LOGINKetukan di pintu terdengar keras, memecah kesunyian siang itu. Seeyana yang sedang menjemur pakaian terhenti, lalu melangkah cepat ke ruang tamu. Begitu pintu dibuka, sosok yang berdiri di hadapannya membuat dadanya langsung menegang.
Suryani.
Ibu Ravent berdiri dengan tas besar di tangan dan tatapan tajam yang langsung menyapu seisi rumah, seolah mencari kesalahan bahkan sebelum melangkah masuk.
“Kamu di rumah aja?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Iya, Bu,” jawab Seeyana pelan. “Silakan masuk.”
Suryani melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan, sepatunya diletakkan asal di dekat pintu. Ia menaruh tas di meja, lalu menepuk-nepuk debu imajiner di sofa.
“Rumah kok kayak gini?” gumamnya. “Kipas berisik, lantai kusam. Kamu ini nggak pernah bersihin, ya?”
Seeyana menunduk. “Baru tadi pagi saya pel—”
“Alasan,” potong Suryani cepat. “Perempuan itu kerjanya ngurus rumah. Masa beginian aja masih kelihatan kotor.”
Setiap kata jatuh tepat di tempat yang paling lemah. Seeyana menggenggam ujung bajunya, mencoba menahan perih yang merambat pelan.
“Ravent kerja banting tulang di luar,” lanjut Suryani, suaranya meninggi. “Kamu di rumah harusnya bikin dia nyaman. Jangan malah jadi beban.”
Beban.
Kata itu mengendap di dada Seeyana, berat dan menyakitkan. Ia ingin berkata bahwa Ravent jarang pulang, bahwa semua urusan rumah ia kerjakan sendiri, bahwa uang belanja sering tak cukup. Tapi lidahnya kelu. Ia tahu, apa pun yang ia katakan akan dianggap pembelaan kosong.
“Maaf, Bu,” katanya akhirnya.
Suryani mendengus. “Iya, iya. Jangan cuma minta maaf. Perbaiki.”
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. “Ravent pulang jam berapa biasanya?”
“Tidak tentu, Bu.”
“Hah?” Suryani mengernyit. “Suami pulang nggak tentu, kamu diam aja?”
Seeyana mengangkat wajahnya sedikit. “Saya nggak mau bikin masalah.”
Suryani tertawa kecil, dingin. “Justru itu masalahnya. Kamu terlalu lembek. Pantas saja Ravent jadi begitu.”
Kalimat itu menamparnya telak. Seeyana menelan ludah, menunduk lagi. Ia merasa kecil, seolah keberadaannya memang salah sejak awal.
Tak lama kemudian, Suryani pamit. “Nanti aku ngomong sama Ravent. Kamu itu harus lebih tahu diri.”
Pintu tertutup. Seeyana berdiri kaku di ruang tamu. Rumah kembali sunyi, tapi kata-kata Suryani masih bergaung, mengisi setiap sudut.
***
Malam itu, Ravent pulang lebih awal dari biasanya. Jam baru menunjukkan pukul delapan ketika pintu terbuka. Seeyana yang sedang di dapur langsung menoleh, ada harap kecil yang muncul tanpa izin.
“Kamu pulang cepat,” katanya.
Ravent hanya mengangguk, melepas sepatu. “Ibu tadi ke sini?”
Seeyana terdiam sejenak. “Iya.”
“Apa yang dia bilang?”
Ia ragu, lalu menjawab jujur. “Ibu bilang… rumah kurang rapi. Katanya aku harus lebih ngerti posisi.”
Ravent menghela napas panjang, wajahnya terlihat jengkel. “Yan, kamu jangan dimasukin ke hati. Ibu memang begitu.”
“Tapi, Ven...”
“Sudah,” potong Ravent. “Kamu harus maklum. Dia cuma peduli.”
Peduli.
Seeyana menatap suaminya, berharap ada pembelaan kecil. Tapi tak ada. Ravent berjalan ke kamar, meninggalkannya berdiri dengan kalimat yang menggantung.
Ia mengikuti Ravent ke kamar, memberanikan diri bicara lagi. “Ven, aku capek.”
Ravent berhenti, menoleh. “Capek apa? Kamu di rumah.”
Kalimat itu membuat dadanya seperti diremas. “Aku capek nunggu. Capek mikir uang. Capek ngerasa salah terus.”
Ravent mengusap wajahnya kasar. “Yan, aku juga capek. Jangan seolah-olah cuma kamu yang berjuang.”
“Aku nggak pernah bilang begitu,” suara Seeyana bergetar. “Aku cuma pengin kamu di pihak aku. Sekali aja.”
Hening.
Ravent memalingkan wajah. “Aku di pihak kamu. Tapi kamu juga harus ngerti aku.”
Ia berbaring, membelakangi. Percakapan berakhir begitu saja.
Seeyana duduk di tepi ranjang, menatap punggung itu lama. Ada jarak yang tak bisa ia jangkau, meski mereka berada di tempat yang sama.
***
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Suryani beberapa kali menelepon, selalu dengan nada menyalahkan. Ravent tetap sibuk, pulang larut, dan semakin jarang berbicara. Seeyana menjalani rutinitasnya dengan kepala tertunduk, seolah berharap waktu bisa berjalan lebih cepat.
Suatu sore, hujan turun deras. Seeyana duduk di beranda, memandangi jalan yang basah. Pikirannya melayang, mengingat pesan-pesan dari nomor tak dikenal yang tak lagi muncul, tapi tetap menghantui.
Ia menggenggam ponsel, lalu meletakkannya lagi. Ia tak tahu harus berharap atau takut.
Dari balik pagar, seorang pria berhenti. Victor.
Ia mengenakan jaket tipis, rambutnya sedikit basah. “Hujannya deras,” katanya ramah.
“Iya,” jawab Seeyana singkat.
Victor menatapnya sejenak, lalu berkata hati-hati, “Kamu kelihatan pucat. Nggak apa-apa?”
Pertanyaan sederhana itu hampir membuat pertahanannya runtuh. Seeyana menunduk, menarik napas. “Nggak apa-apa.”
Victor tidak memaksa. “Kalau butuh bantuan, bilang saja.”
Ia pamit, meninggalkan Seeyana dengan perasaan asing di dadanya. Perhatian kecil itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama ia lupakan dianggap ada.
Malamnya, Ravent pulang larut lagi. Seeyana sudah tidak menunggu di ruang tamu. Ia duduk di kamar, memeluk lutut. Saat Ravent masuk, ia bahkan tak menoleh.
“Yan,” panggil Ravent pelan.
Ia mengangkat wajah. “Apa?”
“Kamu kenapa?”
Pertanyaan itu datang terlambat. Seeyana menatapnya lama, mencari ketulusan. “Aku cuma capek, Ven. Pundakku rasanya nggak pernah kosong.”
Ravent terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Tidur saja. Besok juga baik-baik saja.”
Seeyana tersenyum pahit. Ia tahu, besok tidak akan berbeda.
Lampu dimatikan. Dalam gelap, air mata jatuh tanpa suara. Ia menyadari satu hal yang makin jelas bukan hanya suaminya yang menjauh, tapi dirinya sendiri yang perlahan kehilangan tempat berpijak.
Dan di rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung, ia justru belajar bagaimana rasanya berdiri sendirian.
“Aku ingin namanya.”Suara Arkan tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Raka berhenti bernapas sesaat.Pak Surya memandang anaknya lama. Api di belakang mereka tinggal bara merah yang sesekali berderak pelan.“Kau sudah tahu jawabannya,” katanya akhirnya.“Tidak. Aku ingin kau yang mengatakannya.”Sunyi beberapa detik. Lalu ada nama yang ia ingat ‘Leonard Adipratama’. Nama itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang sudah lama tenang.Clarisa mengerutkan kening. “Bukankah dia....”“......mantan komisaris utama,” potong Raka pelan. “Yang ‘mengundurkan diri’ tiga tahun lalu.”Pak Surya tersenyum tipis. “Mengundurkan diri adalah kata yang lebih halus dari dipaksa keluar.”Arkan tidak bereaksi.“Tiga tahun lalu,” lanjut Pak Surya, “Leonard kehilangan pengaruhnya karena keputusan dewan. Tapi jaringan yang ia bangun tidak pernah benar-benar hilang.”“Dan proyek itu?” tanya Clarisa.Pak Surya menghemb
“Kau sudah tahu.”Kalimat itu keluar lebih dulu dari mulut Pak Surya sebelum Arkan sempat berbicara.Mereka berdiri berhadapan di trotoar depan gedung yang masih berasap. Bau hangus dan logam terbakar bercampur dalam udara dini hari.Clarisa berdiri beberapa langkah di belakang Arkan. Raka di sisi lain, selalu tetap waspada.Arkan tidak menjawab langsung. Sorot matanya tajam, tapi suaranya tetap rendah. “IP dari rumah keluarga.”Pak Surya mengangguk pelan. Tidak menyangkal. “Itu bukan hal sulit untuk diatur,” katanya tenang. “Rumah itu punya banyak akses lama.”“Jangan bermain kata-kata,” potong Arkan.Sunyi menegang.Lampu ambulans memantul di wajah mereka.“Aku menghapus sesuatu,” lanjut Pak Surya akhirnya. “Tapi bukan untuk menyelamatkan diriku.”Clarisa menatap pria tua itu.“Lalu untuk siapa?” tanyanya.Tatapan Pak Surya beralih padanya.“Untukmu.”Kata itu menggantung aneh di udar
“Berapa lantai yang terbakar?”Suara Arkan terdengar lebih dingin dari biasanya.Petugas itu menelan ludah. “Api mulai dari lantai arsip. Menyebar cepat ke dua lantai di atasnya. Sistem pemadam otomatis tidak aktif.”“Tidak aktif?” ulang Raka tajam.“Kami masih menyelidiki.”Arkan sudah berjalan menuju mobil sebelum kalimat itu selesai. Clarisa mengikuti tanpa diminta. Disisi lain Pak Surya tidak menahan mereka kali ini. Ia hanya berkata pelan, “Jika ini memang direncanakan… maka kita semua terlambat satu langkah.”Sirene mobil polisi mengiringi mereka menuju pusat kota. Dari kejauhan, cahaya oranye memantul di langit malam. Asap tebal membumbung tinggi. Gedung Wirawan Group berdiri seperti obor raksasa.Clarisa menahan napas saat mobil berhenti. Karyawan yang dievakuasi berdiri berkelompok di seberang jalan, wajah-wajah mereka panik dan bingung.Arkan turun. La
Dor!Kaca kedua pecah. Pecahannya berhamburan ke lantai marmer. Salah satu penjaga berteriak dari luar, lalu terdengar suara tubuh jatuh menghantam tanah. Arkan refleks menarik Clarisa ke belakang sofa besar. “Jangan bergerak,” bisiknya tegas.Pak Surya tetap berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya—seolah menimbang situasi dengan kepala dingin yang mengerikan sebelum akhirnya mundur selangkah.“Berapa orang?” tanyanya pada Raka tanpa menoleh.“Minimal enam. Mungkin lebih. Mereka datang dari dua sisi.”“Direktur lama?” tanya Arkan.Raka mengangguk singkat. “Aku lihat dia turun dari mobil paling belakang.”Arkan menghela napas pelan.“Dia nekat.”“Dia putus asa,” koreksi Pak Surya tenang.Tembakan kembali terdengar.Dor! Dor!Peluru menghantam dinding luar. Lampu gantung bergoyang
“Lepaskan dia!”Suara Arkan membelah gelap. Ia tidak peduli darah yang terus mengalir dari bahunya. Tangannya masih menggenggam pistol, meski cengkeramannya mulai melemah.Lampu kawasan industri menyala kembali satu per satu. Dan dalam cahaya yang berkedip itu—Clarisa sudah tidak ada. Hanya Dimas yang tergeletak setengah sadar di depan pintu pabrik.Raka berlari menghampiri Arkan. “Kita harus mundur! Mereka bukan cuma satu tim!”Arkan menepisnya. “Ke mana dia dibawa?”“Ada mobil lain tadi dari sisi timur!” teriak Raka. “SUV gelap!”Arkan menoleh tajam ke arah jalan samping. Ban mobil baru saja meninggalkan bekas panjang di aspal. Tanpa ragu, ia berjalan menuju mobilnya.“Kau terluka!” bentak Raka.“Aku belum mati,” jawab Arkan dingin.Ia masuk ke kursi penumpang. Raka mengemudi kali ini tanpa banyak bicara. Mesin meraung. Mobil mele
Pesan itu belum sempat terbuka ketika salah satu pria bersenjata menendang ponsel itu menjauh.“Tak ada siapa pun!” teriaknya.Gudang kosong. Bau oli menyengat. Hanya kursi terbalik dan tali yang tergeletak di lantai.Pemimpin mereka mengambil ponsel itu, membaca nama di layar.Arkan.Ia menyeringai tipis. “Jadi ini benar.”Di luar, dua mobil hitam masih menyala mesinnya. Mereka datang bukan untuk menyelamatkan Clarisa. Mereka datang untuk mengambil sesuatu yang lebih berharga. Sementara itu Arkan menatap layar laptop di mobilnya. Titik kecil berkedip di peta digital.“Dia menjatuhkan ponselnya,” gumam Raka yang duduk di kursi kemudi.“Bukan menjatuhkan,” jawab Arkan tenang. “Dia meninggalkannya.”“Untukmu?”Arkan tidak menjawab. Tapi tatapannya berubah.Clarisa tidak panik.Itu berarti dia masih berpikir jernih. Dan itu berarti ia sedang memberi petunjuk.“Belok kiri di perempatan berikutnya,







