Share

Bab 152

Author: Lalacolla
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-15 15:38:52

Dua hari bukanlah waktu yang terlalu lama bagi sebagian orang. Namun, bagi Noval, dua hari yang dihabiskannya di Jakarta terasa jauh lebih panjang daripada yang dia bayangkan.

Kesibukan proyek yang sedang ditanganinya membuat laki-laki itu hampir tidak memiliki waktu luang. Sejak pagi hingga malam, dia harus menghadiri rapat, memeriksa perkembangan pekerjaan, dan berdiskusi dengan beberapa orang yang terlibat dalam proyek tersebut.

Meski demikian, bukan berarti Novel melupakan kekasihnya itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 154

    Tok-tokBaru sekali terdengar ketukan pintu. Namun, Chandani sudah berjalan cepat menuju pintu.Chandani bahkan tidak sempat memeriksa siapa yang datang melalui lubang pengintip. Entah mengapa, sejak beberapa menit lalu, dia sudah memiliki firasat bahwa Noval akan segera tiba.Begitu pintu dibuka, senyum Noval langsung menyambutnya."Selamat malam."Chandani baru hendak membalas ketika laki-laki itu melangkah maju dan langsung menghamburkan pelukan kepadanya."Mas Noval, ih.”Noval tertawa kecil sambil memeluknya erat. "Kenapa? Nggak boleh?""Boleh, tapi ...."Kalimat Chandani terputus ketika Noval menundukkan kepala dan mengecup pelan puncak kepalanya."Aku masih kangen sekali." bisiknya.Kali ini, Chandani tidak membantah. Dia justru mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan laki-laki itu dengan erat."Aku juga kangen banget.” ucapnya lirih.Noval terdiam. Kemudian, dia sedikit melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Chandani."Sudah, ayo masuk dulu Mas."Noval menurut, t

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 153

    "Nadel" Noval segera menghampiri putrinya yang berada di gendongan Mamanya.Begitu melihat Noval, Nadel menggerakkan kedua tangannya sambil mengeluarkan suara kecil.Wajah Noval langsung berubah cerah. "Aduh, anak Papa. Makin cantik aja. Noval menggendong Nadel dengan hati-hati. Setelah memastikan posisi tubuh anak itu nyaman, Noval mengecup pipinya berkali-kali."Papa pulang, Sayang."Nadel mengeluarkan suara yang membuat Noval tertawa."Kamu kangen Papa, ya?"Anak itu kembali bergerak-gerak kecil dalam pelukannya.Noval tersenyum lebar. "Papa juga kangen sekali sama kamu."Noval mengusap punggung Nadel dengan lembut, kemudian menatap wajah putrinya seolah sedang berusaha mengingat setiap detail yang dirindukannya selama dua hari terakhir.“Ini tadi siapa yang ngikat rambutnya?”“Chandani yang ikat.” Mama Remita tersenyum ke arah Chandani.Chandani berdiri tidak jauh dari mereka. Dia memperhatikan Noval dengan perasaan hangat.Laki-laki itu baru saja menempuh perjalanan dari Jakarta

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 152

    Dua hari bukanlah waktu yang terlalu lama bagi sebagian orang. Namun, bagi Noval, dua hari yang dihabiskannya di Jakarta terasa jauh lebih panjang daripada yang dia bayangkan.Kesibukan proyek yang sedang ditanganinya membuat laki-laki itu hampir tidak memiliki waktu luang. Sejak pagi hingga malam, dia harus menghadiri rapat, memeriksa perkembangan pekerjaan, dan berdiskusi dengan beberapa orang yang terlibat dalam proyek tersebut. Meski demikian, bukan berarti Novel melupakan kekasihnya itu.Justru di tengah kesibukannya, Noval semakin menyadari betapa dia merindukan hal-hal kecil yang biasa dilakukan bersama Chandani.Mendengar perempuan itu bercerita tentang pasien-pasiennya. Melihatnya mengerutkan kening ketika sedang memikirkan sesuatu. Atau sekadar duduk berdua tanpa melakukan apa pun, sementara Chandani sibuk membaca novel dan dirinya menyelesaikan pekerjaan.Hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa saja, kini justru menjadi sesuatu yang ingin segera dia temui kembali.Setel

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 151

    “Terima kasih,” ucap Chandani datar ketika pegawai kafe mengkonfirmasi pesanan mereka. Duna memasukkan kembali kartu kreditnya ke dalam dompet. Dia semakin mendekat kearah tubuh Chandani. “Kamu menghindariku?” Chandani menatapnya sekilas. “Enggak.” “Kalau nggak menghindariku, kenapa tadi kamu langsung berbelok begitu setelah melihatku?” “Emang dari awal aku mau ke kafe.” ucapnya berbohong. “Padahal kamu tadi udah berjalan ke arah kanan. Lift ada di sebelah kanan. Kafe ke sebelah kiri.” Duna tidak ingin mengalah. “Duna, aku nggak punya kewajiban menjelaskan setiap arah langkahku ke kamu!” Kalimat itu membuat Duna terdiam sejenak. Duna memperhatikan wajah Chandani, mencari sedikit saja kelembutan yang dahulu selalu diberikan perempuan itu kepadanya. Namun, yang didapatkannya hanya tatapan tenang dengan jarak yang terasa semakin nyata. “Padahal kita masih bisa jadi teman, Chan,” katanya akhirnya. Seorang karyawan kafe memberikan dua pesanan kepada Chandan. Chandani

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 150

    Sore itu, setelah menghabiskan es krim di sebuah kedai kecil, Noval mengantarkan Chandani kembali ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, Noval sibuk mengemudikan mobil dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sibuk mengusap sisa es krim di ujung bibir Chandani. Sesekali, laki-laki itu melirik Chandani dan tersenyum kecil.“Kenyang?” tanya Noval.Chandani mengangguk. “Kenyang. Padahal tadi aku cuma mau makan es krim, tetapi mas Noval malah beliin roti juga.”“Nggak papa dong sayang. Kalau kamu kenyang, istirahat nya juga nyaman.”Chandani terkekeh. “Padahal tadi aku sudah makan siang.”“Tapi itu kan beberapa jam yang lalu. Udah jadi tenaga. Saatnya mengisi ulang tenaga lagi.”“Kalau mas Noval keseringan belikan aku makanan. Terus aku jadi mengandalkan mas Noval gimana? .”“Lho, aku siap diandalkan dalam segala situasi. Diandalkan dalam kehidupanmu sehari-hari juga aku siap, sayang.”“Maksudnya?” tanya Chandani sedikit bingung. “Jadi suami kamu.”Chandani menoleh, mendapati Nov

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 149

    Pagi itu, klinik Griya Physio milik Chandani sudah dipenuhi pasien bahkan sebelum jam pelayanan menunjukkan pukul setengah sembilan.Suara percakapan terdengar bersahutan dari ruang tunggu. Beberapa pasien duduk di kursi yang disediakan, sementara yang lainnya menunggu giliran dengan didampingi anggota keluarga. Seorang pria paruh baya duduk di kursi roda, ditemani istrinya yang sesekali mengusap bahunya. Tidak jauh dari sana, seorang perempuan muda terlihat memegangi pinggangnya sambil menahan rasa tidak nyaman.Chandani baru saja selesai membantu seorang pasien stroke menjalani latihan berjalan ketika Rika menghampiri sambil membawa berkas pemeriksaan."Mbak, pasien HNP bed berapa?"“Bed satu aja. “Hari ini benar-benar berbeda dari biasanya. Jumlah pasien yang datang meningkat tajam. Beberapa pasien membutuhkan terapi pasca stroke untuk melatih kembali kekuatan otot dan keseimbangan tubuh. Ada pula pasien dengan hernia nukleus pulposus (HNP) yang memerlukan penanganan untuk membant

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status