LOGINShe died in silver chains, betrayed by the mate who never loved her. Aria Silvercrest married for love. Alpha Darius Blackthorne married her for her blood. Their mate bond? A magical lie. Their twins? Sacrifices for his dark ritual. And her best friend Elena? The ancient evil behind it all. Murdered and reborn with awakened Luna powers, Aria crashes back into the past, ready to burn it all down. But the intoxicating scent of her real mate derails everything. Kael Nightfang, a brutal rival Alpha, tortured for years by her unknowing rejection should be her enemy. Instead, he becomes her partner in revenge. Now she's infiltrating Darius's pack while falling for Kael in stolen, desperate moments only to discover that her second chance was always part of the trap. When reality starts fracturing and the choice becomes erasing everything or keeping the scars, Aria realizes what she's really fighting for isn't just revenge anymore. This book is a paranormal romance about Fated mates, Brutal vengeance and a Luna who refuses to be a victim twice in a row.
View MoreHujan deras mengguyur jalanan kota yang sepi. Anastasia berjalan tergesa-gesa di trotoar yang basah, jaket tipisnya tidak banyak membantu.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Terlambat. Lagi-lagi ia terlambat pulang ke apartemen kecil yang ia sewa sendiri, jauh dari ayah, ibu, dan adiknya yang kini tinggal terpisah-pisah sejak rumah tangga itu runtuh. Tapi setidaknya, hari ini ia berhasil menamatkan novel favoritnya. "Ketika Bunga Musim Semi Layu"—cerita tentang Kaisar Arlos yang dingin dan kejam, yang jatuh cinta pada gadis berambut perak bernama Amara. Yang membuat Anastasia marah adalah bagaimana kaisar itu membunuh istri dan anak-anaknya sendiri—istri yang kebetulan juga bernama Anastasia—hanya karena sang istri mencoba membunuh Amara karena cemburu. "Dasar kaisar brengsek," gerutunya sambil membuka aplikasi novel di ponselnya, membaca ulang chapter terakhir sambil berjalan. Ia terlalu fokus pada layar hingga tidak menyadari langkah kaki di belakangnya. "Hei!" Seseorang menarik tasnya dari belakang. Anastasia mencengkeram tali tas dengan erat. "Lepaskan!" Pencuri itu menarik lebih kuat. Anastasia terhuyung, kakinya tergelincir di trotoar yang basah. Lalu ia melihat kilatan logam. Pisau. Rasa sakit yang tajam menembus perutnya. Tas dan ponselnya terlepas. Tubuhnya ambruk ke trotoar yang dingin. Anastasia menatap langit malam yang gelap, hujan membasahi wajahnya. Di layar ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya, ia masih bisa melihat ilustrasi Kaisar Arlos—mata merah menyala, rambut hitam legam, tatapan dingin yang menusuk. Ah... bodohnya aku. Bahkan di saat-saat terakhir, aku masih memikirkan novel itu. Kesadarannya kabur. Dingin. Sangat dingin. Tapi entah kenapa, terasa seperti ada tangan hangat yang menariknya—dan suara yang memanggil namanya dari tempat yang sangat jauh. "Anastasia... Anastasia...." Lalu... kegelapan menelannya. ☆☆☆ Panas. Itu yang pertama kali Anastasia rasakan saat kesadarannya mulai kembali. Bukan dingin seperti yang ia harapkan dari kematian, tapi panas yang membakar. Dan ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhnya—sesuatu yang keras, besar, dan bergerak dengan ritme yang brutal. Matanya terbuka lebar. Napasnya tersengal. Pandangannya kabur, tapi ia bisa merasakan—ada seseorang di atasnya. Seseorang yang besar, berat, dan bergerak dengan cara yang membuatnya ingin berteriak. "Lepas—" suaranya serak, nyaris tidak keluar. "Sakit... hentikan...." Ruangan di sekelilingnya remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan. Tapi cukup terang untuk melihat sosok pria di atasnya—pria dengan tubuh tinggi besar, bahu yang lebar seperti tembok, dada bidang yang berkilau karena keringat. Rambut hitam legam yang jatuh menutupi sebagian wajahnya. Dan sepasang mata— Mata merah yang menyala dalam kegelapan. Mata yang sangat Anastasia kenali. "Tidak... tidak mungkin..." Kaisar Arlos. Pria itu menatapnya dengan tatapan datar, tanpa emosi, seolah Anastasia hanyalah benda mati di bawahnya. Tangannya yang besar mencengkeram pinggang Anastasia, menariknya lebih dekat, lebih dalam. Anastasia memekik, air mata mengalir di pipinya. Ia mencoba mendorong dada bidang itu, tapi lengannya terlalu lemah. "Kumohon... hentikan…." lirihnya, suaranya hancur antara isak tangis dan erangan kesakitan. Tapi Arlos tidak berhenti. Gerakannya tetap brutal, kasar, tanpa belas kasihan. Anastasia memutar kepalanya. Pandangannya jatuh pada ruangan di sekelilingnya—ranjang besar dengan kelambu mewah, langit-langit tinggi dengan ukiran rumit, tirai sutra yang berkibar tertiup angin malam. Ini... ini ruangan kerajaan. Deg! Memori yang bukan miliknya tiba-tiba menyerbu pikirannya seperti banjir bandang. Gadis kecil bernama Anastasia menangis di pelukan ibunya yang sekarat—lalu ibunya meninggal, dan semuanya berubah. Ayahnya, Raja Silvestra, tidak pernah lagi menatapnya dengan kasih sayang. Kakak-kakaknya memperlakukannya seperti hantu. "Ibu meninggal karenamu! Seharusnya kau yang mati!" Ia tumbuh dalam kesendirian, diabaikan, dibenci keluarganya sendiri. Hingga datanglah Kaisar Arlos dengan pasukannya, menaklukkan Silvestra dalam hitungan jam. Ayahnya berlutut, memohon belas kasihan—dan menyerahkan Anastasia begitu saja saat kaisar itu memintanya. Malam demi malam sesudah itu, Arlos memperlakukannya seperti boneka. Tidak ada kehangatan, tidak ada kelembutan. Hanya kegelapan dan rasa sakit—hingga gadis yang awalnya lembut itu perlahan berubah menjadi kejam dan menakutkan. Lalu Amara datang. Gadis berambut perak yang mencuri perhatian kaisar. Dan Anastasia yang semakin terpuruk akhirnya mencoba membunuhnya—hingga ia sendiri dibunuh bersama anak-anaknya oleh Arlos. "Tidak...." Anastasia—yang asli, yang datang dari dunia modern—menangis keras. Ia mengerti sekarang. Ia telah masuk ke dalam novel "Ketika Bunga Musim Semi Layu". Ia telah menjadi Anastasia, istri malang yang akan dibunuh dengan kejam di masa depan. "Aku tidak mau... aku ingin pulang... kumohon, biarkan aku pulang…." Suaranya membuat Arlos sedikit mendongak. Mata merah itu menatapnya sekilas—tapi tidak ada empati di sana. Hanya kekosongan yang mengerikan. Lalu pria itu kembali bergerak, lebih cepat, lebih brutal. Tangannya mencengkeram dagu Anastasia, memaksanya menatap wajahnya saat ia menciumnya—ciuman yang kasar, menuntut, mencekik. Anastasia tidak bisa bernapas. Ia merasa seperti tenggelam. Dan akhirnya, kegelapan kembali menelannya. Tapi kali ini, bukan kematian yang menjemputnya. Hanya kepasrahan yang menyakitkan.Aria's POVMy heart stopped momentarily. Elena stood in my doorway, clutching another vial of that silvery poison."Another dream?" I forced my voice to sound sleepy and concerned, praying she couldn't see the phone-shaped bulge under my pillow."Worse than before." Elena stepped inside, closing the door softly behind her. She moved to my bedside, her expression twisted with worry. "The shadows were suffocating you this time, Aria. Dragging you away from everyone who loves you." She set the vial on my nightstand. "I couldn't go back to sleep. I had to make sure you were protected."I couldn't drink more. The fog from the earlier doses was just starting to clear, and Lyra was barely a whisper in my mind."Elena, I already took the evening dose—""I know." She sat on the edge of my bed, taking my hand. "But these dreams are getting stronger and more vivid. You need extra protection tonight." Her hold on my hand tightened. "Please, Aria. I can't lose my best friend."The concern in her v
Aria's POV"Dreams?" I repeated, my voice just as even while my pulse raced. "What kind of dreams?"Elena's face contorted with concern, and she clutched my hand. "Prophetic ones, Aria. Like the ones my grandmother used to have." She leaned in, her voice barely above a whisper. "I've been seeing you surrounded by shadows and dark forces trying to pull you away from Darius, from your family, from me."I let concern flood my features. "That's terrifying.""I know." She took a firm hold of both my hands now, and her warmth soaked into my skin. "At first, I thought it was just wedding jitters. But the dreams kept coming, stronger each night. They felt so real." Her voice cracked. "I think someone at the Unity Ball used dark magic on you. Maybe a rival pack jealous of the alliance, or someone who wants to destroy your engagement."My stomach churned. In my first life, Elena had never claim prophetic abilities. Never mentioned having a Seer grandmother."You really think someone's targeting
Aria's PovI woke up to the sound of my mother humming in the hallway, and for one beautiful moment, I forgot she was supposed to be dead.I'd woken up in this same room in the past, excited about meeting Darius last night at the Unity Ball. That girl had been a fool.I sat up slowly and reached for my phone on the nightstand. I checked the date again. Maybe something changed overnight. Still the morning after the Unity Ball. Still four years before my death. Still time to save everyone I loved.A text from Kael lit up my screen: "Are you safe? I barely slept. Storm won't settle until we see you again."My chest tightened at the memory of his dark eyes filled with pain when he'd first recognized me as his mate. I quickly pushed it to the back of my mind."Safe. For now."I deleted the message and hid the burner phone back in my closet. In my first life, I'd never needed to hide anything. This time, paranoia was survival.My mother's voice came through the door. "Aria? Sweetheart, you
Aria's POVI stood alone in the hotel corridor. Kael's pine and rain scent still clung to my skin and my heart raced from all that had just happened. The shared visions, his reluctance to trust me, and the way Storm had recognized me even when Kael resisted.But I can't afford to fall apart. Not yet.I pulled out my compact mirror with shaky hands. My reflection in the mirror showed my smudged mascara and my tear-stained cheeks. I worked quickly, cleaned the stain and reapplied powder over the redness. After seeing how perfect I looked in the mirror, I heaved a sigh of relief.I walked back into the ballroom and found Elena and Darius near the champagne fountain. They stood closely together, their heads bent in conversation. Elena sighted me coming over and her gaze sharpened with suspicion. I hurried forward, breathless. "I'm so sorry! I felt dizzy and needed fresh air. Must have been the wine ."Elena flashed me a smile that didn't reach her eyes. "We looked everywhere for you, Ari
Aria's POVFive minutes to convince him I wasn't insane.I stood before Kael Nightfang in the hotel corridor, my heart hammering against my chest. His amber eyes burned with fury and pain and the mate bond between us hummed beneath my skin, alive and begging, yearning to be sealed."Start talking,"
Kael's POVI've lost my goddamn mind.That was the only explanation as to why I'm pressed against a woman I'd only just met ten minutes ago, shielding her as her so-called best friend searched for her. My body screamed at me to be rational, yet Storm was going totally feral in my head.*Mate. Prote






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.