Home / Thriller / Proyek alpha: bayang bayang kebenaran / Bab 8: Nadine (Raina) Mulai Menyelidik Sendiri dengan Aplikasi Pelacak

Share

Bab 8: Nadine (Raina) Mulai Menyelidik Sendiri dengan Aplikasi Pelacak

last update Last Updated: 2025-10-21 13:51:20

Malam menelan rumahku dalam keheningan yang mencekik. Tidak ada suara selain detak jam di dinding yang terasa seperti bom waktu di dalam kepalaku. Aku duduk di ujung tempat tidur, ponsel di tangan, menatap ikon kecil berbentuk peta biru yang kini menjadi satu-satunya alat untuk mencari kebenaran.

Aplikasi pelacak itu sederhana—terlalu sederhana, mungkin. Tapi di balik tampilannya yang polos, ada dunia baru yang terbuka untukku: dunia penuh rahasia, koordinat, dan pergerakan yang tak bisa dibohongi. Dunia tempat Nara hidup selama ini… di luar jangkauanku.

Nama pengguna yang kupilih untuk masuk ke aplikasi itu: Nadine. Nama lama yang pernah kugunakan untuk bersembunyi di forum-forum online ketika ingin melupakan siapa diriku. Nama yang kini kupakai lagi, bukan untuk bersembunyi—tapi untuk memburu kebenaran.

Setiap kali aku membuka peta itu, jantungku seolah menahan napas. Di layar, sebuah titik biru kecil menunjukkan posisiku, sementara titik merah menunjukkan posisi Nara. Dan malam ini… titik merah itu bergerak.

Pukul 00.47.

Ia meninggalkan rumah.

Aku membeku. Di bawah ikon kecil bertuliskan namanya, muncul keterangan lokasi: “Jalan Suryo No. 19 — Area Industri Lama”.

Tempat itu… terpencil. Aku tahu. Aku pernah melewati jalan itu sekali bersama ayah, bertahun-tahun lalu. Sebuah kawasan yang sudah mati, penuh gudang tua dan lampu jalan yang mati separuh. Tidak ada alasan logis bagi siapa pun untuk pergi ke sana—apalagi tengah malam begini.

Tanganku gemetar. Aku menatap titik merah itu yang terus bergerak pelan di layar.

“Ke mana kau sebenarnya, Nara?” bisikku.

Aku menahan napas, lalu mengaktifkan fitur tracking history. Dalam hitungan detik, garis-garis biru muncul, membentuk pola. Aku menatapnya lekat-lekat—dan darahku seolah berhenti mengalir.

Polanya berulang.

Tempat yang sama. Jam yang hampir sama. Dua kali seminggu. Tengah malam.

Bukan kebetulan.

Aku menggigit bibir bawahku, menahan gemetar yang tak tertahankan. Kata-kata Nara kemarin sore terngiang lagi di kepalaku—

> “Aku cuma butuh waktu sendiri, Raina. Aku butuh tenang.”

Tenang? Di area industri mati pukul satu pagi? Aku nyaris tertawa jika tak sedang diliputi rasa ngeri.

Kecurigaan kini bukan sekadar benih—ia telah tumbuh menjadi belukar yang menjerat pikiranku. Aku harus tahu. Aku tidak bisa hanya menatap peta ini dan menebak-nebak. Aku harus melihat dengan mataku sendiri.

Aku menarik jaket hitam, menyelipkan ponsel di saku dalam, lalu mengambil kunci mobil.

Udara malam terasa menusuk saat aku keluar. Angin membawa bau logam dan aspal basah. Saat mesin mobil menyala, jantungku ikut berdetak lebih cepat. Aku melirik ponsel di dudukan dashboard—titik merah itu masih bergerak. Aku mengikutinya, seperti bayangan yang menempel pada tuannya.

---

Perjalanan menuju area industri itu terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Setiap tikungan membawa aroma bahaya. Lampu jalan semakin jarang, dan akhirnya lenyap sama sekali. Hanya sinar redup dari lampu mobil yang menembus kegelapan.

Aku mematikan mesin beberapa meter sebelum lokasi terakhir titik merah berhenti. Di depanku berdiri bangunan tua bertuliskan “Gudang Suryo 19”, catnya terkelupas, sebagian jendela pecah, dan dari celah atapnya, cahaya redup berwarna kebiruan keluar.

Aku menelan ludah. Napasku berembus cepat, tapi langkahku mantap.

Dengan hati-hati, aku menuruni mobil dan berjalan mendekat, menempel di tembok, lalu mengintip dari celah kaca yang pecah.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Nara.

Ia berdiri di depan meja panjang berdebu, dengan laptop terbuka dan beberapa kabel tersambung ke perangkat kecil seperti hard drive eksternal. Layar laptopnya menampilkan deretan angka dan peta jaringan. Aku tak mengerti sepenuhnya, tapi satu hal pasti—ia sedang mentransfer data.

Aku menahan napas. Suara klik lembut dari jari-jarinya terdengar jelas dalam kesunyian malam. Lalu terdengar suara langkah dari sisi lain ruangan.

Seseorang datang.

Seorang pria berjaket kulit. Aku mengenalnya dari malam sebelumnya—pria yang duduk bersamanya di kafe.

“Apa kau yakin semua sudah dihapus?” suaranya berat dan rendah.

Nara menelan ludah. “Sudah. Tidak ada yang tertinggal. Tapi… dia mulai curiga.”

“Dia?”

“Raina.”

Aku nyaris mundur karena jantungku serasa berhenti.

Mereka bicara tentangku.

Pria itu mendecak pelan. “Kau harus menahannya lebih lama. Jika dia tahu lebih dulu sebelum waktunya, semua rencana akan gagal.”

Nara mengangguk pelan. “Aku akan coba. Tapi dia bukan Raina yang dulu. Ada yang berubah. Dia seperti… tahu sesuatu.”

Aku menatap wajahnya lama dari balik celah itu. Mata Nara tampak lelah, tapi ada ketakutan di sana. Ia bukan hanya menyembunyikan sesuatu—ia tampak terperangkap di dalamnya.

“Kalau aku ketahuan…” suaranya bergetar, “aku tahu apa yang akan terjadi padaku, kan?”

Pria itu tersenyum dingin. “Kau terlalu pintar untuk bertanya hal yang sudah jelas.”

Sebuah jeda panjang. Lalu ia berbalik dan pergi.

Aku menahan napas sampai langkahnya menghilang di kegelapan. Hanya Nara yang tersisa di ruangan itu, menatap layar laptopnya, lalu menutupnya perlahan. Setelah itu, ia menunduk dan menarik napas panjang, seolah menahan tangis.

Aku terpaku di tempat.

Apa yang baru saja kulihat… bukan sekadar kebohongan biasa. Ini lebih besar dari itu. Lebih berbahaya. Dan di tengahnya, entah kenapa, ada aku.

Aku mundur perlahan, memastikan tak ada suara. Saat aku berbalik menuju mobil, mataku sempat menangkap sesuatu di lantai: amplop cokelat—tergeletak di dekat pintu masuk gudang.

Aku menunduk dan meraihnya. Di bagian depan amplop itu, hanya tertulis satu kata, huruf besar, hitam tebal:

“ALPHA.”

Tanganku membeku.

Suara pintu besi berderit di belakangku.

Aku spontan berbalik—Nara berdiri di ambang pintu.

Wajahnya pucat. Matanya melebar saat melihatku.

“Raina…?” suaranya hampir tak terdengar.

Aku membeku, amplop itu masih di tanganku.

Beberapa detik yang terasa seperti keabadian berlalu. Tak ada yang bergerak, kecuali angin yang membawa debu di antara kami.

Akhirnya, aku memaksakan senyum kecil yang kaku. “Jadi… ini yang kau sembunyikan dariku?”

Wajahnya berubah panik. Ia menatap amplop di tanganku, lalu kembali menatapku.

“Dengar aku dulu, aku bisa jelaskan—”

“Tidak perlu.”

Suaraku bergetar, tapi tegas. “Aku sudah cukup mendengar kebohonganmu.”

Ia melangkah maju. “Raina, kumohon. Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Aku—”

“Seperti apa, Nara?!” seruku, tak bisa lagi menahan gejolak di dadaku. “Kau bertemu dengan orang itu, di jam seperti ini, di tempat seperti ini, mentransfer sesuatu, menyebut namaku—dan kau masih berharap aku percaya ini ‘bukan seperti yang kupikirkan’?!”

Hening. Hanya napas kami yang berat.

Nara menunduk, suaranya pelan. “Aku hanya mencoba melindungimu…”

“Melindungi?” aku hampir tertawa getir. “Atau menghapus jejakku sebelum semuanya terbongkar?”

Ia tak menjawab.

Dan di antara kami, amplop itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Aku berbalik dan berjalan cepat ke arah mobil, menahan air mata yang mulai menumpuk di sudut mata. Di belakangku, kudengar Nara memanggil namaku berulang kali, tapi aku tak berhenti.

Saat mobilku menjauh dari kawasan itu, hatiku terasa sekarat. Setiap detik terasa seperti pengkhianatan baru. Tapi di tengah semuanya, satu hal mulai tumbuh di dalam pikiranku:

Jika “Proyek Alpha” cukup berbahaya hingga membuat Nara berbohong, mungkin semua yang terjadi padaku—penculikan, mimpi buruk, bahkan rasa takut yang terus menghantuiku—semuanya berasal dari satu sumber: Proyek itu.

Dan aku bertekad, malam ini juga, aku tidak akan lagi hanya menjadi bayangan yang dibohongi.

Aku akan mencari tahu.

Tentang Alpha. Tentang Nara. Tentang semua orang yang telah mengubah hidupku menjadi teka-teki berdarah ini.

Dan untuk pertama kalinya…

Rasa takut itu berubah menjadi tekad yang tajam.

Aku bukan lagi korban.

Aku adalah pemburu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Proyek alpha: bayang bayang kebenaran    Bab 25 Kekerasan dan ketakutan – Nara jadi korban tekanan

    Aku dan Gio memarkir sedan Jepang usang kami di sudut tersembunyi, terlindung oleh rimbun pohon beringin tua, beberapa ratus meter dari gerbang belakang Universitas Nusa Tenggara. Kampus itu tampak tenang di bawah sinar matahari pagi, tetapi bagiku, itu terasa seperti sarang lebah yang siap menyerang. ​Di balik ketenangan itu, ada Tirtayasa. ​"Kampus adalah zona netral," bisik Gio, menatap layar ponselnya. "Kami akan masuk melalui jalur perpustakaan. Profesor Bayu baru saja masuk. Dia memiliki waktu 30 menit sebelum kelasnya dimulai." ​"Apakah dia akan percaya pada kita?" tanyaku, merasakan dingin menjalar di perutku. "Putri Damar Wicaksana dan peretas buronan?" ​"Dia akan percaya pada ini," kata Gio, mengetuk brankas portabel berlapis timah yang berisi tablet. "Dan dia akan percaya pada rekaman suara Hendrawan. Bas mengatakan itu adalah satu-satunya peluru perak kita." ​Saat kami bersiap untuk keluar dari mobil, ponsel modifikasi Gio yang diposisikan sebagai pemindai siny

  • Proyek alpha: bayang bayang kebenaran    Bab 24 REVISI Muncul ancaman langsung terhadap Nadine

    Pagi itu, kabut di Rinjani terasa dingin dan mencekik. Setelah percakapan berat dengan Baskara, tidak ada lagi ruang untuk keraguan atau emosi. Kami adalah tiga orang yang dipersenjatai dengan tekad dan dikelilingi oleh musuh tak kasat mata. ​Gio menyewa mobil bekas yang tampak biasa saja—sebuah sedan Jepang tua yang warnanya sudah pudar. Sempurna untuk menyamarkan diri. Aku duduk di kursi penumpang, tablet terenkripsi Ayahku disembunyikan di dalam kompartemen rahasia yang Gio pasang di bawah kursi. Gio mengemudi, matanya tidak hanya fokus pada jalan, tetapi juga pada serangkaian data anomali yang ia pantau melalui ponsel modifikasinya yang diletakkan di dasbor. ​"Profesor Bayu akan mengajar kelas Pengantar Kode Etik di Universitas Nusa Tenggara," Gio menjelaskan, suaranya tegang. "Itu adalah lokasi yang paling netral. Kita harus berbaur dengan mahasiswa. Kita harus meyakinkan dia untuk tidak hanya melihat tablet itu sebagai data Witech, tetapi sebagai senjata yang akan menghancur

  • Proyek alpha: bayang bayang kebenaran    Bab 23 Flashback “kecelakaan” Hendrawan

    (ketika sebuah pembunuhan disamarkan sebagai statistik, dan kebenaran dipendam selama sepuluh tahun)Kabut pagi di Rinjani tidak turun – ia merayap.Ia menyusup perlahan dari sela pepohonan, menempel di dinding motel, meresap ke poro-pori kulit, membuat udara terasa basah dan berat. Matahari belum benar-benar terbit, hanya menyisakan cahaya abu-abu yang membuat segala sesuatu tampak seperti dunia yang belum selesai diciptakan.Aku duduk di lantai kamar motel, punggung bersandar pada dinding dingin. Tablet terenkripsi itu berada di dalam brankas portabel berlapis timah, terkunci rapat seperti rahasia yang menolak untuk dibuka. USB drive ayahku sudah disalin Gio, tetapi salinannya terasa seperti bayangan – tanpa makna sebelum kami memahami keseluruhan ceritanya.Gio berdiri di dekat jendela, tirainya sedikit terbuka. Tangannya memegang ponsel terenkripsi, matanya waspada. Di layar laptop, wajah Baskara muncul -diam, kaku, seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup bersama hantu.Ke

  • Proyek alpha: bayang bayang kebenaran    BAB 22 – Sisi Gelap Witech Corp (Malam sebelum pertemuan dengan profesor bayu – ketika Witech berhenti menjadi perusahaan, dan menjadi mesin penakluk)

    Motel itu berdiri seperti bangunan yang lupa mati.Lampu neon di atas papan namanya berkedip pelan, memantulkan cahaya kehijauan ke genangan air di aspal. Udara di sekitarnya bau lembap, campuran jamur, karpet tua, dan asap kendaraan yang jarang lewat. Tidak ada kamera keamanan yang berfungsi. Tidak ada resepsionis setelah tengah malam. Tempat ini terlalu buruk untuk di curigai -dan itulah sebabnya Gio memilihnya.Kami masuk tanpa bicara. Gio langsung bergerak begitu pintu tertutup. Tangannya cekatan, efisien seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini untuk ,asih merasakan gugup. Ia mengeluarkan perangkat kecil dari ranselnya -jammer sinyal berbentuk cakram pipih- lalu menempelkannya di dinding dekat jendela. “Radius tiga puluh meter,” katanya tanpa menoleh. “Cukup untuk membuat kita buta dari luar,”Aku memperhatikan setiap gerakannya sambil duduk di tepi ranjang. Kasurnya berderit pelan di bawah berat tubuhku. Spreinya terasa kasar, seperti tidak benar-benar bersih.

  • Proyek alpha: bayang bayang kebenaran    BAB 21 – Identifikasi Tirtayasa sebagai Pengendali (Flashback penuh ketika Raina mengingat identitas sebenarnya Tirtayasa—dalam perjalanan menuju Profesor Bayu)

    Mobil yang dikendarai Gio berbelok perlahan dan mulai menanjak melewati jalan sempit menuju area perbukitan. Kabut Rinjani semakin padat, memeluk mobil seperti tirai putih yang bergerak dengan napas hutan. Lampu depan menabrak gumpalan kabut itu, membuat dunia seolah surut hanya beberapa meter ke depan. Gio menurunkan kecepatan. “Kita semakin dekat dengan kompleks lama fakultas teknik,” katanya tanpa menoleh. “Menurut peta yang Bas berikan, tempat Profesor Bayu tinggal ada di wilayah kampus yang sudah tidak dipakai.”Aku mendengarnya. Tapi pikiranku tidak benar-benar berada di kursi penumpang mobil itu.Pikiranku sudah kembali ke malam itu.Malam ketika semua titik terang menyatu.Malam ketika ketakutan ayahku akhirnya diberi nama. Tirtayasa.Dan di baliknya – sesuatu yang lebih gelap, lebih besar, lebih sunyi. Raka D.Ingatan itu kembali bukan sebagai potongan-potongan acak, tetapi sebagai film penuh yang diputar ulang tanpa izin. FLASHBACK – MALAM ITU, DETIK – DETIK SETELAH AYAH

  • Proyek alpha: bayang bayang kebenaran    BAB 20 – Pengakuan Babak Pertama Ayah (Flashback penuh sesal yang muncul dalam perjalanan menuju Profesor Bayu)

    Kabut malam Rinjani terus menebal di balik kaca mobil, seolah-olah gunung itu sengaja menelan jalanan sempit yang kami lewati. Lampu kendaraan Gio menembus kegelapan hanya sejauh beberapa meter, membuat hutan di kiri dan kanan tampak seperti dinding hitam dengan mata tak terlihat yang mengikuti setiap gerak kami. Tidak ada suara lain selain raungan mesin yang menanjak, denting halus batu kecil yang terpukul ban, dan sesekali derit pepohonan yang tersentuh angin. Gio menoleh sekilas. “Kau kelihatan jauh,” katanya pelan. Aku hanya mengangguk. Karena memang itulah yang terjadi. Tubuhku berada di mobil ini, duduk dengan sabuk pengaman yang mengunci, namun pikiranku kembali pada malam itu - Malam ketika aku menyadari bahwa Damar Wicaksana bukan sekedar pengkhianat. Dia adalah manusia yang luluh lantak oleh ketakutannya sendiri. Malam itu ketika pengakuannya menghancurkan sebagian kebencianku, tetapi tidak cukup untuk menyelamatkan dirinya. Dan seperti pintu tua yang terbuka pelan di dal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status