Masuk“Lo, kenapa..? Gugup..?!” Raka memperhatikan ekspresi Aluna, tangan perempuan itu pun berkali-kali meremas ujung pakaiannya sendiri.
“Iyalah gugup, ketemu orang tua lo.. Gimana kalau akting gua gak bagus.. Gimana kalau orang tua lo gak suka gua dan lo tetep dijodohin, lo pasti bakal batalin kontrak sama gua, kan..?!” matanya menatap tajam penuh waspada ke arah Raka. “Lo kebanyakan nonton Drama..! Ayo masuk..!” Tangannya menggenggam lembut tangan Aluna. Namun tak lama langkah Aluna terhenti tepat di depan gerbang besar yang menjulang kokoh. Matanya membelalak menatap bangunan mewah tampak depannya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Rumah ini, gua jadi ingat Papa dan Mama pertama kali bawa gua masuk rumah mereka..” lirihnya sampai tak ada yang mendengarnya Raka berdiri di sampingnya, tubuh tegapnya seolah semakin membuat Aluna merasa kecil. Pria itu melirik sekilas, lalu dengan santai meraih tangan Aluna. “Jangan bengong. Pegang tangan gua.” Aluna tersentak, segera dia menarik tangannya. “Hei! Lo pikir gue cewek apaan?” Sudut bibir Raka terangkat tipis, ekspresi dinginnya tidak berubah. “Gua nggak peduli mau lo ngomel sepanjang jalan. Yang penting, kalau kita masuk, lo harus terlihat seperti pasangan sungguhan. Mengerti?” Aluna menggertakkan giginya, wajahnya memerah. “Pasangan sungguhan? Modus, ya, lo?” Raka mengabaikan protesnya. Pria itu menggenggam tangan Aluna, lalu menariknya masuk melewati pintu besar yang terbuka lebar. Hati Aluna semakin berdebar. Tangannya dingin, meski genggaman Raka terasa hangat. ‘Kenapa harus deg-degan begini, sih? Ini cuma pura-pura!’ Tak lama, dua sosok muncul dari arah tangga. Seorang pria dengan wajah tegas, sorot mata tajam penuh wibawa, dan seorang wanita anggun dengan senyum tipis namun penuh penilaian. “Papa, Mama…” Raka bersuara, nadanya formal. “Kenalkan, ini Aluna.” Pak Dirga dan Bu Lestari berhenti di hadapan mereka. Tatapan keduanya langsung tertuju pada Aluna, menelusuri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aluna nyaris ingin kabur, tapi genggaman tangan Raka semakin erat. Ia melirik sekilas ke arah pria itu, menemukan tatapan tenang namun dingin yang seolah berkata tenang saja, aku ada di sini. Pak Dirga mengangkat alisnya. “Ini… pacar kamu, Raka?” Suaranya dalam, penuh otoritas. Raka menatap Papanya tanpa berkedip. “Ya. Dia pacarku.” Bu Lestari tersenyum samar, meski matanya jelas sedang menilai. “Cantik. Tapi sepertinya… berbeda dengan tipe yang biasanya dekat denganmu, Raka.” Aluna merasa wajahnya panas. Ia buru-buru membalas dengan nada ceplas-ceplos khas dirinya. “Ehm, Bu… kalau tipe yang biasanya deket sama Raka itu kayak boneka salon, mungkin saya emang beda. Tapi… paling nggak saya asli, bukan palsu.” Raka hampir tersedak mendengar celetukan bar-bar itu. Ia cepat-cepat menegakkan tubuh, menutupi ekspresi yang nyaris pecah. “Aluna.” Suaranya tegas, sedikit menekan, agar gadis itu tidak kelewatan. Namun Pak Dirga justru terangkat bibirnya tipis, seolah menahan tawa. Bu Lestari pun saling pandang dengan suaminya. Ada sesuatu di balik tatapan mereka, rasa penasaran bercampur keraguan. “Baiklah,” ujar Pak Dirga akhirnya. “Kalau begitu, mari duduk. Kita bicara lebih jauh.” Raka menundukkan kepala sedikit, lalu kembali menuntun Aluna. Gadis itu hanya bisa mengikuti Raka dengan cemas, berbisik pelan. “Lo gila, Ka. Gue hampir mati berdiri tadi.” Raka menunduk sedikit, wajahnya mendekat di telinga Aluna. “Tenang. Gua kan udah bilang, gua nggak akan lepasin tangan lo.” Aluna segera menghindari tatapannya, wajahnya sedikit menunduk, “Jangan liatin gua gitu..” Sudut bibir Raka terangkat tipis, tapi matanya tetap dingin menusuk. “Kenapa..? Takut jatuh cinta..?!” Aluna mendengus pelan, tapi jantungnya berdegup kencang. “Gaklah.. Mana mungkin gua cinta es balok..!” gumamnya dengan nada setengah kesal. Rahang Raka langsung mengeras. Tangannya yang masih menggenggam jemari Aluna mengepal erat, seolah menahan sesuatu yang ingin diucapkannya. “Kamu—” suaranya tercekat. Ia tidak melanjutkan kata-katanya, tapi tatapan matanya semakin intens, menelusup dalam ke mata Aluna. ‘Mata itu… kenapa buat gua gelisah…’ batinnya menggeram. Dari kejauhan, Pak Dirga dan Bu Lestari sudah duduk rapi di ruang keluarga. Pandangan mereka tidak lepas dari keduanya, seolah sedang menonton adegan yang jauh lebih menarik dari drama televisi. Pak Dirga menyilangkan tangan di dada, lalu menoleh pada istrinya. “Gimana menurut Mama..?” suaranya rendah, penuh makna. Bu Lestari menghela napas panjang, matanya masih menilai Aluna dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Hmm… entahlah, Pa. Kalau dilihat sekilas dia terlalu blak-blakan, tapi… terkesan apa adanya. Dan juga… cantik.” Pak Dirga mengangguk kecil, sorot matanya tajam, penuh perhitungan. “Aku juga berpikir begitu. Tapi heran juga… dimana Raka mengenalnya? Selama ini dia nggak pernah dekat dengan perempuan. Atau jangan-jangan…” Bu Lestari langsung melirik tajam pada suaminya. “Apa yang Papa pikirkan..?” Pak Dirga mendekat, suaranya nyaris berbisik. “Apa perempuan ini cuma disewa begitu saja oleh Raka, biar kita nggak jodohkan dia…?” Keduanya kembali saling berpandangan, lalu mengalihkan perhatian pada Raka dan Aluna yang akhirnya melangkah mendekat. Raka terlihat santai, penuh wibawa, sementara Aluna justru terlihat kaku dengan tangan yang masih digenggam kuat. Saat mereka sudah duduk berhadapan, Pak Dirga menatap putranya dengan mata penuh selidik. Raka tetap tenang, tubuh tegapnya sedikit condong ke arah Aluna. Sepasang kakinya dibiarkan bersandar santai, tapi satu tangannya dengan jelas menempel pada bahu gadis itu, seolah menandakan kepemilikan. “Berapa lama kalian saling mengenal..?” Pertanyaan Pak Dirga meluncur begitu saja, namun tajam dan menekan. “Satu bulan..” jawab Raka mantap, tanpa keraguan. “Satu minggu..” jawab Aluna nyaris bersamaan. Suasana mendadak hening. Raka dan Aluna saling menoleh, tatapan mereka bertubrukan penuh tanda tanya. Pak Dirga mengangkat alis, matanya mengeras. “Kenapa jawabnya nggak sama..? Kamu dan Aluna beneran pacaran… atau hanya mau bohongin Papa dan Mama, Raka..?” Tatapan itu membuat suasana semakin menegangkan. Udara seakan menekan, dan untuk pertama kalinya, sorot mata seorang CEO dingin seperti Raka tampak sedikit terguncang. Namun ia cepat menutupi dengan ekspresi tegas. “Tentu aja beneran, Pa. Masa iya bohong..” Suaranya mantap, lalu tanpa ragu tangannya melingkar ke bahu Aluna, mendekatkan gadis itu padanya. Kepalanya sedikit menoleh, tatapan tajam namun penuh sinyal tersembunyi. “Iyakan, sayang..?” Aluna nyaris tersedak, wajahnya merah padam. Namun dengan cepat ia memaksakan senyum dan mengangguk mantap beberapa kali. “I-iya dong..! Tentu saja..” Pak Dirga menyipitkan mata, seolah masih belum puas. Bu Lestari hanya menatap lekat, ekspresinya sulit ditebak. “Mmm… kalau gitu…” suara Pak Dirga tiba-tiba memecah keheningan, kali ini lebih tajam. “Kapan kalian menikah..?” Pertanyaan itu meledak di udara, spontan membuat Raka dan Aluna berbatuk bersamaan. “Uhuukkk.. uhuukkk.. uhuukkk..” Mereka berdua saling pandang, sama-sama terperangah. ‘Menikah…?!’ gumam keduanya dalam hati, seolah tersambar petir di siang bolong. ***Beberapa bulan berlalu dengan cepat, membawa Raka dan Aluna semakin dekat menuju hari kebahagiaan yang mereka nantikan. Aluna kini tinggal sepenuhnya di Mansion yang telah disiapkan Raka, dilengkapi dengan fasilitas dan pengamanan terbaik, serta perawat dan bidan khusus yang siaga 24 jam untuk kehamilan quadrupletnya. Selama masa kehamilan yang berat ini, Raka benar-benar membuktikan julukannya sebagai King pelindung. Ia memangkas jadwal kerjanya, sering mengambil rapat online dari rumah, memastikan ia selalu berada di dekat Aluna. Raka menepati janjinya pada Dokter Clara untuk menjaga keintiman secara aman. Di malam hari, keintiman mereka mencapai level yang baru dan mendalam. Raka akan menghabiskan waktu berjam-jam memijat kaki Aluna yang membengkak karena membawa beban empat janin. Ia akan membelai perut Aluna yang kini sangat besar dengan penuh cinta dan kekaguman, bibirnya berbisik penuh janji-janji mesra pada empat calon pewarisnya. Suatu malam, Raka berbaring miring, wajah
Satu bulan telah berlalu sejak masalah pengkhianatan dan penangkapan itu. Kekuatan cinta dan kebersamaan telah mengalahkan segala masalah yang mereka hadapi. Raka dan Aluna sepakat untuk merayakan kebebasan Alvian di Mansion Keluarga Aluna, sebuah janji simbolis bahwa Alvian telah kembali pulang ke keluarga, siap memulai babak baru. Saat mobil hitam Raka memasuki gerbang mansion yang megah, Aluna, yang duduk di kursi penumpang dengan sabuk pengaman yang disesuaikan untuk kehamilannya, tersenyum lebar. Kehamilannya sudah mulai terlihat, menjadi bukti nyata dari janji cinta mereka. Raka mencium pipinya, memancarkan kebahagiaan dan gairah yang terpendam. “Siap membuat Papa dan Mama lo pingsan karena kabar baik, sayang?” bisik Raka, matanya penuh gairah yang hanya bisa ia tunjukkan kepada istrinya. Aluna tertawa, tawanya merdu. “Mereka pasti akan senang melihatmu, Raka, meskipun mereka akan terkejut mendengar kehamilan ku yang kembar empat.” Di dalam mansion, suasana penuh kebaha
Setelah Alvian dan Pak Aditya dibawa pergi, Raka dengan perlahan mendorong kursi roda Aluna kembali ke kamar VVIP. Ia memastikan ruangan sekitar aman dengan menempatkan beberapa bodyguard yang sangat terpercaya di depan ruangan.“Pastikan tidak membiarkan siapapun masuk, bahkan perawat dan dokter sekalipun, tanpa izin langsung dari saya!”“Baik Pak Raka..”Begitu pintu kamar tertutup, Raka menguncinya, menjauhkan mereka dari dunia luar yang penuh bahaya dan kekacauan. Ia mengangkat Aluna dari kursi roda dengan hati-hati, memeluknya ke dada.“Kita aman, Sayang. Hanya kita berdua sekarang,” bisik Raka, menciumi rambut Aluna yang harum. Raka membawa Aluna ke ranjang, membaringkannya perlahan, lalu naik ke ranjang, memposisikan dirinya di samping Aluna, menyandarkan istrinya ke lengan kokohnya.“Gua takut sekali, Raka,” bisik Aluna, suaranya serak. Ia memeluk pinggang Raka, merasakan setiap lekuk tubuh suaminya, mencari kehangatan dan kep
Suara tembakan itu memecah keheningan di koridor rumah sakit, menggantikan suasana tegang menjadi kepanikan sesaat. Peluru itu mengenai bahu pria yang mencoba menembak Raka, yang segera tersungkur.Seseorang tertembak.Raka dan Aluna saling berpandangan, dengan kompak saling bertanya, “Kamu baik-baik saja?!”“Lo nggak apa-apa, Sayang?” Raka memutar tubuh Aluna, memeriksa apakah ada goresan atau cedera.Aluna menggeleng cepat. “Aku aman, Raka. Tapi kamu..” Air mata kembali menetes di pipinya. Ia menarik Raka, mendekapnya erat dari kursi roda, menciumi dada Raka untuk memastikan keberadaannya.“Kalian baik-baik saja?!” Radit yang segera berlari menghampiri, pistolnya masih siaga.Tidak lama Alvian pun juga menghampiri, diapit oleh polisi. “Kalian tidak ada yang terluka, kan?!” tanyanya cemas.“Kami baik-baik saja..” Raka menghela napas panjang, membalas pelukan Aluna erat sebelum melepaskannya perlahan. “Tapi siapa
“Baiklah,” Raka akhirnya mengalah. “Tapi ini di bawah pengawasan dan pengawalan gua dan Radit. Tidak ada pergerakan berlebihan, tidak ada kelelahan, dan hanya sepuluh menit. Setelah itu, lo kembali ke sini dan istirahat.”“Iya Raka, gua terima syarat lo.. Makasih sayang..” suara Aluan terdengar lega dan manja. Raka mencium bibir Akuna sesat lalu menghubungi Radit dan Kapten Polisi yang menangani kasus Kayla dan Alvian.Raka menggunakan pengaruh dan koneksinya, menekankan kondisi psikologis Alvian yang membutuhkan konfirmasi langsung dari kembarannya dan menyatakan bahwa kondisi Aluna aman. Ia juga meyakinkan Kapten Polisi bahwa Alvian akan segera bebas dan akan bergabung dengan Wijaya Global, menjamin bahwa Alvian tidak akan melarikan diri.Setelah negosiasi yang cukup sulit, Kapten Polisi setuju karena Radit juga akhirnya menghubungi dan menunjukkan jaminan atas kebebasan Alvian yang sedang dalam proses hukum. Mereka akhirnya setuju membawa Alvian ke rumah sakit dengan pengawala
Raka tiba di rumah sakit terdekat dengan mobil polisi, membopong Aluna erat-erat ke dadanya. Petugas medis segera menyambut mereka, dan Aluna langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Raka, dengan wajah panik dan tegang, berusaha mengikuti."Maaf, Pak, Anda tunggu di luar saja," kata seorang perawat."Saya suaminya! Saya harus di sana!" bentak Raka, suaranya dipenuhi otoritas dan kecemasan. Kekhawatiran akan kondisi Aluna, terutama keempat janin mereka, mengalahkan segalanya.Dokter yang akan memeriksa Aluna melihat ketegasan dan kepanikan di mata Raka dan menghela napas. "Baiklah, tapi Anda harus tenang dan tidak membuat gaduh di dalam. Kami perlu fokus.""Saya janji, Dok," jawab Raka cepat, mengikuti langkah brankar Aluna.Raka mendampingi Aluna, menggenggam erat tangan wanita itu. Di tengah kepanikan dan rasa sakit yang menusuk, genggaman Raka adalah satu-satunya jangkar yang menahan Aluna. Dokter mulai memeriksa, memastikan tidak ada cedera fisik yang serius, dan yang paling pen







