Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi

Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi

last updateHuling Na-update : 2026-09-18
By:  Ratu AsIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
20 Mga Ratings. 20 Rebyu
85Mga Kabanata
1.6Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Dinikahi Dokter Liam yang dingin hanya memberi Marfa luka tanpa henti, terlebih saat bayang-bayang sang mantan istri masih menguasai setiap sudut hidup pria itu. Setelah lelah tak pernah dianggap dan terus diposisikan sebagai alat pembuktian jika Liam tidak mandul, Marfa akhirnya memilih menyerah. “Lepas, Dokter! Lebih baik kamu menduda lagi!” 

view more

Kabanata 1

Bab 1 Memilih Janda Beranak

"Memang Dokter Liam atau mantan istrinya yang mandul?"

Marfa terdiam saat mencuri dengar kedua pembantu yang sedang asyik bergosip di dapur. Mereka sedang membahas suaminya.

"Entahlah, tapi yang jelas setelah bercerai mereka saling adu pembuktian. Bahkan Pak Liam saja sengaja mencari istri yang janda beranak."

"Ah, pantas saja!" sahut Suly semakin bersemangat. "Jadi itu sebabnya Pak Liam yang seorang dokter berbakat dan berkuasa mau menikah dengan perempuan udik itu? Astaga!"

"Ya iyalah. Selain cantik, Marfa itu kan sudah teruji suburnya. Dia digunakan sebagai bahan penelitian Pak Liam, kita lihat saja kalau sampai beberapa bulan di sini Marfa tak kunjung hamil, palingan Pak Liam langsung menceraikannya!"

"Itu sih sama saja Pak Liam cuma butuh alat pencetak anak!"

Marfa meremas ujung bajunya, ia masih tidak mengerti dengan apa yang ia dengar, namun hatinya terasa perih mendengar obrolan dari beberapa pembantu itu tentang ia dan suaminya.

Benarkah suaminya menikahinya hanya untuk dijadikan bahkan pembuktian kalau suaminya tidak mandul?

Marfa seorang janda anak satu berusia dua puluh lima tahun, berasal dari desa yang terbilang pelosok dan jauh dari hingar-bingar. Ia menikah dengan Liam--seorang dokter dengan status duda tanpa anak.

Awal mereka menikah, Haris sebagai paman Marfa sekaligus seorang pebisnis yang cukup sukses di kota datang menjadi perantara di antara keduanya.

Respons pertama dari Vian--anak Marfa, saat melihat foto yang disodorkan oleh Haris anak itu langsung berjingkrak riang sembari berkata, "Aku mau dokter baik ini jadi ayahku!"

Vian menderita penyakit jantung bawaan, saat itu ia baru saja selesai dioperasi, dan anak itu mengenal jelas wajah dokter yang menjadi malaikatnya yaitu Liam.

Karena antusias Vian, dan kebutuhan anak itu pada sosok ayah, Marfa pun mempertimbangkan untuk menikah. Keluarganya sendiri sangat mendorong Marfa untuk segera mengakhiri status jandanya yang memalukan.

Marfa sendiri seorang putri dari keluarga juragan di desa, namun status jandanya membuat Marfa sering kali disudutkan, baik oleh orang luar bahkan oleh orang tua dan saudaranya.

Pernikahan itu pun terjadi begitu saja. Setelah menjadi istri Liam, Marfa masih tinggal desa selama hampir enam bulan.

Sekarang, sudah tiga minggu Marfa pindah ke kota, tinggal di rumah orang tua Liam. Namun sepanjang itu pula suaminya tidak pernah ada di rumah.

Melihat Marfa yang berdiri tak jauh, pembantu yang sebelumnya asyik bergosip mulai berhenti dan memperhatikannya. Mereka tebak pasti ia sudah mendengar apa yang mereka obrolkan sejak tadi.

"Eh, Marfa! Apa kamu dengar apa yang kita ucapkan tadi? Tolong jangan diambil hati ya," kata Tuti, pembantu yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun, dari tatapannya penuh cibiran.

Mendengar sapaan mereka yang kurang sopan, tentu saja Marfa cukup kaget. Mereka bahkan seolah bicara dengan orang yang setara, padahal Marfa menantu keluarga yang mempekerjakan mereka.

"Bibi, kalian panggil aku Marfa saja? Apa Bibi tidak merasa itu salah dan kurang sopan …"

"Yaelah, apa kami harus panggil Non Marfa? Atau Nyonya? Sementara posisi kamu tidak jauh beda dari kami!" sahut Tuti dengan senyum sinis penuh cibiran.

Marfa masih mematung, ia terlihat semakin syok dan membuat para pembantu itu makin mentertawakannya.

"Tugas kami bekerja melayani majikan untuk memasak dan beres-beres rumah! Sedangkan kamu bekerja melayani Pak Liam di ranjang sebagai mesin pencetak anaknya... jadi, sebenarnya kamu malah lebih mirip LC!" sahut Suly yang ikut bersuara nyaring.

Bibir Marfa bergetar, namun tidak ada satu pun kalimat yang bisa ia ucapkan. Lidahnya terlalu kelu dengan tenggorokan yang terasa tercekat. Memang bukan fakta baru jika ia bukan siapa-siapa di sini.

Mereka tertawa merasa Marfa sangat bodoh dan terlalu tidak sadar diri. Dinikahi hanya untuk jadi mesin pencetak anak, apa yang bisa dibanggakan?!

"Pernikahan bahagia? Itu hanya mimpi," lanjut Tuti penuh ejekan.

Marfa tidak ingin mendengar apa pun lagi, panggilan putranya membuatnya buru-buru menjauh dari tempat itu.

***

Malam ini jadwal Liam pulang. Lelaki itu sudah memberi tahu sebelumnya. Namun tidak ada antusias di wajah Marfa sedikit pun.

Padahal malam-malam sebelumnya Marfa selalu menantikannya, membayangkan bagaimana bertemu suaminya di saat sekarang mereka berada di kota, di tempat Liam seharusnya tinggal.

Wanita itu berbaring di ranjang lebih awal.

Marfa termenung, ia ingat jelas sebagai dokter yang masih aktif bertugas, Liam hanya pulang sebulan sekali saat Marfa masih ada di kampung. Itu pun tidak lama, hanya satu malam. Setelahnya Liam akan kembali pergi keesokan harinya.

Suara derit pintu terdengar saat hampir tengah malam.

Marfa menyambutnya dengan senyum getir di balik selimut yang menutupi tubuh sepenuhnya, saat teringat dengan ucapan para pembantu siang tadi.

Sekarang ia tahu alasan kenapa suaminya menikahinya. Seorang dokter terhormat yang tampan dan mapan, memang tidak mungkin tiba-tiba mau menikahi janda desa tanpa alasan yang jelas.

Mungkin itu sebabnya, selama ini suaminya selalu datang di saat jam malam begini, hanya untuk menidurinya.

Selama pernikahan itu bisa dibilang Liam dan Marfa bahkan tidak pernah duduk bersama untuk mengobrol. Komunikasi intens mereka hanya terjadi saat kegiatan ranjang.

Kalau begini, apa sudah bisa dipastikan jika ucapan para pembantu siang tadi benar? Marfa hanya dijadikan bahkan uji coba suaminya untuk memastikan lelaki itu tidak mandul.

"Kamu tertidur?" Suara berat suaminya terdengar tepat di telinga Marfa.

Lelaki itu sudah naik ke ranjang, berbaring tepat di sebelah Marfa dan menyentuh pundaknya.

Marfa tetap memunggungi Liam.

"Aku tahu kamu hanya pura-pura memejamkan mata."

Liam mendengus saat melihat Marfa berpura-pura tidak mendengar dan tetap memunggunginya. Tanpa respons dari wanita itu, Liam mulai bergerak lebih berani.

​Ia menyingkirkan rambut panjang Marfa yang menghalangi, lalu tanpa izin mendaratkan kecupan di pundak wanita itu.

Bibirnya terus menyusuri kulit halus Marfa hingga sampai ke tengkuk. Ia mengendus aroma tubuh Marfa yang lembut, menikmati kehalusan dan kehangatan milik wanitanya.

Untuk beberapa saat ia hanya mengecup, sebelum akhirnya kecupan itu berganti dengan gigitan kecil yang membuat Marfa terkejut dan melenguh.

"Pak Liam, berhenti!" Marfa terduduk dan membalik badan dengan menahan dada Liam.

Liam tersentak dengan repson Marfa yang biasanya patuh. Ia terduduk, lalu menyalakan lampu tidur yang sebelumnya gelap gulita karena dimatikan Marfa.

"Ada apa?" Liam bertanya dengan suaranya yang tetap tenang, ia menatap Marfa dengan sebelah alisnya terangkat.

Kali ini, Marfa punya kesempatan menatap cukup lama lelaki yang sudah jadi suaminya. Biasanya mereka bergelut dalam cahaya yang sangat minim dan redup, bahkan untuk melihat seperti apa lekuk wajah suaminya pun sulit.

Ternyata Liam memang tampan, sangat tampan dengan tubuh yang kekar dan berotot. Performanya di ranjang selama ini pun bisa dibilang bagus, lalu apa mungkin Liam mandul?

Mereka sudah melakukan hubungan badan beberapa kali, tapi memang belum ada tanda-tanda Marfa hamil.

"Aku sedang datang bulan,” ucap Marfa sedikit gemetar, ucapannya membuat kening suaminya berkerut.

"Belum selesai?"

Marfa menggeleng, jadwal datang bulannya selama ini memang selalu konsisten, Liam pasti sudah menghafalnya karena lelaki itu selalu datang hanya di saat masa subur Marfa.

"Bukankah harusnya tidak lebih dari ini?"

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

RebyuMore

YOSSYTA S
YOSSYTA S
ikh kasian si Marfa, Semoga aja kebagian bisa lekas menghampirinya. Dan langsung tinggalin aja tuh si Liam.
2026-08-31 16:06:50
1
0
Cynta
Cynta
kesel bnget sama si Liam, jadi ikutan emosi.. tapi penasaran sebenarnya perasaan Liam ke Marfa gimana sih..?!
2026-08-28 10:12:54
1
0
Sweety
Sweety
sedih banget kalau ada di posisi Marfa, semoga kebahagiaan segera menghampiri ya Marfa... Lanjut kakak author 🫶🫶 semangat upnya kakk...
2026-08-28 09:30:05
1
0
Eliyen Author
Eliyen Author
Thor, tanggung jawab!!! Aku udah langsung kasihan sama Marfa! Astaga, kasih dia kebahagiaan, Author-ku sayang. Jangan kasih dia sedih. Huhuhu ....
2026-08-28 08:49:07
1
0
BWOLU KWETAN
BWOLU KWETAN
Nyesek banget jadi Marfa bjir dapet suami kek Liam cuek begitu. Mana pembantunya juga kurang ajar
2026-08-28 07:36:06
1
0
85 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status