Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 50: Barter Gaya 69

Share

Bab 50: Barter Gaya 69

Author: Ibrahiman
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-11 12:21:50

​"Mas Madun! Sini cepet, pintunya sudah Lala kunci rapat!" teriak Lala dari dalam kamar kosnya yang harum aroma terapi melati.

​Madun yang baru saja meletakkan karung terakhir di gudang langsung lari secepat kilat. Ia masuk dengan napas memburu, memperlihatkan dada bidangnya yang kecokelatan dan penuh keringat jantan. Visual Madun sore itu benar-benar gagah, urat-urat di lengan besarnya masih menonjol, sementara di balik sarungnya, "linggis beton" andalannya sudah membentuk gundukan besar yang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 50: Barter Gaya 69

    ​"Mas Madun! Sini cepet, pintunya sudah Lala kunci rapat!" teriak Lala dari dalam kamar kosnya yang harum aroma terapi melati.​Madun yang baru saja meletakkan karung terakhir di gudang langsung lari secepat kilat. Ia masuk dengan napas memburu, memperlihatkan dada bidangnya yang kecokelatan dan penuh keringat jantan. Visual Madun sore itu benar-benar gagah, urat-urat di lengan besarnya masih menonjol, sementara di balik sarungnya, "linggis beton" andalannya sudah membentuk gundukan besar yang siap tempur.​"Waduh, Neng Lala sudah siap sedia ya? Mas sampai nggak sempat cuci muka ini," kata Madun sambil cengar-cengir jantan.​Lala tertawa manja. Visual Lala benar-benar merusak fokus. Ia sedang berbaring miring di atas kasur tanpa sprei, hanya mengenakan daster satin merah yang sangat tipis dan pendek. Daster itu tersingkap sampai ke pinggang, memamerkan paha putih mulusnya yang kencang, bening, dan mulus tanpa cela. Kulit paha Lala yang porselen tampak berkilau terkena lampu kamar, mem

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 49: Barter Cairan Surga

    ​"Mas Madun, masa cuma Lala aja yang setoran tiap hari? Itu nggak adil namanya!" protes Lala sambil merapikan daster ungu tipisnya yang melorot di bahu putih mulusnya yang bening.​Madun yang sedang asyik mengelap sisa cairan surga Lala di dagunya yang tegas menoleh kaget. Dada bidang Madun yang berotot dan berkilauan karena keringat tampak makin gagah di bawah sinar lampu gudang. "Lho, maksudnya gimana, Neng? Kan Mas sudah bayar pakai tenaga linggis beton Mas yang bikin Neng Lala sampai lemas begitu?"​Lala mengerucutkan bibirnya yang merah ranum. Visual Lala sore itu benar-benar bikin panas dingin; dasternya yang pendek memperlihatkan paha putih mulusnya yang sangat kencang dan mulus tanpa noda. "Bukan itu, Mas. Lala juga pengen ngerasain cairan surga punya Mas Madun. Lala pengen minum langsung dari sumbernya! Jadi, mulai detik ini, Mas Madun juga wajib setoran peju ke mulut Lala setiap kita ketemu!"​Madun melongo, lalu tertawa jantan hingga otot perut kotak-kotaknya bergetar hebat

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 48: Setoran Cairan Surga

    ​"Mas Madun, ampun! Ini baru jam berapa sudah minta setoran lagi?" keluh Lala sambil tertawa kecil saat Madun menariknya masuk ke dalam gudang belakang kosan yang sepi. ​Madun yang baru pulang dari pasar tampak sangat jantan dengan kaos singlet yang basah kuyup oleh keringat, memperlihatkan otot dadanya yang bidang dan keras. "Waduh, Neng Lala. Lidah Mas ini sudah rindu berat sama rasa stroberi madu dari selangkangan Neng. Rasanya kalau sehari nggak minum cairan surga dari Neng, tenaga panggul beras Mas jadi berkurang drastis." ​Lala mencibir manja, tapi tangannya mulai meraba otot bisep Madun yang besar dan berurat. Visual Lala sore itu benar-benar bikin mata pria normal merem-melek; ia memakai daster satin ungu yang sangat pendek dan tipis. Kulit bahunya yang putih mulus tampak berkilau, dan karena ia tidak memakai bra, bentuk dadanya yang kencang dan ranum tercetak jelas menantang di balik kain tipis itu. ​"Ya sudah, mumpung sepi. Tapi Mas Madun harus habiskan semuanya ya, jan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 47: Cairan Surga Lala

    ​"Mas Madun, jangan dilepas dulu kepalanya! Rasakan ini, selangkangan Lala lagi banjir bandang gara-gara lidah nakal Mas!" teriak Lala sambil menekan pinggulnya lebih keras ke wajah Madun.​Madun yang posisinya masih bersimpuh di lantai hanya bisa pasrah wajahnya dikangkangi oleh mahasiswi cantik itu. Visual Lala dari posisi ini benar-benar merusak saraf. Daster satin merah mudanya sudah tersingkap sampai ke pinggang, memperlihatkan paha putih mulusnya yang luar biasa bening dan kencang. Kulit di area selangkangannya tampak sangat bersih, putih porselen, dan sekarang sudah basah kuyup oleh cairan bening yang mengkilap terkena lampu kamar.​"Aduh, Neng Lala! Mas nggak bisa napas ini! Tapi baunya harum stroberi campur madu, bikin Mas betah lama-lama di sini!" gumam Madun dari balik himpitan paha Lala. Madun sendiri tampak sangat jantan meski dalam posisi terpojok; pundaknya yang lebar dan otot lengannya yang penuh urat mencengkeram erat pinggul Lala yang ramping namun padat.​Lala tidak

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 46: Servis Gadis Kampus

    ​"Mas Madun, katanya linggis beton Mas itu sakti mandraguna ya? Tapi kok sekarang malah bengong lihat paha Lala?" goda Lala, mahasiswi baru yang juga tetangga kos Madun. ​Lala memiliki visual yang sangat berani sore itu. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna merah muda yang panjangnya hanya sebatas pangkal paha. Kulit pahanya yang putih mulus, kencang, dan bening tampak berkilau terkena cahaya lampu kamar yang temaram. Rambutnya yang hitam panjang sengaja diikat ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa noda sedikit pun. ​"Bukannya bengong, Neng Lala. Mas cuma lagi nimbang-nimbang, ini paha apa ubi cilembu, kok kelihatannya manis dan kenyal bener," jawab Madun sambil terkekeh jantan. Madun duduk di lantai, bersandar pada dipan kayu. Ia melepas kaosnya, memperlihatkan dada bidang yang kecokelatan dengan urat-urat lengan yang menonjol kuat hasil kerja keras di pasar. ​Lala tersenyum nakal, matanya melirik ke arah selangkangan Madun yang terbungkus s

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 45: Gadis Mirip Artis

    ​"Mas Madun! Baru pulang kerja ya? Kok badannya basah semua gitu, habis berenang di karung beras?" tanya sebuah suara lembut yang bikin jantung Madun nyaris melompat keluar dari dada bidangnya. ​Madun menoleh. Di depan pagar rumah tetangganya, berdiri Desi. Anak Pak RT yang baru lulus SMA itu benar-benar punya visual yang bikin pria sekampung meriang. Wajahnya ayu tenan, dagunya lancip, hidungnya mancung, dan matanya teduh mirip sekali dengan Dian Sastro waktu masih muda. Sore itu, Desi cuma pakai daster batik pendek tanpa lengan. Visual bahunya yang putih bersih dan mulus kena sinar matahari sore benar-benar menyilaukan mata Madun yang biasanya cuma lihat debu pasar. ​"Eh, Neng Desi. Iya nih, baru selesai bongkar muat dua truk. Biasalah, keringat laki-laki, Neng," jawab Madun sambil pamer otot lengan yang uratnya menonjol seperti kabel listrik. ​Desi tertawa kecil, tangannya menutup mulut dengan gaya yang sangat anggun. "Ih, Mas Madun pamer otot ya? Tapi emang sih, otot Mas maki

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status