Mag-log in"Mbak siapa ya, Ada perlu apa mencari kami di sini?" Yumna kembali bertanya karena sejak tadi belum mendapat jawaban dari pertanyaannya. "Sa–saya ingin meminta pertanggungjawaban Pak Haikal," ucap wanita tersebut dengan suara bergetar. "Pertanggungjawaban, maksudnya bertanggung jawab apa, Mas. Sebenarnya siapa dia?" tanya Yumna dengan nada yang mulai cemas. Yumna tak menyangka jika ada seorang wanita yang tiba-tiba datang dan meminta pertanggungjawaban atas kehamilan kepada sang suami, sedangkan ia sendiri pun sedang mengandung anak pertamanya. Yumna sangat terluka dan merasa di bohongi, tapi Haikal sang suami berusaha meyakinkan Yumna jika ia tidak pernah mengkhianati cintanya. lalu siapa perempuan kedua yang hadir dalam pernikahan mereka?
view more"Mbak, cari saya dan suami?" tanya Yumna.
Hari ini ada acara selamatan 7 bulan kehamilan Yumna, di tengah acara asisten rumah tangga mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu. Yumna pikir salah satu tamunya yang telat datang, tapi ternyata ia tak kenal dengan wanita yang berdiri di hadapannya. Seorang wanita memakai baju dress panjang berwarna merah muda, dengan rambut terurai, tengah berdiri membelakangi pintu, ketika Yumna bertanya kepadanya wanita tersebut pun membalikkan badan lalu menatap Yumna dan Haikal. "Kamu, ngapain kamu kesini?" tanya Haikal dengan ekspresi terkejut. "Siapa wanita ini, Mas. Kamu kenal?" tanya Yumna penuh selidik. Wanita itu sekilas tersenyum ke arah Yumna dan Haikal lalu menundukkan pandangannya kembali. "Mbak siapa ya, Ada perlu apa mencari kami di sini?" Yumna kembali bertanya karena sejak tadi belum mendapat jawaban dari pertanyaannya. "Sa–saya ingin meminta pertanggungjawaban Pak Haikal," ucap wanita tersebut dengan suara bergetar. "Pertanggungjawaban, maksudnya bertanggung jawab apa, Mas. Sebenarnya siapa dia?" tanya Yumna dengan nada yang mulai cemas. "Sayang, lebih baik kita bicarakan di dalam saja. Ini pasti ada kekeliruan," ucap Haikal. Yumna mengangguk, mereka membawa wanita itu masuk ke dalam rumah. Melewati para tamu yang hadir, hingga mereka tiba di ruang tamu. "Silahkan duduk, Mbak," ucap Yumna. Wanita itu pun duduk berhadapan dengan Yumna dan Haikal, asisten rumah tangga dengan sigap memberikan satu gelas air dan disimpan di depan meja tepat di hadapan wanita itu. "Siapa nama Mbak, dan ada keperluan apa Mbak datang ke sini?" tanya Yumna masih dengan suaranya yang terdengar ramah. "Saya Arini, saya datang ingin meminta pertanggungjawaban Pak Haikal atas bayi di dalam perut saya," ucap Arini. Deg ... Yumna tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut wanita yang duduk di hadapannya tersebut. Seperti ada ribuan anak panah yang menusuk jantungnya, tubuhnya tiba-tiba melemas dan ia menatap sang suami dengan tatapan nanar. "Kamu jangan mengarang, Arini. Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" tanya Haikal dengan nada emosi. "Saya tidak bohong, Pak Haikal. Minggu kemarin saya baru mengetahui jika saya hamil. Saya mencari tahu alamat Bapak, dan saya terpaksa datang ke sini karena saya merasa tidak pernah melakukan hal itu selain dengan bapak," ucap Arini. "Tapi saya tidak merasa melakukan apa-apa dengan kamu!" ucap Haikal. "Kenapa Bapak masih menyangkal, padahal saat itu Bapak ada di samping saya saat terbangun dan kita sama-sama tidak memakai sehelai benang pun," ucap Arini. Dada Yumna makin terasa sesak saat mendengar ucapan wanita di hadapannya. Arini, wanita berparas cantik dengan tatapan mata yang sendu. Wajah khas gadis desa yang lugu, siapapun tidak mengira jika wanita seperti itu bisa memiliki hubungan khusus hingga hamil dengan suami orang. "Mas, jelaskan apa yang terjadi antara kamu dan dia," ucap Yumna dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Sayang, aku mohon kamu jangan terbawa emosi dulu. Jangan percaya ucapannya, tapi percayalah dengan ucapanku," ucap Haikal mencoba menenangkan sang istri. "Bu Yumna, Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti hati ibu atau menghancurkan rumah tangga Ibu, Tapi keadaan saya yang memaksa seperti ini. Saya tidak ingin anak ini lahir tanpa Ayah," ucap Arini dengan wajah memelas Yumna tak tahan dan akhirnya meneteskan air mata. Bak disambar petir siang hari, Yumna yang sedang hamil 7 bulan mendengar pernyataan jika ada wanita lain yang mengandung benih suaminya juga. melihat sang istri menangis hati Haikal ikut teriris. "Diam kamu, Arini. Jangan berkata apa-apa lagi di hadapan istriku!" ucap Haikal dengan suara baritonnya. "Katakan dengan jujur, Mas. Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan di belakangku?" tanya Yumna dengan linangan air mata di pipinya. "Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan dia, Sayang!" jawab Haikal. "Haruskah aku percaya dengan ucapanmu, Aku bukan anak kecil, Mas. Bagaimana wanita ini bisa hamil jika kalian tidak pernah berhubungan di belakangku selama ini," ucap Yumna tak percaya pada suaminya. "Tapi aku benar-benar tidak pernah berhubungan dengan dia, Sayang," ucap Haikal masih membela diri. "Berhenti memanggilku sayang. Kamu jahat, Mas. Kamu tahu aku sedang hamil, kenapa kamu berselingkuh di belakangku. Apa salahku padamu, Mas?" tanya Yumna dengan isak tangis yang memilukan. Wanita yang kini tengah berbadan dua itu tidak menyangka jika sang suami yang selama ini ia bangga-banggakan, karena sangat menunjukkan kasih sayang kepadanya ternyata mengkhianatinya. Haikal mencoba menggenggam tangan sang istri untuk menenangkannya, tapi Yumna menepisnya. "Mana janjimu yang kau bilang hanya aku satu-satunya perempuan yang ada di hati dan di hidupmu, Mas. Nyatanya ada perempuan kedua Yang kini hadir dan mengandung anakmu juga. Tega kamu mengkhianati aku, Mas!" Yumna berbicara dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya. Dadanya sesak menerima kenyataan yang ada di depan mata, ia tak bisa membayangkan jika harus berbagi suami dengan wanita lain, lalu anaknya berbagi Ayah dengan anak wanita lain. "Aku tidak pernah mengingkari janjiku kepadamu, Sayang. Aku tak pernah mengkhianatimu," ucap Haikal. "Kenapa kamu masih menyangkal padahal bukti sudah ada di depan mata, Mas!" ucap Yumna. "Kedatangan Arini tidak bisa membuktikan apa-apa, mungkin saja dia hanya mengaku-ngaku. Hanya untuk membuat rumah tangga kita berantakan," ucap Haikal. Yumna menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang suami, ia masih belum percaya dengan apa yang kini sedang ia hadapi. Mana mungkin ada wanita yang berani datang dan mengaku hamil jika sebelumnya di antara mereka tidak ada apa-apa, begitulah yang ada di pikiran Yumna. "Pak Haikal, anak di dalam perut saya ini pasti anak bapak. Saya tidak bisa melupakan kejadian malam itu, Karena itu adalah pertama kalinya bagi saya melakukan dengan laki-laki dan setelah itu tidak ada lagi laki-laki lain yang menyentuh saya," ucap Arini. "Cukup Arini, Aku tidak merasa melakukan apapun kepadamu malam itu. Iya memang saat aku bangun kita sudah tidak memakai busana, tapi bisa saja itu kamu yang menjebak aku, kan!" ucap Haikal dengan emosi. Haikal masih terus berdebat dengan Arini tak mau percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, sementara Yumna meringis memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. "Aaaahhh ... Perutku sakit!" teriak Yumna. Haikal terkejut mendengar teriakan sang istri, lalu melihat istrinya memejamkan matanya dan memegangi perutnya. "Sayang, kenapa?" tanya Haikal. "Mas, perutku sakit sekali," ucap Yumna. Rasa sakit itu semakin parah dan kini kepalanya pun terasa berdenyut hebat, hingga akhirnya Yumna pun pingsan.Yumna masih berusaha mendengarkan apa yang Arini katakan di kamar, ia mendengar samar-samar Arini menyebut namanya."Bagaimana jika Yumna sampai tahu semuanya, bagaimana nasib anak ini selanjutnya?" suara Arini dari dalam kamar yang terdengar oleh Yumna.Yumna yakin jika Arini sedang menyembunyikan sesuatu, ia sengaja tidak mengetuk pintu kamar tersebut, ia bersandar dan telinganya ditempelkan di pintu kamar. Dari posisi itu kebetulan ia bisa melihat sang suami yang ada di meja makan tengah menempelkan ponsel di telinganya dan seperti sedang berbicara dengan ponsel tersebut."Apa sebenarnya Arini sedang bicara dengan Mas Haikal? Apa mereka menyembunyikan sesuatu dariku?" gumam Yumna.Wanita yang tengah berbadan dua itu lalu menegakkan tubuhnya tak lagi menempelkan telinga di depan pintu kamar tersebut, tiba-tiba Arini membuka pintu dan pandangannya langsung tertuju pada meja makan di mana Haikal berada di sana, Yumna mengikuti arah pandangan mata Arini, hatinya teriris melihat kontak
Tak terasa air mata menetes di pipi perempuan berwajah cantik itu, dalam pikiran Yumna meskipun keadaan tidak sadar mungkin saja terjadi pergulatan panas antara suaminya dengan wanita lain, di tambah hormon kehamilan membuatnya lebih sensitif dan sedih berlebihan."Ya sudah jika kamu mau seperti itu, tapi tolong kamu percaya padaku, aku akan membuktikan semuanya, jika aku sama sekali tidak pernah mengkhianati kamu, Sayang," ucap Haikal."Maaf aku bukan istri yang baik untukmu, Mas. Apa aku boleh bertanya?" ucap Yumna "Jangan bicara seperti itu, kamu adalah yang terbaik, katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan," ucap Haikal.Yumna memejamkan matanya sebelum bertanya kepada Haikal sang suami, sebenarnya pertanyaan ini ingin Ia tanyakan sudah sejak di rumah sakit, tapi ia ragu dan rasanya tidak siap untuk menerima jawaban dari sang suami."Setelah kejadian itu apa yang kamu dan dia lakukan di belakangku, apa kamu memberinya uang?" tanya Yumna."Iya, pada saat kejadian itu Arini memint
Arini pulang setelah di beri waktu untuk berpikir.Sementara Billy mengajak Haikal kembali ke dalam ruangan sang istri."Apa kamu sudah menyelidiki Siapa orang yang memberimu minuman itu?" tanya Billy."Sudah Appa, tapi aku tidak bisa mendapatkan bukti apapun. Sepertinya orang itu bermain dengan sangat rapi," ucap Haikal."Kau tidak curiga dengan klien yang mengajakmu bertemu malam itu?" tanya Billy."Tidak, aku yang datang lebih dulu dan Aku yang memesan minuman," ucap Billy.Billy menghela nafasnya, lalu menatap Yumna. Menantunya itu terlihat masih melamun seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi."Yumna, jika wanita itu tinggal satu atap denganmu. Apa kamu keberatan?" tanya Billy membuat Yumna terkejut bukan main."Appa, mana mungkin dia tinggal satu atap dengan kami. Lebih baik belikan saja rumah dan aku akan memenuhi semua kebutuhannya," ucap Haikal menolak saran sang papa."Appa yakin kalian sedang dijebak oleh seseorang, mungkin ada yang tidak suka dan berusaha menghan
"Aku akan menjelaskan semuanya, tapi aku minta kamu percaya padaku, Sayang," Haikal memohon pada Yumna."Jelaskan saja dulu, percaya atau tidak tergantung bagaimana caramu menjelaskannya. Aku akan mempertimbangkan lagi ceritamu layak dipercaya atau tidak, Mas!" ucap Yumna.Haikal menghela nafasnya, mengerti dengan situasi yang membuat istrinya tak mudah percaya dengan apa yang akan dikatakannya."Malam itu, aku bertemu dengan seorang klien di salah satu lobby hotel. Setelah selesai berbincang klien itu langsung pamit pulang sementara aku menyesap secangkir teh hangat terlebih dahulu. Yang aku ingat terakhir kali aku ke kamar mandi untuk buang air kecil. Entah bagaimana ceritanya aku juga bingung, tiba-tiba tersadar dalam keadaan tak berbusana di atas tempat tidur bersama dia." Haikal menunjuk Arini"Jadi kau menjebak suamiku?" tanya Yumna dengan tatapan sinis ke arah Arini."Tidak, saya juga korban di sini. Saya bekerja di hotel itu sebagai cleaning service. Saat saya sedang membersih












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.