LOGIN"Bisa-bisanya tubuh sekecil itu membuatku kecanduan!" *** Terlahir dari keluarga yang berada tidak membuat Aletha merasa beruntung, justru ia sering ditindas oleh kedua saudaranya. Banyak yang Aletha alami, hingga puncaknya ketika keluarga mereka menghadiri sebuah pesta, kedua saudara Aletha melemparnya ke salah satu kamar hotel yang dihuni oleh seorang pria asing! Lantas, bagaimana nasib Aletha selanjutnya saat tahu jika pria yang ia goda dalam pengaruh obat adalah Jaden? Pria berbahaya yang tidak akan pernah melepaskan mangsanya!
View More“Papa, senang karena Papa pulang dengan selamat.” Leta menyambut hangat kepulangan Rafqi–papanya setelah dinas di luar kota.
Sayang, pria paruh baya itu bersikap tak acuh kepada Letha dan malah menyapa kedua anaknya yang lain.
“Lihat, apa yang papa bawa!” ujar Rafqi mengangkat paper bag yang sejak tadi ia jinjing.
Risha dan Rasya lantas saling pandang, lalu menatap Rafqi dengan antusias. “Papa, apa yang Papa bawa?”
“Kalian akan mengetahuinya setelah melihatnya.” Rafqi kemudian menyerahkan paper bag tersebut kepada kedua saudara Letha. Sedangkan Letha sendiri, Rafqi abaikan.
Perempuan itu hanya bisa berdiri di tempat, melihat kedua saudaranya mendapatkan oleh-oleh dengan miris.
Tak bisa Letha pungkiri, dibeda-bedakan, apalagi oleh orang tuanya membuat ia iri. Tapi sayangnya ia harus berpura-pura terlihat baik-baik saja.
“Woah, ini gaun yang indah!” Risha berdecak kagum saat melihat gaun yang dibelikan oleh Rafqi begitu indah.
“Papa sengaja membelikannya untuk kalian. Dan pakailah saat datang ke pesta nanti malam!”
“Pesta?” Rasya semakin antusias.
“Ya, keluarga Hazard mengadakan pesta. Di sana akan ada banyak pria tampan dan kaya. Jadi mama berharap, kalian tampil cantik dan menarik!” Kali ini Geisha–istri Rafqi yang berbicara.
“Ini luar biasa, aku akan tampil secara maksimal!”
“Dan aku akan menggunakan gaun yang ini!”
Risha dan Rasya lantas pergi ke kamar untuk bersiap, sebab ingin tampil maksimal. Sementara Letha yang belum mendapatkan gaun, berdiri mematung–berharap Rafqi membelikan juga untuknya.
“Untuk apa kau diam di situ?” tanya Geisha dengan nyalang.
“Papa … jika Kak Risha dan Rasya mendapatkan gaun, lalu bagaimana dengan aku?” Letha bertanya dengan ragu.
“Ck! Menyusahkan. Kau bisa menggunakan gaun yang ada saja.” Bukan Rafqi yang menjawab, melainkan Geisha.
“Tapi—”
“Mamamu benar, di lemari pakaianmu, banyak gaun dari mendiang ibumu. Jadi kau bisa memakai salah satunya,” potong Rafqi cepat, membuat Letha tak lagi dapat berkutik. Terlebih pria itu memilih berlalu bersama istrinya–meninggalkan Letha seorang diri dengan rasa kecewa.
Mendesah pelan, Letha kemudian berbalik–membawa langkahnya menuju kamar yang berada di bagian belakang.
Iya, bahkan untuk tempat tidur pun Letha dibeda-bedakan. Jika yang lain mendapatkan kamar layaknya putri, ia diperlakukan seperti anak pembantu.
“Baju mana yang harus kupakai?” Letha membuka lemari pakaiannya, menatap jejeran pakaian jadul milik mendiang ibunya.
Tampak masih bagus karena Letha merawatnya dengan baik–sebagai kenang-kenangan. Hanya saja, modelnya ketinggalan jaman untuk dipakai ke sebuah pesta megah yang diadakan oleh keluarga Hazard.
Meski begitu, Letha tak memiliki pilihan. Perempuan itu mengambil salah satu pakaian yang dirasa paling bagus, lalu memakainya.
Tak lama setelah Letha bersiap, pintu kamarnya diketuk dari luar. Lekas ia membuka pintu, dan tampaklah Risha dan Rasya dengan gaun yang indah.
Bukan hanya itu, kedua saudara Letha juga memakai perhiasan yang mencolok. Sangat berbeda dengannya. Dan hal itu membuat Letha minder.
“Kau lama sekali!”
“Kami sudah menunggu dari tadi!”
“Maaf,” ucap Letha saat kedua saudaranya mencerca.
“Ck! Sebaiknya kita berangkat sekarang.”
Risha dan Rasya kemudian berbalik, lalu pergi. Tapi Letha masih berdiri di tempat–merasa jika seharusnya tak ikut.
“Hei, kenapa kau masih saja diam?” Risha menegur saat tak mendapati Letha mengikutinya.
“Maaf, Kak, sepertinya aku tidak ikut.”
“Kau gila?” sentak Rasya. “Jangan membuang-buang waktu. Kecuali kalau kau ingin mendapatkan hukuman!”
Mendengar kata hukuman, lantas membuat Letha melangkah. Perempuan itu tak ingin mendapatkan hukuman, meski merasa jika dirinya tak pantas berada di pesta nanti.
***
“Kau jangan membuat malu. Ketika di dalam, bersikaplah dengan manis!” Rafqi mewanti-wanti sebelum mereka turun dari mobil.
“Iya, Dad,” sahut Letha tak bisa berbuat banyak selain mengikuti kakak dan adiknya, kemudian ditinggalkan sendiri di pojok ballroom saat mereka sibuk sendiri-sendiri.
“Ini sangat membosankan,” gumam Letha merasa kurang nyaman saat berada dalam tempat yang mewah dan megah.
“Mau minum?” Tiba-tiba seorang pria menghampiri, menyodorkan segelas soda kepada Letha.
Menoleh ke arah sumber suara, Letha cukup terkejut ketika pria yang menawarkan minum adalah Jasper–anak kedua keluarga Hazard–juga teman satu kampusnya, meski Aletha sendiri tak akrab. Bahkan tidak pernah bertegur sapa sebelumnya.
“Jasper,” gumam Letha pelan. Tatapannya tertuju kepada Jasper yang tersenyum manis dengan khasnya yang tampak tengil.
“Kenapa diam saja? Kau tidak haus?” Jasper menggerakan tangannya yang tengah menyodorkan gelas, agar Letha menerima.
Tak langsung menerima, Letha melirik ke arah gelas tersebut lalu menggeleng pelan. “Terima kasih, tapi aku tidak suka alkohol.”
“Woaah, kau polos sekali! Jadi kau pikir ini anggur? Ini hanya soda, jadi kau tidak akan mabuk saat meneguknya.” Jasper terkekeh, merasa geli karena Letha tak bisa membedakan antara wine dan soda.
Refleks Letha menunduk dalam–menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya.
“Letha, kau bodoh sekali …,” gumam Letha merutuk diri sendiri.
“Hei, ayo ambillah!” Jasper kembali menyerahkan gelas berisi soda kepada Letha yang tak kunjung menerimanya. “Aku tahu, kau pasti merasa asing di sini. Jadi aku berniat menemanimu.”
Terus didesak untuk menerima gelas tersebut, akhirnya Letha yang sudah berhasil mengontrol diri pun secara perlahan kembali menegakkan kepala, menatap Jasper yang terus meyakinkan. Hingga akhirnya Letha menerima dan meneguknya secara perlahan.
“Aku tidak berbohong, ‘kan?” ujar Jasper setelah melihat Letha meminumnya.
Tersenyum malu, Letha kemudian mengangguk pelan. “Kau benar, aku yang salah mengira,” sahutnya membuat Jasper terkekeh.
“Aku tidak menyangka jika di kota ini masih ada gadis polos sepertimu,” ujar Jasper mencairkan suasana dengan gombalan mautnya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Letha yang hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Senyum yang entah mengapa membuat Jasper semakin tertarik. Sehingga terus memandang Letha dengan tatapan berbeda.
“Letha, ternyata kau di sini!” Tiba-tiba Rasya datang.
“Sejak tadi aku di sini,” balas Letha.
“Benarkah? Padahal tadi aku mencarimu ke sini, tapi tidak ada!” kilah Rasya.
Kening Letha langsung mengkerut. “Untuk apa kau mencariku?”
“Tadi papa memintaku mencarimu. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan oleh beliau!”
“Papa ingin bicara denganku?” gumam Letha cukup terkejut. “Berbicara mengenai apa?”
“Kau akan tahu setelah bertemu dengan beliau. Jadi sebaiknya ikutlah dengan kami!” cetus Rasya kemudian menoleh ke arah Jasper. “Jasper, maaf karena mengganggu. Tapi aku harus membawa Letha!”
Sedikit menaikkan satu alisnya, Jasper tampak tak senang, sebab merasa terganggu. Tapi lelaki itu tetap mempersilakan. “Ya, kita bisa bertemu lain kali,” balasnya tertuju kepada Letha.Letha hanya tersenyum lalu mengikuti Rasya ke bagian belakang ballroom tanpa rasa curiga.
"Kakak, perutku sakit sekali ...."Letha mengerang tertahan saat merasakan mulas yang luar biasa. Perempuan itu memegang lengan Risha dengan erat--menyalurkan rasa sakitnya. Hingga membuat Risha ikut meringis."Letha, bertahanlah. Aku akan meminta bantuan," ujar Risha berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Letha yang begitu kuat.Tak punya pilihan, Letha melepaskan diri. Iamembiarkan Risha untuk pergi mencari bantuan.Hingga tidak lama warga mulai berdatangan. Mereka berusaha membantu membawa Letha ke rumah sakit terdekat. Sayang, kondisi kehamilan Letha yang memang sejak awal mengalami masalah pun tidak dapat ditangani, dan harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. "Letha, tidak ada pilihan. Aku harus menjual perhiasan ini demi menyelamatkan nyawa kalian!" ujar Risha menatap perhiasan yang ada di tangannya. Tadi, sebelum berangkat ke rumah sakit, Risha sengaja membawa perhiasan yang Letha bawa untuk berjaga-jaga. Sehingga ketika pihak rumah sakit menyatakan jika Letha ha
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!"Serly panik sendiri. "Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang tidak bisa memberiku kepuasan!" Jaden tersenyum miring melihat Serly yang panik. "Jadi, apa setelah ini kau akan menyerah memintaku menepati janji, Serly?"Pandangan wanita itu langsung teralih. Ia lantas menatap Jaden dengan kebingungan. "Mau bagaimanapun, aku tidak bisa hidup tanpa seks!" ujar Serly tak ingin munafik. Sebagai wanita dewasa, ia membutuhkan hal itu. Tapi juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi Nyonya Jaden--sebuah gelar yang akan membuat pandangan semua orang menatapnya dengan penuh rasa kagum dan hormat. "Kalau begitu pilih salah satu. Menikah dan tidak mendapatkan kepuasan, atau tidak jadi menikah dan kau bisa mendapatkan kepuasan dari pria lain!" ujar Jaden membuat Serly bimbang.Wanita itu diam sejenak, menatap Jaden dengan lurus. Lalu sebuah ide mencetul. "Kau bisa melakukan pengobatan!" ujar Serly dengan antusias.Jaden menggeleng pelan. "A
"Baby, sebenarnya kau di mana?"Sudah lebih dari lima bulan, dan keluarga Hazard belum berhasil menemukan menantunya yang kabur.Bahkan berita tentang hal ini hampir menyebar luas di kalangan masyarakat, andai Hazard tidak membungkan mereka yang menyebar gosip tidak sedap.Selama itu pula hidup Jaden jadi kacau. Pria itu hanya menghabiskan waktu dengan bekerja dan mencari keberadaan Letha. Sementara Jasper, tetap diminta untuk melakukan aktivitas seperti biasanya oleh Esme--seolah jika ini semua bukan bermula dari bantuannya.Tentu saja Jasper jadi tertekan. Pria yang biasa hidup bebas itu menjadi dirundung rasa bersalah, dan ia diam-diam masih berusaha mencari keberadaan Letha."Baby, aku merindukanmu," gumam Jaden lagi saat menatap layar ponselnya--di mana foto dirinya dan Letha yang sedang berada di luar negeri menjadi gambar utama di sana. Pria itu mendesah pelan, lalu menyimpan ponselnya di atas meja saat tiba-tiba pintu ruangannya dibuka."Honey, ini sudah sangat malam, dan k
"Akhirnya kita sampai," ucap Risha setelah mereka menempuh perjalann yang melelahkan.Perempuan itu langsung duduk lesehan di sebuah gubuk yang dikelilingi oleh pepohonan. Sehingga membuat Letha yang baru pertama kali ke tempat itu menatapnya dengan ngeri."Kakak, apa kita aman tinggal di sini?" tanya Letha setelah ia mengedarkan pandangannya. "Tentu saja! Aku sudah tinggal di sini sudah lebih dari satu bulan. Dan selama tinggal di sini, tidak ada yang terjadi padaku," terang Risha membuat Letha menatapnya dengan ragu."Benarkah?" tanya Letha masih belum percaya.Risha mendesah pelan, lalu menepuk tempat kosong untuk Letha duduki. Sehingga Letha pun duduk dengan ragu."Kau tidak percaya padaku?" tanya Risha berhasil membuat Letha mengatupkan bibirnya. Melihat hal itu lantas membuat Risha kembali berkata, "Jangan khawatir. Meski cukup mengerikan, di sini aman. Orang-orang di sini memang menyukai rumah di tengah kebun seperti ini. Karena kebanyakan dari mereka bertahan hidup dari ha






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.