Share

Bab 64

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-08-09 16:13:16

“Ya.” Chandani memanggil Cahya dengan suara pelan. “Apa ini sudah waktunya aku membuka hati ya?”

Ada keraguan besar dari dalam hati Chandani. Karena kegagalan hubungannya dengan Duna. Dia mulai meragukan banyak hal. Salah satunya adalah tentang perasaan Noval kepadanya.

Kemarin, Noval sudah berhasil menyakinkan dirinya. Tapi entah kenapa, rasa ragu itu muncul kembali. Chandani saat ini merasa kebingungan dengan perasaannya sendiri.

“Aku ragu. Aku takut gagal lagi. Tapi disisi lain, aku juga ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 71

    Siang ini, niat awal Noval adalah pergi ke apartemen Chandani. Karena jamur dan usus krispi di Laguna tadi sangat lezat. Noval ingin mengantarkan jamur dan usus krispi untuk camilan Chandani. Lalu kembali ke kantor. Tapi, dia malah melihat adegan yang membuat hatinya mendidih. Duna - laki-laki menyebalkan itu memeluk Chandani. Dan yang lebih membuatnya cemburu adalah, Chandani diam tidak memberontak. Padahal beberapa hari yang lalu, saat Duna memegang tangannya, Chandani langsung berontak . Kenapa kali ini tidak? Noval seperti merasa satu langkah kehilangan Chandani.Noval meninggalkan apartemen Chandani dengan perasaan campur aduk. Noval berpikir, lebih baik dia kembali ke kantor sekarang. Saat dia mulai berjalan menjauh, suara seorang wanita membuatnya berhenti.“Mas Noval.” Chandani memanggil namanya, lalu berlari.Dahulu, Noval merasa sedikit geli. Saat melihat sebuah adegan di drama, saat seorang pemeran utama wanita berlari ke arah pemeran utama laki-laki. Tapi kali ini, saat m

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 70

    Dengan penuh tenaga, Chandani akhirnya mendorong tubuh Duna. Sedikit hentakan, membuat kakinya terasa sakit. Napas Chandani memburu karena menahan rasa sakit di kakinya dan juga menahan emosinya.“Udah gila kamu ya!” Chandani menahan diri untuk tidak mengumpat Duna. laki-laki, sialan! Umpat Chandani dari dalam hati.Saat akan memasuki apartemen. Duna menghalangi Chandani. Dia kembali mencoba memeluk Chandani dengan paksa.“Iya, aku sudah gila. Aku gila karena kamu Chan!”“Duna!” Chandani mencoba melepaskan pelukan Duna, tapi gagal. Laki-laki itu memeluknya dengan sekuat tenaga. Chandani seperti kehabisan tenaga karena memberontak.“Aku nggak akan lepasin kamu lagi Chan. Aku akan berusaha dapatkan hati kamu lagi!”Chandani akhirnya menyerah. Semakin dia memberontak. Semakin kuat Duna memeluknya. Dia membiarkan Duna memeluknya. Setelah dua menit Duna melepaskan pelukannya.Plak…Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Duna.“Dasar orang gila!” rahang Chandani mengeras, matanya ter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 69

    “Selamat pagi cantiknya papa.”Noval menyapa, lalu mencium Nadel yang baru bangun tidur. Noval menggelitik perut Nadel hingga membuat gadis kecilnya itu tertawa. Nadel menyapa kehadiran Noval dengan senyum ceria, khasnya.“Maaf ya. Papa tinggal-tinggal terus.” Noval mencium kedua pipi Nadel. “Nadel mau mandi? Mandi sama bude Ita ya?”Wanita paruh baya memasuki kamar bercat pink itu sambil membawa handuk. Bude Ita lalu menyiapkan baju ganti untuk Nadel. Lalu minyak telon dan skincare yang biasa Nadel gunakan.“Bude, nanti mbak Rahma ke sini agak sore katanya. Sekitar jam setengah lima. Kalau saya belum pulang, tolong temani Nadel terapi wicara ya?”“Siap pak Noval.”“Nanti, saya kasih banyak bonus, bude.”“Haduh, pak Noval sudah banyak kasih bonus. Tenang saja, ini kan sudah tugas saya.” jawab bude Ita sambil menggendong Nadel. “Sudah waktunya mandi, anak cantik.”Bude Ita adalah sosok yang telaten mengurus Nadel. Karena kondisi Nadel spesial, Noval sangat selektif mencari pengasuh unt

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 68

    Pagi ini, saat Chandani terbangun. Noval tengah sibuk berada di depan kompor. Laki-laki itu sepertinya sedang membuat sarapan. Tadi malam, saat Chandani terbangun ke kamar mandi. Noval tengah tidur meringkuk di sofa. Sofa itu tidak cukup panjang untuk tinggi badan Noval.Chandani ingin menawari Noval untuk tidur di kasur, tapi dia merasa ragu. Apakah terkesan tidak sopan? Karena mereka baru saja berkenalan.Selama satu minggu mereka saling berkenalan, Noval memperlakukan Chandani dengan sangat baik. Noval juga bisa menghilangkan sedikit demi sedikit keraguan di hati Chandani. Cekrek…Dari jauh Chandani mengambil foto Noval dari belakang. Bahkan, di lihat dari belakang. Punggung bidang laki-laki itu tampak tampan. Dengan tertatih, Chandani menghampiri Noval. Memeluk laki-laki itu dari belakang.“Selamat pagi.” sapa Chandani.Sebuah sapaan dan pelukan yang membuat jantung Noval seakan-akan berhenti saat itu juga.“Selamat pagi.” jawab Noval dengan suara sedikit bergetar karena gugup.C

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 67

    Setelah saling beradu tatapan selama dua menit. Akhirnya Chandani menyerah dan memalingkan wajahnya. Melihat wajah tampan Noval dengan jarak sedekat itu benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Saat ini, jika Chandani sedang melakukan pemeriksaan elektrokardiogram, akan didapatkan hasil takikardia.Senyum Noval semakin membuat Chandani salah tingkah. Chandani akhirnya memilih untuk fokus menghabiskan kiwi smoothiesnya.Matanya melirik Noval yang kembali sibuk dengan tabletnya. Ada banyak sisi Noval yang Chandani ketahui. Noval yang dewasa dan selalu bisa menenangkannya. Noval yang bersikap dingin dengan orang lain. Noval yang sangat tampan ketika fokus bekerja. “Kenapa lihat-lihat?” tanya Noval yang masih fokus dengan tabletnya.“Siapa yang lihat-lihat?” Chandani menjadi salah tingkah.“Keliatan kok.”“Mas Noval punya mata di telinga ya?”Noval mendekatkan telinganya kepada Chandani. “Coba lihat ada matanya apa nggak?”Chandani sedikit menjauhkan tubuhnya. Berada dengan jarak sedekat

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 66

    Demi Tuhan, kata-kata Noval terdengar sangat indah. Chandani tidak menyangka, jika Noval akan memilih tetap bersamanya. Meskipun dia memiliki sakit yang tidak akan bisa sembuh. Chandani, semakin tidak bisa mengendalikan tangisnya. Seperti beban berat yang menumpuk tumpah ruah, Isak tangisnya semakin tidak terkendali. Noval lalu memeluk erat Chandani yang masih menangis.“Kenapa nangis?” tanya Noval sambil menatap wajah Chandani. Chandani tidak menjawab malah semakin menangis.“Ah, cantikku, jangan nangis dong.” Noval kembali memeluk Chandani. “Ya sudah, nangis saja dulu, habis itu kita makan es krim.”“Kayaknya, es krimnya agak meleleh.” lanjut Noval.Chandani melepaskan pelukan Noval dan lalu tersenyum. Tangisnya sudah mereda. Noval mengusap pelan rambut Chandani. Bibir laki-laki itu tersenyum. Wajah tampannya terlihat sangat teduh.“Sudah lega?” tanya Noval. Dia mengusap sisa air mata Chandani di pipi.Chandani mengangguk. “Ayo, makan es krim.”Tanpa aba-aba, Noval lalu menggendong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status