MasukNavya Atmaja tak pernah membayangkan pernikahannya dengan Aldevaro Mahendra hanya akan menjadi mimpi buruk penuh pengkhianatan. Tiga tahun hidup tanpa keintiman, ditambah dengan mantan istri Al, yang kembali dengan dalih penyakit mematikan. Di hadapan Al, Zoya adalah malaikat tak bersalah, sementara Navya dihancurkan oleh fitnah yang terus Zoya ciptakan. Hingga akhirnya, Navya tidak tahan lagi, dan meminta Al untuk menceraikannya, bahkan dia memilih melarikan diri, meninggalkan cinta yang tidak pernah ia rasakan utuh. Tapi, Al tak mau melepaskan. Dengan egonya yang sangat tinggi, dia menculik Navya, memaksanya kembali, dan tanpa sadar menghancurkan jiwa wanita yang ia klaim sebagai istrinya, namun tidak pernah ia nafkahi batinnya. Ketika Navya menemukan dirinya hamil karena perbuatan Al yang dilakukan secara paksa, dia bersumpah untuk tidak pernah kembali. Namun, semua berubah saat Zoya merencanakan kejahatan mengerikan, dan membuat Al mengetahui semua kebohongan serta kejahatan yang pernah Zoya lakukan. Hati Al hancur saat menyadari kesalahan-kesalahannya pada Navya, hingga membuat istrinya itu terluka begitu dalam. Mampukah Al memperbaiki semuanya dan memenangkan hati istri yang telah ia abaikan? Ataukah cinta mereka tak bisa lagi diselamatkan dari reruntuhan kebohongan dan semua luka yang Navya dapatkan dari Al?
Lihat lebih banyakAl berusaha menenangkan dirinya sejenak sebelum membalas, berusaha memberikan jawaban yang tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. “Oh … hanya perdebatan kecil, Bu. Namanya juga suami istri, kadang pasti ada selisih paham,” ujar Al sambil tersenyum tipis, meskipun senyumnya tak mampu menyembunyikan rasa gelisah di matanya. Bu Rahma menatap Al lekat-lekat, memaklumi kebohongan terselubung itu, tapi memilih untuk tidak mengusik lebih jauh. Dia tahu, beberapa hal memang sulit untuk diungkapkan, bahkan ketika itu telah menyakitkan hati seseorang. Dia sudah bisa menebak pasti bukan hanya masalah kecil yang terjadi di antara Al dan Navya, karena Navya tidak mungkin sampai pergi dari rumah dan membuat Al mencarinya seperti sekarang, jika itu memang hanya masalah kecil. Wanita paruh baya itu juga teringat pada perkataan Navya satu tahun lalu, saat dia mengatakan bahwa mantan istri Al sering datang ke rumahnya untuk mengunjungi Axel dan Lexa. Akhirnya, dengan suara lembut dan penuh perhat
Sean melihat nama di layar ponselnya dan langsung merasa tegang. Ia mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya melihat ke arah Navya yang sudah menatapnya penuh rasa penasaran dan sedikit takut. “Itu … Mas Al?” tanya Navya dengan suara lirih, sorot matanya mencerminkan kecemasan yang mendalam. Sean hanya mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa, lalu segera pamit menjauh dari mereka. Ia berjalan keluar rumah, mencari sudut yang lebih sepi untuk menjawab panggilan itu. “Kenapa? Tumben lu telfon gua?” sahut Sean langsung begitu panggilan terhubung, tanpa basa-basi. Di seberang sana, suara Al terdengar dingin dan tegas. “Lu ketemu sama Navya nggak hari ini?” Sean tersenyum sinis, meskipun Al tak bisa melihatnya. “Lah, dia kan istri lu, kenapa lu nanya sama gua, Bang? Emangnya lu apain lagi Navya sampe lu nyariin dia ke gua?” Sean berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Jangan-jangan ... lu ketahuan selingkuh sama kakak gua yang ratu drama itu, ya?” Tak ada respons dari Al. Dia terdiam, m
Navya berdiri di sudut jalan yang sepi, sembari menggigit bibirnya cemas. Tempat ini cukup jauh dari pengawasan CCTV, namun ia terus memeriksa sekeliling dengan gelisah, takut Al akan menemukan jejaknya. Tak lama kemudian, Sean tiba, menepi dan turun dari mobilnya. Ia mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran. “Nav, kamu baik-baik aja?” Sean mengamati Navya yang terlihat lelah dan penuh kecemasan. Navya mengangguk pelan, tetapi air mata sudah menggenang di matanya. “Sean … tolong bawa aku pergi dari sini. Aku nggak sanggup lagi tinggal di rumah itu. Mereka ... mereka makin gila. Mereka udah berani mesra-mesraan di rumah itu waktu aku lagi nganter anak-anak ke sekolah.” Sean terdiam sejenak, mencoba memahami betapa seriusnya permintaan Navya. “Kalo gitu, ayo ikut aku. Kamu tinggal di apartemen aku aja. Di sana kamu aman, dan Bang Al nggak akan tau—” “Nggak bisa, Sean.” Navya langsung menyela dengan suara tegas. “Kita nggak mungkin tinggal satu atap. Kita bukan muhrim. Lagian ... aku
Setelah meninggalkan Navya yang masih menggedor pintu kamar sambil berteriak marah, Al berjalan turun dengan langkah tegas, sorot matanya penuh amarah bercampur dengan kebingungan. Saat tiba di lantai bawah, dia menemukan Mbok Ratih berdiri dengan ekspresi khawatir. “Mbok!” teriak Al memanggil, membuat Mbok Ratih segera mendekat. “Ada apa, Den Al?” tanya Mbok Ratih hati-hati, melihat raut wajah Al yang nampak kacau dan penuh emosi. Al menarik napas dalam sebelum berbicara. “Jangan biarkan Navya keluar dari kamarnya. Pastikan pintu kamar tetap terkunci. Siapkan makan siang buat dia nanti, bawa aja ke kamarnya pas jam makan siang.” Mbok Ratih terdiam, tampak ragu. “Tapi, Den Al … apa itu nggak terlalu berlebihan? Mbak Navya terlihat sangat marah tadi, nanti dia tambah ma—” Al menatap Mbok Ratih dengan sorot tajam, seakan mengunci segala bentuk protes yang keluar. “Tolong jangan bantah perintah saya, Mbok! Saya tau apa yang terbaik buat Navya.” Tanpa menunggu tanggapan lagi, Al ber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan