مشاركة

bab 159

مؤلف: Khai Tsan
last update تاريخ النشر: 2026-08-25 00:25:40

Hanya dalam hitungan detik, memori di otak Ayu seolah ditarik mundur secara paksa oleh waktu. Otomatis, kenangan tentang sosok pria yang pernah mengisi lembaran hidupnya terhampar dengan sangat jelas. Daniel. Pria yang tak hanya memberinya cinta yang membara, tetapi juga mengenalkannya pada gairah liar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Seketika, ingatan Ayu berputar pada suatu malam di sebuah vila di Bali. Sebuah kenangan liar yang selalu berusaha ia kubur rapat-rapat di dasar sanubariny
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   bab 159

    Hanya dalam hitungan detik, memori di otak Ayu seolah ditarik mundur secara paksa oleh waktu. Otomatis, kenangan tentang sosok pria yang pernah mengisi lembaran hidupnya terhampar dengan sangat jelas. Daniel. Pria yang tak hanya memberinya cinta yang membara, tetapi juga mengenalkannya pada gairah liar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.Seketika, ingatan Ayu berputar pada suatu malam di sebuah vila di Bali. Sebuah kenangan liar yang selalu berusaha ia kubur rapat-rapat di dasar sanubarinya.Malam itu, di dalam gazebo kayu yang tertutup kelambu putih di tepi kolam renang, aroma parfum yang sama memenuhi udara. Ayu sedang berlutut di hadapan Bima, pria atletis yang sengaja dikenalkan oleh Daniel malam itu.Ayu memberikan isapan-hisapan hangat yang ritmis, membuat Bima mendesah tertahan sambil mencengkeram lembut rambut Ayu."Gila, Ayu... permainan kamu bener-bener luar biasa..." bisik Bima dengan suara serak menahan nikmat malam itu. "Kamu pinter banget buat pria melayang..."Rasa

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 158

    "Aakh!"Ayu terperanjat hebat, matanya terbuka lebar secara mendadak. Udara mendadak serasa hilang dari paru-parunya. Dadanya naik turun dengan cepat, berdetak kencang bagai dihantam palu tebal. Keringat dingin membasahi pelipis dan piyamanya.Tuhan... mimpi buruk itu lagi? Atau itu tadi nyata?! batin Ayu menjerit ketakutan.Ia menoleh ke samping secara drastis. Sentuhan dan bisikan pria misterius itu seolah masih menyengat kulit pipi dan telinganya."Mas... Mas Rangga! Bangun, Mas!" jerit Ayu dengan suara bergetar dan parau. Ia mencengkeram lengan suaminya, mengguncang-guncangkan tubuh Rangga dengan panik.Rangga mengerang pelan. Ia menggeser posisinya tanpa membuka mata sepenuhnya, tampak terganggu dari lelapnya."Mas... dengerin aku, Mas! Ada orang di kamar ini tadi! Ada yang pegang mukaku!" bisik Ayu dengan nada penuh kepanikan yang membuncah."Eungh... kenapa lagi, Sayang...?" gumam Rangga lemas. Suaranya sangat berat, tertutup rasa kantuk yang luar biasa."Mas, aku serius! Bangu

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 157

    Langkah kaki itu terdengar semakin jelas, mendekat dengan ritme yang pelan namun terasa sangat mengancam di telinga Ayu. Di balik ketebalan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya, Ayu meringkuk layaknya buruan yang tengah bersembunyi dari pemangsa. Napasnya memburu. Keringat dingin terus mengucur deras membasahi pelipis dan piyamanya.Tuhan, tolong aku... tolong jangan biarkan pria itu menemukanku. Jangan biarkan dia masuk ke sini, batin Ayu menjerit putus asa.Tap. Tap. Tap.Langkah itu berhenti. Tepat di samping ranjangnya.Ayu memejamkan mata sekuat tenaga. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya bergemuruh tak karuan.Jangan sentuh aku... kumohon, jangan sentuh aku....Srek!Selimut yang menutupi tubuh Ayu ditarik paksa dari luar, membiarkan udara dingin kamar seketika menerpa kulitnya."Aaaakh!! Pergi!! Lepaskan aku!! Jangan sentuh aku, brengsek!!" jerit Ayu histeris, masih dengan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 156

    Cklek.Ayu dengan refleks secepat kilat menutup kembali pintu kamar itu. Ia menarik gagangnya pelan-pelan, memastikan tidak ada bunyi berderit. Punggungnya langsung merosot menyandar ke daun pintu. Napasnya tersengal-sengal, memburu tak beraturan, sementara dadanya terasa mau meledak menahan debaran jantung yang menggila."Ya Tuhan... apa-apaan ini?" batin Ayu menjerit histeris. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas, seolah seluruh tenaga fisiknya tersedot habis dalam hitungan detik.Ia memejamkan mata erat-erat, meremas ujung piyamanya yang sudah basah oleh keringat dingin. Rasa ngeri merayap merusak kewarasannya.Ini mimpi, kan? Aku ini sebenarnya belum bangun, kan? Mimpi buruk tadi masih berlanjut, kan?!Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, berharap saat ia membuka mata nanti, pemandangan gila barusan lenyap dan ia mendapati dirinya benar-benar tidur di samping Rangga.Namun, rasa dingin lantai kamar yang menembus telapak kakinya terasa terlalu nyata. Aroma pewangi ru

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 155

    Malam terasa begitu pekat, namun di dalam kesadaran Ayu, semuanya terasa hangat dan memabukkan. Ia tidak menyadari bahwa dirinya tengah terlelap. Semua sensasi yang menyapanya terasa begitu nyata, begitu hidup.Ia sedang berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram. Di hadapannya, Rangga menatapnya dengan sorot mata penuh gairah dan kelembutan. Penyatuan mereka malam itu terasa begitu dalam. Ayu duduk berhadapan dengan suaminya, terbuai dalam setiap sentuhan yang membuat seluruh tubuhnya seolah diratukan. Ritme napas mereka memburu, seirama dengan gerakan pelan namun pasti yang membuai akal sehat Ayu."Mas... ahh," desah Ayu pelan, matanya setengah terpejam menikmati kehangatan itu."Iya, Sayang?" bisik Rangga, suaranya serak dan berat. Tangan suaminya itu menyusuri punggung Ayu, merengkuhnya agar semakin dekat."Ini... luar biasa. Aku sangat mencintaimu, Mas.""Aku juga, Ayu. Aku ingin kamu merasakan betapa aku menginginkanmu," balas Rangga sambil mengecup leher Ayu. "Kamu mil

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 154

    Mobil sedan hitam yang dikemudikan Pak Tri melaju membelah jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Di kursi penumpang belakang, suasana terasa begitu hening. Suara deru mesin dan pendingin ruangan mendominasi, seolah mengurung Ayu dan Rangga dalam kecanggungan yang tak biasa."Pak Tri, AC-nya tolong dikecilkan sedikit, ya. Istri saya sepertinya kedinginan," pinta Rangga, memecah kesunyian."Baik, Pak," sahut Pak Tri dari balik kemudi sambil memutar tombol pendingin.Rangga menoleh ke samping. Ia menatap Ayu yang sejak tadi hanya diam sambil memandang kosong ke luar jendela."Masih dingin, Ay?" tanya Rangga dengan nada lembut."Udah mendingan, Mas. Makasih, ya," jawab Ayu singkat. Pandangannya tidak beralih dari kaca jendela yang menampilkan pantulan lampu jalanan.Rangga menghela napas pelan. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang istri. "Kamu beneran nggak apa-apa? Dari tadi diam terus. Kepalamu masih pening?""Sedikit.""Perut kamu sakit? Atau kamu mual karena

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status