Primo Javier Sandoval: The Son of illegitimate Son

Primo Javier Sandoval: The Son of illegitimate Son

last updateLast Updated : 2024-11-10
By:  bluOngoing
Language: Filipino
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
23Chapters
1.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Primo Javier Sandoval is a well-known actor from the Philippines who comes from a family of politicians. Although he is well-known, he has a secret that he keeps from everyone who watches him: a toxic mindset.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Hari itu, suara burung di taman keluarga Hartono terdengar seperti biasa, tetapi di dalam rumah megah itu, suasana jauh dari tenang. Keira duduk di sofa ruang tamu dengan kaki disilangkan, memelototi ayahnya yang duduk berhadapan dengannya. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hampir tumpah karena tangannya yang bergerak-gerak gelisah.

“Kenapa sih, Ayah selalu memaksakan kehendak?” sergah Keira dengan nada tinggi. “Aku bukan anak kecil lagi!”

Tuan William Hartono, pengusaha dengan reputasi keras dan disiplin, tetap tenang menghadapi protes putrinya. Dengan rambut mulai memutih dan wajah tegasnya, ia menyampaikan pendapatnya dengan nada dingin.

“Keira, sudah berapa kali aku bilang, ini soal keamanan. Kau mungkin merasa bisa menjaga dirimu sendiri, tapi nyatanya kau ceroboh. Sudah dua kali kau hampir terlibat kecelakaan dalam satu bulan terakhir,” katanya

“Kalau soal itu, aku bisa lebih hati-hati! Tidak perlu menyewa orang asing untuk mengikuti aku ke mana-mana.”

Tuan William menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menghela napas, lalu berkata, “Keira, kau tidak punya pilihan. Sopir itu mulai bekerja hari ini, dan aku tidak mau mendengar lagi keluhan tentang ini.”

Keira memutar bola matanya. Ia tahu ayahnya tak pernah berubah pikiran jika sudah memutuskan sesuatu.

Ketika bel pintu berbunyi, Keira langsung menoleh dengan rasa jengkel. “Jangan bilang itu sopirnya,” gumamnya.

Ayahnya tidak menjawab, tetapi berdiri dan melangkah ke pintu. Keira tetap di tempatnya, enggan menunjukkan antusiasme. Pintu terbuka, dan suara rendah ayahnya memperkenalkan tamu itu.

“Keira, ini Adrian. Mulai hari ini dia akan menjadi sopirmu.”

Keira mendongak dengan malas, tetapi matanya berhenti sesaat pada sosok pria yang masuk. Pria itu tinggi, mungkin sekitar 185 cm, dengan wajah yang bersih dan rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam yang pas di tubuhnya. Rambut hitamnya disisir ke belakang dengan gaya sederhana.

“Senang bertemu dengan Anda, Nona Keira,” kata Adrian sambil menundukkan sedikit kepalanya. Suaranya lembut, tetapi ada nada percaya diri yang sulit diabaikan.

Keira menatapnya dari atas ke bawah, lalu menyilangkan tangan di dada. “Mari kita lihat apakah kau bisa bertahan lebih dari seminggu,” katanya dingin, sebelum berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa melirik kembali.

Adrian tiba di rumah Keira tepat pukul 08.00 pagi keesokan harinya, sesuai jadwal. Mobil sudah dibersihkan dan diparkir di depan pintu utama. Ia mengenakan seragam yang sama sederhana seperti hari sebelumnya, tetapi kali ini Keira memperhatikan bahwa pria itu tidak membawa ponsel seperti kebanyakan orang.

“Tidak punya ponsel, ya? Apa kau terlalu sibuk dengan hidup sederhana?” tanya Keira dengan nada mengejek saat mereka memasuki mobil.

Adrian hanya tersenyum tipis. “Tentu saja saya punya, Nona. Tapi saat bekerja, prioritas saya adalah memastikan kenyamanan Anda.”

Keira mendecak kecil. “Kita lihat saja sampai kapan kau bisa bertingkah sempurna seperti itu.”

Hari itu, Keira sengaja memberikan jadwal yang rumit untuk menguji Adrian. Ia meminta Adrian mengantarnya ke butik terkenal di pusat kota, lalu ke salon mewah yang letaknya di ujung lain kota, dan terakhir ke kafe favoritnya. Semua lokasi itu berada di kawasan yang terkenal macet, dan ia sengaja memberi waktu yang sangat sempit.

“Cepat! Aku tidak punya banyak waktu,” katanya dengan nada menggurui.

Adrian tetap tenang, bahkan ketika jalanan mulai padat. Dengan keahlian mengemudi yang luar biasa, ia berhasil melewati kemacetan tanpa sedikit pun keluhan. Ketika Keira memerhatikan kaca spion, ia melihat wajah Adrian tetap tenang, tidak terganggu oleh sikapnya yang sengaja merepotkan.

“Dia sopir atau robot, sih?” gumam Keira pelan.

Di tengah perjalanan menuju kafe, sebuah insiden terjadi. Sebuah truk besar muncul dari arah kiri dengan kecepatan tinggi, tampaknya kehilangan kendali. Keira yang sedang sibuk bermain ponsel tidak menyadari apa yang terjadi sampai suara klakson keras terdengar.

“Keira, pegang sesuatu!” suara Adrian terdengar tegas, berbeda dari nada lembutnya biasanya.

Sebelum Keira sempat merespons, Adrian sudah menginjak rem dengan keras dan memutar setir, membuat mobil mereka berhenti hanya beberapa inci dari truk yang melintas.

Keira terkejut. Tangannya gemetar saat memegang kursi. “Apa yang baru saja terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar.

Adrian menoleh ke arahnya dengan tatapan lembut. “Kita hampir ditabrak truk, Nona. Apakah Anda baik-baik saja?”

Keira mengangguk perlahan. Namun, sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Refleks cepat Adrian dan ketenangannya di situasi genting membuatnya terkesan, meskipun ia enggan mengakuinya.

Saat mereka tiba di kafe, Keira masih terngiang-ngiang insiden tadi. Adrian tetap tenang seperti biasa, tetapi Keira merasa ada sesuatu yang aneh.

“Kenapa kau begitu tenang tadi?” tanya Keira tiba-tiba sebelum keluar dari mobil.

Adrian menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Itu bagian dari tugas saya, Nona. Saya harus memastikan Anda selalu aman.”

Keira memperhatikan wajahnya, mencari tanda-tanda ketegangan, tetapi tidak menemukan apa pun. “Kau sopir yang aneh,” gumamnya sebelum masuk ke kafe.

Dari jendela kafe, Keira sempat melihat Adrian berdiri di luar mobil, berbicara dengan seseorang melalui earphone. Meski percakapan itu tidak terdengar, gerak tubuh Adrian menunjukkan bahwa dia sedang membicarakan sesuatu yang serius.

“Kenapa sopir harus bicara seperti itu?” pikir Keira.

Malam itu, Keira duduk di kamarnya, memikirkan hari yang panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa Adrian

“Ayah mungkin benar. Dia memang sopir yang bagus,” gumamnya. Tapi kemudian, ingatan tentang percakapan misterius Adrian membuat rasa penasaran muncul.

Keira membuka ponselnya dan mulai mencari informasi tentang pria bernama Adrian. Sayangnya, tidak ada hasil yang relevan. Tidak ada media sosial, tidak ada latar belakang yang mencurigakan.

“Aneh,” katanya pelan.

Sementara itu, di kamar Adrian, pria itu sedang duduk di depan laptopnya. Ia memeriksa laporan keuangan sebuah perusahaan besar, matanya menatap grafik dengan fokus.

“Semua berjalan sesuai rencana,” gumamnya dengan suara rendah. Ia menutup laptopnya, lalu melirik foto keluarganya di atas meja kecil.

“Keira Hartono… kau akan menjadi bagian penting dari rencana ini, meskipun kau belum tahu apa-apa.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.


No Comments
23 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status