Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 142: Goyang Lidah di Pasar Sukawati

Share

Bab 142: Goyang Lidah di Pasar Sukawati

Author: Ibrahiman
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-11 17:31:36

​"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... untung saja jebakan jaring kawat titanium ruko remang-remang tadi mendadak ambyar leleh jadi kuah soto akibat disenggol tanduk sapi warga, sekarang saya bisa benar-benar fokus mengajak Miss Catherine lanjut kulineran jajan pasar tradisional Sukawati tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil mengelap sisa debu logam di pundaknya, mencoba meresapi getaran asmara suci
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 293: Serangan Fajar Kopi Hitam

    ​Matahari pagi di kawasan elit Menteng belum sepenuhnya menampakkan wujudnya. Langit masih menyisakan semburat biru tua keunguan berbalut kabut tipis tipikal pagi hari di ibu kota. Jam dinding di sudut ruang utama RM Jagoan Rasa Restoran baru menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit.​Namun, di halaman depan restoran, suasana sudah sangat riuh rendah oleh suara deru mesin kendaraan yang memecah keheningan subuh.​Madun, sang jagoan desa legendaris, berdiri tegak di samping sebuah motor bebek tua berjuluk Motor Lele kesayangannya. Ia mengenakan kaos oblong putih polos kesayangannya, celana training hitam, dan tentu saja—sebagai lambang kehormatan yang tidak boleh tergantikan oleh merek fesyen dunia mana pun—sandal jepit swallow hijau keramat yang melekat erat di kaki kanannya. Di tangan kirinya, secangkir kopi tubruk hitam pekat masih mengepulkan uap panas beraroma wangi.​Tepat di hadapan Madun, terparkir megah sebuah mobil SUV monster hitam legam mewah keluaran terbaru seharga mili

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 292: Aroma Gosong di Siang Bolong

    ​Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan terik panas yang menyengat kawasan elit Menteng. Jam dinding di ruang utama RM Jagoan Rasa Restoran menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit siang. Waktu makan siang yang seharusnya menjadi momen paling sibuk dan menguntungkan bagi sebuah restoran fusion kelas atas, mendadak berubah menjadi zona evakuasi darurat.​Asap hitam pekat mengepul keluar dari jendela lantai dua dapur eksekutif restoran, mengepul tebal ke udara membentuk awan kecil mirip sinyal bahaya suku Indian. Bau sengit perpaduan antara terasi mentah yang gosong, keju mozzarella yang meleleh hangus, dan aroma petai bakar tingkat kepanasan maksimal menyebar ke seluruh penjuru jalanan protokol Menteng.​Para pelanggan elit yang tadinya duduk rapi di meja-meja makan berbalut taplak putih langsung berhamburan keluar restoran sambil batuk-batuk kecil.​"Kebakaran! Dapur meledak lagi!" teriak seorang pelanggan berjas rapi panik, berlari terbirit-birit menyelamatkan di

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 291: Kuda-kudaan

    ​Matahari pagi di kawasan elit Menteng menyapa dengan pendar keemasan yang hangat, menembus celah-celah jendela kaca besar kamar utama keluarga Madun. Pukul enam lewat tigaratus pagi, udara luar masih terasa sejuk, namun suasana di dalam kamar tidur utama sudah jauh dari kata tenang.​Madun, sang jagoan desa legendaris, sudah terbangun lebih dulu. Ia berdiri di tengah ruangan beralaskan karpet bulu tebal, hanya mengenakan kaos oblong putih polos dan celana training hitam longgar. Tentu saja, di kaki kanannya, sandal jepit swallow hijau keramat yang telah menjadi saksi bisu segala pertempuran hidupnya tetap setia menempel, seolah menolak berpisah sedetik pun.​Pagi itu, Madun tidak sedang bersantai. Dengan wajah serius layaknya seorang pendekar silat tingkat dewa yang bersiap menghadapi serbuan pasukan musuh, ia mengambil kuda-kuda rendah. Kakinya dibuka lebar-lebar selebar bahu, lututnya ditekuk membentuk sudut siku-siku yang kokoh, kedua tangannya dikepalkan di depan dada dengan juru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 290: Genjotan Pamungkas Penjebol Pertahanan

    ​Suara jangkrik malam di halaman belakang RM Jagoan Rasa Restoran seolah tenggelam oleh deru napas yang memburu dan detak jantung yang berpacu dalam kecepatan tinggi. Pukul sepuluh malam lewat empat puluh lima menit, kawasan elit Menteng telah berubah menjadi saksi bisu dari sebuah babak paling ekstrem, paling liar, dan paling menentukan dalam sejarah kehidupan keluarga kecil Madun.​Di atas kursi malas rotan berukuran ekstra besar yang terletak di sudut teras, keempat jiwa itu kini melebur dalam satu titik pusaran gairah yang sudah mencapai puncaknya. Kemeja linen putih Madun telah lama tercampak entah ke mana, menampakkan seluruh tubuh atletis sang jagoan desa yang bermandi keringat. Di kaki kanannya, sandal jepit swallow hijau keramat yang biasanya menjadi lambang kehormatan kini tergeletak pasrah di lantai, seolah ikut menyerah kalah pada badai badani yang sedang mengamuk.​Vanesha, Celine, and Audrey benar-benar telah melucuti seluruh sisa pertahanan mental maupun fisik mereka. T

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 289: Sedotan Maut Pukul Sembilan Malam

    ​Malam Minggu di kawasan elit Menteng menyuguhkan udara yang hangat berbalut semilir angin malam yang lembut. Halaman belakang RM Jagoan Rasa Restoran telah berubah fungsi menjadi arena nongkrong pribadi paling eksklusif di ibu kota. Lampu-lampu string lights kuning keemasan berpendar indah, memantul di permukaan kolam ikan koi yang tenang.​Madun, sang jagoan desa legendaris, duduk berselonjor santai di kursi malas rotan hitam. Ia mengenakan kemeja linen putih longgar yang sengaja dibiarkan terbuka tiga kancing atasnya, memamerkan dada bidangnya yang khas pria perkasa kampung rawa. Tentu saja, sebagai ciri khas abadi yang tidak boleh luntur oleh kemewahan kota besar, sandal jepit swallow hijau keramat tetap setia mendekam di kaki kanannya.​Di hadapannya, bertengger sebuah mangkuk besar es kelapa muda spesial racikan Madun sendiri: daging kelapa muda segar, serutan alpukat mentega, lelehan susu kental manis cokelat, dan taburan keju cheddar parut melimpah. Di atas mangkuk es kelapa r

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 288: Suami Paling Merana

    ​Matahari sore di kawasan elit Menteng menyinari halaman belakang RM Jagoan Rasa Restoran dengan bias cahaya jingga yang romantis. Suasana di sekitar kolam ikan koi tampak begitu tenang dan menyenangkan. Para pelanggan sore mulai berdatangan, menikmati aroma sedap nasi goreng petai keju yang menguar dari dapur utama.​Namun, ketenangan sore itu mendadak terganggu oleh sebuah pemandangan yang sangat kontras di sudut teras restoran.​Madun, sang jagoan desa legendaris, duduk berselonjor malas di atas kursi gantung rotan. Ia mengenakan kaos oblong putih longgar dan celana pendek rumahan, sementara kaki kanannya yang diselonjorkan tetap setia mengenakan sandal jepit swallow hijau keramat. Di wajahnya terpampang ekspresi wajah merana yang luar biasa—bibirnya mengerucut ke depan, matanya sayu menatap kosong ke arah depan, dan helaan napasnya terdengar berat setiap tiga detik sekali.​Huft... Huft... Huft...​Vanesha, Celine, and Audrey yang sedang duduk asyik menikmati secangkir es teh mani

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status