Se connecterTulisan merah di layar perlahan menghilang. Beberapa saat kemudian, pemandangan baru muncul di hadapan Carina.
Untuk sesaat, Carina mengira layar itu rusak. Matanya terus menatap heran layar yang menampilkan dirinya, tapiterlihat bukan dirinya. Carina dalam layar sedang tersenyum. Senyum lembut yang bahkan tidak pernah ia berikan kepada Devian selama hidupnya. "Mari pulang, Sayang." Carina menyaksikan dirinya menggendong Devian yang masih kecil lalu meninggalkan mansion. Tak lama kemudian, layar memperlihatkan alasan mengapa dirinya bisa tersenyum seperti itu. Ia dan Maxlian bercerai. Dalam kehidupan itu, Carina memenangkan hak asuh Devian dan memilih membesarkanny sendiri. Hidup mereka tidak mudah. Carina harus bekerja dari pagi hingga malam sambil mengurus anak seorang diri. Ada hari-hari ketika tagihan menumpuk dan malam-malam ketika ia tertidur di meja kerja karena kelelahan. Namun di tengah segala kesulitan itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah: kasih sayangnya kepada Devian. Carina selalu meluangkan waktu untuk bermain bersama putranya, mendengarkan cerita-cerita kecilnya, menghadiri acara sekolahnya, dan memastikan anak itu tidak pernah merasa sendirian. Semakin lama menonton, dada Carina terasa semakin sesak. Karena Devian di layar terlihat bahagia. Benar-benar bahagia. Tidak ada ketakutan saat berbicara dengan ibunya. Tidak ada kegugupan setiap kali melakukan kesalahan kecil. Anak itu tertawa, berlari, dan bercerita tanpa ragu, seolah dunia adalah tempat yang aman baginya. "Apa benar itu aku?" gumam Carina lirih. Carina hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Waktu terus bergerak. Saat Devian berusia lima tahun, seorang pria mulai mendekati mereka. Pria itu tampak baik, dan perlahan menjadi bagian dari kehidupan kecil mereka. Namun suatu hari, Devian menghampiri ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Apa Mommy akan meninggalkanku kalau menikah lagi?" Carina di layar langsung memeluknya. "Mommy tidak akan pernah meninggalkanmu." "Tapi bagaimana kalau Mommy lebih bahagia bersama orang lain?" Wanita itu tersenyum sambil mengusap rambut putranya. "Aku bahagia saat bersamamu." Jawaban sederhana itu membuat Devian menangis dalam pelukan Carina. Dan untuk pertama kalinya sejak layar menyala, air mata Carina ikut jatuh. Karena saat itu Carina akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini, tidak pernah ia pahami. Devian tidak pernah meminta banyak. Ia tidak pernah menuntut hadiah mahal, perhatian berlebihan, atau kehidupan yang sempurna. Anak itu hanya ingin dicintai. Hanya itu. Layar terus bergerak. Pria yang sempat mendekati Carina akhirnya menghilang dari kehidupan mereka. Kehadiran Pria itu tidak membuat mereka goyah, mereka terus mengisi kekosongan satu sama lain. Hingga sampai, dimana Carina meninggal akibat sakit. Devian memang menangis. Namun ia tidak hancur. Ia mengurus pemakaman ibunya dengan tenang, mengenang semua kenangan indah mereka, lalu melanjutkan hidup seperti yang selalu diajarkan ibunya. Devian tumbuh menjadi anak yang percaya diri, ceria, dan baik hati. Ia memiliki banyak teman, berprestasi di sekolah, dan sering membantu orang lain tanpa diminta. Saat dewasa, Devian memilih menjadi dokter. "Ternyata..." suara Carina bergetar. "Ternyata kamu bisa tumbuh dengan baik." Layar mendadak menghitam. Carina mengira semuanya sudah selesai, tetapi beberapa detik kemudian tulisan yang sama kembali muncul. TAKDIR LAIN DEVIAN Kali ini situasinya berbeda. Carina tidak bercerai dari Maxlian. Mereka tetap hidup dalam rumah yang penuh pertengkaran dan tanpa cinta. Namun ada satu perbedaan besar yang mengubah segalanya. Carina tidak melampiaskan kemarahannya kepada Devian. Usai pertengkaran dengan Maxlian, Carina menghampiri Devian, memeluknya, dan meminta maaf karna Devian mendengar sesuatu yang tak harusnya ia dengar. Saat Devian mendapat nilai buruk, Carina tidak memukulnya. Saat Devian melakukan kesalahan, ia tidak menghukumnya tanpa alasan. Ia membimbing, mengajari, dan mendukung sebagai seorang ibu yang sempurna. Dan hasilnya tetap sama. Devian tumbuh menjadi anak yang baik. Carina hanya bisa terdiam. Semakin lama menonton, semakin banyak keyakinannya yang runtuh. Selama ini ia selalu berpikir bahwa Maxlian adalah akar dari semua masalah. Namun layar itu menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bukan perceraian yang menyelamatkan Devian. Bukan uang. Bukan status. Bahkan bukan Maxlian. Yang mengubah hidup anak itu adalah Carina, dari bagaimana ia memperlakukan Devian, juga Cara perlakuan seorang ibu sesungguhnya. Layar kembali bergerak. Kali ini memperlihatkan fakta yang membuat Carina membeku di tempat. Maxlian ternyata memiliki anak lain. Seorang anak laki-laki bernama Gevano. Awalnya Carina mengira anak itu adalah hasil perselingkuhan. Namun hasil tes DNA yang muncul di layar menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan. Gevano juga anaknya. Bahkan hubungan darah antara Gevano dan Devian hampir identik. Mereka kembar. "Itu tidak mungkin..." Mata Carina membelalak saat dokumen demi dokumen terus bermunculan di layar. Data rumah sakit, catatan kelahiran, hingga laporan medis. Semuanya mengarah pada kesimpulan yang sama. Gevano dan Devian adalah saudara kembar. Tubuh Carina terasa dingin. Pikiran yang selama ini ia abaikan perlahan muncul kembali. Jika Gevano dan Devian sangat mirip... Jika Devian terus bersikeras bahwa dia tidak pernah membunuhnya... Jika bahkan setelah melihat rekaman CCTV, anak itu tetap yakin dirinya tidak bersalah... Maka mungkinkah orang yang menembaknya saat itu bukan Devian? Jantung Carina berdetak semakin cepat. Carina teringat wajah putranya setelah kematiannya. Kebingungan, ketakutan, dan penyangkalan yang terlihat begitu tulus. Saat itu, Carina menganggap semuanya hanya akting. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi yakin. Layar akhirnya menghilang dan kegelapan kembali memenuhi ruang di sekelilingnya. Namun kali ini, Carina tidak lagi merasa kosong. Karena untuk pertama kalinya, Carina menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah mau ia akui. Carina salah. Bukan hanya kepada Devian, tetapi juga kepada dirinya sendiri. Ingatan demi ingatan bermunculan di kepala Carina. Semua hukuman yang pernah ia berikan. Semua tangisan yang ia abaikan. Semua kesempatan yang tidak pernah ia berikan kepada putranya. Ia teringat seorang anak kecil yang selalu berusaha mendapatkan perhatian ibunya, tetapi berkali-kali hanya menerima kekecewaan. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Jadi..." Suara yang familiar kembali terdengar dari balik kegelapan. "Apa sekarang kamu menyesal?" Sosok berjubah hitam muncul di hadapannya. Kali ini Carina tidak membantah. Ia tidak menyalahkan Maxlian, tidak menyalahkan Devian, dan tidak menyalahkan siapa pun. "Aku menyesal..." Jawaban itu terdengar begitu pelan nan lirih, tetapi cukup membuat sosok itu tersenyum. "Apa kamu ingin memperbaiki semuanya?" Carina langsung mendongak. Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, secercah harapan muncul di matanya. "Bisakah aku melakukannya?" Bukannya menjawab, Sosok itu malah tersenyum miring, dan menjentikkan jarinya. Tubuh Carina perlahan terasa ringan. Kesadarannya mulai memudar, sementara kegelapan di sekelilingnya berputar seperti pusaran yang menelan seluruh keberadaannya. Tepat sebelum semuanya berubah gelap, suara sosok itu kembali terdengar. "Ubahlah jalan yang kamu sesali." "Dan jika kamu kejalan kebaikan, Tuhan yang berbaik hati akan mencatat ulang kematianmu."Berbeda dengan sikap Arogan Carina diawal, wanita itu terus mendesah kesal, karna selalu kalah dibeberapa permainan. "Bisakah kamu mengalah?" pinta Carina dengan alis yang menukik tajam. Gevano mengangguk. "Bisa, tapi apa Anda akan menikmati kemenangan seperti itu?." tanya Gevano seraya tersenyum miring. "Aroma pengecutnya itu loh, sudah menyebar diruangan ini" lanjut Gevano sambil mengipasi area hidung dan mulutnya. "Entah dari siapa sikap tak sopan mu itu" Ucap Carina dengan wajah amat jengkel. Gevano yang mendengar itu langsung terdiam, matanya kemudian fokus ke peremainan tanpa mau menjawab. Keheningan terjadi, dan Carina merasa tak masalah, ia hanya fokus pada permainan dilayar pipih itu. Gevano pun begitu. Hingga akhirnya Carina mendengus kesal yang entah sudah berapa kali. "Dari mana sikap tak sopanku ya?.." Tanya Gevano dengan suara pelan, ia menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. "Entahlah.." Jawab Gevano sembari tersenyum Hampa. "Aku disini hanya tumb
Mendengar perkataan Carina, ekspresi dua lelaki itu langsung berubah.Mereka bisa memahami, jika ada orang gila yang mengaku sebagai istri Maxlian. Mengingat Maxlian adalah Pengusaha tersukses didunia. Hanya saja jika ada orang yang sampai tau, siapa yang mereka jaga.. Wajah yang tadinya terlihat meremehkan saat menatap Carina, langsung terlihat pias. Tatapan mereka penuh kekhawatiran, meski mereka tak tau perkataan Carina kenyataan atau tidak. Lelaki di sebelah kiri, mencoba menenangkan dirinya. Kemudian Lelaki itu menoleh kearah Carina, dengan senyum tipis yang terlihat ramah. "Maaf, Nyonya. Tapi saya tidak mendengar tentang kunjungan anda hari ini, jadi saya dan rekan saya tidak bisa membiarkan Anda masuk." Lelaki di sebelah kiri itu tetap menolak Carina yang ingin masuk ke dalam rumah. Sedangkan lelaki disebelah kanan menatapnya marah. "Kenapa kau menyebut dia Nyonya?. Belum tentu dia istri Pak Maxlian!" desis lelaki disebelah kanan, yang terlihat tak setuju dengan pemilihan
Canggung. Itulah satu kata yang tepat untuk mewakili Carina, dan Devian, setelah insiden Ruang Makan. Saat ini mereka tengah berada di satu mobil yang sama, dengan suasana hening yang menyelimuti mobil itu. Jantung Devian berdegup kencang. Rasa bahagia menyeruak di dalam hatinya. "Ini pertama kalinya, Mommy nganterin aku sekolah!. Aku seneng bangett" Batin Devian, sudut bibirnya terus tertarik tanpa ia sadari. Hingga akhirnya, suara mesin mobil terhenti. Membuat senyum Devian menghilang seketika, ia menatap Carina dengan tatapan tak bisa diartikan. Carina yang menatap balik Devian pun, mengerutkan dahinya. "Tunggu apa lagi, cepat pergi." Ucap Carina sambil menggerakkan dagunya. Devian yang mendengar itu menggigit bibir bawahnya, dan membuka pintu mobil dengan tidak semangat. "Padahal aku masih pengen sama mommy lebih lama..." Gumam Devian dengan bibir yang mencurut ke depan. Carina yang mendengar itu, langsung bersuara. "Devian." Panggil Carina, ia menatap Devian yang sudah be
"Mommy sedang berbicara. Tolong fokus." Pinta Carina yang berbicara, seolah Devian adalah karyawannya. Aura yang dikeluarkan Carina tak main-main, persis seperti bos yang dibuat pusing oleh karyawannya yang terus tak mengerti. Devian mengerjapkan matanya, membuat beberapa butiran bening jatuh di pipinya."M-maaf.." ucap Devian sambil menunduk takut. Jujur saja, sedari tadi Devian hanya fokus dengan diri sendiri. Devian memikirkan tentang kejadian kemarin, dimana Carina memeluknya. Namun, melihat tatapan Carina saat ini. "Mommy pasti ga suka kalau aku mikirin hal ga penting." Batin Devian. Perasaan bahagia yang tadinya menyeruak di hati Devian hilang begitu saja, digantikan rasa penyesalan. "Sepertinya berbasa-basi denganmu, hanya membuat kesalahpahaman diantara kita semakin besar." ucap Carina seraya menghela nafas berat. Devian yang tadinya akan menunduk, langsung menatap Carina. "Kesalahpahaman?" Tanya Devian ragu, sekaligus bingung. Carina mengangguk, ia menatap Devian. "Be
Seolah kemarin malam, mereka tak pernah berpelukan. Suasana sarapan pagi hari ini terasa mencekam. Tidak ada yang bersuara dari dua manusia yang tengah duduk di kursi makan. Mereka terus diam, ditemani dentingan sendok yang memecahkan keheningan. Hingga akhirnya, Salah satu dari Pelayan yang menunggu di Ruang makan mendekati Carina. "Coba Nyonya tanyakan, apa tidur Tuan Muda nyenyak atau tidak" bisik Ayu yang mencondongkan tubuhnya ke kuping Carina, sebelum akhirnya berdiri tegak lagi. Carina menatap tajam Ayu yang sudah berdiri dibelakangnya. "Untuk apa aku menanyakan hal tak berguna seperti itu?." desis Carina dengan suara pelan, tapi terdengar tajam. "Tentu saja, agar kalian berbincang." Jawab Ayu dengan senyum tipis, yang terlihat mengerikan. Alis Carina menukik sempurna. "Kamu tak lihat aku sedang makan?." Balas Carina yang tak ingin kalah dari Ayu. Ayu memutarbalikan bola matanya malas. "Apa anda juga tak melihat, bahwa sedari tadi Tuan Muda mencuri pandang pada an
"Mommy tanya sekali lagi, kamu mau kemana Devian."Nada suara yang penuh penekanan itu, sukses membuat air mata yang ditahan Devian lolos begitu saja. Namun, bukan kemarahan Carina yang membuat Devian menangis. Melainkan.. "M-mommy?" tanya Devian dengan lirih, ia membalikan tubuhnya agar bersitatap dengan Carina. Perasaan hangat menyeruak dihati Devian, ia menatap Carina dengan linglung sekaligus tak percaya. Apa Devian tak salah dengar?. Namun, kata 'Mommy' terasa jelas, dari pada saya, ataupun aku. "Apa sekarang mommy, sudah menganggap aku sebagai anaknya?" batin Devian, air mata nya mengalir deras membuat Carina mengerjapkan matanya. "Ada apa denganmu? Mengapa menangis?" tanya Carina dengan kerutan didahinya.Carina bukanlah wanita yang menyukai anak kecil, tapi ia juga tak membencinya. Dan sampai saat ini Carina masih bingung, cara menghadapi anak kecil. "M-mommyy" panggil Devian dengan sendu, dengan bibir yang melengkung ke bawah. "Kenapa?" tanya Carina yang terlihat bing







