Home / Romansa / Pria milik 'ARANA' / Meminta izin keluarga

Share

Meminta izin keluarga

last update publish date: 2021-12-02 18:57:11
Tercium bau rokok di tengah ruang kerja, tampak seorang wanita dengan blazer hitam melangkah masuk membawa map di tangannya.

"Perjalanan bisnis besok. Kamu, jadi mengajak Tuan Maxime?"

"Tentu saja..." jawab Ryan menyeringai, menyesap sepuntung rokok di tangannya.

"Sudah kubilang berhenti merokok di sini!" tegur Syla,

Mengambil paksa, menekan mati sisa rokok pada asbak di sampingnya.

Dia menyender, sedikit meletakkan bokong ke atas meja kerja.

"Rubah lah sikapmu! Aku capek kena omel anggota
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria milik 'ARANA'   Teguran para dewan

    Perusahaan Sidney, bangunan megah yang terletak di pusat kota dengan arsitektur modern dan desain elegan.Gedung ini adalah simbol kesuksesan keluarga Sidney yang telah membangun kerajaan bisnis mereka dari nol.Di sana Max dan Ana datang memenuhi undangan, membahas sebuah proyek bersama direktur perusahaan lain."Rasanya sudah lama sekali. Tidak ada yang berubah, tapi aku merasa suasananya tidak sehening dulu." batin Ana mengamati sekitar,Sedikit gugup tapi mencoba untuk tidak menunjukkannya.Dia berjalan mengikuti Max melewati lorong, namun rasa penasaran membuat Ana tak bisa duduk dan diam saja."Anu, Pak---saya mau ke toilet sebentar.""Ya sudah, toiletnya ada---" suara Max tercekat, tak dihiraukan.Gadis itu langsung pergi begitu saja, anehnya dia berjalan ke arah yang benar. Menyisakan tanda tanya besar,Max terheran, padahal Ana pertama kali ke sini lalu bagaimana dia tahu letak toiletnya?

  • Pria milik 'ARANA'   Lowongan magang

    Ana menatap Max. "Saya sudah dengar, katanya seminarnya mau dimulai.""Bapak bisa pergi duluan. Saya bisa ganti baju sendiri," Ana menambahkan, suaranya terdengar canggung.Max nampak enggan pergi, tapi tak ada pilihan lain. Sejenak dia menatap tajam ke arah Ana, lalu berbalik pergi."Lain kali, kamu tidak akan lolos dariku."Ana tercengang merasakan jantungnya berdegup kencang, perkataan Max benar-benar terasa seperti ancaman.Perlahan punggung lebar itu menghilang dari pandangan,"Huft..." Ana menghela nafas lega, bergegas berganti pakaian.Memakai baju yang telah disiapkan untuknya. Sebuah dress lengan pendek sederhana warna pastel dengan desain minimalis yang terlihat elegan,Sedikit mengejutkan sebab dress itu memiliki potongan yang sangat pas di tubuh Ana. Menekan bentuk tubuh rampingnya,Bahan dress yang begitu ringan dan nyaman, membuatnya merasa bebas bergerak.Max bahkan menyiapkan sepatu hak senada berwarna pastel, yang membuat kaki jenjang Ana semakin tinggi."Seleranya ba

  • Pria milik 'ARANA'   Kesepakatan yang harus disetujui

    Suasana mendadak mati kutu di dalam ruang transit khusus tamu yang disediakan oleh kampus. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan mengintimidasi. Gorden tebal yang sengaja ditutup rapat menghalangi cahaya luar, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin temaram dan sunyi. Max berdiri tegap di depan Ana. Wajah tampannya mengeras, memancarkan kegeraman yang kentara. Sementara itu, Ana hanya bisa duduk diam di atas sofa dengan kepala tertunduk dalam, jemarinya meremas kuat jas pria itu yang mengalung di bahunya. "Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih layak?" tanya Max, nada suaranya meninggi satu oktav. Mata tajam pria itu menatap dingin pada blus tipis Ana yang basah kuyup. Kain yang melekat ketat itu kini mencetak jelas lekuk tubuh, bahkan menjelma transparan hingga memperlihatkan pakaian dalam Ana yang berwarna kontras. "Tid

  • Pria milik 'ARANA'   Berita kampus

    Pagi ini, Ana mengunjungi kampus untuk mengikuti seminar penting yang katanya wajib dihadiri. Masih dengan setelan formal yang dipakai bekerja, sebab siang nanti dia harus kembali ke perusahaan. Ana berjalan melewati koridor, mencoba menikmati suasana damai. Tapi perlahan dia mulai merasakan hal aneh, Setelah berjalan melewati gerombolan mahasiswa. Hampir semua dari mereka menatap ke arahnya, Dengan reaksi bermacam-macam, beberapa bahkan tertawa dan berbisik. Ana mengernyit kebingungan, tak tahu apa yang terjadi. Langkahnya pun semakin cepat menghampiri Alfio yang sedang duduk di depan kelas. "Alfio, apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" tanya Ana sedikit panik, Pria itu hanya menggeleng singkat setelah menatap gugup Ana yang mendekatkan wajahnya. "Terus, kenapa semua orang

  • Pria milik 'ARANA'   Kasus penggelapan

    "Tunggu! Ada apa ini?" sontak suara Dirga terdengar keras,Membuat Ana berlari keluar kamar, masih mengenakan kemeja kusutnya.Dia baru saja sampai dari perjalanan melelahkan dan berharap bisa beristirahat, tapi keributan di luar memaksanya bergerak. Seakan lupa pada letih yang dirasa,Dengan raut tak percaya, Ana melihat ayahnya diseret oleh petugas kepolisian."Ana, jangan!" tegur Citra, meraih lengan putrinya.Mencoba menahan gadis yang hendak mendekat. "Kembalilah ke kamar,""Tapi, Ma...""Sudah, jangan khawatir." imbuh Citra, suaranya sedikit gemetar.Meski batinnya dilanda cemas, dia tetap berusaha tenang demi membujuk Ana.Tapi Ana tak bisa tinggal diam, melihat ayahnya yang tak berdaya. Terlebih mendapati Rendra pamannya hanya berdiri sambil menyeringai,"Dasar sialan!" umpat Ana dalam hati,Dia berlari ke arah Rendra yang

  • Pria milik 'ARANA'   Hari kedua dinas

    Ana melangkah keluar kamar dengan dress pantai selutut, berjalan menuju ruang makan.Namun tak sengaja kakinya terhenti, sebab suara familiar yang asik berbincang lirih di sudut lain. Matanya melirik ke sekeliling sebelum bersembunyi di balik tembok,Langsung menempelkan telinga guna menguping."Tidak kusangka Perusahaan Sidney akan dipimpin oleh orang sepertinya." kata salah satu pria,Suaranya mengingatkan Ana pada direktur yang hanya duduk diam di acara semalam."Ya, aku juga tak menyangka. Menurutku kinerjanya sangat buruk---pertama kalinya, ada pertemuan bisnis semacam ini." jawab direktur lain,"Seharusnya para dewan perusahaan tidak menunjuknya sebagai direktur.""Mau bagaimana lagi? Dia satu-satunya penerus sah menurut surat ahli waris yang istrinya tinggalkan.""Hah! Omong kosong apa ini? Aku ga pernah membuat surat ahli waris semacam itu." batin Ana tercengang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status