Share

7. Daniel Turut Dimarahi

last update Last Updated: 2025-11-21 18:51:02

Setelah mencoba berbicara dengan Tuan Frank, Nyonya Emily merasa frustasi dan sedih. Dia berharap suaminya akan mendengarkan kekhawatirannya tentang pembatasan yang diberlakukan pada Stefany, akan tetapi sayangnya, usahanya gagal.

Setelah memberikan secangkir kopi kepada Tuan Frank, Nyonya Emily mencoba lagi untuk membicarakan masalah tersebut.

Dengan suara lembut, dia berkata,

"Darling, aku mengerti kekhawatiranmu tentang Stefany. Tapi kita juga harus memberinya kesempatan untuk menjalani kehidupannya di luar rumah. Dia perlu belajar sungguh-sungguh. Apalagi sampai bolos sekolah selama seminggu. Stefany akan ketinggalan mata pelajaran."

Tuan Frank menatap sang istri dengan pandangan tajam.

"Aku sudah bilang, Emily. Stefany tidak boleh keluar rumah selama seminggu! Aku tidak ingin dia terkena pengaruh Daniel di luar sana."

Nyonya Emily merasa putus asa.

"Tapi Darling, Stefany perlu mengalami hal-hal di luar rumah. Dia perlu belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menghadapi tantangan, dan mengambil keputusan sendiri. Kita tidak bisa terus membatasinya seperti ini. Lagian Daniel adalah anak yang baik. Dia selalu melindungi putri kita."

Tuan Frank bangkit dari tempat duduknya dengan wajah yang merah padam.

"Aku sudah bilang tidak, Emily! Aku tidak ingin membahayakan putri kita. Kenapa kamu terus membela Stefany? Apa kamu tidak peduli padaku sebagai seorang ayah yang sangat khawatir kepada putrinya?"

Nyonya Emily menangis, merasa terluka oleh kemarahan suaminya.

"Tentu saja aku peduli padamu, Frank. Tapi aku juga peduli pada Stefany, putri kita. Aku ingin memberinya kesempatan untuk tumbuh dan belajar. Aku tidak ingin dia merasa terkekang."

Tuan Frank menghela napas panjang, akan tetapi kemarahannya masih terlihat jelas,

"Kamu sama sekali tidak peduli denganku, Emily. Kamu tidak mengerti betapa berharganya Stefany bagiku. Aku tidak akan mengambil risiko dengan kehidupannya. Terutama dengan masa depannya! Sekarang dia dan Daniel hanyalah teman biasa! Tapi mereka akan tumbuh menjadi dewasa! Perasaan diantara keduanya akan turut berkembang juga! Kamu harus tahu itu!”

Nyonya Emily mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Frank, Dear. Aku tahu kamu sangat mencintai Stefany. Tapi sebagai orang tua, kita juga harus memberikan kepercayaan pada anak kita. Kita harus mengajarkan dan membimbingnya, bukan membatasi dan melindunginya terus-menerus."

Tuan Frank menggelengkan kepala dengan keras.

"Aku tidak bisa melakukannya, Emily. Jika kamu tidak setuju dengan keputusanku, maka itu adalah masalahmu sendiri!"

Nyonya Emily merasa hancur dan kecewa. Dia tidak menyangka jika percakapan mereka akan berakhir seperti ini. Dia mencoba lagi untuk menenangkan suaminya.

"Frank, mari kita cari solusi yang baik untuk semua. Kita bisa memberikan batasan yang lebih longgar, akan tetapi tetap mengawasi Stefany. Kita bisa melakukannya bersama."

Tuan Frank menatapnya dengan tatapan dingin.

"Tidak ada kompromi, Emily. Stefany tidak boleh keluar rumah selama seminggu. Itu keputusanku dan itu tidak akan berubah!"

Nyonya Emily merasa terpukul. Dia merasa tidak didengarkan dan tidak dihargai oleh suaminya. Perempuan itu merasa sendirian dalam perjuangannya untuk memberikan yang terbaik bagi Stefany.

Kediaman Keluarga Alexander,

Daniel baru saja sampai di rumah setelah menghabiskan waktu bersama Stefany, putri dari keluarga Madison. Ketika dia masuk ke rumah, ayahnya, Tuan Carlos, memanggilnya dengan serius. Tuan Carlos telah mendengar dari anak buahnya jika Daniel menghabiskan waktu bersama Stefany hingga sore hari.

Tuan Carlos, seorang pria yang tegas, dan memiliki pandangan negatif terhadap keluarga Madison. Dia sangat tahu jika ayah Stefany, Tuan Frank, sering menyebarkan fitnah tentang Keluarga Alexander. Oleh karena itu, dia melarang putranya untuk berteman dengan Stefany.

"Daniel, Daddy perlu bicara denganmu!" ucap Tuan Carlos dengan suara serius.

“Iya, Dad.” ucap Daniel singkat.

"Daddy mendapat laporan jika kamu menghabiskan waktu bersama Stefany Madison hari ini! Apakah benar begitu, Daniel? Jawab yang jujur!” bentak sang ayah.

“Iya, Daddy. Aku bersama Stefany.”

“Payah! Daddy kan sudah memberitahumu sebelumnya jika Daddy melarangmu untuk berteman dengan anak dari Keluarga Madison!" hardik sang ayah lagi.

Daniel merasa tegang mendengar larangan ayahnya. Dia tahu jika ayahnya memiliki alasan kuat untuk melarangnya, akan tetapi anak lelaki remaja itu juga merasa bersalah karena dia menyukai Stefany sebagai teman.

Namun, Nyonya Miriam, ibu Daniel, berdiri di sampingnya dan membela putranya. "Carlos, aku tidak setuju dengan laranganmu ini. Daniel adalah anak kita, dan dia memiliki hak untuk memilih teman-temannya sendiri. Jangan biarkan prasangka buruk menghalangi hubungan persahabatan mereka."

Tuan Carlos menatap istrinya dengan pandangan tajam. "Miriam, kamu tahu betapa buruknya keluarga Madison. Aku tidak ingin Daniel terpengaruh oleh mereka. Aku melarangnya untuk alasan yang baik."

Nyonya Miriam tetap teguh pada pendiriannya.

"Carlos, kita harus memberikan kepercayaan pada Daniel. Dia sudah cukup dewasa untuk memilih teman-temannya sendiri. Jangan biarkan prasangka buruk menghalangi hubungan persahabatan dan pertumbuhannya. Lagian ya, Stefany adalah anak yang baik, cantik, dan ramah. Aku sangat menyukainya," ucap Nyonya miriam dari kesungguhan hatinya.

Tuan Carlos merasa frustasi dengan pendapat istrinya. Dia merasa terpojok antara melindungi putranya dan mencegahnya terlibat dengan Keluarga Madison. Namun, dia juga mencintai istrinya dan menghargai pendapatnya.

Saat Tuan Carlos mengetahui jika Nyonya Miriam memperbolehkan Daniel untuk berteman dengan anak dari Keluarga Madison, dia merasa marah dan kecewa. Baginya, larangan tersebut tetap berlaku dan sang ayah tidak ingin putranya terlibat dengan Keluarga Madison.

Tuan Carlos duduk tegak di ruang keluarga, wajahnya penuh dengan ekspresi ketidakpuasan. Nyonya Miriam berdiri di depannya dengan wajah tegar, siap untuk mempertahankan pendiriannya.

Tuan Carlos dengan suara tegas berkata,

"Miriam, aku tidak bisa mempercayaimu membiarkan Daniel berteman dengan anak dari Keluarga Madison. Kamu tahu betapa buruknya keluarga itu dan apa yang mereka katakan tentang keluarga kita."

Nyonya Miriam menatap suaminya dengan penuh keyakinan.

"Carlos, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi aku juga percaya pada kemampuan Daniel untuk memilih teman-temannya dengan bijaksana. Dia adalah anak kita, dan kita harus memberinya kesempatan untuk tumbuh dan belajar dari pengalaman."

Tuan Carlos marah dan bangkit dari tempat duduknya.

"Ini bukan tentang memberinya kesempatan, Miriam! Ini tentang melindunginya dari pengaruh buruk! Aku tidak ingin dia terlibat dalam masalah karena bergaul dengan anggota Keluarga Madison!"

Nyonya Miriam sama sekali tidak mundur. Dia juga terus berbicara,

"Carlos, kita tidak bisa melindungi Daniel dari segala sesuatu. Dia harus belajar menghadapi tantangan dan mengambil keputusan sendiri. Kita harus memberinya kepercayaan dan mendukungnya. Bukan malah mengekangnya! Dia itu anak lelaki!"

Tuan Carlos menghela napas panjang, akan tetapi kemarahannya masih terlihat jelas

. "Aku tidak bisa menerima ini, Miriam. Aku tidak ingin anak kita terlibat dalam masalah yang tidak perlu. Aku melarangnya untuk alasan yang baik!"

Nyonya Miriam menatap suaminya dengan penuh emosi "Carlos, kita harus mempercayai Daniel. Dia adalah anak kita, bukanlah seseorang yang akan mudah terpengaruh. Jangan biarkan rasa benci menghalangi pertumbuhannya!"

Tuan Carlos merasa kesal dengan pendapat istrinya. Dia merasa jika dirinya hanya ingin mencoba melindungi putranya, akan tetapi pria itu juga tidak bisa mengabaikan pendapat dan keinginan istrinya.

"Dia masih terlalu muda, Miriam," ucap Tuan Carlos dengan suara lebih lembut kali ini.

"Aku hanya tidak ingin Daniel terluka atau terkena pengaruh buruk. Aku hanya mencoba melindunginya, dari Keluarga Madison!"

Nyonya Miriam menghampiri suaminya dan memegang tangannya dengan lembut. "Carlos, aku tahu betapa besar cintamu pada Daniel. Tapi kita juga harus memberinya kebebasan dan kesempatan untuk belajar. Kita harus mempercayai jika kita telah mendidiknya dengan baik."

Tuan Carlos merenung sejenak, melihat ke dalam mata istrinya yang penuh cinta. Dia merasa terombang-ambing antara kekhawatirannya dan kepercayaannya pada putranya.

Akhirnya, dengan suara lembut, Tuan Carlos berkata,

"Baiklah, Miriam. Jika kamu yakin jika ini adalah yang terbaik untuk Daniel, aku akan mencoba memahaminya. Akan tetapi aku tetap ingin dia berhati-hati dan tidak terlalu ja6terlibat dengan Keluarga Madison. Aku akan terus memantaunya!"

Nyonya Miriam tersenyum lega dan menggenggam tangan suaminya dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Carlos. Aku tahu kamu mencintai Daniel dengan segenap hatimu. Kita akan menjaga dan mendukungnya bersama."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany    62. Stefany Menghilang Tak Tahu Ke Mana

    Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kepergian Stefany dan keluarganya dari desa Bibury seakan lenyap ditelan bumi. Tidak ada kabar apa pun dari mereka, tak ada satu pun pesan yang ditinggalkan. Nomor ponsel Stefany juga sudah tidak dapat dihubungi lagi. Bagi Daniel, waktu seolah berhenti sejak hari itu. Hari di mana dia terakhir kali berjanji untuk bertemu Stefany di taman desa. Namun gadis itu tidak pernah datang menemuinya di taman desa.Setiap malam sebelum tidur, Daniel selalu teringat senyum manis Stefany, berharap suatu hari gadis itu akan kembali ke pelukannya.“Stefy, Sayang. Kamu sebenarnya berada di mana saat ini? Aku sungguh sangat merindukanmu,” seru Daniel dari kesungguhan hatinya.Marsha dan Caroline, dua sahabat dekat Stefany, juga merasa kehilangan. Mereka sering berkumpul di taman desa bersama Daniel, berbagi cerita tentang Stefany yang mereka rindukan. Namun, rasa rindu itu hanya menyisakan kehampaan tanpa jawaban.“Daniel, kamu harus tabah,” ucap Marsha suatu

  • ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany    61. Stefany Tidak Datang Ke Taman Desa

    Pagi ini, begitu cerah meskipun cuaca masih tetap dingin. Salju yang semalam menutupi desa perlahan berhenti turun, menyisakan pemandangan putih yang membentang sejauh mata memandang. Daniel membuka tirai jendela kamarnya dan tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Udara dingin yang merasuk lewat celah-celah jendela tak mampu mengusik semangatnya. Hari ini adalah hari yang spesial bagi sang pria remaja. Dia akan bertemu Stefany di taman desa, seperti janji mereka tadi malam saat selesai merayakan malam natal.Daniel segera mandi, mengenakan sweater tebal biru tua yang menjadi favoritnya, serta jaket coklat tua yang biasa dipakai olehnya di musim dingin. Setelah itu, dia turun ke dapur untuk sarapan bersama keluarganya.“Pagi, Mommy!” sapa Daniel nada ceria kepada Nyonya Miriam, sang ibu.“Pagi, Dani. Kok kamu ceria sekali pagi-pagi begini?” tanya ibunya sambil menuangkan susu hangat ke gelas.“He-he-he. Hari ini aku mau ketemu Stefany di taman desa. Kami sudah janjian, Mommy.” jawab

  • ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany    60. Harus Meninggalkan Desa

    Suasana malam semakin sunyi dan tenang. Udara dingin menyelimuti Desa Bibury, dengan salju lembut yang turun dari langit gelap. Lampu-lampu jalanan menerangi jalur setapak yang tertutup salju tipis, memberikan suasana magis khas malam Natal. Di tengah keheningan, langkah-langkah kaki kecil terdengar, menghancurkan keheningan salju di bawahnya. Stefany, seorang gadis remaja cantik dan anggun, sedang melangkah pelan menuju rumahnya. Jaket tebal yang sedang dipakai olehnya melindunginya dari dingin, sementara syal merah melilit lehernya. Stefany baru saja pulang dari acara natal remaja desa setelah menghabiskan waktu mengikuti perayaan natal yang begitu sangat meriah di desa itu l.“Malam yang indah,” gumam Stefany, menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang kecil.Namun, keindahan malam itu seketika berubah ketika sebuah mobil hitam melaju perlahan dari arah berlawanan. Stefany sempat memperhatikan mobil tersebut, merasa ada yang aneh karena jarang ada kendaraan melintas malam-

  • ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany    59. Sikap Tegas Tuan Frank

    Desa Bibury yang biasanya tenang kini terasa sunyi, hanya suara angin malam dan salju yang jatuh perlahan menemani kegelapan. Di kediaman keluarga Madison, suasana terasa tegang. Lampu di setiap ruangan menyala terang, namun suasana hati di dalam rumah itu sama sekali tidak mencerminkan damai di malam Natal.Di kamar Stefany, Nyonya Emily Madison tampak sibuk memasukkan baju-baju putrinya ke dalam sebuah koper besar. Tangannya bergerak cepat, akan tetapi hatinya terasa berat. Beberapa kali dia menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.Ternyata Tuan Frank telah mengetahui hubungan percintaan Stefany dan Daniel, atas laporan dari Pablo dan Abner, remaja nakal yang selalu ikut campur urusan orang lain."Emily, kamu sudah selesai berkemas?" suara Tuan Frank tiba-tiba terdengar dari luar pintu kamar.Nyonya Emily mengusap matanya dengan cepat, lalu menjawab, "Sebentar lagi, Frank. Aku hampir selesai mengemasi barang-barang Stefany."“Lebih ce

  • ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany    58. Saling Melambaikan Tangan

    Semarak malam natal di gereja St. Mary yang berdiri megah di tengah-tengah Desa Bibury masih menggema di udara malam yang dingin. Salju masih turun perlahan, menyelimuti jalanan berbatu yang sudah putih bersih. Di dalam gereja, suasana begitu hangat dan meriah. Puluhan lilin menghiasi altar, memancarkan sinar temaram yang menciptakan suasana damai di malam yang istimewa ini.Daniel dan Stefany berdiri di pojok ruangan bersama beberapa teman mereka, tertawa bahagia sambil menikmati kue Natal dan coklat hangat. Sesekali mereka berbincang serius, lalu tertawa kembali ketika ada yang melontarkan lelucon. Ibadah natal telah usai dari tadi. Kini giliran para remaja desa tersebut yang sedang menikmati malam natal dengan kegiatan pemuda gereja.Mata Daniel tak henti-hentinya memperhatikan Stefany yang tampak begitu anggun dengan mantel putih dan syal merah yang melilit lehernya. Dia pun mendekati kekasihnya, lalu berbisik lembut,"Stefy, kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap Daniel s

  • ROMANSA DESEMBER Season 1 : Daniel and Stefany    57. Kegiatan Natal Remaja

    Masih di acara malam natal di Desa Bibury,Udara dingin menyelimuti desa Bibury malam itu, akan tetapi suasana tetap hangat oleh kebahagiaan yang terpancar dari Gereja St. Mary. Setelah ibadah malam Natal, para jemaat langsung pulang ke rumah masing-masing. Namun tidak bagi remaja desa itu. Anak-anak remaja, termasuk Daniel, Stefany, Caroline, Marsha, Filbert, Hugo, Abner, dan Pablo, dan teman-teman lainnya, bersama bersama kedua sepupu Daniel yang datang dari kota, berkumpul di halaman gereja.Acara yang telah dipersiapkan oleh para remaja tersebut berlangsung meriah. Aroma daging yang dibakar di atas bara api bercampur dengan gelak tawa yang memenuhi suasana malam itu. Salju turun perlahan, menutupi tanah dengan lapisan putih yang lembut.“Daniel, kamu sudah siap untuk melempar bola salju?” tanya Filbert sambil mengangkat gumpalan salju di tangannya.Daniel tersenyum penuh semangat. “Awas kamu, Filbert! Aku tidak akan kalah kali ini!”Remaja lainnya ikut bergabung, membentuk dua k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status