LOGINGanendra sengaja berhenti sejenak, membiarkan suasana yang terasa berat itu menekan Rangga hingga nyaris kehabisan napas. Setelah itu, dia baru mengucapkan kata demi kata itu dengan jelas dan perlahan-lahan menancapkan kebohongan itu dalam-dalam ke dalam ingatan Rangga yang kosong."Aku tebak wanita dalam mimpi Jenderal Rangga itu pasti Andini. Dia itu sahabat masa kecilmu yang tumbuh bersamamu sejak kecil, tapi pada saat yang sama ...."Suara Ganendra tiba-tiba menjadi tajam dan menusuk hati Rangga dengan kejam. "Dia juga musuh yang sudah memusnahkan seluruh Keluarga Maheswara.""Musuh ... yang memusnahkan keluargaku?" gumam Rangga dengan mata yang membelalak, lalu menyipitkan matanya. Seolah-olah baru saja mendengar hal paling tidak masuk akal sekaligus mengerikan di dunia, wajahnya menjadi pucat pasi.Ganendra menjawab dengan suara yang terdengar tegas dan berwibawa, "Benar. Keluarga Maheswara adalah keluarga yang setia turun-temurun dan seluruh anggotanya adalah pahlawan. Karena di
Namun, makin dikejar dengan tergesa-gesa, bayangan itu makin cepat memudar. Hingga akhirnya, sosok itu benar-benar lenyap di kedalaman kabut putus asa yang tak bertepi, hanya menyisakan gema samar-samar yang memilukan hati."Jangan pergi!"Rasa panik yang menyesakkan dan kehilangan yang begitu besar langsung mencengkeram Rangga. Dia meraung sambil tiba-tiba mengulurkan tangan ke depan untuk meraih dan tubuhnya berguncang hebat, lalu akhirnya berhasil melepaskan diri dari mimpi buruk yang dingin dan mencekik itu. Sepasang matanya pun tiba-tiba membelalak.Napas Rangga yang terengah-engah terdengar sangat jelas di kamar yang sunyi senyap itu. Keringat dingin telah membasahi pakaian dalam tipisnya dan menempel dingin di tubuhnya. Tatapannya yang tadinya kabur karena genangan air mata perlahan-lahan menjadi fokus.Namun, hal pertama yang dilihat Rangga adalah sosok berpakaian hitam pekat yang duduk tegak di sisi ranjang, yaitu Ganendra. Dia sedang menatap Rangga dalam diam dengan tatapan p
Rambutnya yang basah oleh keringat menempel erat di pipi yang pucat. Bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus tanpa setitik warna darah. Dasar matanya dipenuhi urat merah yang mengerikan, sementara tatapannya terpaku mati-matian pada tubuh Rangga.Terlihat jari-jarinya bergerak secepat kilat, menjepit beberapa jarum perak, menusuk dengan presisi sempurna ke lebih dari sepuluh titik akupunktur di sekujur tubuh Rangga.Setiap kali satu jarum ditancapkan, kejang liar Rangga akan terhenti sesaat. Ujung jarum lalu bergetar hebat, mengeluarkan dengung halus tetapi tajam, seolah-olah tengah bertarung sengit melawan kekuatan dingin ekstrem yang telah meresap hingga sumsum tulang dan membekukan darah!Tiba-tiba, pupil Bahlil menyipit tajam! Dia melihat dengan jelas di bawah kulit, di sekitar beberapa jarum perak itu, pola racun dingin berwarna hijau kehitaman yang aneh justru merambat seperti makhluk hidup, memanjat sepanjang batang jarum dan melakukan serangan balik!Tanpa sedikit pun rag
Agos membungkuk dan masuk, memberi hormat dengan sungguh-sungguh kepada Ganendra. Namun, wajahnya sangat muram."Pangeran, Andini itu terlalu lancang! Berani-beraninya bersikap nggak hormat kepada Pangeran! Perlukah hamba mengutus orang untuk memberinya sedikit pelajaran supaya dia tahu batasan?"Nada suaranya menahan amarah. Jelas, dia belum pernah melihat ada orang yang berani berbicara seperti itu kepada Pangeran Kedua yang begitu mulia. Bahkan Braja, semasa hidupnya masih harus menjaga martabat Pangeran Kedua!Sorot mata Ganendra setajam pisau, seolah-olah menyayat Agos dengan satu lirikan dingin. Suaranya terdengar seperti pecahan es. "Pelajaran? Apa kamu sudah lupa di belakangnya ada Lembah Raja Obat?"Alis Agos berkerut, tampak agak meremehkan. "Hanya Lembah Raja Obat belaka ...."Belum sempat kata-katanya selesai, sebuah cangkir teh porselen melesat disertai embusan angin kencang dan menghantam keras lantai batu di samping kaki Agos! Prang!Suara retakan nyaring terdengar, peca
"Pangeran Ganendra terlalu menilai tinggi diriku." Suara Andini terdengar serak dengan nada mengejek diri sendiri. Dia meletakkan cangkir teh, lalu dengan lembut menyentuh luka di pergelangan tangannya. Dalam gerakannya terselip sedikit kerapuhan akibat trauma yang belum hilang."Semalam, aku memang masuk ke kawasan terlarang. Di sana, jebakan tersebar di mana-mana. Setiap langkah penuh ancaman maut, nyaris mustahil untuk selamat."Dia sengaja berhenti sejenak. Pandangannya jatuh pada pergelangan tangannya sendiri, lalu dia tersenyum pahit. "Meskipun masuk ke kawasan terlarang, aku nggak berhasil masuk lebih dalam. Braja juga tewas di dalam sana."Dia sengaja berkata demikian, agar Ganendra keliru mengira bahwa Braja mati akibat mekanisme jebakan di dalam kawasan terlarang.Tatapan Ganendra tertahan sesaat pada luka di pergelangan tangan Andini. Sorot penilaian yang tajam tampak sedikit melunak, tergantikan oleh pemahaman yang nyaris meremehkan.Dia menyandarkan tubuh ke belakang, meng
Surya mengerutkan kening, sepenuhnya memahami kekhawatiran Andini. Betapa pentingnya kawasan terlarang itu bagi Keluarga Gutawa, jelas sudah melampaui batas kewajaran."Kamu benar. Masalah ini menyangkut banyak hal. Menarik satu benang bisa mengguncang segalanya. Kita harus memikirkannya dengan matang ....""Tapi nggak ada waktu lagi!" Andini tiba-tiba memotong ucapannya. Suaranya rendah, tetapi tegang seperti dawai yang ditarik sampai batasnya, sarat dengan urgensi yang nyaris meledak."Rangga .... Dia nggak akan bisa bertahan lama lagi! Aku harus segera mendapatkan Rumput Giok Ungu Beku! Kalau terlambat ... benar-benar tak tertolong lagi!"Kening Surya semakin berkerut. Suaranya yang dalam terdengar sangat jelas di udara yang menekan. "Kalau begitu, kamu kembali dulu ke halaman samping untuk istirahat. Aku akan menemui Pasukan Harimau, menyuruh mereka menyiapkan darah babi dan darah sapi dalam jumlah besar, untuk berjaga-jaga. Soal Ikhsanun ...."Dia sedikit mengernyit, memandang ke







