LOGINUndangan itu datang di pagi yang tampak biasa. Seeyana membaca pesan singkat dari nomor yang sudah lama ia simpan, lalu jarang ia buka. Isinya sederhana ajakan makan siang, bernada akrab, tanpa maksud yang dijelaskan.
Ia tidak langsung menolak. Ia juga tidak menyetujui. Ia meletakkan ponsel, menyesap kopi, dan membiarkan pikirannya bekerja. Kenyamanan lama selalu datang dengan bahasa yang sopan, seolah tidak meminta apa-apa. Padahal justru di situlah risikonya.Di kantor, hari berjalan cepat. Seeyana memimpin rapat evaluasi, menyampaikan temuan, dan menutup dengan rencana tindak lanjut yang jelas. Beberapa orang mencatat dengan serius. Ia menangkap tatapan yang dulu sering ia cari pengakuan. Kini, ia membiarkannya lewat.Menjelang siang, pesan dari Ravent masuk.Aku punya jeda dua puluh menit. Hanya ingin menyapa.Seeyana membaca, lalu membalas singkat.Semoga harimu lancar.Ia tidak menyebut undangan yang baru ia terimaUjian berikutnya tidak datang dari ruang rapat atau email berlabel urgent. Ia datang dari tempat yang lebih dekat tempat yang biasanya dianggap aman.Seeyana menyadarinya pada Senin pagi, ketika kalender pribadinya berbunyi. Undangan makan siang dari seseorang yang sudah lama tidak ia temui: mentor lamanya di awal karier. Nama itu membawa campuran rasa hormat dan kewaspadaan.Ia membaca pesan itu perlahan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada agenda jelas. Hanya kalimat singkat Aku ingin menyusul kabarmu.Dulu, undangan semacam itu selalu ia terima tanpa pikir panjang. Sekarang, ia menandai kalender dengan tanda tanya kecil. Ia membalas sopan, meminta tujuan pertemuan dan durasi.Balasan datang cepat. Terlalu ringan.Santai saja. Nostalgia.Nostalgia, pikir Seeyana, sering menjadi pintu masuk yang paling halus.Ia tetap setuju, dengan satu penyesuaian makan siang singkat, tempat umum, satu jam. Tidak lebih.Pertemuan i
Tidak semua ancaman datang sebagai benturan. Sebagian hadir sebagai kebiasaan lama yang mencoba menyelinap kembali, kali ini dengan wajah yang lebih sopan.Seeyana menyadarinya pada awal pekan, ketika satu email berlabel urgent masuk tanpa konteks yang jelas. Tidak ada data. Tidak ada lampiran. Hanya permintaan singkat agar ia “memberi lampu hijau” sebelum jam makan siang.Dulu, ia mungkin akan bertanya sambil mengiyakan. Sekarang, ia membaca dua kali, lalu membalas satu kalimat:Mohon ringkasan tertulis dan risiko yang teridentifikasi. Saya akan meninjau setelah itu.Balasan datang cepat. Terlalu cepat.Ini sudah biasa kita lakukan. Tidak perlu dirumitkan.Kalimat itu seperti gema dari masa lalu—ringan, akrab, dan berbahaya.Seeyana menutup laptop sejenak. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota yang bergerak tanpa menunggu persetujuan siapa pun. Ia tahu: inilah retakan kecil yang menguji normal baru.Ia
Tidak ada hari yang benar-benar menandai kapan sesuatu berubah menjadi kebiasaan. Normal baru tidak datang dengan pengumuman, ia menyusup melalui pengulangan.Seeyana menyadari itu pada Selasa pagi, ketika ia membuka agenda dan tidak lagi terkejut melihat blok rapat tambahan. Tangannya bergerak otomatis: membaca, memilah, menghapus yang tidak perlu, menegosiasikan sisanya. Tidak ada ketegangan di rahang. Tidak ada tarikan napas berlebihan.Ia tidak lebih kuat dari minggu lalu. Ia hanya lebih terbiasa menjaga garis.Di ruang kerja, dinamika tim perlahan menyesuaikan. Orang-orang mulai mengajukan pertanyaan lebih awal, bukan di menit terakhir. Beberapa kebiasaan lama masih mencoba bertahan email mendadak, permintaan samar tetapi kini cepat tertangkap karena kontrasnya jelas.Yang samar terlihat mencurigakan.Salah satu manajer lintas divisi menghampirinya selepas rapat. Nada suaranya bersahabat, tapi matanya menghitung.“Kamu ketat
Program itu resmi dimulai pada hari Senin, tanpa seremoni. Tidak ada pengumuman besar, tidak ada email massal yang mengutip nama Seeyana berulang-ulang. Hanya satu undangan kalender tambahan dan satu folder baru di sistem internal. Cukup untuk menandai perubahan, tidak cukup untuk mengganggu ritme.Seeyana menyadari sejak pagi beban tidak datang sebagai lonjakan, melainkan sebagai distribusi ulang. Tugas-tugas kecil berpindah tangan. Rapat-rapat singkat menyelip di sela jadwal. Tidak berat jika dilihat satu per satu tapi terasa jika dihitung keseluruhan.Ia menandai semuanya. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk membaca pola.Di rapat koordinasi pertama, fasilitator yang sama muncul. Nada masih ramah. Bahasa masih bersih. Tapi kini ada ekspektasi yang lebih spesifik.“Kita akan butuh respons cepat,” katanya. “Kadang di luar jam kerja.”Seeyana mengangkat tangan, tidak tergesa. “Sesuai kesepakatan, respons di luar jam kerja dijadwalkan da
Pagi itu, Seeyana bangun tanpa rasa tergesa. Alarm berbunyi seperti biasa, dan tubuhnya merespons dengan patuh bukan karena disiplin kaku, melainkan karena kebiasaan yang sudah menyatu. Ia menyeduh kopi, membuka tirai, dan membiarkan cahaya masuk secukupnya. Hari konfirmasi tersisa satu.Ia tidak membuka surel lebih dulu. Ia memilih menyelesaikan rutinitasnya olahraga singkat, mandi, sarapan. Seolah-olah keputusan yang akan ia ambil nanti tidak berhak mencuri pagi yang rapi.Di kantor, kalender menunggu dengan blok warna yang tertata. Seeyana menambahkan satu catatan kecil di sela jadwal waktu berpikir. Bukan rapat. Bukan panggilan. Waktu yang ia jaga.Rapat pertama berjalan cepat. Di rapat kedua, seseorang menyelipkan kalimat, “Kalau Seeyana ikut program itu, kita bisa atur ulang beban tim.”Nada kalimatnya netral. Dampaknya tidak.Seeyana menatap pembicara itu. “Pengaturan ulang seperti apa?”“Lebih fleksibel,” jawabnya.
Kesempatan itu datang dengan wajah yang nyaris sempurna.Seeyana menerimanya lewat surel singkat pada Senin pagi bahasanya bersih, strukturnya jelas, dan manfaatnya tertulis rapi. Program lintas divisi dengan mandat strategis. Durasi enam bulan. Visibilitas tinggi. Akses langsung ke pengambil keputusan. Tidak ada syarat yang terlihat mencurigakan.Ia membaca dua kali. Tidak menemukan celah. Justru itu yang membuatnya waspada.Di rapat pengantar, penjelasan disampaikan tanpa basa-basi. Program ini, kata fasilitator, ditujukan untuk mereka yang sudah menunjukkan konsistensi. “Kami ingin cara kerja yang bisa direplikasi,” katanya. “Dan Anda termasuk di dalamnya.”Beberapa pasang mata mengarah pada Seeyana. Tidak ada senyum iri. Tidak ada bisik. Hanya pengakuan singkat yang terasa resmi.“Partisipasi bersifat sukarela,” lanjut fasilitator. “Namun komitmen waktu cukup intens.”Di sanalah pengorbanan kecil itu disebut tanpa tekana







