登入"Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong genjotnya! Ini napas Dara hampir putus, Mas!" rengek Dara sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu. Wajahnya yang cantik sekarang sudah basah kuyup oleh keringat, membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahi dan leher putihnya yang mulus. Visual Dara benar-benar menggoda iman siapapun; kaos birunya yang tipis sekarang sudah lepek menempel ketat di tubuhnya, menonjolkan bentuk dadanya yang kencang dan ranum. Paha mulusnya yang bening masih tampak gemetar hebat karena efek 'gigitan' semut rangrang tadi.Madun hanya tertawa renyah, ia menyeka keringat di rahang tegasnya dengan punggung tangan yang berurat. "Lho, bukannya tadi Dara sendiri yang minta Mas hajar terus? Masa kuli pasar baru genjot sebentar sudah disuruh berhenti? Malu sama otot, Dara!" Madun berdiri tegak, memamerkan dada bidangnya yang cokelat jantan dan perut kotak-kotak yang berdenyut karena sisa gairah. Visual Madun memang jantan sekali, tipikal pria pekerja keras yang
"Mas Madun! Aduh, ini minyaknya makin panas atau gimana sih? Kok rasa di bawah sini kayak ada kembang api meledak-ledak?" teriak Dara sambil mencengkeram pinggiran karung beras dengan kuku-kukunya yang mungil.Madun yang sedang dalam posisi mengangkang gagah di atas tubuh Dara hanya menyeringai jantan. Keringat bercucuran dari rahang tegasnya, menetes ke dada bidangnya yang berotot keras. Visual Madun saat itu benar-benar mewakili keperkasaan kuli pasar; kulit cokelat mengkilap, otot lengan yang membesar karena aliran darah, dan tatapan mata yang liar penuh gairah."Itu tandanya ramuan Semut Rangrang-nya sudah bekerja maksimal, Dara! Ini baru pemanasan, sekarang Mas mau tunjukkan gimana caranya kuli pasar menggenjot beban paling berat di gudang ini!" sahut Madun dengan suara bariton yang berat dan mantap.Dara hanya bisa pasrah, kakinya yang putih mulus dan panjang melilit erat di pinggang Madun. Visual Dara benar-benar menggoda iman; wajahnya yang cantik kemerahan, bibirnya yang sedi
"Mas Madun, kok malah senyum-senyum sendiri? Masih berasa ya sisa yang tadi?" tanya Dara sambil merapikan kaos birunya yang sempat melintir. Visual Dara sore itu memang luar biasa; keringat tipis di dahi dan leher putihnya membuat kulitnya yang halus tampak berkilau. Paha mulusnya yang kencang masih terlihat gemetar sedikit, menambah kesan seksi yang alami bagi gadis seumurannya.Madun merogoh saku celana kulinya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak berwarna kemerahan. "Bukan itu, Dara. Ini lho, Mas baru ingat punya pusaka warisan kakek dari desa. Namanya Minyak Semut Rangrang. Katanya, kalau dioles ini, linggis kuli pasar bisa jadi berkali-kali lipat lebih galak dan gigitannya bikin ketagihan setengah mati."Dara membelalakkan matanya yang bulat dan indah. "Masa sih, Mas? Namanya aneh banget. Emang beneran ampuh atau cuma taktik Mas Madun saja supaya Dara mau lagi?""Wah, kamu meremehkan warisan leluhur ya? Sini, Mas buktiin. Tapi kita harus pindah ke tumpukan karung ya
"Aduh, Mas Madun... ini beneran isinya daging semua? Kok rasanya kayak megang batang pohon jati yang baru ditebang?" bisik Dara dengan suara yang gemetar hebat. Tangannya yang mungil dan halus kini sedang menggenggam erat gundukan besar di balik sarung Madun.Madun hanya terkekeh, ia sengaja membusungkan dada bidangnya yang kecokelatan dan penuh peluh, membuat otot-otot perutnya yang kotak-kotak terlihat makin jelas di bawah lampu gudang yang temaram. "Itu namanya pusaka kuli, Dara. Kalau nggak keras dan besar begini, Mas nggak bakal kuat manggul beras berkarung-karung tiap hari. Gimana? Masih berani lanjut atau mau lari pulang ke desa?"Dara menelan ludah dengan susah payah. Visual Dara saat itu benar-benar maut; ia mengenakan tank top tipis yang talinya nyaris melorot, memperlihatkan pundak putih mulusnya yang tanpa noda. Karena posisinya yang sedang membungkuk di depan Madun, belahan dadanya yang kencang dan padat terpampang nyata, membuat napas Madun ikut memburu. Paha mulusnya
"Mas Madun, kok jalannya pelan banget? Takut sarungnya melorot?" goda Dara, adik sepupu Rini yang baru saja datang dari desa untuk mencari peruntungan di kota.Madun menghentikan langkah tepat di depan pintu gudang yang sepi. Ia menoleh ke arah Dara yang sedang duduk santai di atas tumpukan karung kosong. Visual Dara siang itu benar-benar merusak konsentrasi kerja Madun. Gadis itu memakai kaos ketat berwarna biru muda yang memperlihatkan lekuk dadanya yang masih kencang dan membusung berani menantang arah angin. Celana pendek kain yang dikenakannya sangat longgar di bagian paha, sehingga setiap kali ia menggoyangkan kaki, paha putih mulusnya yang bening dan kencang terpampang nyata di depan mata Madun. Kulitnya tampak sehalus sutra, tanpa noda, membuat siapapun yang melihat ingin segera menyentuhnya."Bukannya takut melorot, Dara. Tapi Mas lagi nahan beban berat di dalam sini yang sudah tidak sabar mau keluar," jawab Madun sambil menepuk pelan bagian depan sarungnya dengan gaya jan
"Mas Madun! Tolongin Peni dong, rantai sepedanya lepas, tangan Peni kotor semua," teriak Peni dari gerbang pasar. Madun menoleh dan langsung terpaku. Peni, gadis baru lulus SMA, berdiri dengan celana pendek ketat. Pahanya putih mulus, kencang, bening seperti porselen. Visual itu maut. Madun mendekat, otot lengannya menonjol saat berlutut membetulkan rantai. Bau oli bercampur keringat kuli langsung menyergap. Peni membungkuk, pinggang ramping dan pusar mungilnya terlihat jelas. "Tangan kuli emang kuat ya, Mas?" bisik Peni nakal, suaranya mendesah pelan. Madun menelan ludah. "Hati-hati, Pen. Jangan deket-deket. Nanti rantainya nyangkut." Belum sempat Madun berdiri, Rini muncul membawa rantang. Matanya menyipit melihat pemandangan itu. "Mas Madun, jangan kelamaan benerin sepeda. Nanti 'rantai' Mas sendiri yang lepas!" Peni tertawa manis, tidak merasa bersalah. "Mbak Rini, Mas Madun jago banget benerin rantai. Nanti sore mampir ya Mas, Ibu lagi ke kota. Peni mau belajar tekn







