Short
Quand l’amour et la haine s’effacent, reste l’adieu

Quand l’amour et la haine s’effacent, reste l’adieu

By:  Gérard PoincaréKumpleto
Language: French
goodnovel4goodnovel
10Mga Kabanata
4.3Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Après l'incendie, je n'ai plus empêché mon fiancé d'aller sauver sa petite nièce. Je l'ai simplement regardé se précipiter dans les flammes, jusqu'à être englouti par le feu. Dans ma vie précédente, le jour de notre mariage, un incendie avait éclaté à l'hôtel. Mon fiancé et moi avions réussi à nous échapper à temps, mais sa petite nièce, sans lien de sang avec lui, était restée prisonnière. Les flammes étaient trop violentes. Alors que mon fiancé voulait s'élancer pour la sauver, je l'avais retenu de toutes mes forces. Quand le feu avait été éteint, il ne restait plus rien du corps de sa petite nièce. Mon fiancé disait qu'il ne m'en voulait pas, mais le jour de notre troisième anniversaire de mariage, il avait acheté deux billets de plongée pour moi et mon fils. À cent mètres sous l'eau, il avait arraché nos tuyaux d'oxygène avec un rictus cruel. « Puisque tu m'as empêché de sauver Élina ce jour-là, tu aurais dû payer de ta vie. » Je pleurais en lui criant que notre fils était innocent, mais il s'était détourné sans un regard en arrière. Mon fils et moi étions morts asphyxiés. Ce n'est qu'après ma mort que j'avais compris : Mon fiancé avait toujours aimé passionnément sa nièce sans lien de sang. Il me haïssait de l'avoir empêché de la sauver et de l'avoir privé à jamais de son amour. Quand j'ai rouvert les yeux, j'étais revenue au jour de l'incendie…

view more

Kabanata 1

Chapitre 1

“Anak Mama di rumah saja? Ini malam Minggu, lo,” tanya Mama sambil membuka pintu kamarku setengah bagian dan mengintip ke dalam.

“Semua malam sama saja, Ma,” koreksiku. “Mama bosan, ya, melihat Naomi di rumah?” tambahku dengan wajah memelas.

“Tentu saja Mama senang kalau anak Mama sering di rumah. Ada yang bantu mencuci piring.” Mama terkekeh. “Tapi Mama curiga, jangan-jangan kursi tamu kita sudah lupa rasanya diduduki calon menantu.”

Mama kemudian membuka pintu sepenuhnya, masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sisi ranjang.

“Hmmm.”

Sudut bibirku yang semula terangkat perlahan turun. Jemariku mulai memainkan ujung selimut.

“Mama sampai bingung, yang trauma itu kamu atau pintu rumah kita. Soalnya sama-sama susah dibuka.”

“Mama...”

Aku mengembuskan napas panjang sambil memutar bola mata.

“Suatu saat nanti, kau akan bertemu dengan seseorang yang tepat. Tapi kalau kamu terus mengurung diri begini, kasihan jodohnya. Dia bisa nyasar ke rumah orang.”

Aku mengangkat tangan kanan ke kening seraya memberi hormat.

“Siap, Mama Bos!”

***

Peluh membasahi keningku. Langkahku tetap teratur di trotoar yang masih sepi, sementara napasku mulai terdengar lebih berat. Aku melirik smartwatch di pergelangan tangan kiri.

Pukul 06.03.

Masih tersisa dua puluh tujuh menit sebelum target pagiku selesai.

Getaran tiba-tiba terasa di pinggang. Aku berhenti, membuka running belt, lalu mengeluarkan ponsel. Nama Clara muncul di layar.

“Ya, Ra. Ada apa? Tumben pagi-pagi banget.”

“Giska menikah.”

Aku mengerutkan dahi.

“Menikah? Kok mendadak? Aku kira sepupunya.”

“Bukankah undangannya sudah dikirim tiga hari yang lalu?”

Aku menepuk dahiku pelan.

“Kamu benar. Giska juga mengirimkannya kepadaku. Aku baru sempat membuka chat-nya.”

“Aku juga menerimanya, tapi lewat direct message. Sepertinya pernikahannya dibuat secara intimate. Oh ya, calon suaminya orang Turki.”

“Turki?”

“Foto mereka ada di galeri undangan digital itu.”

Aku menatap layar ponsel beberapa detik.

“Bentar, deh. Aku lihat nanti. Aku mau lanjut jalan kaki dulu. Makasih infonya, Ra.”

Anytime. See you. Jangan lupa, dress code-nya warna hijau.”

Okay. See you.”

Pagi itu, kediaman Giska dipenuhi perpaduan warna merah marun dan emas. Kain sutra menjuntai dari langit-langit, bergoyang pelan tertiup hembusan pendingin ruangan. Aroma mawar dan marigold menguar dari rangkaian bunga di sekitar pelaminan.

Aku berdiri di antara para tamu sambil memandangi pelaminan. Gaun putih Giska berkilau terkena cahaya lampu kristal.

“Cantik sekali,” gumam Clara di sampingku.

Aku mengangguk pelan.

“Aku pikir dia akan memakai gaun pengantin Turki.”

“Mungkin susah mencari model seperti itu di kota kita,” jawab Clara. “Bukankah kau ikut mengurus dekorasinya?”

Aku menatap susunan bunga di pelaminan. Aku mengenali setiap detailnya, letak mawar, warna pita, sampai bentuk lengkungannya.

“Aku hanya memastikan semuanya sesuai permintaan Giska. Tapi dia tidak pernah bilang kalau ini pernikahannya sendiri.”

Clara mendekat sedikit.

“Katanya mereka kenalan dari aplikasi kencan.”

Jari yang memegang tas kecil berhenti bergerak.

“Aplikasi kencan?”

“Mereka saling mengenal selama tiga tahun.”

“Tiga tahun?” Aku mengangkat alis. “Berarti mereka pernah bertemu sebelumnya?”

Clara menggeleng.

“Hari ini pertemuan pertama mereka.”

Aku menatap pelaminan lebih lama dari sebelumnya. Di atas sana, Giska tersenyum sambil menggenggam tangan pria yang menatapnya sambil tersenyum.

“Kau terlihat seperti baru mendengar berita paling aneh di dunia,” kata Clara sambil tertawa kecil.

Aku ikut tertawa pelan.

“Mungkin memang begitu.”

Malam harinya, aku duduk bersila di atas ranjang. Aku menunggu hingga bilah unduhan mencapai seratus persen. Ikon aplikasi kencan muncul di layar ponselku. Jemariku menggantung beberapa detik di atas tombol Create Account sebelum akhirnya menekannya.

“Tidak harus cari jodoh,” gumamku pelan. “Anggap saja latihan bahasa Inggris.”

Beberapa menit setelah profilku aktif, notifikasi mulai bermunculan tanpa henti. Satu, lima, sepuluh, lalu puluhan.

Aku membuka foto profilku sendiri, foto lama yang diambil pada tahun 2021. Perempuan berhijab merah muda pastel di dalamnya tersenyum begitu bahagia.

Kupandangi cukup lama hingga layar ponsel meredup dengan sendirinya. Aku baru tersadar ketika pantulan wajahku sendiri menggantikan foto itu di layar yang menghitam.

“Kau hanya sendirian di foto itu. Jadi, tidak masalah,” gumamku, seolah sedang meyakinkan diriku sendiri.

Keesokan harinya, muncul pesan lain.

Where are you from?

Hari berikutnya, akun berbeda kembali mengirimkan pesan.

You look beautiful.

Lalu akun lain menyusul.

Hey... are you from Indonesia?

Suatu malam, aku kembali mencoba menghubungi seorang pria Pakistan yang sudah dua bulan mengobrol denganku. Panggilan itu tak pernah tersambung. Aku melirik jam di pergelangan tangan. Lagi-lagi pada jam yang sama.

Sampai akhirnya aku menemukan akun media sosial pria itu. Jemariku terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga. Pria yang selama ini mengaku lajang itu berdiri di samping seorang wanita berhijab yang sedang menggendong anak kecil.

Aku menutup aplikasi perlahan.

“Pantas saja,” gumamku.

Belum lama berselang, seorang pria yang mengaku tinggal di Arab Saudi menghubungiku.

“Aku akan memberikan apa pun yang kau butuhkan. Katakan saja berapa biayanya. Atau, jika kau tidak ingin berpacaran, kita bisa melakukan nikah mut'ah. Setelah seminggu, aku akan pulang ke negaraku.”

“Sepertinya Anda salah paham, Tuan. Anda mencari di tempat yang salah.”

Balasan masuk lagi.

“Setidaknya mari kita melakukan video call sx*...”

Aku menekan ikon tiga titik di sudut layar, lalu memilih Unmatch.

Ruang obrolan itu langsung menghilang.

Beberapa hari kemudian, kubiarkan langganan premium habis begitu saja. Kubuka aplikasi itu sekali lagi. Hanya beberapa swipe request yang tersisa. Aku tidak bisa lagi melihat siapa saja yang menyukai profilku.

Aku tersenyum tipis, lalu menutup aplikasi tanpa membaca satu pun notifikasi. Kulettakkan ponsel terbalik di atas meja. Aku memejamkan mata sejenak. Di balik kelopak mataku, sebuah kalimat yang pernah kubaca perlahan melintas.

Apa yang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya kepadamu, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu.

***

“Di mana kau belajar bahasa Jepang?”

Begitulah isi pesan yang kuterima.

Sampai akhirnya, sebuah notifikasi muncul. Seseorang memanfaatkan fitur pujian pada aplikasi kencan untuk mengirimkan pesan kepadaku. Pemilik akun premium.

Kubuka profil pria itu. Jemariku menggulir layar perlahan, membaca setiap keterangan yang tertera.

Granville, Australia. Foto seorang pria dengan efek greyscale. Usia empat puluh lima tahun. IT Engineer. Beribadah sesekali.

Aku kembali ke bagian atas profil, lalu mengamatinya sekali lagi. Hanya beberapa foto yang terpajang. Biodatanya pun singkat, tanpa deretan kalimat panjang atau hiasan emoji.

Jemariku berhenti di layar.

Profil itu mengingatkanku pada profilku sendiri.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.


Walang Komento
10 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status