Masuk
Aku mengikuti saja kemanapun langkah kaki itu berjalan. Telapak tangannya mencengkeram erat lenganku, menyeretku menaiki anak tangga demi anak tangga. Aku tidak tahu dia membawaku kemana, dan aku tak peduli. Aku berada pada titik dimana aku tak peduli jika ada yang ingin membunuhku saat ini. Ya, semuanya sudah hancur, apa lagi yang perlu kuperjuangkan?
Kami akhirnya sampai di depan sebuah pintu. Dia membuka pintu kamar hotel tersebut, menggelandangku masuk, kemudian mendorongku hingga terjerembab ke atas ranjang. Aku melihat ekspresinya murka. Dia melonggarkan dasinya, menyisingkan kemejanya, kemudian berjalan dengan mata marah ke arahku.
Sungguh, lelaki ini begitu berbeda dengan lelaki yang mencumbuku sepanjang malam saat itu. Ya, bukan dia, aku tahu bukan sosoknya.
“Berani-beraninya kamu mendatangiku? Kamu mau membuatku malu? Hah?!” serunya keras.
Aku mencoba mengendalikan diri agar tak terlihat terpengaruh atau terintimidasi dengan sikap kasarnya.
“Aku hanya ingin memberitahukan sebuah kebenaran untukmu.”
“Kebenaran?! Dengar, tak ada kebenaran yang keluar dari mulut wanita murahan sepertimu!” serunya sembari mencengkeram rahangku.
“Aku berkata jujur, ini memang anakmu.”
Tamparan kerasnya mendarat di pipiku. Membuat wajahku terlempar ke samping. Tangisku terhenti seketika. Aku tidak percaya jika dia sepengecut ini. Jika dia tidak ingin mengakui bayi yang kukandung, maka dia hanya perlu menagatakannya. Tak perlu memperlakukanku dengan begitu kasar seperti saat ini.
Dia kembali mencengkeram rahangku, kemudian mendongkakkan wajahku ke arahnya seketika. “Katakan, berapa yang kamu inginkan agar kamu bisa tutup mulut dan melupakan malam sialan itu.”
Aku menggelengkan kepala.
Aku memang orang miskin, hidupku memang susah, tapi aku cukup memiliki harga diri, karena aku bukan perempuan bayaran.
Baiklah, kuakui, pekerjaanku memang bukan pekerjaan orang baik. Aku adalah seorang perempuan pendamping di sebuah rumah karaoke. Tugasku adalah mendampingi tamu bernyanyi atau bahkan minum. Dan disanalah aku bertemu dengan lelaki ini, kemudian, malam itu akhirnya terjadi.
Tapi demi Tuhan! Hanya dia yang pernah menyentuhku. Apakah dia tidak merasakannya malam itu? Atau, apakah dia terlalu mabuk untuk merasakannya?
“Asal kamu tahu, kamu tidak memiliki bukti apapun untuk menunjukku sebagai ayahnya.”
“Kamu memang ayahnya, itu sudah mutlak.”
“Tidak akan ada yang percaya sama kamu! Dan aku bisa menuntutmu dengan pencemaran nama baik.”
“Tolong. Ini memang anak kamu.”
Dia menghempaskan aku hingga aku tersungkur di atas ranjang. Dia bangkit, menjauh, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
“Dasar pelacur!” serunya keras. “Katakan. Katakan berapa yang kamu mau?!”
“Aku tidak mau uang.” Ya, bukan uang yang kuinginkan. Tapi aku ingin pertanggung jawaban.
“Lalu kamu mau apa? Kamu ingin aku menikahimu? Yang benar saja! Asal kamu tahu, meskipun hanya ada kamu satu-satunya wanita di dunia ini, aku tak akan pernah mau menikah denganmu.”
Ya, sungguh, dia memang angkuh dan sombong, tapi aku bisa apa? Aku memang bukan siapa-siapa dibandingkan dengan dirinya. Dia adalah pengusaha, milyader muda. Sedangkan aku? Ya Tuhan! Bahkan seujung kukupun aku tak ada apa-apanya dibandingkan dirinya.
Aku memilih bangkit, kemudian berkata “Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar, yaitu memberitahumu tentang semua ini. Jika kamu menolak untuk mengakui, maka tidak masalah, aku bisa menjaga diriku dan juga anakku sendiri. aku tidak menginginkan apapun.”
Sembari menguatkan diri, aku memilih pergi meninggalkan dia. Ya, aku harus pergi, tak ada gunanya lagi aku di sini.
“Tunggu!” suaranya menghentikan langkahku. Tak lama kurasakan dia mendekatiku. “Kuharap, dengan ini, kamu nggak akan kembali lagi apalagi menceritakan hal yang tidak-tidak tentangku.” Ucapnya sembari memeberiku sebuah cek.
Aku menggelengkan kepala. “Aku nggak mau.”
“Anggap saja ini sebagai tip malam itu.”
Ya Tuhan! Dia benar-benar menginjak-injak harga diriku. Aku bukan pelacur, sungguh, aku bukan pelacur, dan aku tidak menginginkan uangnya. Secepat kilat aku memilih pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun melirik ke arah cek tersebut.
Pergilah Sarah… pergilah… kamu bisa hidup sendiri, dengan bayimu, dan tanpa ada lelaki ini di antara kalian…. Pergilah, berbahagialah…
-TBC-
Sarah membungkukkan tubuhnya, bertumpu pada ranjang rumah sakit ketika kontraksi mulai menghantamnya. Devon berada di belakangnya, setia mengusap punggung bawahnya. Sesekali meminta Sarah mengatur pernapasannya.“Kamu yakin mau melakukan ini? kita bisa meminta caesar agar kamu tidak kesakitan seperti ini.” Devon kembali mengingatkan.“Tidak. Aku suka normal.”“Tapi aku nggak tega lihat kamu kesakitan begini.”Sarah tersenyum. “Sepertinya, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kelahiran Devano pada waktu itu?”“Benarkah? Dan kamu melakukannya sendiri?”Sarah tersenyum. “Ya, hanya di rumah bidan, bukan di rumah sakit besar seperti ini.”“Brengsek.” Devon mengumpat pelan pada dirinya sendiri. Sarah kembali merasakan kontraksi, dan Devon mengusap punggung belakang wanita itu lagi.“Sepertinya sudah waktunya. Bisakah kamu….” Sarah menghentikan kalimatnya ketika merasakan sesuatu mengucur melewati kakinya. Devonpun melihatnya dan tampak ternganga dibuatnya. “Astaga, ketubannya!” Sarah
“Aku akan kembali.” Belum juga Devon membuka suaranya, Sarah sudah mendahuluinya, hingga membuatnya menatap ke arah Sarah seketika.“Maksudmu?”“Aku akan kembali padamu, dan melupakan semuanya. Aku tidak akan menuntut lebih. Aku hanya mau kamu menyayangi anak-anakku dengan tulus. Hanya itu.” Suara Sarah bergetar, mata Sarah mulai berkaca-kaca. Seorang ibu memang tak perlu mengharapkan cinta untuk dirinya sendiri, karena lebih baik cinta itu dicurahkan pada anak-anaknya. Sarah rela hidup dengan Devon tanpa cinta dari lelaki itu, asalkan anak-anaknya mendapatkan cinta dan kasih dari ayah mereka.“Aku datang menemuimu tadi siang karena aku akan memintamu untuk pulang dan kembali ke sisiku. Tapi emosiku tersulut karena kedatangan pria itu.”“Dia teman Risa. Aku dikenalkan dengannya karena aku akan kerja menjadi kasir di salah satu tokonya.” Jelas Sarah.“Maaf, aku sudah berpikir terlalu jauh.” Devon tampak sangat menyesal.“Bukan salahmu.” Ucap Sarah kemudian.Tiba-tiba, Devon bangkit, la
Devon duduk dengan tenang di kursi yang telah disediakan di depan IGD, meski ia tampak tenang, tapi sebenarnya ia khawatir. Amat sangat khawatir. Arman dan si Bibi yang membawa Devano ke IGD berdiri jauh dari tempatnya duduk. Sedangkan Sarah tak berhenti berjalan mondar-mandir dengan tangis di wajahnya.Sialan! Apa yang sudah ia lakukan? Bagaimana mungkin ia membiarkan Sarah pergi dari sisi Devano? Semua ini adalah salahnya. Jika ada yang harus pergi, maka itu adalah dirinya, bukan Sarah. Kini Devon benar-benar menyadari kesalahan terfatalnya.Tak lama, pintu IGD dibuka, seorang suster keluar dan memanggil “Keluarga anak Devano?”Sarah menghampiri suster tersebut, pun dengan Devon. Keduanya dipersilahkan masuk menuju ke sebuah bilik tempat Devano mendapatkan penanganan. Di sana sudah ada seorang dokter dan bersiap menjelaskan keadaan Devano pada Sarah dan Devon.“Devano kejang karena panas yang terlalu tinggi, tapi dia anak yang kuat dan bisa bertahan. Kami sudah memberi obat penurun
Malam itu, Devon baru pulang dari kantor. Ia segera melemparkan dirinya ke atas ranjangnya. Rasa lelah menghampirinya, dan ia semakin lelah ketika ia tidak mendapati seseorag menyambut kedatangannya.Sial! Jika ada Sarah, mungkin wanita itu akan menyambutnya. Memaksanya untuk segera mandi lalu makan malam bersama. Devon merindukan hal itu.Sial!Devon lalu bangkit, ia menuju ke arah meja kerjanya. Dan meraih sebuah amplop yang ada di sana. Itu adalah suat dari Sarah yang dikirimkan wanita itu dua minggu yang lalu. Sarah mengirimkan alamatnya di sana, mungkin wanita itu berharap bahwa ia akan mengirimkan surat cerai untuk wanita itu. Tapi Devon tak akan melakukannya. Devon tak akan pernah melakukannya.Devon duduk di kursinya, membuka amplop itu lagi. Di sana Sarah juga mengirimkan foto hitam putih hasil USGnya. Devon mengamati foto itu. Entah kenapa hal itu menjadi hal yang begitu digemari Devon akhir-akhir ini. Jantung Devon berdebar kencang setiap kali melihat foto tersebut. Sebua
Satu bulan kemudian….Devon turun ke meja makan dengan wajah yang sudah ditekuk. Seperti itulah wajahnya selama sebulan terakhir. Muram, dan selalu ingin marah-marah. Tapi saat melihat Devano, Devon menghilangkan kemuramannya. Ia bersikap sebiasa mungkin dengan putera kesayangannya tersebut.Devano sudah menunggunya di meja makan. Rutinitas harian yang tidak akan pernah ia lewatkan sesibuk apapun paginya, yaitu sarapan bersama dengan Devano. Hanya berdua, tanpa Sarah di sana. Brengsek!Devon hanya berusaha menjadi ayah terbaik untuk Devano, selalu ada untuk puteranya itu bahkan ketika Devano menginginkan Sarah di sisinya, maka Devon akan memposisikan diri untuk menjadi Sarah bagi Devano.Sialan!“Pagi, Pa.” Devano menyapanya.“Pagi, Sayang.” Devon mengusap puncak kepala Devano. Semakin hari, Devano semakin pintar apalagi setelah Devon mendatangkan guru belajar sambil bermain di rumah. Hal itu semata-mata untuk membuat hari Devano sibuk dan tidak lagi memikirkan Sarah.Devon masih ing
Sore itu, Sarah menunggu Devon di kamarnya. Ia tidak ingin menghindar lagi, dan ia juga tidak akan membiarkan Devon menghindar lagi darinya. Tujuannya hanya satu, bahwa ia ingin menyelesaikan masalah mereka. Ia berharap Devon jujur dengan apa yang lelaki itu rencanakan, tapi disisi lain, Sarah takut, jika kejujuran Devon akan mencabik-cabik isi hatinya.Pintu di buka, Sarah mengangkat wajahnya seketika mendapati Devon dengan wajah muramnya. Lelaki itu masuk sembari melonggarkan dasinya. Kemejanya sudah kusut, wajahnya ditekuk seperti orang lelah.Sarah berdiri seketika, ia memberanikan diri membahas masalahnya sebelum hatinya kembali melemah.“Apa yang kamu inginkan, Sarah?” tanya Devon yang melihat Sarah mendekat ke arahnya.“Aku mau tanya sesuatu sama kamu.” “Apa?”“Apa kamu sayang sama Devano?” tanya Sarah dengan suara yang nyaris tak terdengar.Devon yang sudah duduk di pinggiran ranjang dan bersiap membuka sepatunya akhirnya menghentikan aksinya, ia mengangkat wajahnya dan menat







