Chapter: Bab 201Ayu memutar gagang pintu apartemennya. Suasana ruang tengah temaram, namun pemandangan di atas sofa langsung membuat dadanya dingin tak bergemuruh.Di sana, Roselyn tertidur lelap dalam dekapan Rangga. Kedua manusia itu saling menempel tanpa jarak.(Batin Ayu: Menjijikkan. Benar-benar sempurna.)Ayu melangkah lurus tanpa memedulikan mereka. Ia masuk ke kamar, menarik koper besar, dan melipat pakaiannya dengan cekatan."Mau ke mana kamu, Ayu?"Suara Rangga terdengar di ambang pintu kamar. Pria itu berdiri dengan kemeja kusut dan mata menyipit tajam.Ayu sama sekali tidak menoleh. Ia terus melipat bajunya dan melemparnya kasar ke dalam koper."Ayu! Aku sedang bicara padamu! Jawab aku, kamu mau ke mana malam-malam begini?!" teriak Rangga, suaranya mulai menggelegar memenuhi ruangan.Ayu menutup ritsleting koper dengan sekali tarikan keras, lalu perlahan memutar tubuhnya menatap pria yang pernah ia panggil suami itu."Apa pedulimu aku mau ke mana?!" teriak Ayu tak kalah keras, matanya mem
Dernière mise à jour: 2026-10-01
Chapter: Bab 200Ayu tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan saat jemari Bima mulai merayap liar di balik gaunnya. Sensasi asing itu membakar kulitnya, namun ada penolakan hebat yang menjerit dari dalam dadanya."Uuuh... eeh... lepaskan, Bim! Aku sedang tidak ingin melakukannya!" seru Ayu seraya berusaha memadatkan sisa tenaganya untuk mendorong dada bidang pria itu.Bima tidak bergeming sedikit pun. Kekuatan tangannya mengunci pinggul Ayu, sementara senyum sinis nan meremehkan terukir jelas di wajahnya yang tampan namun manipulatif."Tidak ingin, hah? Dari tadi itu yang selalu kamu katakan dari bibir indahmu," kekeh Bima dengan nada penuh kemenangan. "Tapi lihat dirimu, Ayu. Respons tubuhmu tidak bisa berbohong. Kamu membuang muka, tapi kamu membiarkanku menyentuhmu."“Kenapa denganku? Aku benci dengan tubuh yang pengkhianat ini!) jerit Ayu dalam hatinya, air mata keputusasaan merembes keluar membasahi pipinya. (Hatiku sedang hancur, jiwaku baru saja diinjak-injak, tetapi kenapa aku seolah membia
Dernière mise à jour: 2026-10-01
Chapter: Bab 199"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Bim?!" jerit Ayu, suaranya bergetar hebat memecah keheningan apartemen gelap itu."Aku hanya menginginkanmu, Ayu," jawab Bima tenang. Ia mulai melangkah perlaham mendekati Ayu."Berhenti di situ!" Ayu refleks memundurkan kakinya. "Jangan mendekat!""Kenapa? Kamu takut padaku, Ayu? Atau kamu takut pada dirimu sendiri?""Kalian semua sama saja!" isak Ayu pecah. "Daniel, Rangga, dan kamu... kalian semua bajingan! Kalian hanya menganggapku rendah! Kalian pikir aku ini apa, hah?!""Aku tidak pernah menganggapmu rendah, Ayu," sanggah Bima. "Aku selalu memujamu.""Memujaku?!" Ayu tertawa hambar dengan air mata yang terus mengalir. "Dengan menjebakku?! Dengan bersekongkol bersama suamiku untuk menjadikanku umpan bisnis?! Begitu caramu memuja seorang wanita?!""Itu caraku menyingkirkan penghalang di antara kita.""Kamu gila, Bima! Kamu menghancurkan hidupku!""Tidakkah kamu sadar, Ayu? Tidakkah kamu melihat bagaimana aku mencoba segala hal hanya untuk
Dernière mise à jour: 2026-09-29
Chapter: Bab 198"S-suara itu..."Ayu menutupi mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak, membeku menatap sosok tinggi di balik remang kegelapan.(Ya Tuhan... suara ini... Bagaimana mungkin aku bisa melupakan suara ini? Suara yang dulu pernah merobek seluruh hidup dan kewarasanku di Bali... Kenapa rasa gila dari sentuhannya dulu mendadak merayapi kulitku kembali?)Pria itu melangkah keluar dari bayang-bayang. Cahaya remang menyiram wajahnya yang dingin dan penuh dominansi."B-Bima...?" desah Ayu terpatah-patah. "Kamu... Bima?""Akhirnya kamu ingat, Ayu," jawab Bima dengan senyum tipis. "Aku sempat agak kecewa saat kamu tidak mengenali sentuhanku. Padahal, tubuhmu merekam jelas apa yang terjadi di antara kita saat di Bali.""Teman Daniel...?" cicit Ayu dengan napas memburu. "Kam, kenapa... kenapa kamu ada di sini, Bima?! Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?!""Teman Daniel?" Bima terkekeh sinis. "Ayu, Ayu... kamu sungguh sangat polos. Mana sudi aku berteman dengan pria kerd
Dernière mise à jour: 2026-09-28
Chapter: Bab 197Pintu apartemen itu tertutup dengan suara klik pelan, meninggalkan Roselyn yang masih tergeletak kacau di atas sofa.Ayu melangkah menyusuri lorong yang sepi. Tidak ada air mata lagi yang menetes dari pelupuk matanya. Kering. Habis. Yang tersisa di dadanya kini hanyalah lubang hitam menganga yang menyedot seluruh akal sehat, empati, dan rasa hormatnya pada dunia.Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Kakinya melangkah tanpa arah, namun instingnya menuntunnya menaiki tangga darurat, menuju satu-satunya tempat yang membekas di benaknya hari ini. Tempat di mana ia merasa benar-benar dihancurkan, namun ironisnya, tempat yang kini terasa paling jujur baginya."Bodoh..." gumam Ayu, suaranya memantul di dinding tangga darurat yang dingin. "Kamu benar-benar perempuan paling bodoh, Ayu."Ia terus melangkah naik, meracau sendirian."Kalian semua pembohong. Semuanya palsu! Tidak ada satu pun dari kalian yang benar-benar peduli padaku!"Ayu mendorong pintu darurat di lantai atas. Lorong itu kembali
Dernière mise à jour: 2026-09-28
Chapter: Bab 196"Ayu, cukup!""Kenapa, Rose? Kita baru saja mulai."Ayu memiringkan kepalanya, menjilat perlahan garis rahang Roselyn yang halus. Roselyn terlonjak kaget. Sebuah lenguhan kecil yang tertahan meluncur dari tenggorokan wanita berblazer putih itu."Lihat?" desis Ayu di leher Roselyn. "Tubuhmu merespons. Kamu bilang parfum itu aromaterapi penambah gairah, kan? Sepertinya aromanya juga menempel padaku... dan sekarang bekerja padamu."Roselyn memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan kencang. "Jangan... jangan lakukan ini ...""Kenapa?" tantang Ayu. "Bukannya ini yang kalian inginkan? Bukankah ini skenario yang kalian buat?"Ayu makin menekan cengkeramannya pada rahang Roselyn, memaksa wanita itu menatapnya kembali."Katakan padaku, Roselyn! Pria itu... siapa dia sebenarnya?" bentak Ayu pelan, namun penuh penekanan. "Apakah kamu mengenalnya?"Roselyn menatap mata Ayu yang membara. Di dalam mata itu, tidak ada lagi Ayu yang polos dan penurut. Yang ada hanyalah sosok wanita ya
Dernière mise à jour: 2026-09-25
Chapter: Bab 10Tono menundukkan kepalanya dan mulai melumat gundukan kenyal milik Anggi dengan lembut. Ia memainkan bibir dan lidahnya secara teratur di atas kulit mulus itu. Sentuhan basah yang tiba-tiba itu memberikan efek luar biasa hingga membuat Anggi seketika menggelinjang liar."Emm ... ah, Ton ... iya, di situ ...," desah Anggi dengan mata terpejam rapat.Tono tidak hanya mengisap area sensitif itu dengan ritme yang stabil. Ia juga memainkan ujung bukit kembar Anggi menggunakan ujung lidahnya. Sapuan pelan pada bagian puncak yang sudah membengkak itu membuat Anggi makin kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.Pemuda itu tidak membiarkan salah satu bagian tubuh Anggi diam tak terpakai. Sambil terus mengisap bagian kanan, Tono melakukan remasan lembut, tetapi cukup dalam ke payudara Anggi yang sebelah lagi. Sentuhan ganda itu mengirimkan gelombang sensasi yang membakar seluruh tubuh Anggi."Ah ... Tono ... Tono ...," jerit Anggi pelan dengan napas terengah-engah."Jangan berhenti, please ...
Dernière mise à jour: 2026-10-09
Chapter: Bab 9"Mbak Anggi ...," panggil Tono dengan suara lirih dan bergetar.Jari telunjuk Anggi langsung menempel lembut tepat di depan bibir Tono."Ssst ... kamu diam saja. Biar Mbak yang mulai," bisik Anggi tepat di depan wajahnya dengan nada menggoda.Anggi perlahan melepaskan diri dari pelukan Tono sedari tadi. Ia kemudian bergerak sedikit untuk mengubah posisinya.Tanpa ragu, Anggi beringsut naik dan langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan Tono. Posisi mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang sangat intim.Karena posisi Anggi yang berada tepat di atas pahanya, wajah Tono kini sejajar dengan dada Anggi. Tono tampak semakin kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan dalam posisi menantang ini."Pegang pinggangku, Ton," ucap Anggi yang seolah menyadari kebingungan Tono.Melihat Tono yang masih mematung kaku, Anggi tersenyum kecil. Ia lalu meraih kedua tangan Tono dan menuntunnya secara perlahan-lahan.Tangan kasar Tono akhirnya dilingkarkan erat pada pinggang ramping Anggi. Tono
Dernière mise à jour: 2026-10-09
Chapter: Bab 8"Mbak ... jangan ...," Tono berusaha keras menarik tangannya.Tono menahan napas sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Ia memalingkan pandangan ke arah pintu, tak berani menatap pemandangan menggoda di bawahnya. Jantungnya berdegup makin kencang melihat kenekatan Anggi.Namun, Anggi tidak membiarkan Tono lolos begitu saja dari genggamannya. Ia menahan pergelangan tangan Tono dengan cengkeraman yang cukup kuat."Kenapa, Ton? Aku tidak cantik, ya?" goda Anggi dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit merajuk."Bukan begitu, Mbak ...," jawab Tono dengan suara bergetar dan napas memburu.Tono berusaha sekuat tenaga menahan persendian sikunya supaya tidak benar-benar menyentuh dada Anggi. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya."Mbak ... tadi katanya pijat saja," ucap Tono mengingatkan, masih tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah Anggi."Iya, Tono ... ini juga Mbak, kan, minta pijat," kilah Anggi santai.Anggi malah semakin sengaja mendekatkan dirinya ke arah Tono. Aroma
Dernière mise à jour: 2026-10-09
Chapter: Bab 7"Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas
Dernière mise à jour: 2026-10-08
Chapter: Bab 6"Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A
Dernière mise à jour: 2026-10-08
Chapter: Bab 5"A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny
Dernière mise à jour: 2026-09-15