LOGINMenjadi sopir pribadi dokter tercantik, membuatku terjebak dalam hasrat di mana sang dokter ternyata tidak pernah dijamah suaminya yang seorang pelaut. Tidak hanya itu, aku juga terjebak dalam hasrat kedua pelayan pribadinya, yang sama-sama menggoda! "Kalau kamu mau, masuklah! Perlihatkan kepadaku kalau keahlianmu tidak hanya menyetir mobilku, tapi menyetir tubuhku juga," ucap dr. Sarah memancing kejantanan dan juga adrenalin Reno secara bersamaan.
View MoreAku Reno.
Di rumah mewah yang ukurannya lebih mirip istana ini, aku cuma seorang supir rendahan yang tidak punya hak untuk banyak bicara. Tugasku sebenarnya sangat sederhana dan tidak membutuhkan otak cerdas. Cukup antar jemput Dokter Sarah Adiwangsa, telan mentah-mentah semua perintah judesnya, dan pura-pura buta kalau majikan perempuanku itu sebenarnya kesepian setengah mati sejak ditinggal suaminya melaut berbulan-bulan. Benar sekali, dokter itu selalu haus akan kasih sayang, terutama nafkah batin. Dan itulah yang membuat aku terjebak dalam pusaran panas ini. Belum lagi, kedua asistennya yang sama-sama aduhai, masih muda, dan blasteran. Keduanya selalu menggodaku. Tapi aku selalu berusaha menghindar, sampai akhirnya aku tidak kuat menahan ketiganya sekaligus. *** Di luar sana, suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pilar teras. Itu Udin, satpam kompleks yang terkenal punya insting seperti anjing pelacak dan sedikit gila hormat. Napasku tertahan di ujung tenggorokan. Kalau Udin memergokiku berkeliaran di area samping rumah utama selarut ini, hidupku yang damai pasti akan langsung tamat. "Kucing garong sialan, bikin kaget saja," gerutu Udin dengan suara serak dari kejauhan. Detik berikutnya, suara langkah kaki yang mengenakan sepatu bot itu perlahan berputar arah dan menjauh, kembali ditelan oleh sunyinya malam. Aku menghembuskan napas panjang yang sedari tadi menyiksa paruku. Otot-otot bahuku yang kaku perlahan mengendur. Baru saja tanganku merogoh saku celana kainku untuk mengambil sebatang rokok kretek murah, telingaku menangkap suara lain. Ada bunyi gesekan halus dari arah lorong samping rumah yang gelap gulita. Baru saja tanganku merogoh saku celana untuk mengambil sebatang rokok kretek, ekor mataku menangkap seberkas cahaya kuning temaram. Cahaya itu menyelinap keluar dari celah jendela kamar mandi lantai dua yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter. Otak warasku berteriak keras. Akal sehatku mengingatkan statusku sebagai pelayan dan menyuruhku segera menyingkir kembali ke kamar belakang. Tapi, itu sia-sia. Aku menyeimbangkan pijakan kakiku yang beralaskan sepatu basah, lalu perlahan menempelkan wajahku mengintip dari celah kaca yang berembun. Di dalam kamarnya, Dokter Sarah sedang berdiri mematung di hadapan cermin wastafel besar yang dikelilingi uap air hangat. Jas dokter putihnya yang selalu terlihat kaku, terhormat, dan angkuh itu sudah lenyap entah ke mana. Sebagai gantinya, majikanku itu hanya mengenakan sebuah gaun tidur berbahan sutra merah marun. Tipisnya kain itu benar-benar menguji keimananku sebagai laki-laki normal. Pinggangnya terbentuk ramping sempurna, mengalir turun menuju pinggulnya yang padat dan ranum. Kulit putih mulusnya yang terekspos terlihat lembap oleh uap panas, berkilau menggoda di bawah cahaya. Rambut hitam legamnya yang biasa digelung kaku kini dibiarkan tergerai berantakan. Beberapa helai rambut basah itu menempel manja di bahu dan lehernya yang jenjang. Pemandangan visual itu saja sudah cukup untuk membuat otakku korslet total. Namun, apa yang dilakukan tangannya sedetik kemudian benar-benar meruntuhkan sisa-sisa kewarasanku. Tangan halusnya yang lentik merayap pelan naik ke lehernya sendiri. Jari-jari itu membelai kulitnya yang basah, turun perlahan menyusuri tulang selangka, lalu terus menyusup ke balik belahan gaun tipis di area dadanya. Sarah memejamkan mata erat-erat. Bibirnya yang dipoles merah alami terbelah sedikit, meloloskan sebuah desahan parau yang menembus celah jendela dan langsung menghancurkan pertahananku. "Jangkrik, Reno, kamu beneran berubah jadi tukang intip murahan sekarang?" rutukku dalam hati, merasakan beban moral yang sangat berat menghimpit rongga dada. Aku ini cuma supir rendahan bergaji bulanan. Sedangkan, wanita yang sedang mengerang menahan gairah di depanku ini adalah nyonya besar, istri dari pria yang memberiku makan. Kalau kelakuan binatangku ini ketahuan, riwayatku bukan cuma tamat, tapi aku bisa dijebloskan ke penjara atau dibunuh suaminya. Tapi mau ditahan seperti apa pun, kejantananku di balik celana bahan ini sudah memberontak keras. Aku menikmati setiap inci gerakannya tanpa bisa memalingkan wajah. Di saat aku sedikit menggeser posisi kaki kananku yang mulai kesemutan menahan beban tubuh, sol sepatuku yang licin tergelincir dari bibir pot keramik. PRANG! Bencana itu terjadi tanpa bisa dicegah. Sepatuku menendang jatuh sebuah pot kecil hingga pecah berkeping-keping menghantam lantai semen di bawahku. Suara pecahannya terdengar nyaring seperti ledakan bom di tengah kesunyian malam. Tertangkap basah menjadi supir mesum yang mengintip majikan sedang memuaskan diri adalah akhir dari segalanya. Aku mengencangkan otot-otot betisku, bersiap melompat turun dan melarikan diri sejauh mungkin sebelum ia berteriak memanggil Udin atau menelepon polisi. Anehnya, teriakan maling atau makian kasar yang kutunggu-tunggu tidak pernah keluar dari bibir merahnya. Alih-alih panik dan menutupi tubuhnya dengan handuk, Sarah justru diam mematung menatapku dalam-dalam. Napasnya masih memburu cepat, membuat bagian dadanya yang mencetak jelas di balik kain tipis itu naik-turun menantang pandanganku. Perlahan, ia melangkah maju mendekati jendela kaca tempatku mengintip. Dari balik kaca yang memisahkan kami, tangan halusnya terangkat. Telunjuknya menunjuk ke arah pintu kayu samping yang berada tepat di bawah jendela. “Gusti Agung. Majikanku ini baru saja menyuruhku masuk ke dalam rumahnya?” Otak udangku menolak memproses informasi sinting ini. Ini pasti sebuah jebakan maut. Hatiku berperang hebat. Kalau aku memutar kenop pintu di bawah sana, aku akan melewati batas sosial yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali. "Woy! Siapa di sana?!" Sebuah teriakan garang dari arah pagar depan membelah keheningan. Itu suara Udin yang kembali mendekat. Cahaya senter kuningnya mulai menyapu halaman samping dengan cepat. Aku terjepit dalam posisi mati langkah. Kalau aku tetap berdiri di sini, senter Udin akan menangkap basah tubuhku dalam hitungan detik. Kutatap jendela itu sekali lagi. Sarah masih berdiri di sana, menungguku dengan tatapan yang meremehkan nyaliku. Argh, Persetan dengan moral dan dosa! Dengan satu lompatan ringan, aku mendarat di atas lantai semen dan langsung berlari ke arah pintu samping. Tanganku yang gemetar meraih gagang pintu kayu yang terasa dingin. Pintu itu benar-benar tidak dikunci. Tanpa ragu lagi, aku mendorongnya terbuka dan melangkah masuk ke dalam perut rumah mewah yang gelap gulita itu.Suasana di dalam kamar tidur Sarah terasa begitu tenang, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suasana mencekam yang baru saja terjadi di ruang tamu bawah. Sarah berjalan perlahan menuju tepi ranjangnya, lalu menundukkan diri dengan ahelaan napas panjang yang penuh dengan rasa lega. Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah luruh bersama angin siang itu.Tok.. Tok.. Tok..Ketukan pintu yang teramat pelan seketika membuat Sarah langsung menoleh. Pintu kamar itu sedikit terbuka, menampilan sosok Reno yang melangkah masuk setelah memastikan Baskoro dan istrinya masih mematung di bawah. Saat Reno tadi sudah sampai di mobilnya, ia kembali masuk ke dalam rumah Sarah dan menemui Sarah di kamarnya."Boleh aku masuk?" tanya Reno lembut, seulas senyuman tulus terukir di wajah tampannya."Tentu saja, Ren. Kemarilah," sahut Sarah sembari menggeser duduknya, memberikan ruang untuk pria yang baru saja menyelamatkan hidup dan masa depannya itu.Reno melangkah mendeka
"Papa bilang apa?!" Suara Sarah meninggi, napasnya memburu menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendengar ucapan kejam sang ayah. "Papa tidak mau menganggap anak ini? Dia cucu Papa, Pa!" Dia darah daging aku!""Papa tidak peduli!" bentak Baskoro, melangkah maju dengan sepasang mata yang melotot murka. "Papa lebih baik tidak punya cucu daripada harus menanggung malu karena keturunan Papa bercampur dengan darah menjijikan keluarga Aditama! mulai hari ini, gugurkan anak itu atau kamu angkat kaki dari rumah ini!"PLAKKK!Bukan suara tamparan, melainkan suara tas Sarah yang sengaja dihempaskan oleh Maya ke atas meja saking tidak tahannya ia mendengar kekejaman Baskoro. Maya berdiri di samping Sarah dengan tubuh bergetar berani. "Tuan Baskoro yang terhormat! Cukup! Anda hampir saja membunuh anak dan cucu anda sendiri dengan menjodohkannya dengan Arif yang seorang psikopat itu! Dan sekarang, anda masih mau membuang darah daging anda sendiri?!""Diam kamu, pembantu lancang! Jangan ik
Sementara masalah dan keributan di gedung Baskoro Corp belum usai, di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah sakit tempat Sarah bekerja, sebuah layar televisi besar yang menempel di dinding tiba-tiba menyiarkan berita di sela acara yang sedang berlangsung. Seorang pembawa berita menyampaikan sebuah skandal besar yang belum pernah terjadi di sepanjang sejarah bisnis nasional."Kami laporkan langsung dari gedung Baskoro Corp, aparat kepolisian baru saja melakukan penangkapan paksa terhadap Arif Pramudya, putra tunggal dari Hendra Pramudya atas dugaan kasus pembunuhanan berencana lima tahun silam terhadap seorang kekasihnya yang tengah hamil. Bersamaan dengan rilisnya bukti rekaman CCTV tersebut, saham Pramudya Corp dilaporkan terjun bebas hingga menyentuh batas, dan dalam waktu dekat, Aditama sudah mengambil alih seluruh aset mereka..."Maya yang sedang memegang cangkir tehnya seketika tersedak hebat. Sepasang matanya melotot tajam menatap layar televsi, sementara cangkirnya diletakkan
Baskoro mendengus remeh, melipat kedua tangannya di dada sembari melemparkan tatapan paling menghina kepada Reno. "Pramudya Corp jauh lebih besar dan terhormat daripada keluarga Aditama mu itu!"Mendengar hinaan dari Baskoro, Reno hanya tersenyum sinis. Ia menatap Baskoro dengan tatapan sinis tapi tajam, membuat Baskoro merasa tidak nyaman saat di tatap seperti itu."Ini penjaganya pada kemana sih? Kenapa dari tadi di panggil belum datang juga?" ucap Baskoro sedikit jengkel."Intercomnya mati total, Baskoro, jadi tidak akan ada satu pun penjaga atau satpam yang akan datang ke sini," jawab Reno dengan enteng. Reno melangkah semakin mendekat ke ujung meja oval tersebut. Ia mengabaikan gonggongan Baskoro yang berkali-kali menghinanya, mengusirnya dan memberikannya sumpah serapah. Setelah dekat dengan meja oval tersebut, Reno pun menghempaskan map merah yang ada di tangannya tepat di atas nota kerja sama bisnis yang tercoret akibat tinta pulpen Baskoro tadi."Saya tahu persisi dengan siap
Malam kian merayap pekat, membungkus ibu kota dengan pendar lampu-lampu kristal yang mulai menyala di dalam bangunan-bangunan tepi jalan. Di saat Sarah tengah bersama dengan Arif di cafe itu, di tempat lain, Baskoro bersama istrinya juga duduk berbincang dengan keluarga Arif di sebuah restaurant me
Sarah terpaku dan menatap lekat sepasang mata Reno yang kini telah basah oleh air mta. Melihat pria sekuat dan sehebat Reno meneteskan air mata untuknya, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk tepat di ulu hati Sarah. Dadanya terasa begitu sesak, menyadari betapa kejamnya ia jika harus menut
Mentari pagi baru saja terbit, memancarkan sinar hangat yang menembus sela-sela gorden mewah kediaman keluarga Baskoro. Pagi itu, Baskoro bangun dengan semangat empat lima yang meluap-luap. Senyuman lebar tidak pernah lepas dari wajah kolotnya saat ia merapikan dasi di depan cermin besar kamarnya.
Angin malam berhembus kencang, mengguncang jendela kaca kamar Sarah yang sedari tadi terkunci rapat dari dalam. Di atas tempat tidur berseprai putih, Sarah duduk menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Nggak... Aku nggak mau menikah dengan Arif. Aku nggak bisa meninggalkan Reno begitu saja," guma


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews