Share

Bab 738

Author: Si Kecil Tangguh​
Andini tidak tahu sejak kapan Rangga datang. Apakah saat Kalingga sedang mengoleskan obat untuknya, atau saat Kalingga meniup luka di wajahnya?

Namun, dari ekspresi Rangga, Andini tahu satu hal yang pasti, yaitu Rangga sangat marah.

Tatapan Rangga padanya seperti ingin menusuknya dengan pedang. Dia jauh lebih murka dibanding saat memergokinya bersama Baskoro di taman istana waktu itu.

Dulu ketika tiba-tiba bertemu Rangga, Andini masih merasa bersalah dan gugup, seperti orang yang tertangkap basah. Namun, kali ini hatinya sangat tenang.

Bahkan, dia merasa ada bagusnya juga jika Rangga melihat semuanya. Mungkin kalau pria itu salah paham, dia akan berhenti mengganggunya.

Kalingga pun menyadari perubahan pada sorot mata Andini. Kemudian, dia baru sadar ada orang lain di pintu.

Tubuhnya menegang sedikit, lalu dia menoleh. Saat itu, mata Rangga sudah menyala penuh amarah, seolah-olah hendak membakar Kalingga.

Dia tak menyangka Rangga akan datang. Padahal, hari ini seharusnya Rangga pergi ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ros Dianie
Pangeran Surya kemana yaa. Kok ga pulang2 dr berperang. Bukan nya Andini tinggal dikediaman Pangeran Surya? Semoga pangeran surya minta dekrit kaisar utk menikah dgn Andini. Jd antara rangga dan Kalingga tdk bermusuhan.
goodnovel comment avatar
Zaen Mahdi
wayar wayae...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1373

    Sepasang mata Braja yang keruh itu menatap Surya dengan sangat tajam dan tatapannya itu terlihat sangat kebingungan dan tidak percaya. "Kamu ... mana mungkin ... bisa lolos dari Penjara Air Hitam."Setiap kata-kata itu seolah-olah diperas keluar dari paru-paru Braja yang hancur, disertai suara serak dari orang yang berada di ambang maut.Braja ingat bukan hanya dibelenggu rantai di keempat anggota tubuh, Surya juga telah diracuni hingga seluruh tubuhnya lemas. Penjara Air hitam juga dijaga ketat di segala penjuru. Meskipun Surya benar-benar berhasil kabur, Keluarga Gutawa juga tidak mungkin tidak menerima kabar. Mengapa Surya masih bisa muncul di sini?Surya menoleh ke arah Braja dengan tatapan yang dingin dan kejam. Nada bicaranya yang sangat dingin bergema jelas di dalam ruangan batu itu dan setiap katanya bagaikan paku es yang menusuk jantung Braja. "Aku masih belum sempat berterima kasih pada Kepala Keluarga Gutawa karena sudah mengantarku bertemu kembali dengan saudara-saudara Pas

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1372

    Andini juga telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan, tetapi niat membunuh yang dingin dari Braja itu tetap menembus pakaiannya. Dia bahkan bisa merasakan ujung belati yang tajam itu perlahan-lahan menusuk kulit dan dagingnya.Rasa putus asa yang bagaikan jurang kegelapan itu perlahan-lahan menelan Andini. Selain jebakan senjata yang tersembunyi, masih dua ahli yang berjaga di luar wilayah terlarang itu dan Soekarno tidak mungkin bisa masuk. Apakah hari ini dia benar-benar akan mati di sini?Tepat pada saat hidup dan mati hanya terpaut sehelai rambut, Andini merasakan kekuatan Braja tiba-tiba terhenti. Meskipun posisinya masih sama, Braja jelas tidak menekan belatinya ke bawah lagi. Apa yang terjadi?Karena merasa kaget, Andini kembali menoleh ke arah Braja. Saat itu, dia baru melihat ada sebilah pedang panjang yang entah sejak kapan telah menembus tubuh Braja. Waktu seolah-olah membeku pada detik itu.Tatapan Braja yang keruh bergerak perlahan-lahan ke bawah dengan ekspresi t

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1371

    Tatapan Braja sudah berubah sepenuhnya. Matanya sudah memerah dipenuhi dengan keserakahan dan kegilaan bagaikan binatang buas."Nggak cukup. Nggak cukup. Masih jauh dari cukup," kata Braja sambil menatap tajam piringan batu yang terus ternodai darah dan bibirnya bergetar sampai mengeluarkan geraman pelan seperti orang yang mengigau."Kamu sama persis dengan orang di lukisan itu ... sama persis. Darahmu, hanya darahmu yang baru bisa jadi kuncinya. Kamu pasti bisa membuka harta karun itu. Pasti bisa. Kurang banyak saja ... kurang banyak saja ...," gumam Braja terus dan mengabaikan penderitaan dan perlawanan Andini, seolah-olah telah terperosok sepenuhnya ke dalam ilusi obsesif.Suara Braja yang terdengar serak dan gila bergema di lorong sempit itu bagaikan bisikan dari neraka.Andini berpikir jika darah itu terus mengalir seperti ini, dia akan mati. Dia mengernyitkan alisnya dan menahan rasa sakit yang luar biasa saat tangan kirinya menyusup ke lengan bajunya. Dia meraba jarum perak, lal

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1370

    Lorong itu sempit dan panjang. Dindingnya dipasangi batu yang memancarkan cahaya hijau suram, nyaris hanya cukup untuk menerangi anak-anak tangga batu yang licin di bawah kaki.Jantung Andini berdetak kencang. Setiap langkah dilaluinya dengan kewaspadaan yang luar biasa.Akhirnya, mereka tiba di lokasi mekanisme pertama. Itu adalah sebuah ruang batu yang relatif lebih luas. Di tengahnya berdiri sebuah altar batu kuno setinggi setengah tubuh manusia.Permukaan altar itu tidak rata, bahkan dipenuhi ukiran totem yang amat rumit, memancarkan aura kuno dan liar.“Di sini tempatnya.” Suara Braja menggema di ruang batu yang sunyi. Cahaya keserakahan di matanya hampir meluap.Tanpa ragu sedikit pun, dia mengeluarkan sebilah belati tajam yang bertatahkan permata dari sakunya, lalu menyerahkannya ke hadapan Andini. Nadanya sarat perintah yang tak bisa dibantah. “Andini, gunakan darah sebagai pemicu. Teteskan ke dalam cekungan untuk mengaktifkan pintu hidup pertama ini!”Andini menatap belati din

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1369

    Andini refleks menahan napas. Udara dingin seolah-olah membeku di tenggorokannya. Dia mengeratkan jubahnya, membisu mengikuti Braja dari belakang.Cahaya bulan yang pucat bagai kain tipis yang menyelimuti bagian dalam kawasan terlarang. Di luar dugaan, yang tampak di hadapan bukanlah benteng ketat atau mekanisme berlapis-lapis, melainkan sebidang tanah lapang yang agak tandus.Di sekelilingnya tumbuh rerumputan dan pepohonan biasa, yang memunculkan bayangan aneh di bawah sinar bulan. Di tengah lapangan itu, berdiri sebuah rumah tua.Kening Andini berkerut rapat. Keraguan di hatinya tumbuh liar bagai sulur. Dia menatap Braja yang berjalan di depan dengan wajah penuh kepuasan. Suaranya terdengar dingin saat bertanya, "Apa rahasia seratus tahun yang dimaksud Kepala Keluarga ada di sini?"Sebuah rumah tua?Sudut bibir Braja terangkat membentuk lengkungan puas nan misterius. Matanya berkilat licik dan rakus, seolah-olah tengah memandang anak kecil yang polos. "Masuk saja, nanti kamu tahu!"

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1368

    Ikhsanun tiba-tiba menoleh tajam ke arah Hasanun. Alisnya berkerut rapat. Dengan suara berat, dia menegur, "Jangan asal bicara! Kepala Keluarga masih menunggu di kawasan terlarang! Jangan buang-buang waktu di sini!"Usai berkata demikian, dia tak lagi memedulikan Hasanun. Dia berbalik ke arah Andini, kembali melipat tangan. Sikapnya dingin dan tertutup seperti biasa, sementara suaranya tenang. "Andini, silakan."Andini mengangguk pelan. Pandangannya melintas tenang melewati Ikhsanun, lalu berhenti sejenak di wajah tampan Hasanun yang masih menyunggingkan senyuman usil.Tatapannya dalam laksana kolam dingin di bawah cahaya bulan. Tenang tanpa riak, tetapi seolah-olah menyimpan ribuan makna. Di sana terselip pemahaman dan peringatan yang samar, seakan-akan hendak menembus sikap santainya dan langsung menyentuh isi pikirannya yang gelap.Sesaat kemudian, Andini menarik kembali pandangannya dan tetap diam. Dia mengeratkan jubah hitam legam di tubuhnya, laksana noda tinta yang menyatu denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status