登入"Mas Madun, jangan dilepas dulu kepalanya! Rasakan ini, selangkangan Lala lagi banjir bandang gara-gara lidah nakal Mas!" teriak Lala sambil menekan pinggulnya lebih keras ke wajah Madun.Madun yang posisinya masih bersimpuh di lantai hanya bisa pasrah wajahnya dikangkangi oleh mahasiswi cantik itu. Visual Lala dari posisi ini benar-benar merusak saraf. Daster satin merah mudanya sudah tersingkap sampai ke pinggang, memperlihatkan paha putih mulusnya yang luar biasa bening dan kencang. Kulit di area selangkangannya tampak sangat bersih, putih porselen, dan sekarang sudah basah kuyup oleh cairan bening yang mengkilap terkena lampu kamar."Aduh, Neng Lala! Mas nggak bisa napas ini! Tapi baunya harum stroberi campur madu, bikin Mas betah lama-lama di sini!" gumam Madun dari balik himpitan paha Lala. Madun sendiri tampak sangat jantan meski dalam posisi terpojok; pundaknya yang lebar dan otot lengannya yang penuh urat mencengkeram erat pinggul Lala yang ramping namun padat.Lala tidak
"Mas Madun, katanya linggis beton Mas itu sakti mandraguna ya? Tapi kok sekarang malah bengong lihat paha Lala?" goda Lala, mahasiswi baru yang juga tetangga kos Madun.Lala memiliki visual yang sangat berani sore itu. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna merah muda yang panjangnya hanya sebatas pangkal paha. Kulit pahanya yang putih mulus, kencang, dan bening tampak berkilau terkena cahaya lampu kamar yang temaram. Rambutnya yang hitam panjang sengaja diikat ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa noda sedikit pun."Bukannya bengong, Neng Lala. Mas cuma lagi nimbang-nimbang, ini paha apa ubi cilembu, kok kelihatannya manis dan kenyal bener," jawab Madun sambil terkekeh jantan. Madun duduk di lantai, bersandar pada dipan kayu. Ia melepas kaosnya, memperlihatkan dada bidang yang kecokelatan dengan urat-urat lengan yang menonjol kuat hasil kerja keras di pasar.Lala tersenyum nakal, matanya melirik ke arah selangkangan Madun yang terbungkus sarung
"Mas Madun! Baru pulang kerja ya? Kok badannya basah semua gitu, habis berenang di karung beras?" tanya sebuah suara lembut yang bikin jantung Madun nyaris melompat keluar dari dada bidangnya.Madun menoleh. Di depan pagar rumah tetangganya, berdiri Desi. Anak Pak RT yang baru lulus SMA itu benar-benar punya visual yang bikin pria sekampung meriang. Wajahnya ayu tenan, dagunya lancip, hidungnya mancung, dan matanya teduh mirip sekali dengan Dian Sastro waktu masih muda. Sore itu, Desi cuma pakai daster batik pendek tanpa lengan. Visual bahunya yang putih bersih dan mulus kena sinar matahari sore benar-benar menyilaukan mata Madun yang biasanya cuma lihat debu pasar."Eh, Neng Desi. Iya nih, baru selesai bongkar muat dua truk. Biasalah, keringat laki-laki, Neng," jawab Madun sambil pamer otot lengan yang uratnya menonjol seperti kabel listrik.Desi tertawa kecil, tangannya menutup mulut dengan gaya yang sangat anggun. "Ih, Mas Madun pamer otot ya? Tapi emang sih, otot Mas makin har
"Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong genjotnya! Ini napas Dara hampir putus, Mas!" rengek Dara sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu. Wajahnya yang cantik sekarang sudah basah kuyup oleh keringat, membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahi dan leher putihnya yang mulus. Visual Dara benar-benar menggoda iman siapapun; kaos birunya yang tipis sekarang sudah lepek menempel ketat di tubuhnya, menonjolkan bentuk dadanya yang kencang dan ranum. Paha mulusnya yang bening masih tampak gemetar hebat karena efek 'gigitan' semut rangrang tadi.Madun hanya tertawa renyah, ia menyeka keringat di rahang tegasnya dengan punggung tangan yang berurat. "Lho, bukannya tadi Dara sendiri yang minta Mas hajar terus? Masa kuli pasar baru genjot sebentar sudah disuruh berhenti? Malu sama otot, Dara!" Madun berdiri tegak, memamerkan dada bidangnya yang cokelat jantan dan perut kotak-kotak yang berdenyut karena sisa gairah. Visual Madun memang jantan sekali, tipikal pria pekerja keras yang
"Mas Madun! Aduh, ini minyaknya makin panas atau gimana sih? Kok rasa di bawah sini kayak ada kembang api meledak-ledak?" teriak Dara sambil mencengkeram pinggiran karung beras dengan kuku-kukunya yang mungil.Madun yang sedang dalam posisi mengangkang gagah di atas tubuh Dara hanya menyeringai jantan. Keringat bercucuran dari rahang tegasnya, menetes ke dada bidangnya yang berotot keras. Visual Madun saat itu benar-benar mewakili keperkasaan kuli pasar; kulit cokelat mengkilap, otot lengan yang membesar karena aliran darah, dan tatapan mata yang liar penuh gairah."Itu tandanya ramuan Semut Rangrang-nya sudah bekerja maksimal, Dara! Ini baru pemanasan, sekarang Mas mau tunjukkan gimana caranya kuli pasar menggenjot beban paling berat di gudang ini!" sahut Madun dengan suara bariton yang berat dan mantap.Dara hanya bisa pasrah, kakinya yang putih mulus dan panjang melilit erat di pinggang Madun. Visual Dara benar-benar menggoda iman; wajahnya yang cantik kemerahan, bibirnya yang sedi
"Mas Madun, kok malah senyum-senyum sendiri? Masih berasa ya sisa yang tadi?" tanya Dara sambil merapikan kaos birunya yang sempat melintir. Visual Dara sore itu memang luar biasa; keringat tipis di dahi dan leher putihnya membuat kulitnya yang halus tampak berkilau. Paha mulusnya yang kencang masih terlihat gemetar sedikit, menambah kesan seksi yang alami bagi gadis seumurannya.Madun merogoh saku celana kulinya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak berwarna kemerahan. "Bukan itu, Dara. Ini lho, Mas baru ingat punya pusaka warisan kakek dari desa. Namanya Minyak Semut Rangrang. Katanya, kalau dioles ini, linggis kuli pasar bisa jadi berkali-kali lipat lebih galak dan gigitannya bikin ketagihan setengah mati."Dara membelalakkan matanya yang bulat dan indah. "Masa sih, Mas? Namanya aneh banget. Emang beneran ampuh atau cuma taktik Mas Madun saja supaya Dara mau lagi?""Wah, kamu meremehkan warisan leluhur ya? Sini, Mas buktiin. Tapi kita harus pindah ke tumpukan karung ya







