Share

Bab 111

Penulis: Si Kecil Tangguh​
Begitu mereka masuk ke kamar, mereka langsung melihat Andini sudah sadar.

Mata Kirana langsung memerah dan dia bergegas ke sisi ranjang. Dengan air mata mengalir, dia berkata, "Kamu sudah sadar? Syukurlah, akhirnya kamu sadar ...."

Sambil berbicara, air matanya terus mengalir tanpa henti.

Dianti juga berdiri di samping Kirana dengan mata yang sembap. Dengan suara bergetar, dia berkata, "Kakak akhirnya sadar juga. Doa-doa Ibu setiap hari nggak sia-sia. Kalau Kakak nggak sadar, aku khawatir mata Ibu akan buta karena terlalu banyak menangis."

Kata-kata Dianti membuat air mata Kirana semakin deras.

Andini mengerutkan alisnya dan tidak berkata apa pun. Namun, di dalam hatinya timbul rasa mual yang tak tertahankan.

Andini tidak mengerti bagaimana seseorang bisa menjadi begitu munafik. Yang mengirimnya menuju kematian adalah mereka. Sekarang, mereka juga yang menangisinya.

Kalau orang luar melihat ini, mereka pasti akan memuji Kirana dan Dianti sebagai ibu dan adik yang penuh kasih sayang. Su
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Zulfi Suwahyu
sedih banget sih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1409

    Rinun mendongak menatap Andini dengan sorot mata jujur. "Kak Andini, jangan tertawakan aku ya. Aku selalu merasa kakak seperguruanmu itu ... pikirannya dalam sekali. Walaupun dia kelihatan sangat peduli pada Rangga dan yang dikatakan juga masuk akal, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu, sampai orang sulit menebaknya."Dia berhenti sejenak, seperti sedang mencari kata yang paling pas, lalu akhirnya bergumam dengan nada agak kesal, "Pokoknya ... aku nggak suka orang yang pikirannya terlalu dalam! Melihatnya saja sudah bikin lelah. Rasanya seperti ... Ganendra itu!"Ucapan Rinun sarat dengan intuisi dan keterusterangan khas gadis remaja, bahkan sedikit kekanak-kanakan dan subjektif.Andini mendengarnya. Kegelisahan berat karena kondisi Rangga justru sedikit teredam oleh curhatan Rinun yang mendadak itu. Dia bahkan merasa geli.Baginya, Rinun ini mungkin memang terlalu polos dan lugas, ditambah baru saja dipermainkan oleh Ganendra, sehingga menjadi berwaspada terhadap siapa pun yang terl

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1408

    Namun, sebelum Andini sempat melangkah, Bahlil sudah lebih dulu mengulurkan satu lengannya, mengadang di depannya dengan tegas."Andin, jangan!" Suara Bahlil tegas, membawa keseriusan yang tak terbantahkan.Andini tertegun dan mendongak.Bahlil menatap mata Andini yang dipenuhi kegelisahan. Nada suaranya melunak, tetapi tetap berat. "Rangga sekarang sama sekali nggak memiliki ingatan. Kondisi batin dan pikirannya pun sangat rapuh. Hubungan masa lalumu dengannya begitu dalam. Kalau kamu tiba-tiba muncul di depannya sekarang, siapa yang bisa menjamin itu nggak akan menstimulasi dirinya?""Kalau sampai penggumpalan darah di kepalanya kembali memburuk atau bahkan langsung memancing Belenggu Tulang kambuh lebih awal ...." Dia tak melanjutkan kalimatnya, tetapi kata-kata yang tertahan itu justru lebih menakutkan daripada ancaman apa pun.Bahlil menepuk bahu Andini. Nadanya menenangkan, tetapi sangat serius. "Andini, percayalah padaku. Selama aku berada di sisinya, aku akan menggunakan segala

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1407

    Di sisi lain.Setelah berpamitan dengan Ganendra, Andini dan Rinun berjalan menyusuri koridor berliku di kediaman Ganendra menuju luar. Senja pun tiba, lentera-lentera yang tergantung di bawah koridor menyala satu per satu. Cahaya kekuningannya memancarkan bayangan yang bergoyang di atas jalan batu biru dan menarik bayang-bayang mereka hingga terlihat panjang dan pendek silih berganti.Andini menggenggam gulungan gambar yang berat itu dengan erat di dalam lengan bajunya. Ujung jarinya masih bisa merasakan tekstur kertas yang kasar serta dingin yang mengendap karena sudah tua. Namun, di dadanya seolah-olah ada sebongkah batu besar yang menekan, bahkan ocehan Rinun di sampingnya pun terdengar samar-samar.Untungnya, Rinun juga tidak terlalu memedulikannya.Begitu keduanya melewati sebuah gerbang dan memasuki jalur taman yang agak lapang, sosok tinggi ramping tiba-tiba muncul tanpa suara dan menghalangi jalan mereka.Langkah Andini terhenti dan jantungnya tiba-tiba berdebar. Setelah melih

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1406

    "Oh."Rinun manyun dan berkata, "Ya sudah."Namun, dalam hatinya, Rinun merasa Ganendra ini pandai berpura-pura.Andini menerima gulungan gambar dari tangan Rinun dengan sungguh-sungguh. Begitu tangannya menyentuhnya, kertas kekuningan itu terasa sangat berat seolah-olah memikul banyak rahasia dan bahaya. Dia memberi hormat pada Ganendra, lalu berkata dengan nada tulus, "Terima kasih atas bantuan Pangeran Ganendra."Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Ada satu hal lagi ...."Sebelum Andini sempat menyelesaikan kalimatnya, Ganendra sudah bisa menebak isi pikiran Andini dan berkata terlebih dahulu dengan suara yang kembali datar, "Nona Andini ingin menjenguk Rangga, 'kan?"Andini merasa agak terkejut, lalu menganggukkan kepala. "Ya."Dia memang ingin memastikan sendiri kondisi Rangga.Ganendra terlihat sama sekali tidak terkejut, hanya mengangkat tangan dengan santai dan menunjuk ke arah luar pintu. Sikapnya dingin dan berjarak, khas seorang penguasa. "Silakan."Entah mengapa, Andin

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1405

    Andini langsung merasa kecewa dan wajahnya pun makin pucat.Bahkan Rinun pun mengernyitkan alisnya dengan erat. Dia memelototi Ganendra dengan tajam, lalu tiba-tiba berdiri dan berkata dengan nada penuh amarah sambil menarik lengan Andini, "Kalau memang nggak ada cara, kenapa nggak bilang dari awal? Kita jadi buang-buang waktu di sini. Kak Andini, ayo pergi."Setelah mengatakan itu, Rinun menarik Andini dan hendak keluar. Sebelum pergi, dia masih sempat melirik Ganendra sekali lagi dengan tatapan yang sangat tajam seolah-olah ingin melubangi tubuh Ganendra.Tak disangka, keduanya baru saja berjalan dua langkah, kembali terdengar suara Ganendra yang muram dan tenang dari belakang. "Tapi ... bukan berarti sama sekali nggak ada cara."Langkah Andini dan Rinun terhenti, lalu tubuh mereka langsung menegang. Mereka saling bertukar pandang dengan tatapan terkejut dan ragu, lalu perlahan-lahan berbalik dan perhatiannya kembali fokus pada sosok yang duduk santai di balik meja.Rinun yang sudah

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1404

    Meskipun sebelumnya sempat melewati momen hidup dan mati bersama selama semalam, penilaian Rinun terhadap Ganendra tetap saja tidak tinggi.Surya menggigit bibirnya dengan erat, tetapi dia tidak menentang dan hanya berkata dengan nada muram, "Aku temani kamu pergi."Dia tidak bisa membiarkan Andini menghadapi pria berbahaya itu sendirian.Namun, Andini malah menggelengkan kepala. "Nggak boleh, kamu masih terluka."Terlintas rasa tidak berdaya di ekspresi Surya, tetapi dia mencoba menenangkan Andini. "Benar-benar nggak apa-apa, hanya luka luar saja ...."Surya sengaja menggerakkan lengannya yang terluka, tetapi tarikan otot yang sedikit tetap membuat gerakannya sempat kaku sesaat."Pokoknya nggak boleh."Andini memotong ucapan Surya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih khawatir, "Ganendra itu orang yang sangat misterius dan pikirannya sulit ditebak. Kalau kamu ikut ke sana, mungkin dia akan lebih waspada dan malah menolak untuk bekerja sama. Jadi, bagaimana?"Itu memang persoalan ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status