FAZER LOGINSore itu, kantor pusat La Grande terasa lebih sunyi dari biasanya. Di lantai keuangan, Hendra duduk sendirian di ruang kerjanya dengan napas memburu.
Pendingin ruangan menyala dingin, namun peluh tetap membasahi pelipisnya. Jemarinya gemetar di atas keyboard saat ia menyelesaikan transfer dana terakhir ke rekening anonim luar negeri, langkah putus asa untuk menghapus semua jejak pembayaran kepada para preman yang menyerang Juna di basement apartemen.Ia tidak sadar bahwa setDi dalam kamar penthouse. yang temaram, sisa-sisa aroma parfum mahal bercampur dengan bau keringat yang menyengat. Kamar itu berantakan.Seprai sutra yang tadinya rapi kini kusut masai di lantai, menjadi saksi bisu permainan yang baru saja berakhir.Raga melepaskan diri dari Aleya dengan napas yang memburu kasar. Ia duduk di tepi tempat tidur, menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung di udara yang sesak.Di bawahnya, Aleya terbaring telentang, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur, matanya menatap langit-langit dengan sorot mata yang masih dipenuhi sisa gairah.Cumbuan Raga tadi brutal, lebih menyerupai luapan amarah daripada kasih sayang. Setiap gigitan di bahu Aleya dan cengkeraman kasar di rambutnya adalah cara Raga untuk melampiaskan frustrasinya atas kegagalan rencananya menjatuhkan Juna.Raga menoleh, menatap Aleya yang masih tak berbusana. Ia menyentuh dagu wanita itu dengan ujung rokoknya, memaksa Aleya
Sore itu, kantor pusat La Grande terasa lebih sunyi dari biasanya. Di lantai keuangan, Hendra duduk sendirian di ruang kerjanya dengan napas memburu.Pendingin ruangan menyala dingin, namun peluh tetap membasahi pelipisnya. Jemarinya gemetar di atas keyboard saat ia menyelesaikan transfer dana terakhir ke rekening anonim luar negeri, langkah putus asa untuk menghapus semua jejak pembayaran kepada para preman yang menyerang Juna di basement apartemen.Ia tidak sadar bahwa setiap gerakannya sedang dipantau.Di ruang server yang remang dan dipenuhi cahaya monitor, Salva duduk di depan layar dengan fokus penuh. Jemarinya bergerak cepat di atas tablet, memblokir jalur enkripsi sebelum data itu sempat hilang dari sistem.“Dia panik,” gumam Salva pelan sambil memperbesar tampilan alur transaksi. “Transfer terakhir baru saja masuk.”Juna berdiri di belakangnya dengan tatapan dingin. Wajahnya keras sejak tadi, terlebih setelah melihat nama pengiri
Hujan gerimis menyelimuti, menyamarkan hiruk-pikuk kota menjadi kilatan lampu yang buram.Di dalam mobil SUV yang terparkir di sebuah dermaga tua yang sudah tak terpakai, keheningan terasa begitu berat. Juna baru saja menatap layar laptopnya dengan napas yang tertahan.Setelah pertemuan menegangkan di bar kumuh itu, Juna tidak membuang waktu. Ia menggunakan data yang ia peroleh dari preman bayaran tersebut untuk menelusuri alur dana. Dengan bantuan Salva yang berhasil membobol lapisan enkripsi server keuangan perusahaan, mereka akhirnya menemukan kuncinya, Hendra, Manajer Keuangan La Grande, adalah pion utama Raga.Juna akan menjebak Hendra siang nanti dengan dokumen audit palsu yang sengaja ia bocorkan, memancing pria itu untuk melakukan transaksi pembersihan jejak di sore hari.Itu adalah kesalahan fatal Hendra. Juna berhasil menangkap basah jejak transfer dana dari akun pribadi Raga ke rekening luar negeri, yang kemudian diteruskan kepada para
Juna tahu satu hal sejak malam penyerangan itu—kalau ia membawa masalah ini ke ruang rapat, ia akan kalah. Raga terlalu kuat di dunia yang tak pernah Juna kuasai saat ini.Raga menguasai akses, sistem, orang-orang penting, dan tahu cara menghapus jejak tanpa mengotori tangannya sendiri.Meski begitu, tampaknya Raga lupa bahwa Juna dibesarkan di tempat yang tidak punya CCTV. Raga takt ahu, bahwa di jalanan, informasi bergerak lebih cepat daripada surat memo perusahaan.Selama tiga hari berikutnya, Juna menghilang dari rutinitas kantor. Di sela rapat dan audit, ia diam-diam menghubungi orang-orang lama—mantan rekan sesama supir, penjaga parkir, pedagang kopi keliling, sampai mekanik bengkel yang dulu sering jadi tempat mangkalnya.Juna tidak meminta bantuan. Ia hanya bertanya, siapa yang baru dapat uang.Tiga hari kemudian, sebuah nama muncul. Kemudian lokasinyaSebuah bar tua di pinggiran kota yang terkenal jadi tempat berkumpul o
Ruang kerja Tuan Satya selalu terasa terlalu besar untuk percakapan yang sulit. Langit-langit tinggi, dinding kayu gelap, dan jendela besar yang menghadap pemandangan hiruk pikuk kota metropolitan terbesar membuat siapa pun yang berdiri di dalamnya merasa kecil.Raga melangkah masuk dengan tenang, membawa beberapa amplop cokelat di tangan.“Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, Kak,” ucapnya sambil meletakkan amplop di atas meja Satya. Nada suaranya dibuat berat, seolah ia sedang menelan kekecewaan yang besar. “Tapi profesionalisme La Grande sedang dipertaruhkan.”Satya tidak menjawab.Raga membuka satu per satu isi amplop itu. Ia menunjukka foto Juna masuk ke apartemen Salva tengah malam, Juna keluar keesokan paginya dengan pakaian berbeda, dan potongan CCTV koridor kantor.Selain itu ada satu gambar dari ruang rapat yang gelap diambil dari sudut yang sengaja menyesatkan, menampilkan siluet dua orang yang terlihat terlalu dekat.
Juna baru saja menutup pintu mobilnya setelah memastikan Salva masuk ke lobi apartemen dengan aman. Malam sudah larut, dan basement apartemen terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah kota metropolitan.Hanya ada dengung ventilasi, tetesan air dari pipa tua, dan cahaya lampu neon yang berkedip malas di langit-langit beton.Tangannya sudah menyentuh kunci kontak ketika sesuatu membuatnya berhenti.Suara gesekan Sepatu yang pelan dan teratur, serta aroma rokok yang samar masuk melalui celah ventilasi mobil.Juna tidak langsung bergerak. Matanya naik ke kaca spion.Kosong.Meski begitu, tubuhnya sudah mengenali sinyal itu lebih dulu daripada pikirannya. Juna pun mematikan mesin, namun erlambat.Empat sosok keluar hampir bersamaan dari balik pilar beton.Satu di depan kap mobil, dua di kanan kiri, sedangkan satu lagi menutup jalur belakang.Kilatan logam memantul di bawah lampu. Pisau.Salah satu pr







