeran Ketiga, suaranya penuh kebingungan. "Keluarga Shen sama sekali tidak menanyakan keadaan kak Yuan. Kedatangan mereka jelas hanya meminta jabatan untuk Shen Ziyuan. Aku sama sekali tidak melihat Keluarga Shen layak menerima kompensasi atas jasa kak Ning Yuan. Tapi kenapa kau malah memberikannya?"Kaisar menatap teh di hadapannya, matanya gelap. "Karena Ibunda Permaisuri."Pangeran Ketiga terkejut. "Ibu? Bukannya ibu sendiri yang sudah mencekal Shen Ziyuan untuk semua pekerjaan di Istanah? Kenapa ini semua kakak sebut sebagai keinginan dari ibu?""Ibunda Permaisuri mengatakan Ning Yuan sudah terlalu lama di istana. Dia sudah saatnya harus kembali ke rumahnya." Kaisar berhenti, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Tentu saja aku menolak. AKu tidak akan membiarkan dia kembali ke rumah yang bagai

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 38: KELUARGA LINDAH DARAH

    Malam itu, tenda Kaisar menjadi pusat perhatian.Ning Yuan terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat pasi, sisa panah setelah dipatahkan oleh Kaisar masih menancap di punggung Ning Yuan. Tabib istana bekerja dengan cepat, mengeluarkan sisa anak panah dengan hati-hati, lalu membalut luka yang cukup dalam itu.Kaisar duduk di samping ranjang sepanjang malam. Tidak bergerak. Tidak tidur. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Ning Yuan.Sementara itu Pangeran Liang Yue, Pangeran Ketiga, dan Pangeran Liang Wei juga ada di sana. Mereka semua menunggu dengan cemas."Bagaimana keadaannya?" tanya Putra Mahkota Liang Wei pada tabib."Lukanya cukup dalam, Yang Mulia," jawab tabib dengan hormat. "Tapi untungnya tidak mengenai organ vital. Desainer Ning selamat."Putra Mahkota Liang Wei menghela napas lega. Bagaimanapun Ning Yuan adalah rekan se-timnya. Dia merasa bertanggung jawab atas Insiden ini. Di luar tenda, Putri Liang Lin berdiri dengan wajah masam. Dia melihat bagaimana semua orang

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 37: PEMBUNUH BAYARAN

    Pagi hari terasa segar. Embun masih menempel di dedaunan, dan sinar matahari mulai merayap masuk di antara pepohonan. Ning Yuan berdiri di depan tendanya, memandangi kuda-kuda yang sudah disiapkan. Pangeran Liang Wei berjalan mendekat, menuntun seekor kuda putih yang cantik."Desainer Ning, ini kuda untukmu," katanya dengan senyum ramah. "Aku akan membantumu naik. Tidak perlu takut, kuda ini kudaku. Dia sangat jinak."Ning Yuan menggeleng cepat. "Terima kasih, Putra Mahkota. Tapi seperti yang katakan kemarin, hamba tidak pandai berkuda. Hamba akan berjalan kaki saja."Pangeran Liang Wei mengangkat alis. "Berjalan kaki? Tapi jaraknya jauh—""Tidak masalah. Silahkan Yang Mulia berkuda. Hamba pasti akan menyusul yang Mulia walaupun sedikit lebih lama," potong Ning Yuan dengan sopan tapi tegas.Pangeran Liang Wei menatapnya lama. Wanita ini berbeda. Semua wanita biasanya berpacu untuk dekat dengannya. Tapi wanita dari Tian Sheng ini dari kemari berusaha menjauh. Sungguh menarik."Jika kau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status