Mag-log inBibir Aluna mengerucut sempurna saat mobil hitam yang dikemudikan sopir sudah melaju meninggalkan penthouse. Dari kaca jendela, pantulan wajahnya tampak muram. Sementara itu, Raka beberapa kali melirik ke arahnya. Ekspresi perempuan itu seperti anak kecil yang sedang merajuk.
“Lo kenapa?” Suara Raka akhirnya pecah, dingin, tanpa menoleh penuh. "Gua ada interview, Raka…” Aluna menoleh, matanya memohon. “Lo ngajak ke rumah orang tua lo dadakan. Bisa nggak sih ditunda nanti siang, atau malam sekalian?” Tatapan Raka menusuk, alisnya berkerut. Tapi Aluna tak mengalihkan pandangan, seolah berusaha menembus pertahanannya. ‘Sial. Gua benci tatapan itu…’ geram Raka dalam hati. Dadanya terasa aneh, tapi wajahnya tetap datar saat menoleh kembali ke depan. Tiba-tiba tangan mungil Aluna menyentuh lengannya, bergelayut manja. “Raka, gua interview dulu ya. Janji deh, setelah selesai langsung ikut lo ke rumah orang tua lo. Boleh ya?” “Lepasin tangan lo.” Nada suara Raka dingin, tapi ada getar samar di ujungnya. Aluna mendengus, menarik tangannya lalu melipat di dada. “Ya udah, terserah lo!” gumamnya kesal, menatap keluar jendela. ‘Ck. Gimana nih! Panggilan kerja ini sudah lama gua tunggu. Sekarang ada kesempatan, malah ketahan begini. Sial…!’ umpat Aluna dalam hati. Raka sempat melirik wajah muram itu. Bibirnya ingin bergerak, tapi terhenti oleh getar ponsel di saku jasnya. Ia segera mengangkatnya. [Halo Pa, ada apa lagi?] [Kamu beneran udah punya pacar?] Raka terdiam. Matanya melirik sekilas ke arah Aluna yang masih cemberut. [Udah, Pa.] [Bawa dia ke rumah hari ini! Kalau nggak, kamu nikah bulan depan!] Raka mengepalkan tangannya. [Aku siap bawa dia ke rumah hari ini. Tapi…] [Tapi apa? Jangan buat alasan lagi!] [Tapi nanti sore aja, sekalian makan malam.] Seketika Aluna menoleh, tatapannya sulit ditebak. Senyum tipis muncul di bibirnya, membuat dada Raka bergetar aneh. [Baik. Papa dan Mama tunggu. Kalau kamu nggak datang, nikah sama Kayla bulan depan!] Telepon terputus. Raka menghela napas panjang. Ketika menoleh, Aluna sudah memperhatikannya. “Ngapain liat gua gitu? Mupeng?” sungutnya ketus. Aluna tersenyum manis, kali ini tulus. “Makasih, Ka…” Raka sempat kehilangan kata. Senyum itu seperti cahaya yang berbahaya. Dia cepat mengalihkan pandangan. “Lo mau interview di mana? Gua antar.” “Interview di—” Ponselnya kembali berdering. Raka mengangkat dengan wajah tegang. [Ada apa, Dit?] [Lo di mana? Lo lupa ada meeting sekarang?!] [Astaga… gue lupa! Oke, gua langsung kesana!] Telepon terputus. Raka menatap Aluna, ada penyesalan samar. “Gua ada rapat sekarang. Nggak bisa antar lo. Lo naik taksi gak apa-apa?” Aluna menegakkan bahunya, berusaha terlihat santai. “Oke. Gak masalah. Turunin gua di halte depan aja, banyak taksi di sana.” Mobil berhenti. Aluna bersiap turun, tapi tangan Raka menahan pergelangan tangannya. “Lo yakin nggak apa-apa?” Tatapannya tajam, tapi ada kekhawatiran tersembunyi. “Tenang aja. Gua udah biasa.” Aluna tersenyum kecil. “Sekarang, lepasin tangan gua, Raka. Atau lo nggak rela jauh dari gua, ya?” godanya sambil menaikkan alis. “Cih… geer. Turun sana. Gua telat.” Raka cepat-cepat melepasnya. “Oke, gua turun.” Aluna menutup pintu, melangkah ke arah pangkalan taksi. Sementara mobil Raka melaju cepat ke arah perusahaan. ** Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, taxi Aluna berhenti di depan gedung perkantoran tinggi tempatnya akan interview. Dia menarik napas dalam, merapikan gaunnya yang sederhana namun rapi. “Hhh… akhirnya sampai juga.” Aluna berjalan dengan percaya diri. Setelah bertanya ke resepsionis, ia menuju lantai tiga. Ruangan itu sudah penuh oleh para pelamar dengan wajah tegang. “Ya ampun… ternyata banyak banget. Gua telat lagi. Sial.” Aluna duduk di kursi kosong, menunggu giliran sambil menggenggam map lamaran erat-erat. Hampir satu jam kemudian, namanya dipanggil. Ia masuk ke ruang interview dengan langkah penuh percaya diri, meski jantungnya berdetak cepat. Di seberang meja duduk tiga orang pewawancara. “Silakan duduk, Bu Aluna,” salah satu dari mereka menyapa. “Terima kasih,” jawab Aluna sopan. Namun saat ia duduk, pintu ruangan itu masih sedikit terbuka. Aluna melihat seorang pria masuk dengan langkah tegas melewati ruangannya. ‘Eh.. Kenapa laki-laki itu mirip.. Raka..?’ gumamnya. * Setelah 30 menit berada di dalam ruang interview akhirnya Aluna keluar juga. Dia berusaha mengatur nafasnya yang sempat memburu. Setelah menunggu beberapa lama tadi, kini ia merasa lega meskipun sedikit kesal pada dirinya sendiri yang sempat ceplas-ceplos saat menjawab. “Duh, semoga mereka nggak nganggep gua kurang ajar,” gumamnya sambil melangkah cepat. Seorang pria berdiri di sana, berjalan tegas dengan rompi jas yang rapi. Aura berwibawa langsung menyelimuti sekitarnya. Tatapan tajam itu bertemu dengan mata Aluna. ‘Astaga.. Itu beneran.. Raka?!’ Mata Aluna membesar, bibirnya terbuka lebar tanpa sadar. “Lo…?!” Raka pun terhenti. Tatapannya dingin, tapi jelas ada kejutan yang sempat melintas di matanya sebelum cepat-cepat ia sembunyikan. “Lo ngapain disini?” suaranya berat, datar. Aluna mendengus, melipat tangan di dada. “Harusnya gua yang nanya. Jangan-jangan… jangan bilang perusahaan ini punya lo?!” Raka menaikkan alisnya, ekspresinya tetap dingin. “Baru sadar? Telat.” “Ya ampun…” Aluna menepuk jidatnya sendiri, setengah frustasi. “Pantes tadi pas interview gua ngerasa kayak ada aura singa lapar masuk. Ternyata beneran lo..” Raka mendekat selangkah, membuat Aluna spontan mundur satu langkah. Wibawanya begitu menekan. “Lo barusan interview di perusahaan gue, dan lo pikir bisa lolos dengan gaya ceplas-ceplos kayak tadi? Oh ya, satu lagi.. Jangan pikir karena lo pacar kontrak gua, jadi lo dapat perlakuan istimewa..!” Aluna menatap balik tanpa gentar, meski dalam hati bergetar. “Hei, setidaknya gua jujur. Gua nggak kayak pelamar lain yang manis di bibir tapi zonk di kerjaan. Gue asli, apa adanya. Lo yang butuh pekerja kompeten, kan? Bukan boneka manis.” Raka menatapnya lama. Dingin, menusuk. Tapi entah kenapa, sudut bibirnya terangkat samar. “Berisik lo. Minggir..” Aluna melotot. “Apa lo bilang?!” Raka mendengus, lalu berjalan melewatinya. “Gua ada meeting. Lo tunggu gua di ruang tunggu lantai bawah aja.” Aluna menoleh cepat, wajahnya kaget. “Apa?! Nungguin lo..?” Raka berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan penuh wibawa. “Lo pacar kontrak gue, dan calon karyawan gue. Nanti mau ke rumah gua, jadi lo tunggu gue..!” Tanpa menunggu jawaban, Raka melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang membuat Aluna menegang di tempat. Aluna menggertakkan gigi. “Sialan. Hidup gua makin tertekan..! Tapi… kok deg-degan begini sih?!” ***Beberapa bulan berlalu dengan cepat, membawa Raka dan Aluna semakin dekat menuju hari kebahagiaan yang mereka nantikan. Aluna kini tinggal sepenuhnya di Mansion yang telah disiapkan Raka, dilengkapi dengan fasilitas dan pengamanan terbaik, serta perawat dan bidan khusus yang siaga 24 jam untuk kehamilan quadrupletnya. Selama masa kehamilan yang berat ini, Raka benar-benar membuktikan julukannya sebagai King pelindung. Ia memangkas jadwal kerjanya, sering mengambil rapat online dari rumah, memastikan ia selalu berada di dekat Aluna. Raka menepati janjinya pada Dokter Clara untuk menjaga keintiman secara aman. Di malam hari, keintiman mereka mencapai level yang baru dan mendalam. Raka akan menghabiskan waktu berjam-jam memijat kaki Aluna yang membengkak karena membawa beban empat janin. Ia akan membelai perut Aluna yang kini sangat besar dengan penuh cinta dan kekaguman, bibirnya berbisik penuh janji-janji mesra pada empat calon pewarisnya. Suatu malam, Raka berbaring miring, wajah
Satu bulan telah berlalu sejak masalah pengkhianatan dan penangkapan itu. Kekuatan cinta dan kebersamaan telah mengalahkan segala masalah yang mereka hadapi. Raka dan Aluna sepakat untuk merayakan kebebasan Alvian di Mansion Keluarga Aluna, sebuah janji simbolis bahwa Alvian telah kembali pulang ke keluarga, siap memulai babak baru. Saat mobil hitam Raka memasuki gerbang mansion yang megah, Aluna, yang duduk di kursi penumpang dengan sabuk pengaman yang disesuaikan untuk kehamilannya, tersenyum lebar. Kehamilannya sudah mulai terlihat, menjadi bukti nyata dari janji cinta mereka. Raka mencium pipinya, memancarkan kebahagiaan dan gairah yang terpendam. “Siap membuat Papa dan Mama lo pingsan karena kabar baik, sayang?” bisik Raka, matanya penuh gairah yang hanya bisa ia tunjukkan kepada istrinya. Aluna tertawa, tawanya merdu. “Mereka pasti akan senang melihatmu, Raka, meskipun mereka akan terkejut mendengar kehamilan ku yang kembar empat.” Di dalam mansion, suasana penuh kebaha
Setelah Alvian dan Pak Aditya dibawa pergi, Raka dengan perlahan mendorong kursi roda Aluna kembali ke kamar VVIP. Ia memastikan ruangan sekitar aman dengan menempatkan beberapa bodyguard yang sangat terpercaya di depan ruangan.“Pastikan tidak membiarkan siapapun masuk, bahkan perawat dan dokter sekalipun, tanpa izin langsung dari saya!”“Baik Pak Raka..”Begitu pintu kamar tertutup, Raka menguncinya, menjauhkan mereka dari dunia luar yang penuh bahaya dan kekacauan. Ia mengangkat Aluna dari kursi roda dengan hati-hati, memeluknya ke dada.“Kita aman, Sayang. Hanya kita berdua sekarang,” bisik Raka, menciumi rambut Aluna yang harum. Raka membawa Aluna ke ranjang, membaringkannya perlahan, lalu naik ke ranjang, memposisikan dirinya di samping Aluna, menyandarkan istrinya ke lengan kokohnya.“Gua takut sekali, Raka,” bisik Aluna, suaranya serak. Ia memeluk pinggang Raka, merasakan setiap lekuk tubuh suaminya, mencari kehangatan dan kep
Suara tembakan itu memecah keheningan di koridor rumah sakit, menggantikan suasana tegang menjadi kepanikan sesaat. Peluru itu mengenai bahu pria yang mencoba menembak Raka, yang segera tersungkur.Seseorang tertembak.Raka dan Aluna saling berpandangan, dengan kompak saling bertanya, “Kamu baik-baik saja?!”“Lo nggak apa-apa, Sayang?” Raka memutar tubuh Aluna, memeriksa apakah ada goresan atau cedera.Aluna menggeleng cepat. “Aku aman, Raka. Tapi kamu..” Air mata kembali menetes di pipinya. Ia menarik Raka, mendekapnya erat dari kursi roda, menciumi dada Raka untuk memastikan keberadaannya.“Kalian baik-baik saja?!” Radit yang segera berlari menghampiri, pistolnya masih siaga.Tidak lama Alvian pun juga menghampiri, diapit oleh polisi. “Kalian tidak ada yang terluka, kan?!” tanyanya cemas.“Kami baik-baik saja..” Raka menghela napas panjang, membalas pelukan Aluna erat sebelum melepaskannya perlahan. “Tapi siapa
“Baiklah,” Raka akhirnya mengalah. “Tapi ini di bawah pengawasan dan pengawalan gua dan Radit. Tidak ada pergerakan berlebihan, tidak ada kelelahan, dan hanya sepuluh menit. Setelah itu, lo kembali ke sini dan istirahat.”“Iya Raka, gua terima syarat lo.. Makasih sayang..” suara Aluan terdengar lega dan manja. Raka mencium bibir Akuna sesat lalu menghubungi Radit dan Kapten Polisi yang menangani kasus Kayla dan Alvian.Raka menggunakan pengaruh dan koneksinya, menekankan kondisi psikologis Alvian yang membutuhkan konfirmasi langsung dari kembarannya dan menyatakan bahwa kondisi Aluna aman. Ia juga meyakinkan Kapten Polisi bahwa Alvian akan segera bebas dan akan bergabung dengan Wijaya Global, menjamin bahwa Alvian tidak akan melarikan diri.Setelah negosiasi yang cukup sulit, Kapten Polisi setuju karena Radit juga akhirnya menghubungi dan menunjukkan jaminan atas kebebasan Alvian yang sedang dalam proses hukum. Mereka akhirnya setuju membawa Alvian ke rumah sakit dengan pengawala
Raka tiba di rumah sakit terdekat dengan mobil polisi, membopong Aluna erat-erat ke dadanya. Petugas medis segera menyambut mereka, dan Aluna langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Raka, dengan wajah panik dan tegang, berusaha mengikuti."Maaf, Pak, Anda tunggu di luar saja," kata seorang perawat."Saya suaminya! Saya harus di sana!" bentak Raka, suaranya dipenuhi otoritas dan kecemasan. Kekhawatiran akan kondisi Aluna, terutama keempat janin mereka, mengalahkan segalanya.Dokter yang akan memeriksa Aluna melihat ketegasan dan kepanikan di mata Raka dan menghela napas. "Baiklah, tapi Anda harus tenang dan tidak membuat gaduh di dalam. Kami perlu fokus.""Saya janji, Dok," jawab Raka cepat, mengikuti langkah brankar Aluna.Raka mendampingi Aluna, menggenggam erat tangan wanita itu. Di tengah kepanikan dan rasa sakit yang menusuk, genggaman Raka adalah satu-satunya jangkar yang menahan Aluna. Dokter mulai memeriksa, memastikan tidak ada cedera fisik yang serius, dan yang paling pen







