Share

Bab 160

Penulis: Prince Molina
last update Tanggal publikasi: 2026-04-03 15:05:19

"Minggir kalian, sampah desa! Jangan halangi jalan aku!" raung sang pemimpin dengan suara yang sangat mengerikan, seolah keluar dari tenggorokan binatang buas.

"Berhenti kamu! Jangan harap bisa lari!" teriak warga mencoba mengepung rapat posisi pria besar itu.

"Rasakan ini!" Sang pemimpin membanting dua orang warga sekaligus dengan kekuatan tenaga dalamnya hingga mereka terpental ke rimbunnya pohon tebu.

Sambil menahan rasa sakit di area wajahnya yang sudah hancur bersimbah darah, matanya yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 173

    Tresna tidak menunggu lebih lama lagi. Amarahnya sudah meluap hingga ke ubun-ubun melihat rumah yang penuh kenangan itu dilecehkan. Dengan langkah yang eksplosif, ia keluar dari bayang-bayang pilar."Berhenti, bajingan!" geram Tresna dengan suara rendah yang mematikan.Tresna mengayunkan kayu bakarnya lurus ke arah punggung pria itu, sebuah pukulan vertikal yang bertenaga penuh untuk menghentikan aksi pembakaran yang mengancam nyawa keluarganya. Kayu jati padat itu mendesing membelah udara malam.Namun, pria di depannya bukanlah seorang amatir. Seolah memiliki mata di belakang kepala, pria itu menyadari kedatangan Tresna lalu menundukkan kepalanya dengan sangat cepat, membiarkan kayu bakar Tresna hanya menghantam angin kosong di atas pundaknya.WUSS!Sentakan angin dari ayunan balok jati itu hampir mengenai telinga si pelaku. Dengan gerakan yang sangat terlatih, pria bermasker itu memutar tubuhnya sambil menarik sebuah belati panjang dari balik pinggang. Bilah baja itu berkilat tajam,

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 172

    Mendengar hal itu, pupil mata Tresna seketika mengecil. Ia langsung mengendus udara malam yang dingin.Pada awalnya, ia hanya mencium wangi bunga kamboja serta bau tanah basah. Namun, ketika angin berembus dari arah depan rumah joglo, ia membenarkan adanya aroma bahan bakar minyak yang sangat tajam dan berbahaya tersebut.Aroma itu menusuk hidungnya. Ini pertanda bahwa cairan tersebut baru saja disiramkan dalam jumlah yang sangat besar di area depan."Bajingan..." geram Tresna pelan. Tangannya refleks meraba saku celana, memastikan peta wakaf itu masih ada di sana.Ia segera menarik Linda dan Tante Arum agar menjauh dari bangunan utama. Tresna tahu persis metode pengecut macam ini. Pihak Juragan tidak mau menunggu dua puluh empat jam, mereka ingin membakar habis bukti dan penghuninya sekaligus malam ini juga."Mas, bensin? Juragan itu kayaknya udah gila! Dia mau ngancurin bukti ini sekaligus sama kita!" seru Linda, suaranya bergetar hebat saat ia menyadari bahwa ancaman maut belum ben

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 171

    "Besok pagi, waktu orang-orang dari pengadilan datang buat nyita semuanya, aku sendiri yang bakal nampar wajah mereka pake kertas ini," jawab Tresna dengan senyum dingin yang sangat maskulin.Ia melipat kembali gulungan kertas kulit tersebut dengan sangat hati-hati dan menyimpannya di tempat paling aman. Di bawah siraman cahaya rembulan yang mulai meredup, Tresna berdiri dengan sisa tenaga yang seolah terisi kembali.Rasa lelah akibat pertarungan maut dan pergumulan panas di sumur tadi mendadak hilang, digantikan oleh tekad baja untuk menghancurkan rezim Juragan. Besok pagi, Sukamaju akan menjadi saksi bagaimana seorang mantri desa menumbangkan raksasa kota dengan selembar kertas yang dibayar dengan sumpah darah.Tresna segera menggulung kembali kertas berharga itu dengan gerakan taktis, memastikannya tetap aman dari kelembapan malam. Ia memasukkannya ke dalam saku celana panjang yang tergeletak di atas rumput basah. Di tengah kemenangan kecil itu, Tresna tetap tidak kehilangan kewas

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 170

    Suasana di belakang rumah joglo tua itu mendadak mendingin, bukan karena embusan angin malam, melainkan beratnya rahasia yang baru saja jatuh ke pangkuan Tresna. Kotak kayu kecil berbentuk pipih itu terasa berat, seolah menyimpan beban sejarah yang telah terkubur puluhan tahun di balik lumut sumur tua.Tresna mengambil kotak kayu pipih tersebut dari atas pangkuannya dengan tangan yang masih gemetar hebat, sebuah getaran perpaduan antara sisa kelelahan fisik setelah pergumulan binal dengan Linda dan adrenalin yang kembali melonjak naik."Mas... apa itu? Kenapa kotak itu bisa ada di dalam dinding sumur?" bisik Linda dengan suara yang nyaris hilang. Matanya menatap benda tersebut seolah sedang melihat hantu dari masa lalu kakeknya.Tresna tidak langsung menjawab. Ia mengatur napas, mencoba menenangkan debar jantung yang masih berpacu. "Aku nggak tahu, Lin. Tapi kakek kamu nggak mungkin nyembunyiin sesuatu di balik bata sumur kalau bukan menyangkut hal yang penting," sahut Tresna dengan s

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 169

    Tresna menumpu beban tubuh dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat tepian bata, urat-urat di lengan kekarnya menonjol hebat saat ia mulai memacu kecepatan dorongan pinggul dengan ritme presisi serta bertenaga.Setiap hentakan pria itu memberikan sensasi benturan fisik yang konstan pada dasar sawah milik Linda, menciptakan suara gesekan kulit basah serta memabukkan di tengah kesunyian malam.Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya mendongak ke arah langit sementara jemarinya mencengkeram permukaan batu berlumut di belakang punggung. Ia berusaha menahan aliran nikmat yang menjalar laksana arus listrik, menyetrum seluruh saraf hingga ke ujung kaki."Nghhh... Mas... Mas Tresna... hhh... pelan sedikit... ahh..." rintih Linda dengan suara serak dan terputus-putus."Tahan, Sayang... nikmatin aja..." balas sang mantri lewat nada berat yang sarat gairah maskulin.Pria ini tidak mengurangi tempo, ia justru semakin menggila. Dua bukit kembar Linda yang besar serta padat terus bergunca

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 168

    "Oohh, Linda... kamu sempit banget... nghhh..." desah Tresna dengan suara berat yang tertahan di tenggorokan.Linda merasakan gelombang kenikmatan yang semakin liar menyambar pusat kesadarannya. Dorongan Tresna kini jadi lebih bertenaga, menghujam dalam hingga ke dasar terdalam pintu sawahnya.Gadis itu sampai menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan suara supaya tidak terdengar oleh Silvi ataupun Tante Arum di dalam rumah joglo. Ia tidak ingin momen sakral ini terganggu oleh siapa pun."Nghhh... Mas... sshhh... jangan berhenti," rintih Linda di sela gigitan bibirnya. Tangannya merayap naik, mencengkeram bahu Tresna yang keras laksana batu karang, membiarkan kuku-kukunya sedikit menekan kulit sang pria."Enak? Heumm?" tanya Tresna sambil terus memacu pinggulnya dengan kecepatan yang meningkat."Enak... ahh... enak banget, Mas... hhh... terusin..." jawab Linda dengan napas yang terputus-putus. Tubuhnya melengkung mengikuti setiap hentakan Tresna yang tanpa ampun.Setiap kali pusaka b

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 9

    Tresna merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat tangan halus Arum mencengkeram erat pusaka kebanggaannya melalui kain celana yang tipis. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, membasahi wajahnya yang sudah memerah padam karena menahan malu sekaligus gairah yang meledak-ledak.Ia me

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 12

    Tresna berdiri mematung di samping jemuran dengan tubuh yang kaku seperti papan kayu. Tangan kanannya masih meremas celana dalam hitam berenda milik Tante Arum, sementara tangan kirinya memegang stang motor yang mesinnya sudah mati sejak tadi.Ia menatap punggung Silvi yang melenggang masuk ke dala

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 11

    Sisa kehangatan di dapur itu masih membekas jelas di benak Tresna. Setelah cairan kejantanannya membasahi kulit putih Arum, suasana mendadak sunyi senyap. Hanya suara napas mereka yang saling memburu di antara remang lampu minyak yang mulai meredup.Arum menyeka dadanya yang basah dengan kain serbe

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 13

    Gudang farmasi yang sempit itu seolah kehilangan pasokan udara. Suara detak jam di dinding lorong Puskesmas terdengar samar, kalah telak oleh suara degup jantung Tresna yang berdentum hebat di dalam rongga dadanya. Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Rini barusan laksana sumbu pendek yang mem

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status