/ Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 33: Adu Mekanik Gudang

공유

Bab 33: Adu Mekanik Gudang

작가: Ibrahiman
last update 게시일: 2026-05-06 12:30:49
"Mas Madun, jangan kencang-kencang! Daster aku bisa robek!" bisik Rini sambil mencubit lengan Madun yang sekeras beton.

Madun terkekeh, napasnya berat seperti mesin truk. Ia menatap Rini yang bersandar di dada bidangnya yang cokelat jantan. Visual Rini sangat menggoda; daster satin merahnya melorot, memperlihatkan kulit putih mulus dan belahan dada montok. Rambutnya yang acak-acakan menambah kesan liar. Keringat tipis yang mengalir di leher jenjangnya membuat aroma sabun mandi melati bercampur
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 38: Di Balik Karung

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong jalannya, kaki aku pegal nih ngejar langkah Mas yang lebar banget!" protes Rini sambil berlari kecil menyusul Madun di lorong gudang yang remang-remang. Madun menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan hingga dada bidangnya yang hanya terbalut kaos singlet ketat hampir bertabrakan dengan wajah Rini. "Lho, bukannya tadi kamu yang semangat mau ikut Mas cek stok beras di gudang belakang, Rin?" Rini terengah-engah, wajahnya memerah karena lelah sekaligus malu. Visual Rini sore itu benar-benar bikin mata pria normal sulit berkedip. Ia memakai kaos putih berbahan tipis yang sudah basah oleh keringat, membuatnya menempel ketat dan memperlihatkan bentuk bra renda merahnya yang kontras. Rok mini jeans yang ia pakai juga memperlihatkan sepasang paha putih mulus yang sangat kencang, hasil sering jalan kaki keliling pasar. "Habisnya Mas Madun kalau jalan kayak mau balapan karung. Mentang-mentang badannya kekar, nggak mikirin aku yang pakai sand

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 37: Jamu Kuat di Warung Kopi

    "Mas Madun, pelan-pelan dong jalan itu! Masih gemetar ya kakinya habis dikeroyok dua bidadari tadi malam?" goda Rini sambil menarik ujung sarung Madun saat mereka berpapasan di gang sempit dekat pasar.Madun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Rini sambil membetulkan posisi kaos singletnya yang ketat, memperlihatkan otot bisepnya yang keras dan berurat. "Bukannya gemetar, Rin. Ini namanya langkah pria perkasa yang sedang menjaga keseimbangan linggis beton supaya tidak tumpah energinya."Rini tertawa cekikikan, visualnya pagi itu sangat menyegarkan mata. Ia memakai kaos putih yang sedikit kekecilan, menonjolkan lekuk dadanya yang padat dan membusung kencang. Celana pendek yang ia kenakan memperlihatkan paha putihnya yang mulus, bersih tanpa noda, seolah-olah kulitnya memang terbuat dari santan kelapa pilihan. Madun sampai harus menelan ludah berkali-kali melihat keringat tipis di leher jenjang Rini yang putih."Alah, paling juga Mas cuma mau ke warung kopi buat cari jamu telur beb

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    bab 36: Ronda Malam di Pasar

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang tariknya, daster Rini bisa sobek jadi kain pel kalau ditarik kasar begitu!" bisik Rini sambil mencubit manja lengan Madun yang berotot keras seperti besi galvalum. Madun hanya terkekeh, napasnya masih menderu berat setelah sesi panas di gudang tadi. Ia menatap Rini yang sedang bersandar manja di bahunya yang lebar dan kokoh. Visual Rini malam itu benar-benar maut; daster kuningnya sudah tidak keruan bentuknya, memperlihatkan leher putih mulus dan sebagian pundaknya yang kuning langsat. Rambutnya yang sedikit berantakan justru membuat auranya makin menggoda, seperti kucing yang baru saja diberi makan ikan asin kualitas super. "Habisnya kamu kenyal banget, Rin. Beda sama tumpukan beras yang Mas panggul tiap pagi," jawab Madun sambil tangannya yang kasar merayap kembali ke pinggang Rini yang ramping namun berisi. Siska yang sedang merapikan kemeja putihnya di pojok gudang langsung menoleh dengan tatapan tajam. Ia membuka dua kancing atas keme

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 35: Lembur di Gudang

    "Mas Madun, kok bengong? Masih kepikiran servis Bu Bidan Siska tadi ya?" tanya Rini sambil menyenggol pinggang Madun yang keras bak papan jati. Madun tersentak, hampir menjatuhkan kopinya. "Bukan gitu, Rin. Mas cuma merasa makin segar habis disuntik vitamin rahasia sama Bu Bidan." Rini tertawa nakal, melirik dada bidang Madun. Kaos tipis Madun basah kuyup oleh keringat jantan, menonjolkan otot perut kotak-kotak yang sempurna. Visual Madun memang jantan; kulit cokelat, lengan berurat, dan rahang tegas yang bikin wanita pasar salah fokus. Rini sendiri tampak menggoda dengan daster kuning tipis yang memperlihatkan lekuk pinggul padat dan leher putih mulusnya. "Sudah, jangan ribut. Madun, masuk gudang sebentar. Ada 'bonus' lembur buat kamu," panggil Siska yang muncul dari balik pintu. Siska mengenakan kemeja putih ketat dengan dua kancing atas terbuka, memamerkan payudara besar dan kencang yang menyembul menggoda. Kulit porselennya tampak sangat mewah dan berkilau di tengah gudang yang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 34: Suntikan Tenaga Madun

    "Mas Madun, kok malah bengong? Itu lho, Bu Bidan Siska sudah senyum-senyum terus dari tadi di depan klinik," celetuk Rini sambil mencubit kecil pinggang Madun yang keras.Madun tersentak, hampir saja ia menjatuhkan botol minumnya. "Eh, iya Rin. Mas cuma lagi atur napas. Capek juga ya kalau harus melayani semangat kalian yang nggak habis-habis."Rini tertawa kecil, matanya melirik nakal ke arah dada Madun yang bidang. Kaos Madun yang tipis sudah basah kuyup oleh keringat, menonjolkan setiap lekuk otot perutnya yang kotak-kotak. Madun memang punya visual pria kuli yang sangat jantan; kulit cokelat terbakar matahari, lengan besar penuh urat, dan rahang tegas yang bikin wanita di pasar sering salah fokus."Halah, Mas Madun gaya banget. Padahal tadi di gubuk bilangnya masih sanggup angkut sepuluh karung lagi," goda Rini. Visual Rini sore itu juga tak kalah maut. Ia memakai daster kuning tipis yang menonjolkan lekuk pinggulnya yang padat. Rambutnya yang diikat asal-asalan justru memperlihat

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 33: Adu Mekanik Gudang

    "Mas Madun, jangan kencang-kencang! Daster aku bisa robek!" bisik Rini sambil mencubit lengan Madun yang sekeras beton. Madun terkekeh, napasnya berat seperti mesin truk. Ia menatap Rini yang bersandar di dada bidangnya yang cokelat jantan. Visual Rini sangat menggoda; daster satin merahnya melorot, memperlihatkan kulit putih mulus dan belahan dada montok. Rambutnya yang acak-acakan menambah kesan liar. Keringat tipis yang mengalir di leher jenjangnya membuat aroma sabun mandi melati bercampur dengan hawa panas tubuhnya, menciptakan godaan yang sulit ditolak pria mana pun. "Habisnya kamu empuk, Rin. Beda sama karung beras," jawab Madun, tangannya merayap ke pinggul Rini yang padat. Siska yang duduk di sebelah mendengus. Ia mengenakan kemeja tipis dengan kancing atas terbuka, menonjolkan leher porselen dan tubuh jam pasirnya. "Saya juga empuk, Madun! Vitamin saya lebih bergizi!" Siska sengaja membusungkan dadanya, membuat kancing kemejanya seolah hampir terlepas karena tekanan dar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status