LOGINHawa panas dari gubuk yang terbakar hebat di belakang punggung sang pembunuh mulai terasa di kulit Linda. Rasa perih yang membakar itu bercampur dengan sesak napas akibat asap dan jepitan lengan raksasa yang semakin mengunci kuat.Suasana di ladang tebu desa Sukamaju mendadak jadi sangat kaku. Seolah-olah waktu berhenti berdetak cuma buat menyaksikan drama maut di bawah siraman cahaya api yang jingga kemerahan ini.Pemimpin pembunuh bayaran itu menyeringai licik. Matanya yang liar menyapu kerumunan warga yang mengepungnya dengan parang terhunus. Dengan gerakan yang sangat lambat tapi penuh ancaman, ia menempelkan kembali bilah tajam pisau lipat peraknya tepat di atas kulit leher jenjang Linda yang berkeringat.Dinginnya baja beradu dengan panasnya keringat Linda, menciptakan garis kemerahan yang makin jelas di kulit putihnya yang halus."Mundur! Mundur kalian semua, sampah desa!" teriak sang pemimpin dengan suara yang menggelegar. Urat-urat di lehernya menonjol laksana tambang nilon y
"Minggir kalian, sampah desa! Jangan halangi jalan aku!" raung sang pemimpin dengan suara yang sangat mengerikan, seolah keluar dari tenggorokan binatang buas."Berhenti kamu! Jangan harap bisa lari!" teriak warga mencoba mengepung rapat posisi pria besar itu."Rasakan ini!" Sang pemimpin membanting dua orang warga sekaligus dengan kekuatan tenaga dalamnya hingga mereka terpental ke rimbunnya pohon tebu.Sambil menahan rasa sakit di area wajahnya yang sudah hancur bersimbah darah, matanya yang sedingin es tetap mengincar Tresna. Pria bertubuh raksasa itu berlari mengejar posisi Tresna yang baru saja mendaratkan Linda di tanah terbuka. Langkah kakinya yang berat menghentak bumi, menciptakan ancaman maut yang baru bagi sang mantri yang sudah hampir kehabisan tenaga."Linda, awas di belakangmu!" jerit Silvi dengan suara melengking yang memecah riuhnya suasana."Hah? Apa—" Ucapan Linda terputus seketika.Sang pemimpin pembunuh itu berhasil menyergap dan mengunci leher Linda menggunakan le
Puluhan warga desa Sukamaju, mulai dari pemuda karang taruna hingga para petani tua yang ototnya sudah sekeras kayu jati, berlarian menembus rimbunnya ladang tebu yang tinggi-tinggi."Cepet! Itu arah gubuk tua! Kita harus cepet matiin apinya!" teriak Kang Dadang, koordinator ronda yang suaranya menggelegar membelah sunyi."Tangkap mereka! Siapa pun yang berani ngusik ketenangan desa kita, harus kita kasih pelajaran malam ini!" sahut warga lainnya sambil mengayunkan parangnya ke udara."Lihat! Asapnya makin merah! Mantri Tresna pasti di sana!" teriak seorang pemuda di barisan depan.“Dobrak aja!” seru Kang Dadang.Mereka menerobos masuk melalui dinding gubuk yang sudah rapuh termakan usia dan kini mulai terbakar hebat di beberapa sisi. Dengan satu hantaman yang dilakukan bersamaan, dinding bambu yang malang itu jebol, menyingkap pemandangan brutal di dalam sana.Mata warga desa seketika membelalak lebar saat melihat tiga sosok pria asing berpakaian taktis hitam-hitam. Orang-orang itu n
Lampu botol kaca berisi minyak tanah itu melayang di udara, berputar di tengah sorotan lampu senter para pembunuh yang terperangah. Benda itu kemudian pecah menghantam tumpukan daun tebu kering tepat di tengah ruangan gubuk yang pengap.PRANGGG!Suara kaca pecah itu disusul oleh suara desisan cairan yang tumpah dengan cepat. Minyak tanah mentah itu membasahi dedaunan tebu yang sudah sangat kering dan mudah terbakar akibat musim kemarau panjang. Percikan api dari sumbu lampu yang masih menyala redup langsung menyambar dan membesar melahap seluruh material mudah terbakar tersebut.Dalam hitungan detik saja, api berwarna jingga kemerahan meledak dari tengah lantai gubuk. Panas yang menyengat seketika memenuhi ruangan, menerangi wajah-wajah para pembunuh bayaran yang kini terkejut luar biasa. Mereka tidak menyangka kalau wanita yang mereka ikat itu punya nyali untuk berbuat senekat ini."Api! Gubuk ini terbakar!" teriak salah satu pembunuh bayaran dengan panik. Ia melompat mundur dari kob
Sang pemimpin terperanjat karena pisaunya cuma menebas udara kosong dan kain kemeja yang robek. Bunyi sobekan yang nyaring itu terdengar jelas di tengah kesunyian gubuk yang mencekam."Sialan! Kamu masih punya tenaga?!" raung sang pemimpin dengan kemarahan yang meluap.Tresna tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk menyerang balik. Sambil masih dalam posisi telentang di lantai tanah, ia meluruskan kaki kanannya dengan kecepatan kilat. Ia menendang kuat bagian lutut pemimpin pembunuh bayaran itu dari arah bawah. Hantaman tumit Tresna mengenai persendian lutut sang raksasa dengan telak, menciptakan suara krak yang menyakitkan."AAAKKKHHH!" Pria bertubuh raksasa tersebut kehilangan keseimbangan tubuhnya seketika.Karena beban tubuhnya yang besar, ia jatuh bersandar sangat keras menabrak dinding anyaman bambu gubuk yang sudah lapuk. Dinding bambu itu berderak kencang, nyaris jebol dihantam punggung sang pemimpin.Tresna tidak menunggu lawannya bangkit. Dengan sisa adrenalin yang m
"Mas... Mas Tresna... tolong bertahan..." isak Silvi, suaranya nyaris hilang ditelan tangis yang memilukan.Linda menatap sang pemimpin dengan mata yang penuh kebencian. "Kamu bakal membusuk di penjara, kamu sama Juragan sialan itu! Polisi pasti lagi dalam perjalanan ke sini!" teriaknya mencoba menggertak, meski ia tahu bantuan mungkin nggak bakal datang tepat waktu.Mendengar nama polisi disebut, pemimpin pembunuh bayaran itu justru tertawa lebih keras, sebuah tawa yang kering dan mengerikan. "Polisi? Darmawan mungkin udah jadi bangkai di lorong puskesmas tadi. Di perkebunan ini, aku hukumnya," sahutnya dengan nada dingin yang membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.Pria raksasa itu kemudian berhenti tertawa, wajahnya berubah menjadi sangat serius dan fokus. Tangan kanan pemimpin pembunuh bayaran itu merogoh saku celana kargonya secara perlahan ke bagian paling dalam, seolah sedang mengambil sesuatu yang sangat berharga dan rahasia.Linda dan Silvi menahan napas, mata mereka te
Sisa kehangatan di dapur itu masih membekas jelas di benak Tresna. Setelah cairan kejantanannya membasahi kulit putih Arum, suasana mendadak sunyi senyap. Hanya suara napas mereka yang saling memburu di antara remang lampu minyak yang mulai meredup.Arum menyeka dadanya yang basah dengan kain serbe
Tresna berdiri mematung di samping jemuran dengan tubuh yang kaku seperti papan kayu. Tangan kanannya masih meremas celana dalam hitam berenda milik Tante Arum, sementara tangan kirinya memegang stang motor yang mesinnya sudah mati sejak tadi.Ia menatap punggung Silvi yang melenggang masuk ke dala
Tresna merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat tangan halus Arum mencengkeram erat pusaka kebanggaannya melalui kain celana yang tipis. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, membasahi wajahnya yang sudah memerah padam karena menahan malu sekaligus gairah yang meledak-ledak.Ia me
Arum mendadak menghentikan kalimatnya yang menggantung. Seolah tersadar bahwa udara di dapur malam itu sudah terlalu panas untuk mereka berdua.Ia melepaskan elusannya pada Si Gatot, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan nadanya. Senyum tipi







