Masuk"Oh, ini yang ayah tunggu-tunggu ...."Hazard menatap bayi mungil yang sedang berada dalam gendongannya dengan mata yang berbinar.Pria paruh baya itu langsung meluncur menuju rumah sakit begitu mendapatkan laporan jika Letha tengah ditemukan dan sudah melahirkan--sekalipun harus menghabiskan banyak waktu. Berikut juga dengan Esme dan Jasper."Jaden, selamat karena kau telah menjadi seorang daddy," ucap Esme hanya dibalas dengan tatapan sekilas. Perbuatan Esme yang menutupi kebenaran semakin membuat Jaden menjaga jarak dengan Esme. Bahkan kepada Jasper.Pria itu benar-benar tidak ingin lagi berurusan dengan mereka yang malah mendukung perpisahannya dengan Letha. Padahal tahu betul bagaimana gilanya Jaden tanpa Letha."Kakak, dia mirip sepertimu." Kali ini Jasper yang bersuara. Tapi lagi-lagi hanya mendapatkan tatapan sekilas dari Jaden. Sehingga membuat Jasper mendesah pelan.Sudah sering ia berusaha mencairkan hubungannya dengan Jaden yang semakin membeku. Bahkan untuk meminta maa
"Bukankah ini perhiasan yang Anda cari?"Jaden meneliti perhiasan yang baru saja pemiliki toko itu berikan. Memastikan jika perhiasan itu benar-benar milik mendiang ibu Letha."Ini asli," ucap Jaden setelah meyakini jika perhiasan tersebut bukanlah imitasi. Setelahnya Jaden langsung menatap pemilik toko dengan serius. "Jika boleh tahu. Siapa yang menjual perhiasan ini?" tanyanya. "Untuk hal itu saya tidak menanyakan identitasnya---" "Seharusnya kau lebih teliti!" cerca Jaden hampir frustasi. Pemilik toko bahkan sampai gemetar ketakutan saat mendapatkan cercaan dari Jaden. Sehingga Max yang melihat hal itu lekas mengambil alih agar kondisi lebih kondusif."Bukankah di sini terpasang CCTV?" tanya Max seraya mengedarkan pandangannya."Benar, Tuan.""Kalau begitu boleh kami melihatnya? Sejujurnya kami memiliki urusan penting dengan orang yang menjual perhiasan ini," terang Max lebih tenang."Tentu, Tuan." Pemilik toko kemudian mengajak Jaden dan Max untuk memeriksa CCTV di ruangan k
Tanpa membuang-buang waktu, Max dan Jaden langsung berangkat menuju alamat yang tertera. Mereka bahkan mengabaikan sapaan para karyawan saat keluar, dan menyerahkan semua pekerjaan kepada bawahan."Silakan, Tuan." Max dengan tanggungan tugasnya tetap membukakan pintu untuk Jaden yang berniat membukanya sendiri.Jaden mengangguk singkat, lalu masuk begitu saja, dan meminta Max untuk bergegas masuk juga."Jangan membuang-buang waktu! Saya tidak ingin kehilangan jejaknya," ujar Jaden saat Max sudah duduk di depan kursi kemudi.Max menoleh sejenak, lalu mengangguk. "Baik, Tuan. Mohon maaf telah membuat Anda menunggu," sahutnya kemudian mulai menyalakan mesin mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.Perjalanan yang jauh, ditambah dengan jalanan yang macet membuat mereka harus menghabiskan banyak waktu dalam perjalanan. Jaden bahkan sampai gelisah dan tidak bisa tinggal diam."Apa ini masih jauh, Max?" tanya Jaden sambil menegakkan tubuhnya.Otot-ototnya mulai kaku, dan Jaden meren
"Kakak, perutku sakit sekali ...."Letha mengerang tertahan saat merasakan mulas yang luar biasa. Perempuan itu memegang lengan Risha dengan erat--menyalurkan rasa sakitnya. Hingga membuat Risha ikut meringis."Letha, bertahanlah. Aku akan meminta bantuan," ujar Risha berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Letha yang begitu kuat.Tak punya pilihan, Letha melepaskan diri. Iamembiarkan Risha untuk pergi mencari bantuan.Hingga tidak lama warga mulai berdatangan. Mereka berusaha membantu membawa Letha ke rumah sakit terdekat. Sayang, kondisi kehamilan Letha yang memang sejak awal mengalami masalah pun tidak dapat ditangani, dan harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. "Letha, tidak ada pilihan. Aku harus menjual perhiasan ini demi menyelamatkan nyawa kalian!" ujar Risha menatap perhiasan yang ada di tangannya. Tadi, sebelum berangkat ke rumah sakit, Risha sengaja membawa perhiasan yang Letha bawa untuk berjaga-jaga. Sehingga ketika pihak rumah sakit menyatakan jika Letha ha
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!"Serly panik sendiri. "Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang tidak bisa memberiku kepuasan!" Jaden tersenyum miring melihat Serly yang panik. "Jadi, apa setelah ini kau akan menyerah memintaku menepati janji, Serly?"Pandangan wanita itu langsung teralih. Ia lantas menatap Jaden dengan kebingungan. "Mau bagaimanapun, aku tidak bisa hidup tanpa seks!" ujar Serly tak ingin munafik. Sebagai wanita dewasa, ia membutuhkan hal itu. Tapi juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi Nyonya Jaden--sebuah gelar yang akan membuat pandangan semua orang menatapnya dengan penuh rasa kagum dan hormat. "Kalau begitu pilih salah satu. Menikah dan tidak mendapatkan kepuasan, atau tidak jadi menikah dan kau bisa mendapatkan kepuasan dari pria lain!" ujar Jaden membuat Serly bimbang.Wanita itu diam sejenak, menatap Jaden dengan lurus. Lalu sebuah ide mencetul. "Kau bisa melakukan pengobatan!" ujar Serly dengan antusias.Jaden menggeleng pelan. "A
"Baby, sebenarnya kau di mana?"Sudah lebih dari lima bulan, dan keluarga Hazard belum berhasil menemukan menantunya yang kabur.Bahkan berita tentang hal ini hampir menyebar luas di kalangan masyarakat, andai Hazard tidak membungkan mereka yang menyebar gosip tidak sedap.Selama itu pula hidup Jaden jadi kacau. Pria itu hanya menghabiskan waktu dengan bekerja dan mencari keberadaan Letha. Sementara Jasper, tetap diminta untuk melakukan aktivitas seperti biasanya oleh Esme--seolah jika ini semua bukan bermula dari bantuannya.Tentu saja Jasper jadi tertekan. Pria yang biasa hidup bebas itu menjadi dirundung rasa bersalah, dan ia diam-diam masih berusaha mencari keberadaan Letha."Baby, aku merindukanmu," gumam Jaden lagi saat menatap layar ponselnya--di mana foto dirinya dan Letha yang sedang berada di luar negeri menjadi gambar utama di sana. Pria itu mendesah pelan, lalu menyimpan ponselnya di atas meja saat tiba-tiba pintu ruangannya dibuka."Honey, ini sudah sangat malam, dan k







