MasukSetelah konfrontasi yang dingin dengan Baskara, aku kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Kata-katanya terus terngiang di telingaku: "Ayahmu merenggut segalanya dari keluargaku." Itu adalah pengakuan yang mengejutkan, dan itu membuatku bertanya-tanya, apakah Ayahku benar-benar seburuk itu? Apakah ia benar-benar bertanggung jawab atas kematian Hendrawan Prasetyo?
Aku kembali ke rumah, tetapi rumah itu terasa seperti penjara. Nara, tunanganku, terlihat semakin cemas. Ia tidak lagi mencoba untuk berbicara denganku. Ia hanya terus menatap ponselnya, seolah-olah menunggu telepon penting. Dan setiap kali ada telepon masuk, ia akan buru-buru pergi ke luar ruangan, suaranya pelan dan berbisik-bisik. Aku memasang aplikasi pelacak di ponsel Nara. Malam itu, aku melihat lokasinya di sebuah kafe di pinggir kota. Aku tahu itu adalah kafe yang sama tempat ia bertemu dengan pria berjaket kulit itu. Aku tahu ia sedang berbohong padaku. Aku merasa bodoh. Aku telah mencintai pria ini selama lima tahun. Aku telah menjanjikan hidupku padanya. Tetapi kini, semua itu terasa seperti sebuah kebohongan. Aku merasa seperti telah dipermainkan. Aku duduk di kamar, menatap ponselku, melihat lokasinya di peta. Aku merasa mual. Aku tidak bisa lagi menunda konfrontasi. Aku harus tahu kebenaran. Aku harus tahu apakah Nara adalah bagian dari konspirasi ini. Aku menunggu Nara pulang. Ia masuk ke rumah pada pukul satu dini hari, wajahnya terlihat lelah dan cemas. Ia tidak menyapaku. Ia hanya berjalan ke kamar, mencoba untuk tidak membuat suara. Aku menunggunya di depan pintu. "Dari mana saja kamu, Nara?" tanyaku, suaraku dingin. Nara terkejut. "Raina? Kamu belum tidur?" "Aku tidak bisa tidur," jawabku. "Aku ingin tahu dari mana saja kamu. Aku melihat lokasimu di ponsel." Nara terdiam. Wajahnya pucat. "Kamu menguntitku?" tanyanya. "Aku tidak menguntitmu," jawabku. "Aku hanya ingin tahu kebenaran. Apa yang kamu sembunyikan, Nara? Siapa pria berjaket kulit itu? Dan apa yang ada di dalam amplop cokelat itu?" Nara terdiam. Ia menatapku dengan mata yang terluka. "Aku tidak bisa memberitahumu, Raina. Ini untuk kebaikanmu." "Untuk kebaikanku?" tanyaku sinis. "Apa yang kamu maksud? Apakah kamu adalah bagian dari mereka? Apakah kamu bekerja sama dengan para penculikku?" Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Tentu saja tidak! Aku tidak akan pernah melakukan itu padamu, Raina! Aku mencintaimu!" "Kamu mencintaiku?" tanyaku, air mataku mulai jatuh. "Lalu kenapa kamu berbohong padaku? Kenapa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Nara menghela napas. Ia berjalan ke arah jendela, menatap keluar. "Aku tahu ini akan sulit bagimu untuk percaya," katanya. "Tapi aku melakukan ini untuk melindungimu. Pria berjaket kulit itu adalah seorang informan. Ia memberitahuku tentang Tirtayasa. Ia adalah orang yang mengatur penculikanmu." "Tirtayasa?" tanyaku. Nama itu terdengar asing. "Ia adalah saingan Ayahmu di Witech Corp. Ia menginginkan 'Proyek Alpha,' dan ia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkannya," jawab Nara. "Aku berpura-pura bekerja sama dengannya untuk mendapatkan informasi. Amplop itu berisi data palsu untuk mengulur waktu." Aku terdiam. Apakah Nara mengatakan yang sebenarnya? Atau ini adalah kebohongan lain? "Kamu harus percaya padaku, Raina," ucap Nara. "Aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku mencintaimu. Aku melakukan ini untuk melindungimu." Aku tidak tahu harus percaya apa. Di satu sisi, Nara terdengar tulus. Ia terlihat takut, cemas, dan tertekan. Di sisi lain, aku masih ingat peringatan Baskara: "Jangan percaya siapa pun, termasuk orang yang mengaku mencintaimu." Aku berjalan ke arahnya, menatapnya lurus di mata. "Jika kamu benar-benar mencintaiku, berhentilah berbohong padaku. Beri tahu aku semuanya." Nara mengangguk. "Baiklah," katanya. "Aku akan memberitahumu semuanya. Tapi tidak sekarang. Ini terlalu berbahaya." Aku merasa bingung. Aku tidak tahu harus percaya apa. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya tahu satu hal: aku harus mencari tahu kebenaran. Aku harus tahu apakah Nara benar-benar mencintaiku, atau ia adalah bagian dari konspirasi ini. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku menemukannya.Aku dan Gio memarkir sedan Jepang usang kami di sudut tersembunyi, terlindung oleh rimbun pohon beringin tua, beberapa ratus meter dari gerbang belakang Universitas Nusa Tenggara. Kampus itu tampak tenang di bawah sinar matahari pagi, tetapi bagiku, itu terasa seperti sarang lebah yang siap menyerang. Di balik ketenangan itu, ada Tirtayasa. "Kampus adalah zona netral," bisik Gio, menatap layar ponselnya. "Kami akan masuk melalui jalur perpustakaan. Profesor Bayu baru saja masuk. Dia memiliki waktu 30 menit sebelum kelasnya dimulai." "Apakah dia akan percaya pada kita?" tanyaku, merasakan dingin menjalar di perutku. "Putri Damar Wicaksana dan peretas buronan?" "Dia akan percaya pada ini," kata Gio, mengetuk brankas portabel berlapis timah yang berisi tablet. "Dan dia akan percaya pada rekaman suara Hendrawan. Bas mengatakan itu adalah satu-satunya peluru perak kita." Saat kami bersiap untuk keluar dari mobil, ponsel modifikasi Gio yang diposisikan sebagai pemindai siny
Pagi itu, kabut di Rinjani terasa dingin dan mencekik. Setelah percakapan berat dengan Baskara, tidak ada lagi ruang untuk keraguan atau emosi. Kami adalah tiga orang yang dipersenjatai dengan tekad dan dikelilingi oleh musuh tak kasat mata. Gio menyewa mobil bekas yang tampak biasa saja—sebuah sedan Jepang tua yang warnanya sudah pudar. Sempurna untuk menyamarkan diri. Aku duduk di kursi penumpang, tablet terenkripsi Ayahku disembunyikan di dalam kompartemen rahasia yang Gio pasang di bawah kursi. Gio mengemudi, matanya tidak hanya fokus pada jalan, tetapi juga pada serangkaian data anomali yang ia pantau melalui ponsel modifikasinya yang diletakkan di dasbor. "Profesor Bayu akan mengajar kelas Pengantar Kode Etik di Universitas Nusa Tenggara," Gio menjelaskan, suaranya tegang. "Itu adalah lokasi yang paling netral. Kita harus berbaur dengan mahasiswa. Kita harus meyakinkan dia untuk tidak hanya melihat tablet itu sebagai data Witech, tetapi sebagai senjata yang akan menghancur
(ketika sebuah pembunuhan disamarkan sebagai statistik, dan kebenaran dipendam selama sepuluh tahun)Kabut pagi di Rinjani tidak turun – ia merayap.Ia menyusup perlahan dari sela pepohonan, menempel di dinding motel, meresap ke poro-pori kulit, membuat udara terasa basah dan berat. Matahari belum benar-benar terbit, hanya menyisakan cahaya abu-abu yang membuat segala sesuatu tampak seperti dunia yang belum selesai diciptakan.Aku duduk di lantai kamar motel, punggung bersandar pada dinding dingin. Tablet terenkripsi itu berada di dalam brankas portabel berlapis timah, terkunci rapat seperti rahasia yang menolak untuk dibuka. USB drive ayahku sudah disalin Gio, tetapi salinannya terasa seperti bayangan – tanpa makna sebelum kami memahami keseluruhan ceritanya.Gio berdiri di dekat jendela, tirainya sedikit terbuka. Tangannya memegang ponsel terenkripsi, matanya waspada. Di layar laptop, wajah Baskara muncul -diam, kaku, seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup bersama hantu.Ke
Motel itu berdiri seperti bangunan yang lupa mati.Lampu neon di atas papan namanya berkedip pelan, memantulkan cahaya kehijauan ke genangan air di aspal. Udara di sekitarnya bau lembap, campuran jamur, karpet tua, dan asap kendaraan yang jarang lewat. Tidak ada kamera keamanan yang berfungsi. Tidak ada resepsionis setelah tengah malam. Tempat ini terlalu buruk untuk di curigai -dan itulah sebabnya Gio memilihnya.Kami masuk tanpa bicara. Gio langsung bergerak begitu pintu tertutup. Tangannya cekatan, efisien seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini untuk ,asih merasakan gugup. Ia mengeluarkan perangkat kecil dari ranselnya -jammer sinyal berbentuk cakram pipih- lalu menempelkannya di dinding dekat jendela. “Radius tiga puluh meter,” katanya tanpa menoleh. “Cukup untuk membuat kita buta dari luar,”Aku memperhatikan setiap gerakannya sambil duduk di tepi ranjang. Kasurnya berderit pelan di bawah berat tubuhku. Spreinya terasa kasar, seperti tidak benar-benar bersih.
Mobil yang dikendarai Gio berbelok perlahan dan mulai menanjak melewati jalan sempit menuju area perbukitan. Kabut Rinjani semakin padat, memeluk mobil seperti tirai putih yang bergerak dengan napas hutan. Lampu depan menabrak gumpalan kabut itu, membuat dunia seolah surut hanya beberapa meter ke depan. Gio menurunkan kecepatan. “Kita semakin dekat dengan kompleks lama fakultas teknik,” katanya tanpa menoleh. “Menurut peta yang Bas berikan, tempat Profesor Bayu tinggal ada di wilayah kampus yang sudah tidak dipakai.”Aku mendengarnya. Tapi pikiranku tidak benar-benar berada di kursi penumpang mobil itu.Pikiranku sudah kembali ke malam itu.Malam ketika semua titik terang menyatu.Malam ketika ketakutan ayahku akhirnya diberi nama. Tirtayasa.Dan di baliknya – sesuatu yang lebih gelap, lebih besar, lebih sunyi. Raka D.Ingatan itu kembali bukan sebagai potongan-potongan acak, tetapi sebagai film penuh yang diputar ulang tanpa izin. FLASHBACK – MALAM ITU, DETIK – DETIK SETELAH AYAH
Kabut malam Rinjani terus menebal di balik kaca mobil, seolah-olah gunung itu sengaja menelan jalanan sempit yang kami lewati. Lampu kendaraan Gio menembus kegelapan hanya sejauh beberapa meter, membuat hutan di kiri dan kanan tampak seperti dinding hitam dengan mata tak terlihat yang mengikuti setiap gerak kami. Tidak ada suara lain selain raungan mesin yang menanjak, denting halus batu kecil yang terpukul ban, dan sesekali derit pepohonan yang tersentuh angin. Gio menoleh sekilas. “Kau kelihatan jauh,” katanya pelan. Aku hanya mengangguk. Karena memang itulah yang terjadi. Tubuhku berada di mobil ini, duduk dengan sabuk pengaman yang mengunci, namun pikiranku kembali pada malam itu - Malam ketika aku menyadari bahwa Damar Wicaksana bukan sekedar pengkhianat. Dia adalah manusia yang luluh lantak oleh ketakutannya sendiri. Malam itu ketika pengakuannya menghancurkan sebagian kebencianku, tetapi tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya. Dan seperti pintu tua yang terbuka pelan di dal