MasukNavya Atmaja tak pernah membayangkan pernikahannya dengan Aldevaro Mahendra hanya akan menjadi mimpi buruk penuh pengkhianatan. Tiga tahun hidup tanpa keintiman, ditambah dengan mantan istri Al, yang kembali dengan dalih penyakit mematikan. Di hadapan Al, Zoya adalah malaikat tak bersalah, sementara Navya dihancurkan oleh fitnah yang terus Zoya ciptakan. Hingga akhirnya, Navya tidak tahan lagi, dan meminta Al untuk menceraikannya, bahkan dia memilih melarikan diri, meninggalkan cinta yang tidak pernah ia rasakan utuh. Tapi, Al tak mau melepaskan. Dengan egonya yang sangat tinggi, dia menculik Navya, memaksanya kembali, dan tanpa sadar menghancurkan jiwa wanita yang ia klaim sebagai istrinya, namun tidak pernah ia nafkahi batinnya. Ketika Navya menemukan dirinya hamil karena perbuatan Al yang dilakukan secara paksa, dia bersumpah untuk tidak pernah kembali. Namun, semua berubah saat Zoya merencanakan kejahatan mengerikan, dan membuat Al mengetahui semua kebohongan serta kejahatan yang pernah Zoya lakukan. Hati Al hancur saat menyadari kesalahan-kesalahannya pada Navya, hingga membuat istrinya itu terluka begitu dalam. Mampukah Al memperbaiki semuanya dan memenangkan hati istri yang telah ia abaikan? Ataukah cinta mereka tak bisa lagi diselamatkan dari reruntuhan kebohongan dan semua luka yang Navya dapatkan dari Al?
Lihat lebih banyakThe scenery along the way was both strange and familiar. Icy rain, like beans, fell from the sky, blurring the car window. Vanessa Brooks looked out, both apprehensive and curious.
So much had changed, including her.
Three years had passed. The face reflected in the car window was no longer full and round. The baby fat was gone, and coupled with years of barely surviving, Vanessa didn't have an ounce of extra flesh on her face. Her face was a slender, delicate oval, her eyebrows thin and curved. Years of malnutrition had given her skin a sallow complexion, and her nose was dotted with freckles.
"How have you been these past few years?" The man in the seat beside her was shrouded in shadow, gently stroking the button on his shirt, his tone more like that of an interrogator questioning a prisoner.
Vanessa's dry, yellowed hair, the frostbite on her earlobes, and her cheap clothing all testified to how badly she had fared.
Her hand fell, picking at the small fuzz balls on the cuff of her old sweater. Hesitantly, she said, "Fine."
"I suppose," Adrian Voss sighed, "You're still alive, after all. Some people died because of you."
"...I'm sorry."
If those people saw her miserable state now, they would probably secretly think she deserved it, that she had brought it upon herself. She should have known better than to provoke that vengeful man.
She had also caused the death of the woman he loved most. Otherwise, why would she have been banished and fallen into such a wretched state?
The car stopped outside the Voss family's old mansion.
The driver held up an umbrella and opened the door, escorting Vanessa under its shelter. Adrian walked ahead, one hand buried in his pants pocket, striding directly into the Voss family's gate.
Vanessa followed Adrian cautiously. She was familiar with the air, the bricks and tiles, the flowers and plants here. This was the place where she had lived for nineteen years. Walking in again felt like a lifetime ago.
The rain continued, drumming noisily on the umbrella, mingled with the heavy sound of footsteps.
Vanessa kept her head down, unaware.
Suddenly, Adrian stopped ahead. "Julian."
Julian Frost held a black umbrella. His smile was there, but his eyes were indifferent and distant. Since the incident three years ago, he had become so taciturn. He simply "Mmm"ed, his gaze passing over Adrian.
Hearing this name again, Vanessa thought she would be agitated, eager to catch a glimpse of him. But none of that happened.
Not even a hint of nervousness surfaced.
So this was what it was like after your heart had turned to ashes, so calm. Her mind had already relaxed, but then she was swept by that almost imperceptible cold gaze.
It was Julian.
In the misty rain, one was refined and noble, the other handsome and somber. In terms of family background, appearance, talent, and character, they were evenly matched. Since childhood, they had been close friends, and wherever they went, they were like a striking painting.
In the past, one was her brother, the other was the man she was obsessed with.
Now, they were both her enemies.
Her hand weakened, and the umbrella tilted slightly. Hidden beneath it, Vanessa, out of politeness, still addressed him, "Mr. Frost."
When she was surnamed Voss, she would never have called Julian that. "Mr. Frost" created a distance of a thousand mountains and rivers, no longer the sweet "Julian" she had once called him, one after another.
"When did you come back?" Julian's question was devoid of warmth, mixed with the rain, chilling to the bone.
Adrian said with some amusement, "The family heard that her biological father had accidentally fallen into the river and died, so they brought her back. What a disaster to bring back. I wonder who else she'll kill this time to be satisfied."
He glanced at Julian and laughed, "You have to be careful, be careful not to get entangled again."
In the past, Vanessa had indeed pursued Julian relentlessly, finding out his preferences, collecting the cigarettes he had touched, creating countless opportunities for chance encounters, all in order to get closer to him.
Everyone in the circle knew that she liked Julian, and they also knew that Julian loathed her.
Otherwise, after her background was exposed, he wouldn't have only refused to help her but also used various means to almost kill her.
If Adrian was the second person who hated her the most, Julian was the first. His sinister gaze was as sharp as a knife, piercing through the umbrella, as if to flay Vanessa alive. "Really? She dares?"
“Apa yang sudah aku lakukan .…” Al bergumam sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya tumpah tanpa bisa ditahan lagi. Suara isakan yang ia tahan selama ini, kini keluar dengan penuh rasa sesal dan amarah kepada dirinya sendiri. “Kenapa aku bisa seegois ini … kenapa aku harus kehilangan dia dulu baru sadar betapa berharganya dia .…”Dari luar kamar, Axel dan Lexa mendengar suara gaduh dan isak tangis ayah mereka. Axel menoleh ke arah Mbok Ratih, yang berdiri dengan tatapan prihatin.“Mbok, kenapa Papa nangis?” tanya Lexa, bingung dan cemas.Axel, yang sudah bisa merasakan luka yang ayahnya alami, menggenggam tangan Lexa untuk menenangkannya. “Papa lagi sedih, Lexa. Kita kasih waktu buat Papa sendirian, ya?”"Iya, bener kata Abang Axel, kita tinggalin Papanya sendiri dulu, ya. Papa pasti cuma lagi sedih aja karena Mama Navya belum pulang-pulang," tutur Mbok Ratih, mencoba memberikan pengertian pada Lexa.Lexa mengangguk pelan, meskipun matanya masih menyiratkan kecemasan.D
Al menggenggam kertas itu erat-erat, jemarinya bergetar saat matanya terus menatap kalimat terakhir yang tertulis. Kata-kata Navya seakan menggema di kepalanya, menghantam keras seperti tamparan yang menyadarkan betapa jauhnya dia telah melukai hati wanita yang seharusnya ia lindungi. “Navya …,” gumam Al, suara parau keluar dari bibirnya. Air matanya mulai mengalir, satu per satu membasahi pipi, menciptakan garis luka yang tak terlihat. “Aku … aku minta maaf udah nyakitin kamu.” Dia mencoba menahan isaknya, tapi air matanya justru semakin deras. Dalam ruangan yang sunyi, tangisnya terdengar samar, penuh dengan penyesalan yang begitu dalam. Al tahu, jika saja dia tidak terus-menerus mendahulukan egonya, mungkin Navya masih ada di sisinya sekarang, masih tersenyum lembut, masih menjadi penghangat di keluarga kecilnya. "Kamu berhasil, Nav. Kamu berhasil buat aku jatuh cinta sama kamu. Aku sekarang yakin, ini cinta, bukan sekedar karena aku nggak mau anak-anak kehilangan sosok kamu.
Al berusaha menenangkan dirinya sejenak sebelum membalas, berusaha memberikan jawaban yang tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. “Oh … hanya perdebatan kecil, Bu. Namanya juga suami istri, kadang pasti ada selisih paham,” ujar Al sambil tersenyum tipis, meskipun senyumnya tak mampu menyembunyikan rasa gelisah di matanya. Bu Rahma menatap Al lekat-lekat, memaklumi kebohongan terselubung itu, tapi memilih untuk tidak mengusik lebih jauh. Dia tahu, beberapa hal memang sulit untuk diungkapkan, bahkan ketika itu telah menyakitkan hati seseorang. Dia sudah bisa menebak pasti bukan hanya masalah kecil yang terjadi di antara Al dan Navya, karena Navya tidak mungkin sampai pergi dari rumah dan membuat Al mencarinya seperti sekarang, jika itu memang hanya masalah kecil. Wanita paruh baya itu juga teringat pada perkataan Navya satu tahun lalu, saat dia mengatakan bahwa mantan istri Al sering datang ke rumahnya untuk mengunjungi Axel dan Lexa. Akhirnya, dengan suara lembut dan penuh perhat
Sean melihat nama di layar ponselnya dan langsung merasa tegang. Ia mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya melihat ke arah Navya yang sudah menatapnya penuh rasa penasaran dan sedikit takut. “Itu … Mas Al?” tanya Navya dengan suara lirih, sorot matanya mencerminkan kecemasan yang mendalam. Sean hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa, lalu segera pamit menjauh dari mereka. Ia berjalan keluar rumah, mencari sudut yang lebih sepi untuk menjawab panggilan itu. “Kenapa? Tumben lu telfon gua?” sahut Sean langsung begitu panggilan terhubung, tanpa basa-basi. Di seberang sana, suara Al terdengar dingin dan tegas. “Lu ketemu sama Navya nggak hari ini?” Sean tersenyum sinis, meskipun Al tak bisa melihatnya. “Lah, dia kan istri lu, kenapa lu nanya sama gua, Bang? Emangnya lu apain lagi Navya sampe lu nyariin dia ke gua?” Sean berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Jangan-jangan ... lu ketahuan selingkuh sama kakak gua yang ratu drama itu, ya?” Tak ada respons dari Al. Dia terdiam, m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan