MasukKevin baru saja selesai rapat saat tiba-tiba dia merasa sangat merindukan Irina. Sebenarnya, hal seperti ini sering dirasakan oleh Kevin, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya. Bahkan, menganggap bahwa perasaannya yang merindukan Irina adalah perasaan yang tak seharusnya dia rasakan.
Kini, Kevin merasa bahwa perasaan seperti ini wajar dia rasakan. Irina adalah istrinya dan perempuan itu sedang mengandung anaknya. Jadi, sangat wajar saja jika dia mengkhawatirkan atau bahkan merindukan Irina.
Kevin tidak bisa menghentikan niatannya untuk menghubungi Irina. Dalam sekejap mata, Kevin sudah terhubung dengan Irina melalui saluran telepon.
“Kamu di mana?”
“Aku sedang di kafe dengan temanku. Ada apa? Tumben kamu telepon?”
“Bisa ke kantorku?”
“Ada masalah?” tanya Irina.
“Enggak. Cuma mau pulang bersama saja nanti.” Kevin menjawab seadanya. Dia juga tidak tahu kenapa dia ingin sekali Irina berada di sekitarnya saat ini.
“Oke, kalau gitu aku ke sana.” Kemudian panggilan ditutup. Kevin hanya menatap ponselnya kemudian dia menghela napas panjang. Apa yang sudah dilakukan Irina padanya? Kenapa dia bisa bertekuk lutut hingga seperti ini pada perempuan itu?
***
Setelah banyak mengobrol dengan Bastian, Irina memutuskan untuk segera mengakhiri perjumpaannya. Suaminya tiba-tiba menelepon dan ingin dirinya datang ke kantor, katanya agar mereka bisa pulang bersama.
Ya, Kevin memang tidak cuti, padahal mereka baru saja menikah. Ingat, pernikahan mereka hanya dilakukan di kantor catatan sipil. Tak ada pesta, tak ada perayaan apa pun. Bahkan mungkin, tak akan ada yang tahu bahwa kini dirinya menjadi istri Kevin jika bukan akun-akun gosip yang memberitakannya dengan judul seperti “Pernikahan penuh skandal dan kontroversi”. Ya, memangnya mau bagaimana lagi?
“Kamu sudah mau pergi?” tanya Bastian kemudian.
“Ya. Kevin menelepon, memintaku untuk ke kantornya.”
“Ada masalah?”
“Enggak. Aku cuman diminta ke sana agar kita bisa pulang bersama.”
“Kenapa enggak dia saja yang jemput kamu di sini? Kamu sedang hamil, harusnya kamu enggak banyak keluyuran.” Bastian tampak kurang suka dengan rencana Irina.
Irina tersenyum lembut, apa yang dikatakan Bastian benar. Namun, dia tak memiliki hak untuk menolak Kevin. Dia sudah terlalu banyak merepotkan pria itu, bahkan bisa dibilang, Irina sudah menghancurkan masa depan Kevin.
“Biarlah, aku ke sana saja. Sekalian mau jalan-jalan.” Irina menjawab dengan lembut.
“Kalau gitu, aku antar.” Bastian langsung berdiri.
Jika boleh jujur, Bastian memang masih memiliki rasa dengan Irina. Ya, siapa juga yang bisa melupakan sosok perempuan cantik dan sempurna seperti Irina? Ia akan selalu menjadi primadona untuknya, sampai kapan pun. Meski perempuan ini sudah pernah membuatnya kecewa di masa lalu, nyatanya, Irina tetaplah menjadi sosok yang spesial.
Irina tersenyum. Dia tahu bahwa Bastian akan melakukan ini. Irina mengenal Bastian, pria ini sangat baik. Karena itulah dulu Irina berhenti memanfaatkan ketulusan pria ini dengan cara memutuskannya. Pada akhirnya, Irina membiarkan Bastian mengantarnya.
***
Irina akhirnya tiba di kantor Kevin. Dia turun dari mobil Bastian, pun dengan Bastian yang juga ikut turun. Irina sangat berterima kasih dengan Bastian yang sudah mau mengantarnya sampai di tempat Kevin.
“Aku akan menghubungimu lagi. Kuharap, kamu masih mau berteman denganku.” Bastian berpesan sebelum Irina pergi meninggalkannya.
“Ya. Tentu saja, kita akan berteman baik.”
Bastian tersenyum lembut. “Dan jangan sungkan untuk menghubungiku jika kamu butuh sesuatu.”
Irina pun mengangguk. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana tulusnya Bastian. Irina seharusnya merasa beruntung karena masih memiliki seseorang yang perhatian padanya.
“Terima kasih. Aku seneng banget bisa ketemu sama kamu lagi siang ini.” Irina berkata jujur. Ya, setelah semua yang dialaminya hari ini, Irina merasa sangat bahagia karena sudah bertemu kembali dengan Bastian dan pria ini rupanya masih sangat baik padanya.
Tiba-tiba saja, Bastian meraih tubuh Irina hingga masuk ke dalam pelukannya. “Jaga dirimu baik-baik. Kulihat, kamu sedang tidak baik-baik saja,” bisik Bastian penuh arti sebelum melepaskan pelukannya kemudian masuk kembali ke mobil. Lalu, ia pun pergi meninggalkan Irina yang mematung di tempatnya berdiri.
Kemudian Irina tersenyum bahagia. Irina berjanji akan menjaga hubungannya dengan Bastian.
***
Di tempatnya berdiri, Kevin mengepalkan kedua belah telapak tangannya. Dia melihat dengan jelas bagaimana Irina sedang dipeluk oleh seseorang. Kevin tahu benar siapa orang itu: Bastian, salah satu mantan kekasih Irina.
Ya, Kevin tahu dengan siapa saja Irina pernah menjalin hubungan. Selain karena mencari tahu semua informasi pria yang sedang mendekati Irina, Irina juga sesekali bercerita tentang mereka. Setahu Kevin, pria tadi itu adalah seorang fotografer yang beberapa kali bekerja sama dengan Irina. Irina pernah menceritakannya, tetapi Kevin tahu lebih detailnya dari seorang detektif swasta yang dia sewa untuk menyelidiki pria mana saja yang sedang dekat dengan Irina.
Kini, pria itu dan Irina kembali bersama dan tampak begitu akrab. Apa … apa mereka kembali menjalin hubungan percintaan?
Dada Kevin terasa panas. Kevin memang selalu merasa cemburu ketika melihat Irina dekat dengan pria lain. Dulu, ketika Irina memutuskan untuk menikah dengan Max, Kevin hingga harus menenangkan diri ke luar negeri dan bertekad untuk tidak menghubungi Irina lagi saat itu. Namun, kerinduannya membuat Kevin kalah. Kevin akhirnya kembali lagi pada Irina, meski perempuan itu sudah menjadi milik pria lain.
Sekarang, saat Irina benar-benar telah menjadi miliknya, perempuan itu tampaknya memilih untuk kembali pada kekasihnya yang dulu. Bagaimana bisa Irina melakukan ini padanya?
Pintu ruang kerjanya dibuka, menampilkan sosok Irina yang tersenyum lembut padanya sembari melangkah masuk.
“Hai, kamu sudah selesai?” tanya Irina sembari mendekat ke arah Kevin. Ekspresi Kevin masih mengeras. Hal itu sempat membuat Irina menatapnya bingung.
“Dari mana saja kamu?” tanya Kevin dengan nada yang kurang enak didengar.
“Aku … habis ngopi sama Bastian.”
“Kamu balikan lagi sama dia?” Pertanyaan Kevin yang terang-terangan itu membuat Irina merasa tidak enak.
“Kupikir, itu bukan urusan kamu. Um, kita akan pulang bersama, bukan?” tanya Irina yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Kevin tak menjawab. Rahangnya masih mengetat, kedua telapak tangannya mengepal erat. Meski begitu, Kevin tak bisa berbuat banyak. Dia membereskan barang-barangnya kemudian memutuskan untuk pergi begitu saja meninggalkan ruang kerjanya.
Irina hanya bisa mengikuti dari belakang. Kevin tampak marah padanya. Kenapa? Apa karena ia tak mengizinkan pria itu mengurusi masalah pribadinya?
-TBC-
EpilogKevin menuju baru selesai mengganti pakiannya, dia turun ke meja makan, berharap bertemu dengan Irina yang mungkin kini sedang menyiapkan sarapan dengan mamanya dan juga para pelayan rumahnya.Ya, setelah melahirkan, Irina memang diminta untuk tinggal di rumah orang tua Kevin saja. Tentu saja yang meminta hal itu adalah Dewi. Alasannya adalah, agar ada yang membantu Irina merawat Sean. Padahal, diam-diam Kevinmemperhatikan, jika ibunya itu juga mulai perhatian dengan Irina.Kini, Sean sudah hampir berumur satu tahun, dan selama itu, hubungan keluarga mereka menjadi lebih dekat dan semakin harmonis.Ketika Kevin sampai di area meja makan, dia hanya mendapati para pelayan sibuk di dapur, sedangkan ibunya sibuk dengan Sean. Lalu dimana Irina?“Ma, Irina mana? Kok Sean sama Mama?”“Tadi Mama sudah bilang sama Irina, nggak usah ikut ke dapur. Masih saja ngeyel. Tuh sekarang lagi muntah-muntah di kamar mandi karena bau bawang.”Segera Kevin menyusul Irina di kamar mandi, dan benar saj
Bab 31 – Pengakuan & RestuSetelah melakukan satu sesi panas di bar dapur, Kevin akhirnya memutuskan memesan makan malam untuk dirinya dan Irina. Keduanya kembali membersihkan diri sebelum kemudian makan malam bersama dengan saling menggoda. Setelah makan malam bersama, Kevin dan Irina kini sudah beristirahat di ranjang Kevin dengan posisi saling memeluk satu sama lain. Kevin bahkan tak berhenti mengusap lembut perut Irina yang di dalamnya terdapat buah hatinya.“Aku melihatmu dengan Maharani tadi siang.” Irina akhirnya membuka suaranya. Kevin menghentikan pergerakannya seketika. “Di mana?”“Di kafe yang letaknya tak jauh dari kantor kamu.”“Ngapain kamu ke sana?” tanya Kevin lagi.“Aku kangen kamu. Jadi, rencananya aku mau datang jenguk kamu dan bawain kopi. Tapi… aku lihat kamu sama Rani yang terlihat…” Irina menggantung kalimatnya.“Terlihat bagaimana?” tanya Kevin lagi.“Kevin, kalau kamu—”“Aku memang mengajak ketemuan Rani.” Kevin memotong kalimat Irina. “Tapi untuk mengatakan
Bab 30 – Pernyataan CintaRupanya, Kevin tidak membawa Irina pulang ke rumahnya, melainkan ke apartmen Kevin yang letaknya memang tak jauh dari kafe tempat Irina menunggu tadi. Irina sebenarnya ingin bertanya pada Kevin, kenapa Kevin membawanya ke sana, tapi Kevin tampak tak ingin membuka suara dan hanya fokus dengan jalanan di hadapannya.Saat mobil Kevin sudah terparkir di basement, Kevin segera keluar, lalu tanpa diduga, ketika Irina juga keluar dari mobil, Kevin segera menggendong Irina kembali, membuat Irina terpekik lagi karena ulah Kevin.“Kevin, aku bisa jalan sendiri,” ucap Irina, tapi Kevin tak mengindahkan ucapan Irina dan malam fokus berjalan menuju unit apartmennya.Sampai di dalam apartmen Kevin, Irina masih belum juga diturunkan. Dia baru diturunkan di dalam kamar mandi oleh Kevin. “Mandilah, air hujan bisa mmebuatmu sakit. Ada handuk dan kimono di sini.” Kevin menunjuk ke sebuah lemari kecil di dalam kamar mandi. Kemudian, Kevin membalikkan tubuhnya dan akan pergi. Na
Bab 29 – Jatuh CintaIrina memutuskan tidak turun dari mobilnya, dan memilih untuk membatalkan niatnya bertemu dengan Kevin. Irina akhirnya mengingat janjinya pada Maharani, bahwa dia akan menjanjikan perpisahan dengan Kevin. Mungkin saat ini, Maharani dan Kevin sedang mencoba memperbaiki hubungan mereka. Seharusnya Irina bisa tenang, karena setelah berpisah dengannya nanti, kehidupan Kevin akan kembali normal. Namun nyatanya, Irina merasakan dadanya sesak karena sebuah perasaan yang cukup dia mengerti saat ini. Rasa cemburu.“Pak, kita ke mall terdekat saja ya, Pak,” ucap Irina pada sang sopir.“Baik, Bu.” Irina kembali mengusap lembut perutnya, mencoba menghibur dirinya sendiri dengan bayi yang dikandungnya. “Kita tunda dulu bertemu Papa. Kita akan belanja baju-baju kamu, ya…” bisik Irina pelan pada bayinya.Irina sadar, dia tak bisa memberi Kevin apapun karena pria itu sudah memiliki segalanya, dia hanya bisa memberikan pria itu kebebasan saat ini, meskipun dalam hatinya yang pali
Bab 28 – Pisah Rumah Setelah sesi panas dan sesi sedih di atas ranjang, keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Mengganti pakaian mereka dengan pakaian santai, kemudian menuju ke ruang makan untuk menyantap hidangan makan malam.Makan malam kali ini terasa hening, namun tak tegang atau dingin seperti biasanya. Keheningan terjadi lebih karena keduanya tak tahu harus membahas atau berbicara tentang apalagi. Mereka tadi sudah memutuskan jika akan berpisah setelah bayinya lahir. Itu adalah keinginan Irina, dan Kevin mengiyakan keinginan perempuan itu.Kevin memeng berada pada titik tak mampu menolak keinginan Irina. Kadang, Kevin merasa kesal, kenapa dia bisa memiliki perasaan sedalam ini pada perempuan itu? Hingga dia tak mampu menolak apapun yang diinginkan perempuan tersebut.“Uuum, begini, karena kita sudah sepakat, apa… nggak sebaiknya kita…” Irina ragu melanjutkan kalimatnya. “Tinggal secara terpisah maksudmu?” tanya Kevin seakan melanjutkan kalimat Irina.“Uuum… aku hanya me
Bab 27 – Berpisah Baik-baikKevin baru menghentikan aksinya saat dirasa napas Irina mulai terputus-putus. Lalu, keduanya baru sadar jika kini mereka tak hanya berdua di area dapur. Mereka menolehkan kepala ke arah jalan masuk ke area dapur, dan mendapati ibu Kevin berada di sana dengan beberapa tamunya dan juga Maharani yang masih menatap mereka dengan wajah ternganga masing-masing.Irina segera melepaskan diri dari Kevin kemudian sedikit menjaga jarak, hal itu membuat Kevin menatap ke arah Irina seketika. Dia kesal dengan sikap Irina, kemudian Kevin kembali menatap ibunya dan juga para tamu sang ibu yang tampak masih terdiam di tempatnya berdiri.“Ada masalah?” tanya Kevin dengan santainya.“Vin, apa yang kamu lakukan?”“Apa yang kulakukan bagaimana, Ma? Aku sedang mencium istriku. Apa salah?”“Kevin!” Dewi tampak kesal dengan pengakuan terang-terangan yang dilakukan oleh Kevin di hadapan para teman-temanya.“Ma, Mama nggak seharusnya ngelakuin ini. Irina sedang mengandung anakku, cu







