LOGIN"Jika kamu merasa lukanya sangat parah, telepon dokter Reksa." lanjut Carina yang menunjukkan raut datar khas miliknya.
Melihat pelayan itu hanya diam, Carina langsung berdecak sebal.
"Ambil ini!" sentak Carina.
Meski terlihat masih memproses apa yang terjadi, Pelayan itu dengan cepat mengambil kotak P3K yang Carina sodorkan.
Carina menatap Devian, yang sedari tadi mencuri pandang ke arah nya.
Setelah bertatapan persekiaan detik, Devian menyembunyikan wajahnya sambil memeluk erat Pelayan itu.
Carina menghela nafas.
"Kamu." ucap Carina sambil menatap Pelayan itu. "Temani lah Devian, sampai dia merasa tenang."
Setelah mengatakan itu, Carina melangkah pergi.
Namun, langkahnya terhenti saat pelayan itu mengeluarkan suara.
"Apa nyonya tidak bisa mengobati Tuan Muda?" tanya Pelayan itu, tanpa ada niat menyindir.
Carina ingin, tapi untuk sekarang, hanya ini yang bisa Carina lakukan. Apalagi jika mengingat Devian yang terus menghindari tatapannya.
Tanpa menjawab, Carina akhirnya memilih melanjutkan langkah yang tadi sempat tertunda.
"Aku harap, akan tiba dimana Devian menatapku dengan penuh manja."
"Seperti Devian di layar itu." Batin Carina yang mencoba menguatkan hatinya.
Jam sudah menunjukan pukul 6.17 malam, dan Carina masih berdiam diri di kamar. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Apa ini harus disyukuri, atau dimaki-maki?..." gumam Carina yang bingung harus melakukan apa.
Setelah menghilang dari pandangan Pelayan dan juga Devian, Carina langsung mencari informasi tentang kehidupannya saat ini.
Semuanya masih sama. Sangat persis dengan kehidupan sebelum Carina mati ditangan Gevano, yang menyamar sebagai Devian.
Yang membuat Carina merasa kehilangan semangat, yaitu setelah ia tau jangka waktu sebelum dirinya ditembak oleh Gevano.
Carina hanya memiliki 5 bulan untuk merubah situasi, dan mati tanpa penyesalan.
"Kira-kira, apa yang menyebabkan Gevano membunuhku?" Batin Carina yang mulai mengingat kejadian hari itu.
Mau dipikirkan beberapa kali pun, Carina tidak akan menemukan jawabannya. Anak itu disembunyikan oleh Maxlian, jadi bagaimana Carina bisa tau motifnya?.
Apa semua karna Carina bukanlah ibu yang baik?.
Carina bahkan tidak mengetahui keberadaan Gevano, ataupun mencari tau.
"Tapi ada alasan dibalik itu." Ucap Carina dengan raut lelah.
"Lagipula, yang perlu disalahkan itu Maxlian. Lelaki itu membuat hidup Gevano menjadi malang" gumam Carina.
Masih membekas di ingatan Carina, dimana layar itu memperlihatkan kondisi Gevano setelah lokasinya ketahuan.
Tatapan datar itu masih sama, tapi yang membedakan adalah kondisi badannya.
Tubuh Gevano penuh dengan luka, bahkan saat ditemukan pertama kalinya, ada bercak darah menempel di wajah dan bajunya.
Kelopak mata Carina langsung melebar.
"Kalau begitu, apa Gevano disuruh oleh bajingan itu?!." Tanya Carina dengan alis menukik tajam.
Pertanyaan Carina tidaklah salah. Gevano tumbuh disembunyikan Maxlian, dan kondisi lingkungannya saja tidak sebaik Devian.
Sedari kecil Gevano didik dari segi fisik, sangat berbeda dengan Devian yang didik dari segi mental.
Hingga dari tatapan mereka, Carina bisa membedakan antara Devian dan Gevano.
Yang bermata polos, penuh ketakutan, dan menyedihkan itu milik Devian.
Sedangkan mata datar, penuh kemarahan, dan memiliki pendirian itu milik Gevano.
Carina terdiam, ia menghela nafas saat paham sesuatu.
"Tidak ada diantara mereka yang hidup seperti anak kecil pada umumnya."
Lirih Carina, ia memejamkan matanya, dan mencoba meredakan rasa kecewa dalam dirinya.
"Di Umur mereka yang masih kecil.. Apa mereka bisa tertawa lepas?.."
"Rasanya kebahagiaan mereka tertahan, karena lahir dari rahimku" ungkap Carina dengan pedih.
Carina membuka matanya.
"Jika saja aku kembali ke masa kehamilan, sudah dipastikan aku akan membunuh mereka" ucap Carina dengan tatapan kosong.
Carina tak ingin menjadi gagal kedua kalinya, maka lebih baik ia menggugurkan saja janin yang ada di perutnya.
Tak pantas menjadi orang tua. Itulah yang melekat di pikiran Carina sekarang.
"Bajingan itu pun tak bisa diharapkan." Desis Carina yang teringat peran seorang ayah, yang tak bisa diberikan oleh Maxlian.
Mau Carina atau Maxlian. Mereka berdua sama-sama merusak mental anak mereka, dan Carina sangat sadar akan hal itu.
Tok
Tok
Tok
Carina diam, tak mau menjawab ketuka pintu, karena merasa lelah dengan pikirannya sendiri.
"Nyonya, saya izin masuk."
Setelah berkata seperti itu, suara pintu terbuka terdengar di telinga Carina, membuat Carina bisa melihat siapa yang berani bersikap kurang ajar padanya.
Pelayan yang tadi menjaga Devian, masuk dengan raut ketakutan. Hal itu sukses membuat Carina tersenyum miring.
"M-maaf atas kelancangan saya, Nyonya.." ucap Pelayan itu dengan suara dan tubuh yang bergetar.
Carina terkekeh sinis.
"Jika kamu takut, mengapa terus bersikap tak sopan?."
"Kamu memeluk Devian."
"Menyindir saya tidak bisa mengobati Devian pula."
"Kemudian masuk ke kamar sebelum saya menjawab."
lanjut Carina sambil menggerakan jari nya, menghitung kesalahan pelayan itu.
Bukannya terintimidasi, pelayan itu malah menatap Carina bingung.
"Nyonya…"
"Mengapa anda mempermasalahkan saya memeluk Tuan Muda?"
"Apakah Anda Cemburu?"
Berbeda dengan sikap Arogan Carina diawal, wanita itu terus mendesah kesal, karna selalu kalah dibeberapa permainan. "Bisakah kamu mengalah?" pinta Carina dengan alis yang menukik tajam. Gevano mengangguk. "Bisa, tapi apa Anda akan menikmati kemenangan seperti itu?." tanya Gevano seraya tersenyum miring. "Aroma pengecutnya itu loh, sudah menyebar diruangan ini" lanjut Gevano sambil mengipasi area hidung dan mulutnya. "Entah dari siapa sikap tak sopan mu itu" Ucap Carina dengan wajah amat jengkel. Gevano yang mendengar itu langsung terdiam, matanya kemudian fokus ke peremainan tanpa mau menjawab. Keheningan terjadi, dan Carina merasa tak masalah, ia hanya fokus pada permainan dilayar pipih itu. Gevano pun begitu. Hingga akhirnya Carina mendengus kesal yang entah sudah berapa kali. "Dari mana sikap tak sopanku ya?.." Tanya Gevano dengan suara pelan, ia menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. "Entahlah.." Jawab Gevano sembari tersenyum Hampa. "Aku disini hanya tumb
Mendengar perkataan Carina, ekspresi dua lelaki itu langsung berubah.Mereka bisa memahami, jika ada orang gila yang mengaku sebagai istri Maxlian. Mengingat Maxlian adalah Pengusaha tersukses didunia. Hanya saja jika ada orang yang sampai tau, siapa yang mereka jaga.. Wajah yang tadinya terlihat meremehkan saat menatap Carina, langsung terlihat pias. Tatapan mereka penuh kekhawatiran, meski mereka tak tau perkataan Carina kenyataan atau tidak. Lelaki di sebelah kiri, mencoba menenangkan dirinya. Kemudian Lelaki itu menoleh kearah Carina, dengan senyum tipis yang terlihat ramah. "Maaf, Nyonya. Tapi saya tidak mendengar tentang kunjungan anda hari ini, jadi saya dan rekan saya tidak bisa membiarkan Anda masuk." Lelaki di sebelah kiri itu tetap menolak Carina yang ingin masuk ke dalam rumah. Sedangkan lelaki disebelah kanan menatapnya marah. "Kenapa kau menyebut dia Nyonya?. Belum tentu dia istri Pak Maxlian!" desis lelaki disebelah kanan, yang terlihat tak setuju dengan pemilihan
Canggung. Itulah satu kata yang tepat untuk mewakili Carina, dan Devian, setelah insiden Ruang Makan. Saat ini mereka tengah berada di satu mobil yang sama, dengan suasana hening yang menyelimuti mobil itu. Jantung Devian berdegup kencang. Rasa bahagia menyeruak di dalam hatinya. "Ini pertama kalinya, Mommy nganterin aku sekolah!. Aku seneng bangett" Batin Devian, sudut bibirnya terus tertarik tanpa ia sadari. Hingga akhirnya, suara mesin mobil terhenti. Membuat senyum Devian menghilang seketika, ia menatap Carina dengan tatapan tak bisa diartikan. Carina yang menatap balik Devian pun, mengerutkan dahinya. "Tunggu apa lagi, cepat pergi." Ucap Carina sambil menggerakkan dagunya. Devian yang mendengar itu menggigit bibir bawahnya, dan membuka pintu mobil dengan tidak semangat. "Padahal aku masih pengen sama mommy lebih lama..." Gumam Devian dengan bibir yang mencurut ke depan. Carina yang mendengar itu, langsung bersuara. "Devian." Panggil Carina, ia menatap Devian yang sudah be
"Mommy sedang berbicara. Tolong fokus." Pinta Carina yang berbicara, seolah Devian adalah karyawannya. Aura yang dikeluarkan Carina tak main-main, persis seperti bos yang dibuat pusing oleh karyawannya yang terus tak mengerti. Devian mengerjapkan matanya, membuat beberapa butiran bening jatuh di pipinya."M-maaf.." ucap Devian sambil menunduk takut. Jujur saja, sedari tadi Devian hanya fokus dengan diri sendiri. Devian memikirkan tentang kejadian kemarin, dimana Carina memeluknya. Namun, melihat tatapan Carina saat ini. "Mommy pasti ga suka kalau aku mikirin hal ga penting." Batin Devian. Perasaan bahagia yang tadinya menyeruak di hati Devian hilang begitu saja, digantikan rasa penyesalan. "Sepertinya berbasa-basi denganmu, hanya membuat kesalahpahaman diantara kita semakin besar." ucap Carina seraya menghela nafas berat. Devian yang tadinya akan menunduk, langsung menatap Carina. "Kesalahpahaman?" Tanya Devian ragu, sekaligus bingung. Carina mengangguk, ia menatap Devian. "Be
Seolah kemarin malam, mereka tak pernah berpelukan. Suasana sarapan pagi hari ini terasa mencekam. Tidak ada yang bersuara dari dua manusia yang tengah duduk di kursi makan. Mereka terus diam, ditemani dentingan sendok yang memecahkan keheningan. Hingga akhirnya, Salah satu dari Pelayan yang menunggu di Ruang makan mendekati Carina. "Coba Nyonya tanyakan, apa tidur Tuan Muda nyenyak atau tidak" bisik Ayu yang mencondongkan tubuhnya ke kuping Carina, sebelum akhirnya berdiri tegak lagi. Carina menatap tajam Ayu yang sudah berdiri dibelakangnya. "Untuk apa aku menanyakan hal tak berguna seperti itu?." desis Carina dengan suara pelan, tapi terdengar tajam. "Tentu saja, agar kalian berbincang." Jawab Ayu dengan senyum tipis, yang terlihat mengerikan. Alis Carina menukik sempurna. "Kamu tak lihat aku sedang makan?." Balas Carina yang tak ingin kalah dari Ayu. Ayu memutarbalikan bola matanya malas. "Apa anda juga tak melihat, bahwa sedari tadi Tuan Muda mencuri pandang pada an
"Mommy tanya sekali lagi, kamu mau kemana Devian."Nada suara yang penuh penekanan itu, sukses membuat air mata yang ditahan Devian lolos begitu saja. Namun, bukan kemarahan Carina yang membuat Devian menangis. Melainkan.. "M-mommy?" tanya Devian dengan lirih, ia membalikan tubuhnya agar bersitatap dengan Carina. Perasaan hangat menyeruak dihati Devian, ia menatap Carina dengan linglung sekaligus tak percaya. Apa Devian tak salah dengar?. Namun, kata 'Mommy' terasa jelas, dari pada saya, ataupun aku. "Apa sekarang mommy, sudah menganggap aku sebagai anaknya?" batin Devian, air mata nya mengalir deras membuat Carina mengerjapkan matanya. "Ada apa denganmu? Mengapa menangis?" tanya Carina dengan kerutan didahinya.Carina bukanlah wanita yang menyukai anak kecil, tapi ia juga tak membencinya. Dan sampai saat ini Carina masih bingung, cara menghadapi anak kecil. "M-mommyy" panggil Devian dengan sendu, dengan bibir yang melengkung ke bawah. "Kenapa?" tanya Carina yang terlihat bing







