Share

Bab 115

Author: Prince Molina
last update publish date: 2026-03-23 07:12:59

Suara mesin ekskavator yang mendadak mati menyisakan kesunyian mencekam di halaman klinik yang sudah hangus terbakar. Debu fajar perlahan turun menyingkap sosok Linda yang berdiri tegak dengan dokumen resmi di samping Tresna yang bersimbah darah.

Sang Juragan melangkah maju mendekati Linda dengan hentakan kaki yang keras ke tanah liat yang mulai mengering. Raut wajahnya memerah padam akibat gangguan tiba-tiba yang m

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 196

    Langkah kakinya bergerak mendekati titik di mana Richard tadi berdiri paling lama sebelum naik ke mobil. Pandangan mata Tresna tiba-tiba tertuju pada sebuah benda kecil yang nampak ganjil di atas tanah berpasir.Sebuah alat pelacak elektronik berwarna hitam legam tergeletak di sana. Benda itu ukurannya tidak lebih besar dari koin, namun nampak sangat modern dengan lampu indikator kecil yang masih berkedip merah redup.Tresna teringat gerakan tangan Richard yang sempat merogoh saku sebelum naik ke ambulans. Benda itu nampak sengaja dijatuhkan oleh Richard di tanah, tepat di area tempat tinggalnya.Benda mungil berwarna legam itu tergeletak pasrah di atas tanah berdebu, kontras dengan tekstur tanah kering pekarangan rumah joglo yang sudah lama tak tersentuh air. Di bawah bayang-bayang atap kayu yang angker, lampu indikator merah pada alat itu berkedip kalap.Kedipannya ritmis, cepat, dan seolah berteriak memberi tahu seluruh dunia koordinat tempat ini. Richard memang ular. Pria itu seng

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 195

    Lima orang pria berpakaian jas dokter putih melompat turun dari dalam mobil ambulans itu dengan langkah tergesa-gesa. Mereka nampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar, lengkap dengan stetoskop yang menggantung angkuh di leher masing-masing.Di barisan paling depan, seorang pria berkacamata dengan bingkai tipis memimpin rombongan itu dengan raut wajah yang luar biasa sombong."Amankan Tuan Direktur! Cepat pasang monitor jantung!" teriak pria berkacamata itu, suaranya melengking tinggi merobek suasana.Pria bernama Richard itu mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan Tresna. Dia menatap Tresna dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sorot mata penuh kebencian yang sangat nyata. Seolah-olah, melihat Tresna yang hanya memakai kaos oblong kusam adalah sebuah penghinaan bagi gelar akademisnya."Minggir kamu! Jangan dekat-dekat dengan pasien kami!" bentak Richard sambil menunjuk hidung Tresna.Tresna cuma bisa berkedip pelan, dia sedikit mundur. "Saya cuma bantu pertolongan p

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 194

    Difokuskannya seluruh pikiran pada batu hitam kusam tersebut, memancing aliran energi yang biasanya dia simpan untuk keadaan terdesak. Disalurkannya hawa panas penyembuhan dari liontin batu wulungnya langsung ke dalam sirkulasi darah pria tua itu melalui titik-titik saraf yang dia tekan.Terasa getaran halus merambat dari telapak tangan Tresna, seolah-olah ada aliran listrik statis yang mencoba menyetrum balik sistem kelistrikan jantung pria itu yang nyaris padam."Se... dikit... lagi," erang Tresna, wajahnya nampak sangat kelelahan, laksana orang yang sedang memikul beban satu ton di pundaknya.Keajaiban perlahan mulai menampakkan wujudnya di bawah remang lampu teras rumah warga. Napas pria tua yang tadinya tersengal-sengal dan terdengar seperti suara air mendidih, kini perlahan mulai terdengar lebih tenang dan stabil. Warna kulitnya yang tadinya membiru pucat perlahan kembali memerah."Pa? Papa?!" seru Clara dengan suara yang pecah karena harapan yang kembali muncul.Tepat saat itu

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 193

    "Gawat... kondisinya sudah sangat kritis, Mbak," gumam Tresna dengan rahang yang mengeras dan dahi yang berkerut dalam."Maksud Bapak apa?! Papa masih bisa selamat, kan?! Jangan bilang hal yang aneh-aneh, Pak!" wanita itu kembali histeris, suaranya gemetar menahan takut."Denyut nadinya sudah sangat tipis, Mbak. Ini serangan jantung koroner akut, suplai oksigen ke otaknya bisa terputus kalau nggak segera ada tindakan medis!"Keringat dingin mulai mengalir deras di pelipis Tresna, bukan karena takut menghadapi kematian, tapi karena situasi ini adalah situasi paling buruk bagi setiap tenaga medis yang berada jauh dari fasilitas lengkap.Dengan gerakan refleks yang sudah sangat terlatih, Tresna merogoh seluruh saku celana panjangnya, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk pertolongan pertama darurat. Dirogohnya saku depan, hanya ada sisa keringat. Diperiksanya saku belakang, kosong melompong.Wajah Tresna seketika berubah tegang saat dia menyadari sebuah kenyataan pahit yang menghan

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 192

    Gedoran brutal itu laksana guntur yang menyambar tepat di atas ubun-ubun, menghancurkan sisa-sisa kabut kenikmatan yang baru saja menyelimuti bilik bambu yang lembap itu. Tresna tersentak hebat, jantungnya yang baru saja melambat kini kembali berdegup kencang karena kaget yang luar biasa.Linda dan Silvi tak kalah panik, keduanya memekik kecil sambil buru-buru menarik kain apa saja untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos dan basah oleh sisa percintaan."Cepat pakai baju kalian! Jangan ada yang bersuara!" bisik Tresna dengan nada rendah yang penuh otoritas, matanya berkilat waspada menatap ke arah pintu depan yang terus diguncang gedoran.Dengan gerakan yang sangat panik dan terburu-buru, mereka bertiga langsung memungut pakaian masing-masing dari lantai semen yang masih basah.Silvi nyaris terpeleset saat menyambar dasternya yang tersampir di bak mandi, sementara Linda dengan tangan gemetar hebat mencoba memakai celana panjangnya yang tadi dilepas paksa oleh Tresna. Tidak ada wak

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 191

    "Mas... ahhh!" Linda memekik pelan saat bibir Tresna menyambar mulutnya dengan sangat rakus.Tresna memberikan ciuman penuh hasrat primitif, seolah ingin melumat habis seluruh napas Linda ke dalam paru-parunya sendiri.Linda mengerang di dalam tautan bibir mereka. Jemarinya mencengkeram erat otot bisep Tresna yang mengeras saat lidah sang mantri menjelajahi rongga mulutnya dengan gerakan yang sangat agresif. Aroma besi dari sisa darah di bibir Tresna justru menjadi stimulan yang membuat Linda semakin kehilangan kendali diri."Mas... ahh, pelan-pelan... kamu kasar... ahhh," desah Linda di sela-sela ciuman panas itu.Seolah tidak mendengar protes atau rintihan itu, Tresna yang sudah gelap mata segera meraih pinggang celana Linda. Dengan gerakan sangat kasar dan bertenaga, ia melepaskan celana Linda hingga hampir merobek kain tipis yang sudah basah. Tresna kemudian memosisikan tubuh Linda agar bersandar pada dinding bambu yang dingin dan kasar sebagai kontras dari hawa panas tubuh mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status