เข้าสู่ระบบSeseorang mengetuk pintu apartemen Chandani. Chandani yang sedang duduk di depan meja rias, segera berdiri. Kakinya masih terasa sedikit sakit, jadi dia berjalan dengan pelan.“Loh, mas Noval. Kan sudah tahu passwordnya. Kok nggak masuk?”Noval tengah berdiri sambil menatap Chandani, alisnya sedikit berkerut. “Kamu mau kerja?"Work jacket berwarna coklat tua yang tidak di kancingkan, kaos polo berwarna coklat muda, dan celana chino warna cream membuat Noval terlihat sangat tampan. Rambut laki-laki itu terlihat sangat rapi dengan pomade.Chandani menganggukkan kepalanya. Hari ini dia berniat bekerja. Berada di rumah, membuatnya sedikit bosan.“Memangnya kaki kamu sudah sembuh?” Ekspresi wajah Noval terlihat sedikit kesal. Noval bukannya marah, dia hanya khawatir dengan kaki Chandani.“Nanti aku cuma duduk di pendaftaran kok mas. Nggak pegang pasien.”Chandani menarik tangan Noval memasuki apartemennya. “Masuk dulu, yuk.”Noval mengikuti Chandani dari belakang. “Kamu yakin masuk kerja?”
Saat sampai rumah, Noval langsung menuju kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang terasa lelah dengan air hangat. Setiap tetesan air hangat di tubuhnya, membuat terasa lebih rileks. Setelah selesai mandi, dia berdiri di depan cermin. Memperlihatkan raut wajahnya yang sedikit menua, tapi tetap tampan. Rambutnya mulai memanjang, entah kapan terakhir kali dia potong rambut.Tiga helai rambut putih yang muncul di samping telinganya, membuat Noval menyadari jika dirinya sudah semakin menua. Tapi dia harus tetap sehat untuk menjaga Nadel, dan juga Chandani. Dua wanita yang membuat hidup Noval terasa lebih berwarna.Satu tablet magnesium Noval keluarkan dari wadah berwarna hijau. Dengan segera dia menelannya bersama air putih.Noval berjalan pelan menuju kamar Nadel. Dia sedikit mengguncang tubuh bude Ita, agar terbangun. “Bude…” kata Noval lirih. Takut menganggu tidur Nadel.Mata bude Ita perlahan terbuka.“Tidur di kamar bude saja.”“Iya pak Noval.” dengan perlahan bude Ita terbangun dan berja
Kecupan Noval di puncak kepala membuat Chandani terdiam mematung. Chandani menahan senyum di bibirnya. Jika tidak ada Noval, mungkin sekarang, dia sedang berteriak kencang. Noval kembali duduk di kursi setelah mencuci piring. Noval menatap Chandani, ekspresi gadis itu sedikit susah Noval tebak.“Kenapa?” tanya Noval penasaran. Chandani menggelengkan kepalanya. Dia lalu berdehem beberapa kali, mencoba membuat ekspresi wajahnya se-biasa mungkin.Tapi perubahan ekspresi Chandani membuat Noval bertanya-tanya. Apa tindakannya barusah sedikit kelewatan?“Kamu….. marah?” tanya Noval sedikit ragu-ragu.“Eh.” Chandani terkejut. “Marah kenapa?”Jari Noval menunjuk kepala Chandani. Lalu Chandani balas dengan isyarat tangan - tidak.“Aku tidak marah kok.” Chandani membulatkan kedua matanya. “Aku cuma…” Chandani sedikit ragu. “Bahagia.” ucapnya dengan suara lirih. Tapi Noval sepertinya mendengarnya.Dada Noval mengembang seiring rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Noval tersenyum bahagia. Asalka
“Aku boleh menginap di sini?” tanya Noval dengan ekspresi sedikit memohon.“Boleh.” jawab Chandani sambil tersenyum.“Asik.” Noval terlihat bahagia. Tapi sedetik kemudian dia teringat Nadel. “Kayaknya aku pulang aja deh. Aku agak khawatir sama Nadel.”“Nadel kenapa mas?” Chandani menjadi khawatir. Takut jika kondisi Nadel mungkin memburuk.“Akhir-akhir ini saturasi oksigennya sering turun. Jadi harus sering di pantau. Aku takut kalau kejang lagi.”“Nadel sering kejang?”“Iya, hasil EEG. Gelombang kejangnya masih ada.”“Memang, merawat anak spesial itu butuh banyak kesabaran.” Chandani mencondongkan tubuhnya, menepuk pelan bahu Noval - memberikan semangat. Meskipun dia sedikit kesusahan karena perbedaan tinggi badan mereka. “Asal aku masih bisa melihat Nadel. Aku akan melakukan apapun.”Di dunia ini ada hal yang lebih besar dibandingkan gunung, yaitu kasih sayang orang tua. Chandani tahu betapa besarnya cinta Noval untuk Nadel.Kondisi Nadel memang cukup kompleks. Jadi perlu pengawasa
Sore ini, Noval dan Zaidan menjelaskan kepada pemilik rumah. Bahwa desain dan bahan-bahan yang mereka pilih tidak ada masalah sama sekali. Tekanan air di lantai tiga, sudah diperkirakan dengan tepat. Seharusnya air di lantai tiga tetap mengalir dan tanpa kebocoran.Permasalahannya terdapat pada, mandor yang ternyata mengganti ukuran pipa. Ukuran pipa dia gantikan dengan yang kecil. Sehingga air di lantai tiga tidak mengalir.Kebocoran di lantai tiga, juga karena adanya pipa yang pecah. Noval menjelaskan dengan baik dan lugas. Sehingga Bu Dewi dapat memahaminya dengan cepat.“Jadi, ini permasalahannya di pipa ya pak Noval?’“Iya bu Dewi. Ini desain yang saya buat.” Noval menunjukkan desain yang dia buat. “Dan ini perihal ukuran pipa, dan bahan-bahan yang lain.” Noval lalu menunjukkan catatan yang dia foto. “Saya sudah menyerahkan catatan ini ke penanggung jawab pembangunannya.” ucap Noval.“Saya akan panggil mandornya.”Malam itu terjadi debat sengit antara Noval, Zaidan, dan mandor b
Mengingat bagaimana ekspresi Noval saat cemburu tadi, membuat Chandani ingin tertawa. Laki-laki itu berubah menjadi pendiam, tidak peduli kepadanya, dan tentu saja sedikit cemberut. Gerakan kakinya yang cepat ke sana ke sini, mata yang enggan menatapnya. Membuat Chandani, merasa sedikit gemas, dengan Noval.Ternyata laki-laki itu kalau cemburu, lucu ya? Batin Chandani.Chadani segera memeluk Noval dengan erat. “Tidak apa-apa kok mas Noval. Kalau mas Noval tadi cemburu. Berarti mas Noval memang suka sama aku.” Chandani lalu melepaskan pelukannya.Sepuluh jemari Noval mencengkram kedua bahu Chandani, dengan pelan. “Tentu saja aku suka sama kamu. Kalau nggak suka, ya aku nggak akan kayak gini.”“Kayak gini gimana?” Chandani penasaran.“Ya, kayak begini. Setiap hari mikirin kamu. Pengen selalu ketemu kamu. Rasanya aku selalu ingin di dekat kamu. Baru beberapa menit nggak ketemu kamu, rasanya rindu sekali.”“Contohnya kayak sekarang. Aku baru saja ketemu kamu, tapi kalau sampai rumah. Aku







