LOGINPagi itu matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik gedung perkotaan, menyelinap masuk lewat celah tirai kaca lantai tinggi kantor. Alika datang jauh lebih awal dari biasanya. Sejak Arka diperbolehkan pulang dari rumah sakit kemarin sore, ia sibuk merawat anak itu bergantian dengan Satria sampai larut malam, matanya terasa berat dan pikirannya masih berantakan menata kembali perasaannya setelah kejadian menyakitkan kemarin. Ia bergegas melangkah masuk ke ruang kerjanya sebelum jam masuk kantor tiba. Langkahnya terburu-buru, pikirannya melayang ke mana-mana sampai ia lupa memeriksa isi tas dengan teliti saat meletakkan barang-barangnya. Ia langsung duduk di kursi kerjanya, lalu menyambar tumpukan berkas rapat pagi yang sudah tertata rapi di atas meja. Tanpa sadar, saat ia mengeluarkan dompet, buku catatan kecil, dan pulpen dari saku luar tas, sebuah foto cetak berukuran kecil meluncur jatuh pelan. Foto itu tergeletak menghadap ke a
Sore itu langit Surabaya tampak kelabu pekat, persis seperti perasaan Arkana yang mendung dan berat. Angin kencang berhembus menerpa kaca mobil, membawa rintik hujan tipis yang mulai turun perlahan. Arkana melajukan mobil dengan kecepatan tak wajar, tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku jarinya memutih. Pikirannya berputar kacau balau sejak melangkah keluar dari rumah sakit tadi. Bayangan malam itu kembali menyelinap di ingatannya—malam sehari sebelum putusan cerai jatuh. Saat kontrak pernikahan mereka tinggal hitungan jam, Alika datang padanya dengan permintaan pertama dan terakhir. Di atas meja kerja ruang pribadinya,yang tak lain juga kamar utamanya. di antara kebisuan dan perasaan yang selama ini ia pura-pura tak ada, mereka larut dalam kehangatan yang tak bisa ia tolak. Malam itu terasa begitu nyata, begitu hangat, dan entah bagaimana... di detik-detik terakhir itu, dinding pertahanannya runtuh pelan. Ia tak sadar, rasa yang ia kira
Belum lama Arkana kembali duduk di kursi sudut ruangan, pintu kamar rawat itu terbuka pelan. Seorang pria melangkah masuk dengan wajah cemas, masih mengenakan seragam dokter yang bagian atasnya sudah dilepas dan digantung di lengan, tas medis di satu tangan serta kantong berisi makanan dan susu di tangan satunya. “Al, aku habis jaga poli, langsung lari ke sini begitu dengar beritanya,” bisik Satria pelan, suaranya lembut namun tegas. Langkahnya mantap langsung menghampiri tempat tidur Arka. Pria itu menyentuh dahi anak kecil itu dengan punggung tangannya, lalu mengecek selang infus dan tetesan obat dengan gerakan cekatan, terlatih, dan sangat hati-hati. “Syukurlah suhunya sudah turun mendekati normal. Aku bawa obat tambahan yang dosisnya lebih aman buat anak usia segini, nanti aku jelaskan detailnya ke dokter yang jaga.” Alika menghela napas panjang, rasa lelah dan sesak di dadanya sedikit berkurang melihat kehadiran sahabatnya itu. “Terima k
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang lebih seperempat. Udara di dalam kamar rawat inap kelas VIP itu terasa sejuk berkat AC yang menyala stabil, namun ada keheningan yang berat menyelimuti ruangan itu. Suara detak jam dinding terdengar berirama, sesekali bersahutan dengan suara napas halus Arka yang perlahan mulai tenang. Suhu tubuh anak itu perlahan turun setelah Alika kompres berkali-kali dan memberikan obat sesuai anjuran dokter. Kini suhunya sudah mendekati normal, meski wajah mungilnya masih terlihat pucat dan lelah. Alika duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya terasa pegal semua karena tak beranjak sedari tadi. Tangannya terus menggenggam jemari mungil Arka yang masih terasa hangat, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan itu berulang kali. Matanya tak lepas menatap wajah anaknya, sesekali ia menyeka keringat tipis di dahi Arka dengan tisu basah yang sudah diperas air dingin. “Sabar ya, Nak... Mami di sini. Nggak akan kemana-mana,” bisiknya lir
Pagi itu suasana kantor terasa sedikit lebih tenang setelah keributan kemarin. Alika baru saja selesai menyusun jadwal rapat dan menata berkas di meja Arkana, tangannya bergerak lincah meski sesekali matanya melirik ke arah pintu ruangan dalam. Hatinya masih berdebar setiap kali teringat tatapan tegas namun hangat Arkana saat menahannya pergi kemarin. Belum sempat dia bernapas lega, ponsel di atas mejanya tiba-tiba berdering nyaring, membuatnya sedikit terlonjak. Saat melihat nama Bi Sumi,tetangga dimana Alika menitipkan Arka—terpampang jelas di layar, jantungnya seketika berdegup kencang tak karuan. Perasaan tidak enak langsung menyergap dadanya. "Halo, Bu? Ada apa?" suaranya langsung bergetar hebat, tangannya mencengkeram ponsel erat-erat. "Nak, Alika kamu cepatan pulang sekarang ya! Arka demamnya naik tinggi banget, tadi pagi sampai kejang kecil! Badannya panas sekali, dia terus menangis panggil nama ka
Alika baru saja menyampirkan tas di bahu, jari-jarinya gemetar pelan saat melangkah menjauh dari mejanya. Hatinya perih, rasanya setiap langkah yang diambil terasa berat seolah ada beban besar yang mengikat kakinya. Dia berniat pergi, menjauh dari sini dari semua keributan yang dibawa kehadirannya. Namun tepat saat dia hendak mencapai pintu keluar, suara berat Arkana terdengar tegas memecah keheningan ruangan, membuat langkah kakinya seketika terpaku di tempat. "Mau ke mana?" Alika menelan ludah susah payah, punggungnya masih membelakangi pria itu. Dia mengeratkan genggaman pada tali tas, berusaha menahan getaran di suaranya. "Saya... saya mau mengundurkan diri, Pak. Sepertinya kehadiran saya di sini cuma akan jadi masalah dan bikin sakit hati Ibu Nadia. Lebih baik saya cari pekerjaan lain, supaya semuanya bisa tenang kembali dan tidak ada yang merasa terganggu." "Siapa bilang kamu boleh pergi begitu saja?







