Home / Romansa / Pura-Pura Cerai / 30. Rutinitas Hampa

Share

30. Rutinitas Hampa

Author: AR Disza
last update publish date: 2026-11-02 09:19:30

Pagi ini, Alda terbangun di sisi tempat tidur yang biasanya diisi Roni. Beberapa kali Alda terbangun saat terlelap, bukan karena suara dengkuran halus suaminya. Justru karena terlalu sepi. Hanya ada dengung mesin AC.

Rasanya aneh pergi bekerja tanpa ada obrolan ringan. Tidak ada kebersamaan saat menyantap sarapan.

Ini baru hari pertama, tetapi rasa kehilangan tanpa kehadiran Roni begitu nyata. Bagaimana tidak? Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Selama tiga tahun itu Roni telah menjadi bagian
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pura-Pura Cerai   35. Pencarian Sementara

    "Mahal-mahal, ya."Alda sendiri tidak heran karena indekos di pusat kota memang mahal.Di sela jam kerjanya yang tergolong lowong, Alda menyempatkan diri untuk mencari indekos terdekat. Tentu saja, dia mencari tempat yang budgetnya di bawah lima juta per bulan. Bagaimanapun masih banyak alokasi dana yang perlu diperhatikan. Lagi pula Alda hanya berestimasi tinggal di tempat lain tidak lebih dari satu bulan.Semoga saja semua proses yang dijalani tidak memakan waktu lebih dari itu. Pembuatan Akta Cerai palsu mereka. Lalu, mengurus wasiat warisan sampai akhirnya aset itu berpindah tangan kepada Roni. Ada satu tempat yang menarik perhatian Alda. Konsepnya disebut co-living dibandingkan indekos pada umumnya. Alda menghubungi nomor kontak. Dia ingin berkunjung setelah jam pulang kerja. Untungnya, penjaga tempatnya bersedia. Selepas pulang kerja, Alda berjalan menyusuri trotoar. Dia tidak perlu menggunakan transportasi online ke tujuannya. Masih bisa ditempuh jalan kaki. Alda tiba di ala

  • Pura-Pura Cerai   34. Percakapan yang Dirindukan

    "Tadi ada mobil siapa di depan rumah?"Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan Roni saat mereka berteleponan. Kali ini, panggilan video. Meski jauh, setidaknya Alda dapat melihat wajah suaminya.Rasa senang Roni meneleponnya yang semula bersemayam dalam diri Alda perlahan memudar. Semoga perubahan raut wajahnya tidak begitu kentara dari layar ponsel. Semoga Roni tidak menyadari Alda yang memucat.Dalam kepala Alda, dia penasaran seberapa jauh yang dilihat oleh Roni dari aplikasi yang tersambung ke kamera CCTV rumah. "Bukan penagih utang, kan? Nggak ada yang neror rumah kita?" Roni langsung menghujani Alda dengan banyak pertanyaan. Apabila Alda menjawab itu Dito, asumsi Alda akan membuat semuanya rumit. Terutama, Roni tinggal tidak jauh dari Lola. Di lain sisi, mobil yang digunakan Dito juga bukan mobil yang kemarin saat pemakaman."Orang nggak jelas," jawab Alda. Tidak sepenuhnya berbohong. Bagi Alda, Dito memang orang tidak jelas.Alda mengamati Roni dan latar belakangnya. Bukan ka

  • Pura-Pura Cerai   33. Jarak yang Menyeruak

    Refleks, Alda mematikan telepon. Bukan hanya panik ketahuan skenario pura-pura cerai, Alda terkejut mendengar pertanyaan ibu Roni.Kenapa Roni harus menghubungi Julia? Apakan dengan Roni kembali berhubungan dengan Julia akan membuat keluarga Roni makin percaya bahwa Roni dan Alda berpisah?Alda kemudian bangkit dari sofa. Dia berjalan ke arah kamar tidurnya. Setiap sudut kamarnya terasa berbeda. Hal ini hanya membuat Roni yang pergi itu terasa nyata. Sekalipun keduanya hanya berpura-pura berpisah, tetap saja jarak tetap menyeruak.Pada tengah malam, sebelum tidur, Roni mengirim pesan.Maaf, tadi teleponnya nggak tuntas. Ibu minta aku janjian sama Julia buat bantu urus ke PA.Setelah membaca pesan itu, Alda memilih memejamkan mata ketimbang membalasnya. Pasalnya, Alda sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Roni. Bisa saja Alda mengaku keberatan jika Roni malah berkomunikasi dengan Julia. Di sisi lain, hal itu akan membantu mereka lebih mudah mengelabui keluarga Roni dengan

  • Pura-Pura Cerai   32. Rumah Tanpa Pulang

    Rumahnya kini terasa asing.Lampu teras masih mati. Biasanya Roni menyalakan lampu jika ada di rumah. Sudut-sudut ruangan tidak lagi familier. Tidak ada yang menyambut pulang. Tidak ada pelukan yang menghilangkan rasa lelah dan penat.Yang dilakukan Alda kali pertama di rumah adalah menghempaskan diri ke atas sofa, membiarkan dirinya seperti tenggelam di bantal sandaran sofa.Kekecewaan merayap dalam diri. Dia malah melewatkan hal yang ditunggu-tunggu seharian ini.Alda menekur ke ponsel pada genggaman tangannya.Telepon saja kali, ya? Alda membatin. Namun, dia mengurungkan niat karena terlalu berisiko. Tidak ada yang bisa menjamin kondisi Roni kondusif untuk dihubungi. Bagaimana kalau ada keluarga Roni di dekatnya? Roni tidak lagi bisa bersikap bebas.Alda tersentak ketika ponselnya bergetar. Dia melihat suaminya meneleponnya. Tanpa menunda, Alda langsung menjawab panggilan itu."Sayang?" panggil Alda semringah, tidak lagi merasa begitu lelah."Kamu baru pulang?" Roni bertanya. "Aku

  • Pura-Pura Cerai   31. Panggilan Tak Terjawab

    "Bukannya lo udah mau pulang?" Alih-alih menjawab tawaran Kevin, Alda bertanya balik.Sejujurnya, gagasan yang dilontarkan Kevin bukanlah sesuatu yang buruk. Rubanah di pagi hari saja tetap temaram apalagi jika di luar sana sudah gelap. Tidak dapat dimungkiri bisa saja orang yang berniat jahat. Dengar-dengar sering adanya oknum yang berkeliling di parkiran untuk mencatat nomor mesin mobil.Suka tidak suka, pikiran Alda semakin meliar. Paranoid sendiri. Terutama, sementara ini, dia sungguhan sendirian."Gue nggak ada kegiatan yang bikin gue buru-buru pulang, sih." Kevin mengangkat kedua bahunya. Alda hanya bergumam. "Daripada bengong sendiri juga, kan?" Kevin tersenyum kecil. Reaksi Alda hanya anggukan kepala pelan. Dia menerima tawaran Kevin untuk menemaninya. Alhasil, mereka duduk di dalam mobil dengan kedua pintu terbuka untuk sirkulasi udara. Alda duduk di kursi sopir sementara Kevin duduk di sebelahnya. Alda baru mengerti apa yang dikatakan oleh Kevin tentang bengong sendiria

  • Pura-Pura Cerai   30. Rutinitas Hampa

    Pagi ini, Alda terbangun di sisi tempat tidur yang biasanya diisi Roni. Beberapa kali Alda terbangun saat terlelap, bukan karena suara dengkuran halus suaminya. Justru karena terlalu sepi. Hanya ada dengung mesin AC.Rasanya aneh pergi bekerja tanpa ada obrolan ringan. Tidak ada kebersamaan saat menyantap sarapan. Ini baru hari pertama, tetapi rasa kehilangan tanpa kehadiran Roni begitu nyata. Bagaimana tidak? Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Selama tiga tahun itu Roni telah menjadi bagian kehidupannya.Rasanya seperti setengah dari diri Alda ikut memudar. Bahkan, Alda sampai tidak bisa fokus. Dia malah menggunakan sepatu hak pesta berwarna merah menyala dibandingkan sepatu nyamannya untuk ke kantor.Setibanya di parkiran mobil kantornya, Alda justru harus mencari ID cardnya. Jika tidak ada, Alda tidak bisa masuk ke dalam kantornya. Dia harus memindai kartu itu. Alda menyalakan lampu di dalam mobil karena rubanah tidak memiliki pencahayaan yang baik. Alda mereka ulang apa saja y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status