LOGINDinikahi Dokter Liam yang dingin hanya memberi Marfa luka tanpa henti, terlebih saat bayang-bayang sang mantan istri masih menguasai setiap sudut hidup pria itu. Setelah lelah tak pernah dianggap dan terus diposisikan sebagai alat pembuktian jika Liam tidak mandul, Marfa akhirnya memilih menyerah. “Lepas, Dokter! Lebih baik kamu menduda lagi!”
View MoreDi dalam mobil, tidak ada yang bicara. Marfa dan Vian saling tatap kemudian menunduk bingung, sedangkan Leo duduk santai di sebelah kemudi seolah tidak tahu apa pun, padahal di acara tadi ia sangat memperhatikan ayahnya. Sampai rumah, Liam menyuruh Ratih untuk menidurkan anak-anak sedangkan Marfa ia suruh untuk istirahat. "Tidur dan istirahatlah, sudah malam," kata Liam sembari berbalik hendak keluar, reflek Marfa meraih tangannya. Wanita itu duduk di tepi ranjang, menahan Liam dengan genggaman tangan dan wajah yang mendongak. "Mas, marah padaku?" tanya Marfa tanpa basa-basi, ekspresinya penuh rasa takut dan cemas. Liam menghela napas, sebelum menjawab ia sempat menatap Marfa cukup lama. "Maaf membuatmu takut," jawab Liam dengan suara rendah, ia mengusap pelan punggung tangan Marfa. "Aku tidak marah, hanya saja tadi terlalu cemas kamu kelelahan." Kening Marfa berkerut, ia menatap Liam dengan perasaan yang rumit antara percaya dan tidak percaya dengan alasan Liam yang sesed
Rusdi menuntun Angger melintasi kerumunan tamu menuju tempat Liam berdiri. Namun, sebelum sempat mempertemukan kedua pria muda itu, langkah Angger terhenti saat Vian yang sedang asyik berlarian mengejar Lio kehilangan keseimbangan dan menabrak kakinya.Anak kecil itu hampir terjungkal jika saja Angger tidak dengan sigap menahan bahunya.Vian perlahan mendongak, menatap pria di hadapannya dengan mata bulat yang mengerjap kaget. Rasa terkejut itu berubah menjadi binar gembira."Om Tyo?" panggil Vian antusias.Angger sempat tertegun. Namun, raut herannya dengan cepat berganti senyuman hangat. Ia berlutut kecil lalu mengusap kepala Vian. "Vian? Kamu ada di sini? Apa kamu—""Itu anak saya," sahut sebuah suara berat mendahului pertanyaan Angger.Liam mendekat seorang diri, meninggalkan Marfa sejenak di area yang lebih tenang. Pandangan tajamnya tertuju pada Angger, menilai pria muda yang begitu mengenali putranya.Mendengar celetukan Vian dan interupsi dingin Liam, suasana mendadak t
Marfa tertegun sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa ragu. Mengingat teguran dan tekanan dari Lisya sebelumnya, Marfa merasa pakaian pilihan pribadinya mungkin tidak akan pernah cukup mewah di mata ibu mertuanya itu."Terserah kamu saja, Mas," jawab Marfa pelan, mengusap jemarinya canggung. "Pilihanmu pasti lebih baik."Liam memperhatikan keraguan yang tersirat di wajah pias istrinya. "Baiklah, nanti aku yang atur," sahut Liam. Tatapannya menajam lembut menatap layar. "Sekarang hentikan aktivitasmu di dapur. Tinggalkan adonan itu, minta Bi Ratih yang lanjutkan, dan masuk kamar untuk istirahat. Itu perintah."Marfa terkekeh kecil, baru kali ini mendengar Liam bicara panjang karena memperhatikan kesehatannya. "Iya, Mas Dokter. Setelah ini aku langsung istirahat."Liam tersenyum tipis, dari layar itu tampak wajah tampannya semakin manis. "Bagus. Aku matikan teleponnya."Setelah sambungan video call terputus, pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetukkan jarinya di at
"Jaga diri baik-baik. Jangan terlalu lelah," pesan Liam sebelum berangkat ke rumah sakit. Marfa mengekor di belakang Liam hingga sampai di depan pintu utama. Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Liam menghentikan langkah dan menoleh lagi pada Marfa. "Jangan sungkan menelepon jika ada apa-apa. Sekecil apa pun itu," tambah Liam lagi, memastikan istrinya paham bahwa ia selalu bisa diandalkan.Marfa tersenyum, kalimat itu sekarang sangat akrab di telinganya. Liam selalu mengingatkannya untuk menghubungi jika ada masalah. Begitu Liam berangkat ke rumah sakit, kekacauan pagi hari pun dimulai. Sejak kemarin Lio berubah jadi sangat manja dan penuh tuntutan, terutama di jam-jam sibuk saat bersiap-siap ingin berangkat sekolah. Sikapnya yang dulu mandiri kini berubah menjadi sangat sulit diatur dan kerap membuat Marfa kewalahan."Tante Marfa! Lio tidak mau pakai baju yang ini! Mau baju olahraga yang warna biru!" seru Lio dari dalam kamarnya, melempar seragam sekolah yang sudah rapi disetr






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore