FAZER LOGIN"Mommy sedang berbicara. Tolong fokus." Pinta Carina yang berbicara, seolah Devian adalah karyawannya. Aura yang dikeluarkan Carina tak main-main, persis seperti bos yang dibuat pusing oleh karyawannya yang terus tak mengerti. Devian mengerjapkan matanya, membuat beberapa butiran bening jatuh di pipinya."M-maaf.." ucap Devian sambil menunduk takut. Jujur saja, sedari tadi Devian hanya fokus dengan diri sendiri. Devian memikirkan tentang kejadian kemarin, dimana Carina memeluknya. Namun, melihat tatapan Carina saat ini. "Mommy pasti ga suka kalau aku mikirin hal ga penting." Batin Devian. Perasaan bahagia yang tadinya menyeruak di hati Devian hilang begitu saja, digantikan rasa penyesalan. "Sepertinya berbasa-basi denganmu, hanya membuat kesalahpahaman diantara kita semakin besar." ucap Carina seraya menghela nafas berat. Devian yang tadinya akan menunduk, langsung menatap Carina. "Kesalahpahaman?" Tanya Devian ragu, sekaligus bingung. Carina mengangguk, ia menatap Devian. "Be
Seolah kemarin malam, mereka tak pernah berpelukan. Suasana sarapan pagi hari ini terasa mencekam. Tidak ada yang bersuara dari dua manusia yang tengah duduk di kursi makan. Mereka terus diam, ditemani dentingan sendok yang memecahkan keheningan. Hingga akhirnya, Salah satu dari Pelayan yang menunggu di Ruang makan mendekati Carina. "Coba Nyonya tanyakan, apa tidur Tuan Muda nyenyak atau tidak" bisik Ayu yang mencondongkan tubuhnya ke kuping Carina, sebelum akhirnya berdiri tegak lagi. Carina menatap tajam Ayu yang sudah berdiri dibelakangnya. "Untuk apa aku menanyakan hal tak berguna seperti itu?." desis Carina dengan suara pelan, tapi terdengar tajam. "Tentu saja, agar kalian berbincang." Jawab Ayu dengan senyum tipis, yang terlihat mengerikan. Alis Carina menukik sempurna. "Kamu tak lihat aku sedang makan?." Balas Carina yang tak ingin kalah dari Ayu. Ayu memutarbalikan bola matanya malas. "Apa anda juga tak melihat, bahwa sedari tadi Tuan Muda mencuri pandang pada an
"Mommy tanya sekali lagi, kamu mau kemana Devian."Nada suara yang penuh penekanan itu, sukses membuat air mata yang ditahan Devian lolos begitu saja. Namun, bukan kemarahan Carina yang membuat Devian menangis. Melainkan.. "M-mommy?" tanya Devian dengan lirih, ia membalikan tubuhnya agar bersitatap dengan Carina. Perasaan hangat menyeruak dihati Devian, ia menatap Carina dengan linglung sekaligus tak percaya. Apa Devian tak salah dengar?. Namun, kata 'Mommy' terasa jelas, dari pada saya, ataupun aku. "Apa sekarang mommy, sudah menganggap aku sebagai anaknya?" batin Devian, air mata nya mengalir deras membuat Carina mengerjapkan matanya. "Ada apa denganmu? Mengapa menangis?" tanya Carina dengan kerutan didahinya.Carina bukanlah wanita yang menyukai anak kecil, tapi ia juga tak membencinya. Dan sampai saat ini Carina masih bingung, cara menghadapi anak kecil. "M-mommyy" panggil Devian dengan sendu, dengan bibir yang melengkung ke bawah. "Kenapa?" tanya Carina yang terlihat bing
Entah apa yang terjadi pada Carina, tapi setelah Ayu membual bahwa Carina dan Devian bisa mengisi tanki cinta masing-masing, Carina malah langsung bergerak. Kali ini Carina pergi ke kamar Devian, dengan niat mengajak anak kecil itu makan bersama. Langkah Carina terhenti, ia menatap papan nama yang menempel disebuah pintu didepannya. Debaran jantung milik Carina terasa menyakitkan. Namun, Carina tetap memilih menggegam knop pintu. "Semasa aku remaja. Aku selalu ingin orangtua ku mengulurkan tangan terlebih dahulu.." Batin Carina sembari menatap sendu tangannya. "Mungkin Devian juga seperti itu." Ungkap Carina dengan suara kecil, ia menutup matanya dan mengatur nafas. "Aku bisa melakukan peran orang tua." Lanjut Carina dengan penuh keyakinan, ia akhirnya memutar knop pintu. Saat pintu terbuka sempurna, mata Carina langsung menangkap Devian yang juga menatap kearahnya. Dalam beberapa detik, Mereka bertatapan seolah mencoba mengerti satu pikiran masing-masing. Lalu tiba-ti
Mendengar permintaan maafnya diterima, kedua sudut bibir Ayu langsung terangkat."Terima kasih sudah memaafkan saya, Nyonya."Carina berdehem pelan sambil memperhatikan wajah Ayu, yang jelas-jelas tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya."Jadi?" tanyanya datar. "Apa yang kau maksud dengan naluri itu?"Bukannya langsung menjawab, Ayu malah mencuri pandang ke arah Carina. Namun ketika melihat ekspresi Carina mulai berubah jengkel, Ayu buru-buru membuka mulut."Apa saya boleh bicara sejujurnya?"Keheningan memenuhi kamar. Ayu seketika merutuki dirinya sendiri. Dasar gila. Setelah membuat begitu banyak masalah, bagaimana bisa ia masih meminta izin untuk berbicara sesuka hati? Sudah bagus Carina tidak memecatnya."Kamu boleh berbicara semaumu."Ayu tertegun."Anda tidak akan memecat saya?""Kalau aku ingin memecatmu, sejak tadi aku sudah melakukannya.""Bahkan kalau saya mengolok-olok Anda?"Alis Carina langsung menukik tajam."Tuh kan! Saya tahu Anda mau memecat saya!"Carina menghela n
"Apakah Anda Cemburu?"Kelopak mata Carina melebar seketika, saat mendengar pertanyaan Pelayan di depannya.Pelayan itu memperlihatkan wajah polos, dengan tatapan keingintahuan.Hingga tiba-tiba, Pelayan itu menutup bibir dengan kedua tangannya."M-maaf Nyonya.. S-saya hanya mengikuti naluri saya sendiri.." ucap pelayan itu yang akhirnya bersimpuh di lantai dengan tubuh yang bergetar."S-saya bahkan tidak tahu, mengapa saya terus-menerus melakukan kesalahan seperti yang Nyonya katakan..""S-saya..""Saya hanya merasa.., jika tidak sekarang, maka tidak ada kesempatan lagi."Pelayan itu menangis, dan Carina hanya melihatnya dengan raut datar.Perkataan demi perkataan dari pelayan itu, Carina coba cerna."Cemburu?".Ingin rasanya Carina tertawa, dengan pertanyaan bodoh milik sang pelayan.Namun, faktanya hati Carina memang terasa sakit melihat anaknya menempel pada seorang pelayan.Alibi milik pelayan itu juga tak terasa meyakinkan. Karena seharusnya dia bisa berpikir lebih dulu dari pad







