登入"Ugh..." Ayu tersedak pelan akibat dorongan paksa yang tiba-tiba itu.Namun, Ayu bukanlah wanita yang tidak mengerti bahasa tubuh. Ia sangat paham apa yang diinginkan oleh suaminya malam ini. Rangga tidak ingin memberinya kenikmatan; Rangga ingin dilayani. Pria itu sedang menunjukkan dominasi dan kekuasaannya sebagai suami.Aku akan melakukan apa pun, Mas. Hukum aku. Gunakan aku sampai kemarahan dan kekecewaanmu mereda, batin Ayu membulatkan tekad yang kuat.Ayu mulai menata ritme di mulutnya. Ia merendahkan kepalanya dan mengeluarkan seluruh gerakan andalannya. Ia melakukan hisapan yang dalam dan mantap, bibirnya mengulum basah setiap inci dari kejantanan suaminya itu. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya bekerja aktif di pangkal, memberikan kocokan lembut yang dipadukan dengan pijatan memutar.Sesekali, Ayu menarik kepalanya sedikit mundur, membiarkan ujung lidahnya bermain-main menggoda dan menjilati bagian paling sensitif di ujung kejantanan Rangga, sebelum akhirnya ia menelannya
"Apa yang sedang kamu lakukan, Ay?"Suara itu terdengar sangat pelan, namun efeknya bagi Ayu ibarat sambaran petir di siang bolong.Ayu membeku di tempatnya. Sekujur tubuhnya yang telanjang bulat di atas sofa seketika gemetar hebat. Ia menarik kedua kakinya secara refleks, mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan yang bergetar. Wajahnya pias, sepucat mayat.Matanya menatap lurus ke arah Rangga. Suaminya berdiri di sana dengan wajah yang luar biasa dingin. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya tercetak jelas, menahan luapan emosi yang tak tersalurkan. Tatapan mata Rangga menyorot tajam, menguliti Ayu hidup-hidup dengan aura intimidasi yang begitu pekat.Ya Tuhan... sejak kapan Mas Rangga berdiri di situ? Apa dia melihat semuanya? Apa dia mendengar rintihanku? batin Ayu menjerit histeris. Kepanikannya memuncak hingga membuat kerongkongannya terasa tercekik. Ia kesulitan untuk sekadar bernapas, apalagi berbicara. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara."M-Mas... Mas Rangga..." ucap
Aroma parfum Tobacco Vanille yang menguar pekat di ruang tengah itu kian menghipnotis kesadarannya. Aromanya begitu kuat, begitu nyata, seolah Daniel berdiri tepat di sampingnya saat ini.Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar tidur yang tertutup rapat.Bagaimana kalau Mas Rangga tiba-tiba terbangun dan keluar? batin Ayu, ada sisa-sisa akal sehat yang mencoba memperingatkannya.Namun, keraguan itu langsung menguap begitu saja. Keinginan yang teramat kuat, desiran aneh yang membakar sekujur tubuhnya, dan bayangan-bayangan masa lalu yang liar menumpuk menjadi satu gelombang besar yang merobohkan benteng pertahanannya. Akal sehatnya benar-benar kalah telak oleh hasrat.Ayu menyerah. Ia membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya.Dengan gerakan lambat namun pasti, Ayu meletakkan ponselnya di atas meja kecil di sebelah kursi. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran sofa yang empuk, memejamkan mata, dan membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya. Napasnya mulai memburu, menarik udara yang dipe
Hanya dalam hitungan detik, memori di otak Ayu seolah ditarik mundur secara paksa oleh waktu. Otomatis, kenangan tentang sosok pria yang pernah mengisi lembaran hidupnya terhampar dengan sangat jelas. Daniel. Pria yang tak hanya memberinya cinta yang membara, tetapi juga mengenalkannya pada gairah liar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.Seketika, ingatan Ayu berputar pada suatu malam di sebuah vila di Bali. Sebuah kenangan liar yang selalu berusaha ia kubur rapat-rapat di dasar sanubarinya.Malam itu, di dalam gazebo kayu yang tertutup kelambu putih di tepi kolam renang, aroma parfum yang sama memenuhi udara. Ayu sedang berlutut di hadapan Bima, pria atletis yang sengaja dikenalkan oleh Daniel malam itu.Ayu memberikan isapan-hisapan hangat yang ritmis, membuat Bima mendesah tertahan sambil mencengkeram lembut rambut Ayu."Gila, Ayu... permainan kamu bener-bener luar biasa..." bisik Bima dengan suara serak menahan nikmat malam itu. "Kamu pinter banget buat pria melayang..."Rasa
"Aakh!"Ayu terperanjat hebat, matanya terbuka lebar secara mendadak. Udara mendadak serasa hilang dari paru-parunya. Dadanya naik turun dengan cepat, berdetak kencang bagai dihantam palu tebal. Keringat dingin membasahi pelipis dan piyamanya.Tuhan... mimpi buruk itu lagi? Atau itu tadi nyata?! batin Ayu menjerit ketakutan.Ia menoleh ke samping secara drastis. Sentuhan dan bisikan pria misterius itu seolah masih menyengat kulit pipi dan telinganya."Mas... Mas Rangga! Bangun, Mas!" jerit Ayu dengan suara bergetar dan parau. Ia mencengkeram lengan suaminya, mengguncang-guncangkan tubuh Rangga dengan panik.Rangga mengerang pelan. Ia menggeser posisinya tanpa membuka mata sepenuhnya, tampak terganggu dari lelapnya."Mas... dengerin aku, Mas! Ada orang di kamar ini tadi! Ada yang pegang mukaku!" bisik Ayu dengan nada penuh kepanikan yang membuncah."Eungh... kenapa lagi, Sayang...?" gumam Rangga lemas. Suaranya sangat berat, tertutup rasa kantuk yang luar biasa."Mas, aku serius! Bangu
Langkah kaki itu terdengar semakin jelas, mendekat dengan ritme yang pelan namun terasa sangat mengancam di telinga Ayu. Di balik ketebalan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya, Ayu meringkuk layaknya buruan yang tengah bersembunyi dari pemangsa. Napasnya memburu. Keringat dingin terus mengucur deras membasahi pelipis dan piyamanya.Tuhan, tolong aku... tolong jangan biarkan pria itu menemukanku. Jangan biarkan dia masuk ke sini, batin Ayu menjerit putus asa.Tap. Tap. Tap.Langkah itu berhenti. Tepat di samping ranjangnya.Ayu memejamkan mata sekuat tenaga. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya bergemuruh tak karuan.Jangan sentuh aku... kumohon, jangan sentuh aku....Srek!Selimut yang menutupi tubuh Ayu ditarik paksa dari luar, membiarkan udara dingin kamar seketika menerpa kulitnya."Aaaakh!! Pergi!! Lepaskan aku!! Jangan sentuh aku, brengsek!!" jerit Ayu histeris, masih dengan







