MasukPagi itu, Seeyana bangun dengan kepala berat. Matanya perih, seolah semalaman tidak benar-benar terpejam. Bayangan dua sosok di bawah payung masih melekat, datang dan pergi seperti luka yang sengaja diusik. Ia meraba sisi ranjang di sebelahnya—dingin. Ravent sudah pergi.
Di meja makan, seperti kebiasaan yang mulai terasa pahit, ada secarik kertas kecil. Aku berangkat lebih pagi. Rapat. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tambahan kata. Hanya kalimat pendek yang terasa lebih seperti pemberitahuan daripada perhatian. Seeyana melipat kertas itu pelan, lalu meletakkannya kembali. Ia berdiri lama di dapur, menatap rak yang makin jarang terisi. Beras tinggal setengah, minyak goreng hampir habis, dan telur tersisa tiga butir. Ia menarik napas, lalu mengambil buku catatan kecil. Daftar belanja hari ini kembali ia coret lagi. Ia membuat sarapan seadanya. Nasi putih, telur ceplok, dan sambal sisa semalam. Kursi di seberangnya kosong. Lagi. Saat ia duduk, ponselnya bergetar. Bukan dari Ravent. Grup ibu-ibu komplek ramai membicarakan harga sembako yang naik. Seeyana membaca sekilas, lalu menutupnya. Ia tahu. Ia merasakannya setiap hari. Ia membereskan piring, lalu duduk di lantai dapur. Dompet ia buka. Uang kertas ia ratakan di atas ubin dingin, dihitung pelan. Jumlahnya membuat dadanya kembali mengencang. Tidak cukup untuk satu bulan penuh. Ia menatap angka itu lama, seolah berharap jumlahnya berubah jika ditatap lebih lama. Tapi kenyataan tak pernah bernegosiasi. Siang hari, Seeyana keluar rumah menuju warung. Matahari terik, jalanan padat. Ia berjalan sambil menggenggam tas kain, berusaha mengingat apa saja yang masih bisa ditunda. Di warung, ia mengambil beras eceran, tahu, tempe, dan beberapa bumbu dasar. Saat kasir menyebutkan total harga, Seeyana terdiam sejenak sebelum menyerahkan uang. Di jalan pulang, ia berpapasan dengan tetangga-tetangga yang mengobrol riuh. Mereka membahas suami, pekerjaan, rencana liburan kecil. Seeyana tersenyum sopan, meski dadanya terasa kosong. Tidak ada yang tahu betapa berat langkahnya hari ini. Sampai di rumah, ia menyimpan belanjaan rapi. Keringat mengalir di pelipis, tapi ia tak langsung duduk. Cucian menunggu, lantai perlu disapu, dan makan malam harus disiapkan meski ia tak tahu apakah Ravent akan pulang tepat waktu. Sore menjelang ketika ponselnya bergetar. Nama Ravent muncul di layar. Jantung Seeyana berdegup cepat, ada harap kecil yang tak ingin ia akui. “Iya, Ven?” jawabnya cepat. “Yan,” suara Ravent terdengar terburu-buru. “Nanti aku pulang agak malam.” Seeyana menutup mata sejenak. “Lembur lagi?” “Iya. Jangan nunggu.” Ia menelan ludah. “Ven… soal uang belanja” “Yan,” potong Ravent, nada suaranya meninggi sedikit. “Nanti aja. Aku lagi rapat.” Sambungan terputus. Seeyana menatap layar ponsel yang gelap. Kalimatnya belum selesai. Ia berdiri lama di tengah dapur, lalu meletakkan ponsel di meja dengan tangan gemetar. *** Malam turun. Hujan rintik kembali membasahi jalanan. Seeyana menata meja makan dengan piring sederhana. Ia memasak sup bening dan tempe goreng. Makanan hangat, seperti yang selalu ia lakukan, meski harapannya makin tipis. Jam menunjukkan pukul sepuluh. Sup mulai mendingin. Ketika pintu akhirnya terbuka hampir tengah malam, Seeyana sudah duduk menunggu. Ravent masuk dengan wajah lelah, jasnya basah oleh hujan. Ia menaruh tas, lalu langsung menuju kamar mandi. “Ven,” panggil Seeyana pelan saat Ravent keluar. “Makan dulu?” Ravent mengusap wajahnya. “Nanti aja. Aku capek.” “Supnya masih hangat,” lanjut Seeyana, berusaha terdengar biasa. “Aku masak...” “Aku bilang nanti, Yan,” potong Ravent, nadanya datar tapi tegas. “Kenapa sih harus sekarang?” Seeyana terdiam. Ia menatap suaminya, mencari sisa-sisa kelembutan yang dulu selalu ada. “Aku cuma pengin kita makan bareng. Udah lama...” “Yan,” Ravent menghela napas keras. “Kamu kenapa jadi ribet gini? Aku pulang capek, kamu malah nambah tekanan.” Kata-kata itu menghantamnya. “Aku nggak bermaksud nambah tekanan. Aku cuma… lagi bingung. Uang belanja bulan ini kurang. Listrik, gas—” “Terus?” Ravent menatapnya tajam. “Mau nyalahin aku? Aku kerja, Yan. Aku berusaha.” “Aku tahu kamu kerja,” suara Seeyana bergetar. “Aku cuma butuh kamu dengerin aku sebentar.” Hening menggantung. Ravent memalingkan wajah. “Yan, kamu di rumah. Kamu nggak tahu rasanya di luar. Jangan bikin seolah-olah aku ini gagal.” Kalimat itu seperti palu. Seeyana menggeleng pelan. “Aku nggak pernah bilang kamu gagal.” “Tapi caramu ngomong bikin aku ngerasa begitu,” balas Ravent cepat. “Kamu harusnya bersyukur aku masih pulang.” Seeyana terdiam. Dadanya naik turun, napasnya pendek. Ia ingin membalas, ingin berkata bahwa bersyukur tak seharusnya berarti menelan semua luka. Tapi kata-kata itu tak keluar. Ravent melangkah masuk ke kamar, menutup pintu dengan bunyi pelan yang terasa sangat keras di telinganya. Seeyana duduk kembali. Sup di mangkuk kini benar-benar dingin. Ia menatapnya lama, lalu berdiri untuk membereskan meja. Tangannya gemetar saat mengangkat piring. Air mata jatuh, satu, lalu menyusul yang lain. Larut malam, Seeyana duduk di tepi ranjang. Ravent sudah terlelap, membelakanginya. Ia menatap punggung itu dengan perasaan yang sulit ia uraikan—antara rindu, marah, dan lelah. Ia teringat pesan dari nomor tak dikenal semalam. Ponselnya terletak di meja, layar gelap. Ia ragu untuk menyentuhnya. Takut, tapi juga penasaran. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan perempuan itu. Pagi harinya, Seeyana bangun dengan keputusan kecil. Ia akan bicara lagi. Bukan untuk bertengkar, tapi untuk bertahan. Saat Ravent bersiap berangkat, Seeyana berdiri di ambang pintu kamar. “Ven, nanti malam kita bisa ngobrol?” Ravent mengancingkan kemejanya. “Ngobrol apa?” “Semua,” jawab Seeyana jujur. “Tentang kita.” Ravent berhenti sejenak, lalu menghela napas. “Lihat nanti. Jangan bikin masalah lagi, ya.” Ia pergi. Seeyana berdiri lama di sana. Kata masalah kembali terngiang. Ia bertanya-tanya sejak kapan perasaannya sendiri dianggap beban. Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Kamu nggak sendirian. Tapi kalau mau tahu kebenarannya, kamu harus siap. Seeyana menatap pesan itu dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di atas layar. Ia tidak membalas. Belum. Ia menutup ponsel, menatap rumah kecil itu dinding, meja makan, kursi kosong. Nafasnya terasa makin sesak, seolah udara di rumah ini tak lagi cukup. Dan untuk pertama kalinya, Seeyana bertanya pada dirinya sendiri berapa lama lagi ia bisa bertahan, sebelum benar-benar kehabisan napas?“Jangan login.”Suara Raka cepat, tajam. Tangannya sudah bergerak di keyboard, membuka beberapa jendela sekaligus. Kursor berkedip di banyak tempat, seperti mencoba mengejar sesuatu yang terlalu cepat untuk ditangkap.Nama itu masih ada di layar.ARKAN_02Tidak berkedip. Tidak berubah. Seolah menunggu.Clarisa menatapnya tanpa napas yang utuh. “Itu bukan bug, kan?”Raka tidak langsung menjawab. Matanya bergerak cepat, membaca log yang muncul satu per satu. “Kalau ini bug… ini bug paling presisi yang pernah aku lihat.”Arkan berdiri diam di depan monitor. Tatapannya tidak lagi setegang tadi justru lebih tenang.Terlalu tenang.“Dia masuk sebagai user baru,” gumamnya pelan. “Bukan override. Bukan infiltrasi.”Raka mengangguk cepat. “Ya. Sistem tidak mendeteksi dia sebagai ancaman.”Clarisa menoleh ke Arkan. “
Langkah itu berhenti tepat di balik pintu.Tidak ada bayangan yang jatuh ke lantai. Tidak ada siluet di celah cahaya. Hanya ruang gelap yang terbuka sedikit, seolah menahan sesuatu agar tidak sepenuhnya masuk.Tidak ada yang bicara.Arkan berdiri paling depan, bahunya kaku, tapi tidak mundur. Clarisa di sisi kirinya, satu langkah lebih belakang. Raka di kanan, jari-jarinya kembali menyentuh meja, mencari sesuatu untuk digenggam, meski tidak ada.Klik kecil terdengar.Pintu itu terbuka sedikit lagi. Engselnya berderit pelan, terlalu pelan untuk terasa alami dan di saat itulah udara di dalam ruangan berubah.Bukan dingin. Bukan panas.Lebih seperti padat seolah ada sesuatu yang menekan dari segala arah, membuat napas terasa lebih berat tanpa alasan yang jelas.Clarisa menarik napas pendek. “Arkan…”Arkan mengangkat tangannya sedikit tanpa menoleh. Diam.Langkah berikutnya terdengar.Dekat.
“Jangan bergerak.”Suara Arkan nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Raka yang sudah setengah berdiri membeku di tempatnya. Clarisa bahkan belum sempat menarik napas penuh sejak bayangan itu muncul di layar.Monitor kedua masih menyala. Feed kamera tetap stabil. Terlalu stabil dan bayangan itu masih ada. Tidak jelas bentuknya. Tidak sepenuhnya gela lebih seperti celah dalam cahaya. Sesuatu yang tidak seharusnya ada, tapi tetap tertangkap.Raka menelan ludah. “Kalau itu… kamera real-time, berarti—”“Jangan selesaikan kalimatmu,” potong Clarisa cepat.Ia tidak menoleh. Tatapannya terkunci pada layar, tapi bahunya menegang. Jari-jarinya menggenggam ujung meja terlalu erat sampai buku-buku jarinya memutih.Arkan perlahan berdiri. Kursinya bergeser sedikit. Suaranya kecil, tapi cukup membuat suasana terasa lebih padat. Ia tidak langsung melihat ke belakang. Matanya masih di layar.M
“Kau yakin mau buka itu sekarang?”Suara Clarisa tipis, nyaris tenggelam oleh dengung perangkat di ruangan. Tidak ada yang menjawab langsung. Hanya suara kipas CPU yang berputar stabil, dan kedipan kecil di sudut layar yang terasa seperti detak jantung kedua.Arkan tidak mengalihkan pandangan. “Kalau bukan sekarang, kapan?”Jarinya berhenti di atas touchpad. Tidak menekan. Tidak mundur. Seolah ada garis tak terlihat yang sedang ia timbang. Raka bersandar sedikit ke belakang, tapi matanya tetap menempel pada monitor. “Kalau itu jebakan, kita tidak akan punya kesempatan kedua.”“Kalau itu kebenaran?” Arkan membalas tanpa menoleh.Tidak ada yang langsung menyahut.Klik!File itu terbuka. Layar berubah perlahan, bukan dengan animasi biasa. Ada jeda. Sepersekian detik yang terasa terlalu lama untuk ukuran sistem secepat Horizon.Kemudian, muncul satu folder utama.PERSONAL_OVERRIDEDi bawahnya
Dering ponsel membelah sunyi malam. Arkan menatap layar dengan ekspresi tak terdefinisi. Nama pengirim? Sistem internal Horizon. Tidak ada suara, hanya getar yang terasa menekan. Ia menekan tombol angkat tanpa sepatah kata.“Arkan, kau… kau menerima akses itu?” tanya Clarisa di sebelahnya, suaranya bergetar tipis, seperti menahan sesuatu yang lebih besar daripada takut.Raka hanya menatap layar, wajahnya pucat, jari-jari mengetuk meja tanpa pola. “Ini bukan sekadar hak istimewa. Ini… itu seperti menerima kunci ke sesuatu yang bisa mengubah semua yang kalian tahu tentang perusahaan.”Arkan menelan ludah. Dadanya berdebar, bukan karena panik, tapi karena perasaan aneh: campuran antara kewenangan dan tanggung jawab yang tiba-tiba menekan. Ia tahu, kunci itu bukan untuk membuka pintu biasa.“Kalau aku sudah pegang akses ini… berarti semua yang tersembunyi bisa terbuka,” gumamnya pelan, hampir untuk diri
Hujan turun lagi malam itu. Bukan deras, tapi cukup untuk membuat kaca jendela dipenuhi garis-garis air yang bergerak lambat.Di ruang kerja utama, hanya layar monitor yang menyala. Raka duduk di depan sistem server internal, menelusuri jejak digital yang ditinggalkan oleh akun misterius itu. “Administrator-0 bukan akun biasa,” katanya tanpa menoleh. “Dia tidak muncul di daftar utama. Seperti tertanam di dalam struktur paling awal.”Arkan berdiri di belakangnya.“Backdoor?”“Lebih tua dari itu,” jawab Raka pelan. “Ini seperti fondasi sistem. Dibuat sebelum protokol keamanan generasi sekarang.”Clarisa bersandar di meja, memeluk dirinya sendiri.“Berarti ini dibuat saat ayah-ayah kita masih aktif.”Pak Surya tidak menyangkal.Ia hanya menatap layar dengan tatapan berat.“Aku tidak pernah menyetujui akun semacam itu.”Arkan menjawab tenang, “Mungkin bukan Ayah yang membuatnya.”Raka memperbesar satu log lama. Tanggalnya dua puluh lima tahun lalu.Nama pengunggah awal HZN-Core“Horizon C
Seeyana duduk di tepi ranjang kamar tamu rumah sahabatnya, Alya. Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Lampu kamar redup, tapi matanya enggan terpejam. Pikirannya berisik, dipenuhi potongan kejadian yang belum sempat ia cerna sepenuhnya.Ponselnya bergetar.Nama Ravent muncul di layar.Ia
Ravent berdiri kaku di ambang pintu, seolah rumah itu tiba-tiba bukan lagi miliknya. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Seeyana menatapnya tanpa emosi yang meledak-ledak—justru ketenangan itulah yang membuat Ravent gelisah.“Kamu dari mana?” tanya Seeyana, suaranya datar.Ravent meletakkan tasnya
Seeyana terbangun dengan tubuh terasa berat, seolah semalaman ia memikul beban yang tak terlihat. Tempat di sebelahnya kosong. Seprai sudah dingin, rapi, seakan tak pernah disentuh. Ia duduk perlahan, menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Tidak ada suara. Tidak ada aroma kopi. Tidak ada sapaan p
Seeyana terbangun oleh suara pintu yang dibuka tergesa. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Ia menatap langit-langit kamar, lalu duduk perlahan. Langkah kaki Ravent terdengar berat di ruang tamu, disusul bunyi tas yang diletakkan sembarangan. Ia keluar kamar. Lampu ruang tengah







