مشاركة

Bab 69

مؤلف: Lalacolla
last update تاريخ النشر: 2026-08-11 23:20:48

“Selamat pagi cantiknya papa.”

Noval menyapa, lalu mencium Nadel yang baru bangun tidur. Noval menggelitik perut Nadel hingga membuat gadis kecilnya itu tertawa. Nadel menyapa kehadiran Noval dengan senyum ceria, khasnya.

“Maaf ya. Papa tinggal-tinggal terus.” Noval mencium kedua pipi Nadel. “Nadel mau mandi? Mandi sama bude Ita ya?”

Wanita paruh baya memasuki kamar bercat pink itu sambil membawa handuk. Bude Ita lalu menyiapkan baju ganti untuk Nadel. Lalu minyak telon dan skincare yang biasa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 82

    Senyum Duna terlihat puas setelah melihat ekspresi kesal dari wajah Noval. Hari ini, Duna ingin menunjukkan bahwa masih ada dirinya di hati Chandani. Dia akan terus mencari cara untuk mendapatkan kembali hati Chandani.Kedua jari jempol Duna tengah mencari nama kontak seseorang di handphonenya. Lalu menghubungi nomor tersebut.“Halo pak Duna.” terdengar suara laki-laki di ujung telepon.“Sudah dapat tanahnya?”“Belum pak Duna.”Duna memukul roda kemudi dengan emosi. “Kan, saya sudah bilang. Harus segera dapat tanahnya!”“Cari tanah di Jogja susah pak. Saya sudah berusaha cari.”“Cari rumah kosong yang di jual. Saya akan renovasi.” nada bicara Duna meninggi.Sudah satu minggu dia menunggu kabar dari pak Januar. Tentang pencarian tanah atau rumah kosong yang akan dia renovasi.Duna berpikir, dengan membuatkan rumah yang Chandani impikan. Mungkin dia bisa dengan mudah mendapatkan hati Chandani lagi.“Maaf pak Duna. Ini bukan hanya sekedar membeli tanah. Tapi perlu mengetahui hak waris ya

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 81

    Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Proses interview sudah selesai. Noval sudah mendapatkan tiga nama, calon pegawai baru, sesuai dengan kriteria yang dia cari.“Minum dulu, bro.” Zaidan membawakan Noval satu gelas es kopi yang dia buat.Noval menyodorkan map hitam berisi nilai akhir dan nama-nama calon pegawai baru, N and N Architect, jurusan teknik sipil.“Tolong, nanti hubungi mereka yang keterima ya? Buat yang belum lolos, jangan lupa bilang, mohon maaf yang sebesar-besarnya.”Zaidan membaca nama-nama calon pegawai baru. “Aku juga suka banget sama jawaban Eyden.”“Dia pernah kerja di Canada dua tahun. Kembali ke Jogja karena ibunya sakit. Kalau Nadine, dia fresh graduated tapi tingkat kepercayaan dirinya bagus banget. Dan Nazrua, dia perempuan tangguh dan sangat handal menjelaskan proyek-proyek apa saja yang dia pegang selama bekerja di PT Bumi Indah.”“Aku kenal Nazrua.” Zaidan mengamati foto perempuan berusia 30 tahun itu.“Nazrua adik tingkat kita, dulu dia aktif di BEM. Dia

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 80

    “Makanan dari siapa?” tanya Cahya setelah menyelesaikan satu pasien post operasi ACL.“Dari Duna.”“Apa? Ngapain si sialan itu ke sini?” nada bicara Cahya meninggi karena emosi.Chandani mencubit paha Cahya. “Di dengerin pasien kamu itu.” ucapnya sambil setengah berbisik.“Sudah biasa mbak. Kalau Cahya nggak mengumpat malah aneh rasanya.” jawab pasien laki-laki itu sambil tertawa.Pasien itu bernama Raymond, teman SMA Cahya. Mereka berdua cukup akrab satu sama lain. Raymon adalah pemain sepak bola, yang saat ini harus menghentikan aktivitasnya karena cedera ACL. Tapi, menurut Cahya, bulan depan Raymond sudah bisa kembali latihan.Cahya menyeringai. Lalu memukul pelan lengan Raymond. “Dah, cepetan pulang sana.”“Iya ini mau pulang.” Raymon lalu melihat ke arah Chandani. “Mari, mbak Chandani.”“Mari, mas Raymond.”Akhirnya, mereka bisa beristirahat. Sebelum datang pasien yang sudah reservasi jam dua siang. Hari ini, klinik cukup ramai. Chandani yang niat awalnya hanya duduk, berakhir de

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 79

    “Mbak Chandaniii……..” Rika berlari dan memeluk Chandani erat. “Gimana kakinya?”“Udah sembuh kok.” jawab Chandani.“Belum sembuh.” Noval membantah ucapan Chandani. “Karena belum sembuh, tolong hari ini jangan boleh pegang pasien ya?”“Siap, pak Noval.” Rika memberikan hormat. Noval mengusap pelan kepada Chandani. “Chan, aku ke kantor dulu ya? Ingat kalau ada apa-apa, hubungi aku.”“Iya mas Noval.”“Rika, titip Chandani, ya?”“Tenang saja.” Rika lalu menggandeng lengan Chandani. “Nanti aku marahin kalau mbak Chandani bandel pegang pasien.”Noval mengacungkan jempol tangan kanannya. Sepertinya, dia bisa mempercayai ucapan Rika. Noval lalu melambaikan tangan kepada Chandani dan Rika. Dia harus ke kantor, sekarang. Zaidan sudah menunggunya di kantor.“Hati-hati, mas Noval.” Chandani berteriak sekuat tenaga. Suara hujan yang deras, membuat suaranya tak begitu terdengar.Tapi untungnya, Noval mendengarnya. Laki-laki itu berhenti berjalan. Membalikkan badannya. Tersenyum, lalu melambaikan t

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 78

    Di dalam lift, tiga orang itu saling terdiam. Hanya beberapa kali saling beradu pandang. Mereka semua terlihat canggung. Noval tidak membiarkan Chandani berada di dekat Duna. Dan Duna tidak memaksa mendekati Chandani, seperti biasanya. Membuat Noval merasa - sedikit aneh.Pintu lift terbuka, Duna langsung pergi meninggalkan Noval dan Chandani tanpa berkata apapun.“Dia aneh, nggak sih?” Noval membicarakan tentang kejanggalan sifat Duna. “Kok tumben, nggak maksa-maksa deket kamu?”Chandani hanya mengangguk sekali lalu tersenyum canggung. Tidak mungkin dia menceritakan kepada Noval kalau, kemarin Duna menemuinya. Dan berjanji akan berubah. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Lalu meletakkan tangannya di atas kepala Chandani agar tidak terbentur door seal.Mobil Land Cruiser melaju pelan di jalanan Jogja. Pagi ini, Jogja kembali mendung. Rintikan air hujan mulai turun. Noval menaikkan suhu AC agar Chandani tidak kedinginan.Perubahan sikap Duna membuat Chandani sedikit kepikira

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 77

    Seseorang mengetuk pintu apartemen Chandani. Chandani yang sedang duduk di depan meja rias, segera berdiri. Kakinya masih terasa sedikit sakit, jadi dia berjalan dengan pelan.“Loh, mas Noval. Kan sudah tahu passwordnya. Kok nggak masuk?”Noval tengah berdiri sambil menatap Chandani, alisnya sedikit berkerut. “Kamu mau kerja?"Work jacket berwarna coklat tua yang tidak di kancingkan, kaos polo berwarna coklat muda, dan celana chino warna cream membuat Noval terlihat sangat tampan. Rambut laki-laki itu terlihat sangat rapi dengan pomade.Chandani menganggukkan kepalanya. Hari ini dia berniat bekerja. Berada di rumah, membuatnya sedikit bosan.“Memangnya kaki kamu sudah sembuh?” Ekspresi wajah Noval terlihat sedikit kesal. Noval bukannya marah, dia hanya khawatir dengan kaki Chandani.“Nanti aku cuma duduk di pendaftaran kok mas. Nggak pegang pasien.”Chandani menarik tangan Noval memasuki apartemennya. “Masuk dulu, yuk.”Noval mengikuti Chandani dari belakang. “Kamu yakin masuk kerja?”

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status