LOGINPrimo Javier Sandoval is a well-known actor from the Philippines who comes from a family of politicians. Although he is well-known, he has a secret that he keeps from everyone who watches him: a toxic mindset.
View MoreHari itu, suara burung di taman keluarga Hartono terdengar seperti biasa, tetapi di dalam rumah megah itu, suasana jauh dari tenang. Keira duduk di sofa ruang tamu dengan kaki disilangkan, memelototi ayahnya yang duduk berhadapan dengannya. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hampir tumpah karena tangannya yang bergerak-gerak gelisah.
“Kenapa sih, Ayah selalu memaksakan kehendak?” sergah Keira dengan nada tinggi. “Aku bukan anak kecil lagi!” Tuan William Hartono, pengusaha dengan reputasi keras dan disiplin, tetap tenang menghadapi protes putrinya. Dengan rambut mulai memutih dan wajah tegasnya, ia menyampaikan pendapatnya dengan nada dingin. “Keira, sudah berapa kali aku bilang, ini soal keamanan. Kau mungkin merasa bisa menjaga dirimu sendiri, tapi nyatanya kau ceroboh. Sudah dua kali kau hampir terlibat kecelakaan dalam satu bulan terakhir,” katanya “Kalau soal itu, aku bisa lebih hati-hati! Tidak perlu menyewa orang asing untuk mengikuti aku ke mana-mana.” Tuan William menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menghela napas, lalu berkata, “Keira, kau tidak punya pilihan. Sopir itu mulai bekerja hari ini, dan aku tidak mau mendengar lagi keluhan tentang ini.” Keira memutar bola matanya. Ia tahu ayahnya tak pernah berubah pikiran jika sudah memutuskan sesuatu. Ketika bel pintu berbunyi, Keira langsung menoleh dengan rasa jengkel. “Jangan bilang itu sopirnya,” gumamnya. Ayahnya tidak menjawab, tetapi berdiri dan melangkah ke pintu. Keira tetap di tempatnya, enggan menunjukkan antusiasme. Pintu terbuka, dan suara rendah ayahnya memperkenalkan tamu itu. “Keira, ini Adrian. Mulai hari ini dia akan menjadi sopirmu.” Keira mendongak dengan malas, tetapi matanya berhenti sesaat pada sosok pria yang masuk. Pria itu tinggi, mungkin sekitar 185 cm, dengan wajah yang bersih dan rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam yang pas di tubuhnya. Rambut hitamnya disisir ke belakang dengan gaya sederhana. “Senang bertemu dengan Anda, Nona Keira,” kata Adrian sambil menundukkan sedikit kepalanya. Suaranya lembut, tetapi ada nada percaya diri yang sulit diabaikan. Keira menatapnya dari atas ke bawah, lalu menyilangkan tangan di dada. “Mari kita lihat apakah kau bisa bertahan lebih dari seminggu,” katanya dingin, sebelum berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa melirik kembali. Adrian tiba di rumah Keira tepat pukul 08.00 pagi keesokan harinya, sesuai jadwal. Mobil sudah dibersihkan dan diparkir di depan pintu utama. Ia mengenakan seragam yang sama sederhana seperti hari sebelumnya, tetapi kali ini Keira memperhatikan bahwa pria itu tidak membawa ponsel seperti kebanyakan orang. “Tidak punya ponsel, ya? Apa kau terlalu sibuk dengan hidup sederhana?” tanya Keira dengan nada mengejek saat mereka memasuki mobil. Adrian hanya tersenyum tipis. “Tentu saja saya punya, Nona. Tapi saat bekerja, prioritas saya adalah memastikan kenyamanan Anda.” Keira mendecak kecil. “Kita lihat saja sampai kapan kau bisa bertingkah sempurna seperti itu.” Hari itu, Keira sengaja memberikan jadwal yang rumit untuk menguji Adrian. Ia meminta Adrian mengantarnya ke butik terkenal di pusat kota, lalu ke salon mewah yang letaknya di ujung lain kota, dan terakhir ke kafe favoritnya. Semua lokasi itu berada di kawasan yang terkenal macet, dan ia sengaja memberi waktu yang sangat sempit. “Cepat! Aku tidak punya banyak waktu,” katanya dengan nada menggurui. Adrian tetap tenang, bahkan ketika jalanan mulai padat. Dengan keahlian mengemudi yang luar biasa, ia berhasil melewati kemacetan tanpa sedikit pun keluhan. Ketika Keira memerhatikan kaca spion, ia melihat wajah Adrian tetap tenang, tidak terganggu oleh sikapnya yang sengaja merepotkan. “Dia sopir atau robot, sih?” gumam Keira pelan. Di tengah perjalanan menuju kafe, sebuah insiden terjadi. Sebuah truk besar muncul dari arah kiri dengan kecepatan tinggi, tampaknya kehilangan kendali. Keira yang sedang sibuk bermain ponsel tidak menyadari apa yang terjadi sampai suara klakson keras terdengar. “Keira, pegang sesuatu!” suara Adrian terdengar tegas, berbeda dari nada lembutnya biasanya. Sebelum Keira sempat merespons, Adrian sudah menginjak rem dengan keras dan memutar setir, membuat mobil mereka berhenti hanya beberapa inci dari truk yang melintas. Keira terkejut. Tangannya gemetar saat memegang kursi. “Apa yang baru saja terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar. Adrian menoleh ke arahnya dengan tatapan lembut. “Kita hampir ditabrak truk, Nona. Apakah Anda baik-baik saja?” Keira mengangguk perlahan. Namun, sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Refleks cepat Adrian dan ketenangannya di situasi genting membuatnya terkesan, meskipun ia enggan mengakuinya. Saat mereka tiba di kafe, Keira masih terngiang-ngiang insiden tadi. Adrian tetap tenang seperti biasa, tetapi Keira merasa ada sesuatu yang aneh. “Kenapa kau begitu tenang tadi?” tanya Keira tiba-tiba sebelum keluar dari mobil. Adrian menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Itu bagian dari tugas saya, Nona. Saya harus memastikan Anda selalu aman.” Keira memperhatikan wajahnya, mencari tanda-tanda ketegangan, tetapi tidak menemukan apa pun. “Kau sopir yang aneh,” gumamnya sebelum masuk ke kafe. Dari jendela kafe, Keira sempat melihat Adrian berdiri di luar mobil, berbicara dengan seseorang melalui earphone. Meski percakapan itu tidak terdengar, gerak tubuh Adrian menunjukkan bahwa dia sedang membicarakan sesuatu yang serius. “Kenapa sopir harus bicara seperti itu?” pikir Keira. Malam itu, Keira duduk di kamarnya, memikirkan hari yang panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa Adrian “Ayah mungkin benar. Dia memang sopir yang bagus,” gumamnya. Tapi kemudian, ingatan tentang percakapan misterius Adrian membuat rasa penasaran muncul. Keira membuka ponselnya dan mulai mencari informasi tentang pria bernama Adrian. Sayangnya, tidak ada hasil yang relevan. Tidak ada media sosial, tidak ada latar belakang yang mencurigakan. “Aneh,” katanya pelan. Sementara itu, di kamar Adrian, pria itu sedang duduk di depan laptopnya. Ia memeriksa laporan keuangan sebuah perusahaan besar, matanya menatap grafik dengan fokus. “Semua berjalan sesuai rencana,” gumamnya dengan suara rendah. Ia menutup laptopnya, lalu melirik foto keluarganya di atas meja kecil. “Keira Hartono… kau akan menjadi bagian penting dari rencana ini, meskipun kau belum tahu apa-apa.”Habang masaya kumakain at abala makipag-kwentuhan, si Javier naman ay iniisip ang sinabi ni Dominic kanina. Nilingon niya ang dalaga na nasa tabi niya lang na abala sa pakikipag-usap. Hindi niya alam kung susundin niya ba ang suggestion ng kaibigan o mananahimik nalang sa tabi nito ng dalaga. Naramdaman naman ni Serenity na parang may nakatingin sa kanya kaya lumingon siya at nakita niya na nakatingin sa kanya si Javier. Kakaiba ang paraan ng pagtingin nito sa kanya, parang may kakaibang meaning ito. Nagpaalam muna siya sa kausap bago humarap sa lalaki. "Hey, is there any problem? Why are you looking at me like that?" tanong ni Serenity habang nakatitig sa mga mata ng lalaki. Umiling naman si Javier at ngumiti ng maliit. Hinawakan naman niya ang kamay ng dalaga. "Wala naman problema. I just want lang na tignan ka," Kinurot naman ni Serenity ang braso niya kaya napasinghal siya. Kumunot naman ang noo niya habang nakatingin sa dalaga. "Aray! Bakit ka ba bigla nalang nangungurot?" t
“Dominic, nasaan na yung inutos ko sa’yo kanina?” tanong ni Vernon habang nakatingin kay Dominic na abala makipag-usap kay Faye. Yung mga nakarinig naman ay lumingon at binato ito ng gamit kaya nakuha na nila ang attention ng lalaki. “Nasaan na yung inutos sa’yo ni tito?” natatawang tanong ni David habang nakatingin sa kaibigan. Tumayo naman si Dominic at lumapit kay Vernon para ituro ang hinahanap nito. Natawa na din si Belle sa kalokohan ng mga ito. Napansin naman niya si Javier na kanina pa lingon ng lingon sa pintuan ng bahay nila. “Javier, anong problema?” tanong niya habang nakatingin sa lalaki na nagulat nang marinig ang pangalan niya pati ang iba ay napatingin din. Umiling si Javier bilang sagot. Ayaw niya sagutin ang nakakatanda dahil alam niya na aasarin lang siya ng mga ito at magtatanong ngunit hindi iyon natuloy nang magsalita si Yves. “Hinihintay niya si Serenity,” Naintriga naman si Belle na tanungin ang lalaki. Alam niya na may itinatago ito sa kanya na gusto niya
Matapos kumain ay nagpasya silang lahat na maupo sa sala upang pag-usapan ang gusto nila planuhin. Nakaupo ang mga babae sa couch habang ang ilang lalaki naman ay nakatayo at nakaupo sa lapag. Habang ang dalawang matanda naman ay lumabas para tignan ang mga gagawin nila para mamaya. “So ano plano natin for Christmas?” tanong ni Tobias habang tinitignan ang mga kaibigan. Nagkibit-balikat ang iba dahil wala silang maisip na idea, habang ang iba naman ay tumingin sa kanya at ngumiti. “May idea ako na alam ko na magugustuhan natin lahat,” sabi ni Dominic habang may malaki na ngiti sa labi. Umiling ang mga lalaki nang makita ang ngisi na palabas na sa labi ng kaibigan habang ang mga babae naman ay na curious kung ano iyon. “Ano naman ‘yan naisip mo, Dominic?” kunot-noo na tanong ni Faye habang nakatingin sa lalaki na ngumisi lang sa kanya. Tumayo si Dominic at humarap sa mga kaibigan. “I want na mag beach tayo for Christmas, as in tayo sa beach mag Christmas Eve,” sabi ni Dominic h
Kinabukasan sobrang ingay ng bahay ng mga Ocampo dahil busy ang mga ito magluto at mag-ayos para sa breakfast nila. Gising na ang mga lalaki maliban sa mga babae dahil hindi na muna pinagising ni Belle ang mga ito dahil alam niya na pagod ang mga ito sa trabaho at sa byahe."Javi, pwede ba na ikaw muna magluto ng hot dogs?" tanong ni Belle habang nakatingin kay Javier na abala sa pagtulong sa mga kaibigan niya.Nilingon ni Dominic ang matanda at tinuro ang ginagawa nila. "Sorry Tita, but kailangan namin si Javi para matapos na namin ang pinapagawa sa amin ni tito,"Tumango naman ang mga iba pang lalaki bilang pag sang-ayon sa sinabi ni Dominic at tinuro pa ang mga iba pa nilang gagawin."Nakikita ko kayo lahat. Natapos niyo na kanina ang pinapagawa ng tito niyo kaya ang iba sa inyo ay tutulong sa akin mag prepare ng breakfast. Walang aangal kundi lagot kayo sa akin lahat isama niyo na ang tito niyo," sabi ni Belle habang nakataas ang kilay sa mga ito.Binitawan ng mga ito ang mga hawa
Nagising si Serenity dahil nararamdaman niya na may humahalik sa pisngi niya. Dinilat niya ang mga mata niya, nakita niya si Javier na nakangiti na sa kanya. Tumayo ito at hinila ang mga kamay niya para mapatayo siya. Sumandal siya sa headboard habang si Javier naman ay nakaupo lang sa harap niya.
Nagising si Serenity sa kakaibang kwarto. Umupo siya sa kama at sinandal ang likod sa headboard. Inikot niya ang mga mata niya sa malaking kwarto. Napansin niya na puro black and gray ang kulay ng buong kwarto.Tumayo siya sa kama at naglakad papunta sa nakita niyang table sa tabi ng TV. Nakita niy
Nakaupo na sila sa couch ng sala ni Javier. Magkatabi lang sila pero feel nila na malayo sila sa isa't isa. Naghahanap lang ng movie si Javier habang hinihintay niya ang dalaga na mag open-up sa kanya. Samantala si Serenity naman ay nag-aalinlangan kung sasabihin ba niya ito o kakalimutan na lang n
Marami ng nagawang poses sa camera si Javier para sa shoot ng isang brand. Napili siya ng mga ito dahil sa pasok na appearance niya para sa brand nila. Sa totoo lang ilang buwan na siya puro trabaho, napapagod na siya sa araw-araw na photoshoot at shooting ng movie niya. Gusto man niya magpahinga,












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.